Fruktosa dan Kegemukan: Selayang pandang metabolismenya

22 Januari 2010

 

Pada tulisan sebelumnya telah dibahas bagaimana fruktosa terimplikasi terlibat dalam memudahkan terjadinya obesitas atau kegemukan berdasarkan percobaan pada binatang. Implikasi lainnya juga datang dari studi epidemiologis atau studi di tingkat komunitas atau populasi manusia yang memberikan adanya korelasi antara tingkat konsumsi gula dengan prevalensi atau kejadian kegemukan.

Selanjutnya kegemukan dalam tulisan kadang digunakan secara bergantian dengan obesitas .

Tulisan berikut ini akan mencoba memberikan sedikit gambaran mekanisme molekuler (interaksi di tingkat molekuler) secara sederhana atau lebih tepatnya metabolisme kaitan antara konsumsi fruktosa dalam tubuh dengan terjadinya obesitas dan kondisi-kondisi/gejala-gejala lain terkait dengan obesitas itu.

Nah untuk itu, saya kira kita perlu bicara sedikit tentang bagaimana metabolisme fruktosa dalam tubuh. Sebuah sistem yang sangat kompleks dan agak sulit untuk dipahami terutama bagi mereka yang tidak berlatangbelakang ilmu biologi dan ilmu lain yang erat terkait dengannya. Bagi yang pernah belajar biokimia, tentu ada yang masih ingat.

Kebanyakan masukan fruktosa  ke dalam tubuh kita-orang zaman modern- berasal dari gula pasir dan makanan-makanan yang mengandungnya. Kita sepertinya tidak akan pernah kehabisan jenis makanan yang mengandung gula di zaman sekarang ini. Coba saja kita tengok di pasar-pasar dan supermarket. Namun akhir-akhir ini dan sebenarnya sudah terjadi di negeri Paman Sam sana, masukan fruktosa semakin meningkat dalam bentuk fruktosa asli bukan lagi sukrosa (gula pasir). Sekedar mengingatkan, molekul Sukrosa itu adalah merupakan gabungan antara molekul glukosa dan fruktosa. Fruktosa yang banyak digunakan sebagai pemanis makanan ini banyak berasal  berasal dari corn syrup. Corn syrup ini banyak jenisnya dan ada yang disebut sebagai high fructose corn syrup (HFCS). Coba anda periksa makanan-makanan yang dijual di supermarket di Indonesia, lihat labelnya, mungkin akan sering anda mendapatkan corn syrup dalam bagian bahan atau inggredients-nya. Nah itu sumber fruktosa asli. Minuman softdrinks juga sering pemanisnya berasal dari HFCS ini dan varian lainnya. Pendek kata kebanyakan fruktosa yang kita konsumsi sehari hari, kalau tidak berasal dari gula, berasal dari fruktosa asli dalam bentuk kue-kue,biskuit, coklat, dan softdrinks.

Gula pasir atau sukrosa yang kita konsumsi sebelum diserap dipecah dulu menjadi kedua komponennya yaitu glukosa dan fruktosa oleh enzim yang disebut sucrase. Setelah dipecahkan boleh dibilang penyerapan glukosa dan fruktosa sangat efisien atau hampir seluruhnya terserap di usus halus.

Pada orang dewasa, biasanya jumlah enzim sucrase ini cukup untuk mencernakan konsumsi gula kita sehari-hari. Namun jika usus halus mengalami masalah seperti misalnya jika terjadi infeksi dan pembengkakan di usus yang menyebabkan kerusakan lapisan mukosa (sel pelapis bagian dalam) usus, maka jumlah enzim sucrase ini akan berkurang sehingga konsumsi gula akan menyebabkan diare. Biasanya disertai dengan pembentukan gas di usus besar karena karbohidrat yang tidak tercerna itu akan diproses oleh bakteri-bakteri di usus besar yang menghasilkan gas sehingga penderita merasakan kembung dan banyak buang gas.

Anak-anak juga kadang-kadang kalau terlalu banyak mengkonsumsi makanan bergula seperti jus, sirup, kue-kue yang manis bisa mengalami gejala yang sama. Ini diakibatkan jumlah enzim sucrase yang mereka miliki belum cukup untuk mencerna jumlah gula yang mereka konsumsi secara berlebihan.

Setelah diserap glukosa dan fruktosa dan monosakarida yang lainnya akan dihantarkan ke hati untuk mengalami proses selanjutnya. Ini yang disebut proses metabolisme zat gizi. Berbeda dengan glukosa, fruktosa hanya mengalami metabolisme yang berarti di sel hati dan spermatozoa (sel sperma). Ini dikarenakan hanya kedua jenis sel tersebut yang memiliki aktivitas enzim fruktokinase yang diperlukan untuk tahap awal metabolisme fruktosa. Enzim ini memfosforilasi (mengikatkan fosfat ke molekul) fruktosa sebagai syarat awal metabolismenya.

Fruktosa tidak bisa secara langsung digunakan oleh tubuh menjadi sumber energi sebelum diubah dahulu menjadi glukosa. Jadi proses untuk memperoleh energi dari sukrosa harus melewati jalan yang lebih panjang dan memakai energi. Dan ini hanya bisa terjadi di hati dan sel sperma tadi. Sel-sel tubuh kita yang lain seperti otak, otot hampir tidak bisa memproses fruktosa ini. Jadi kalau ada yang bilang supaya atlet tambah kuat atau anak agar bisa lebih pintar maka perlu  banyak makan gula khususnya fruktosa kemungkinan besar itu tidak ada benarnya.

Sebenarnya konsumsi fruktosa dalam jumlah yang tidak berlebihan bermamfaat bagi tubuh. Dari penelitian Moore CS (Jurnal Diabetes 2000: 49:A84) dan kawan-kawan yang mencampurkan 7.5 gram fruktosa pada 75 gram glukosa standar untuk tes toleransi glukosa oral mendapatkan bahwa terjadi penurunan respon glikemik (gula darah lebih rendah) pada pasien-pasien diabetes. Namun fruktosa yang terlalu tinggi dalam darah juga diketahui bisa menyebabkan terjadinya proses glikasi (proses bereaksinya fruktosa (dan glukosa) terhadap jaringan tubuh) yang menyebabkan komplikasi diabetes.

Mengkonsumsi fruktosa secara berlebihan mengakibatkan terpicunya proses pembentukan lemak di hati yang selanjutnya akan dikeluarkan ke peredaran darah. Telah diketahui bahwa konsumsi gula yang tinggi bisa menyebabkan peningkatan trigliserida atau lemak darah. Hal ini didasari sifat metabolisme fruktosa yang lebih independen atau kurang bisa dikendalikan di hati dibanding dengan glukosa. Glukosa dalam perjalanan metabolismenya pada satu titik dikendalaikan oleh enzim yang disebut Phosphofructokinase dimana enzim ini bertanggungjawab menghantarkan glukosa ke proses glikolisis (pemecahan glukosa) yang produknya bisa berupa acetylcoA yang  selanjutnya bisa diproses menjadi  energi (ATP), karbondioksida, atau dikonversi menjadi lemak. Produk glikolisisnya yaitu ATP serta citrate (hasil metabolit yang lain) akan menghambat enzim Phosphofruktokinase ini sehingga aktivitasnya menurun. Akibatnya proses glikolisis menjadi lebih lambat. Jadi ada umpan balik negatif produk glikolisis ini terhadap penggunaan glukosa selanjutnya.

Fruktosa dilain pihak tidak dikendalikan oleh enzim phosphofruktokinase ini sehingga dengan bebas bisa masuk proses glikolisis tanpa hambatan. Sebanyak apapun fruktosa yang masuk ke hati bisa masuk proses glikolisis tanpa hambatan berupa umpan balik negatif. Sebagai hasilnya, produk glikolisis seperti acetylcoA bisa menjadi substrat (bahan) yang cukup melimpah untuk diproses menjadi lemak di hati.

Berbeda dengan glukosa, konsumsi fruktosa tidak memicu sekresi insulin di pankreas. Telah diketahui bahwa insulin juga berperan dalam mengatur rasa kenyang melalui mekanisme di otak. Insulin yang meninggi, menyebabkan rasa kenyang. Dalam jangka panjang konsumsi fruktosa bisa menyebabkan kegemukan setidaknya sebagian melalui mekanisme ini. Semakin banyak mengkonsumsi fruktosa malah bisa menyebabkan orang lebih banyak merasa lapar.

Fruktosa, insulin dan glukosa, ketiganya bisa memicu aktivitas glukokinase, sebuah enzim yang diperlukan untuk proses awal metabolisme glukosa (ingat fruktokinase untuk fruktosa kan?). Glukokinase ini bisa dikatakan hanya enzim yang spesifik untuk glukosa saja, namun anehnya  fruktosa juga bisa memicu aktivitas enzim ini (bahkan yang paling kuat) padahal fruktosa tidak memerlukan enzim ini untuk proses metabolismenya.

Ada ahli yang berpendapat bahwa sebenarnya fruktosa ini hanya berfungsi sebagai signal untuk memicu metabolisme glukosa. Tubuh manusia secara alamiah memang telah disiapkan untuk mengkonsumsi karbohidrat dalam hal ini utamanya glukosa sebagai sumber energi utama dan untuk itu diperlukan mekanisme tertentu oleh alam untuk memfasilitasi kecenderungan ini. Mekanisme itu adalah kandungan makanan alamiah kita yang kandungan karbohidratnya selain fruktosa yang tinggi sebagai sumber glukosa, sementara kandungan fruktosanya hanya sedikit dan hanya dimaksudkan untuk membantu proses pencernaan karbohidrat. Ambil contoh sederhana sebuah apel yang hanya mengandung fruktosa sekitar 5%. Kalau kita mengkonsumsi apel dan makan nasi bukankah hal itu sebagai sebuah kombinasi yang saling melengkapi. Nasi kaya akan glukosa, sementara apel bisa mensuplai kita dengan fruktosa yang cukup untuk menstimulasi metabolisme glukosa.

Sayangnya, di zaman modern ini, makanan kita telah banyak berubah. fruktosa yang sebenarnya hanya dibutuhkan sedikit, kita konsumsi dalam jumlah yang berlebihan sehingga menimbulkan dampak buruk bagi tubuh.

Makanan kita telah dibanjiri oleh makananan-makanan olahan yang sudah tidak ‘alamiah’ lagi. Makanan-makanan ini diolah kebanyakan hanya untuk kesenangan lidah dan kepraktisan kehidupan  kita, dan kurang mempertimbangkan kebutuhan fisiologis tubuh. Akhirnya karena kita terlalu memanjakan lidah, akhirnya tubuh manusia kurang bisa  menahan beban metabolisme akibat perubahan pola makan yang drastis di zaman modern ini. Maka wajar saja penyakit-penyakit terkait metabolisme seperti obesitas, diabetes, hipertensi, serangan jantung menjadi tantangan yang cukup berat bagi manusia modern sekarang ini.

Hanya pola hidup dan makan yang sehat yang bisa mencegah penyakit-penyakit degeneratif tersebut. 

 

 

 

 

 


Sudah Saatnya Berhenti Meracuni Masyarakat dengan Rokok

7 Desember 2009

Indonesia adalah surga bagi perokok dan tentu saja bagi produsen rokok dunia dan lokal. Kalau di negara lain terutama negara maju angka perokok terus-menerus menunjukkan penurunan, di Indonesia malah meningkat dari tahun ke tahun. Sebagai contoh, menurut laporan WHO pada tahun 1986, sekitar 53 persen laki-laki di Indonesia adalah perokok namun di tahun 2003 angka ini meningkat menjadi 60 persen menurut Synovate ,sebuah lembaga riset pasar. Kalangan perokok diantara wanita selama kurun waktu itu tetap stabil di angka 4% (Asia Times). Mengingat jumlah penduduk di Indonesia yang besar dan terus mengalami peningkatan, secara nominal jumlah perokok sangatlah besar (sekarang sekitar 60 juta orang) dan menjadi faktor penarik bagi para investor dan pengusaha rokok dunia.

Yang cukup memprihatinkan adalah kenyataan bahwa sekitar 70% perokok di Indonesia adalah mereka yang berpendapatan rendah dimana sampai 17% dari pendapatan mereka dibakar sia-sia melalui rokok (Jakarta Globe). Bahkan tren merokok juga semakin meningkat dikalangan remaja dan pelajar. Jangan terkejut jika  di Indonesia, setiap sehari bisa sampai 330 miliar Rupiah dibakar melalui rokok (Kompas).

Kalau kondisi “tabaccogenic” terus dibiarkan oleh Pemerintah Indonesia, maka bukan tidak mungkin angka perokok ini akan terus bertambah dan tentu saja  angka penyakit terkait keracunan kronis rokok  juga akan terus membengkak. Saat ini tercatat 400.000 kematian per tahun akibat penyakit terkait rokok terjadi di Indonesia.

Mengingat bahwa sebagian besar perokok adalah orang tak berpunya, maka membiarkan kondisi tabaccogenic ini sama artinya pemerintah menanam bencana yang lebih besar, dan tinggal menunggu waktu saja negeri ini akan memanen hasilnya berupa tambah membengkaknya biaya kesehatan akibat penyakit  keracunan kronis tembakau (PKKT). Kondisi ini pula semakin memperlihatkan kenyataan  bahwa orang miskin adalah orang yang paling banyak dikorbankan oleh kebijakan pemerintah.

Mengapa Indonesia “Tabaccogenic”?

Tabaccogenic yang saya maksudkan adalah keadaan atau situasi yang memfasilitasi atau memudahkan meningkatnya angka perokok, bebasnya perokok untuk merokok dimana saja mereka mau tanpa memperhatikan orang lain disekitarnya (bus, angkot, kereta api, restoran, kedai, kantor, dan tempat-tempat umum lainnya) .

Kondisi tabaccogenic memiliki aspek politis karena kondisi ini timbul karena hasil kebijakan  dan atau keteledoran pemerintah. Kebijakan dan atau keteledoran ini adalah setidaknya menunjukkan bahwa ada kekuatan besar yang mengendalikan kebijakan pemerintah dan wakil  rakyat yang mengarahkan agar kondisi tabaccogenic ini terus dipertahankan untuk kepentingan produsen rokok. Bisa juga pemerintah tidak tahu, atau yang  paling mungkin tidak mau tahu tentang nasib rakyatnya yang perokok dan juga mereka yang tidak merokok namun harus rela menghirup asap rokok dari perokok di tempat umum. Toh seperti rutinitas selama ini, masalah baru dianggap masalah kalau sudah terjadi. Padahal paradigma pembangunan kesehatan sudah lebih menekankan aspek preventif dibanding kuratif.

Apapun penyebabnya, yang jelas kondisi  tabaccogenic ini kelihatannya akan terus dipelihara.

Salah satu ciri kondisi tabaccogenic ini adalah harga rokok yang murah meriah. Di antara negara Asean, harga rokok di Indonesia  termasuk yang paling murah, bahkan lebih murah dari Laos, relatif sama dengan Vietnam, dan lebih mahal dibanding dengan Filipina. Sebagai ilustrasi lain  harga rokok Marlboro di Malaysia lebih dua kali lipat, di Singapura hampir 8 kali lipat dibandingkan di Indonesia.

Kenapa harga rokok bisa murah? Ya karena cukai rokok di Indonesia termasuk yang paling murah.Sebagai contoh  tahun 2008 di Indonesia cukai rokok hanya 37%, bandingkan misalnya dengan Thailand 63%, Malaysia 49-57%, Filipina 46-49 %, Vietnam 45% (Kompas).

Kebijakan tarif cukai ini tentu saja adalah merupakan kebijakan pemerintah, sehingga bisa diterjemahkan bahwa pemerintah lebih berpihak  kepada produsen rokok, sementara perokok terutama yang miskin tidak diproteksi. Ada dua keuntungan pemerintah kalau tarif cukai ini dinaikkan katakanlah sampai 60% yaitu pendapatan pemerintah bisa meningkat dan harga rokok akan menjadi mahal sehingga kemungkinan bisa menurunkan jumlah perokok. Dengan menaikkan cukai rokok dari 37% menjadi 45% saja potensi pendapatan tambahan bisa sampai 10 trilyun Rupiah menurut Dekan FKM UI Hasbullah Thabrany. Pendapatan tambahan ini bisa digunakan untuk membiayai kampanye kesehatan, atau biaya kesehatan gratis bagi orang miskin terutama yang terkena PKKT. Dengan harga rokok yang mahal, setidaknya akan membuat perokok dari kalangan pendapatan rendah untuk berpikir dua kali untuk membeli rokok.

Tentu saja kenaikan cukai ini akan ditentang habis-habisan oleh produsen rokok, dengan berbagai alasan seperti kebijakan tersebut akan mematikan industri rokok yang akan berpengaruh negatif kepada ekonomi. Namun alasan yang paling sering mereka angkat adalah efek negatif terhadap petani tembakau. Padahal selama ini meski pendapatan produsen rokok meningkat, kesejahteraan petani tembakau tidak mengalami perubahan berarti. Upah buruh rata-rata petani tembakau per bulan umpamanya masih dibawah rata-rata yaitu 47% dari upah buruh standar nasional. 

Hasil penelitian dari Lembaga Demografi FEUI menunjukkan bahwa sebanyak 69% buruh tani tembakau hanya berpendidikan SD atau tidak sekolah sama sekali. Lebih dari setengahnya masih tinggal di rumah yang berlantai tanah. Hal ini menunjukkan kehidupan buruh tani tembakau yang miskin dan terbelakang kontras dengan jargon para penentang kebijakan pembatasan rokok yang mengatasnamakan kesejahteraan petani tembakau.

Ini tidak saja terjadi pada lapisan buruh tani saja tapi juga petani pengelola.  Bahkan keuntungan petani pengelola hanya sekitar 1 juta dalam empat bulan masa tanam dan ini tidak seimbang dengan resiko usaha dan kegagalan panen karena berbagai sebab.  Padahal para petani itu sebagian memodali tanamannya dari utang (Kompas). Jadi selama setahun, mereka bertani tembakau hanya empat bulan, selebihnya mengusahakan tanaman lain atau melakukan kegiatan ekonomi yang lain.

Dengan demikian bisa disimpulkan keuntungan yang besar dari produksi rokok di Indonesia tidak dinikmati oleh para petani tembakau. Mereka hanya digunakan sebagai tameng untuk menentang setiap usaha untuk menciptakan lingkungan dan kebijakan yang lebih bersih dari asap rokok. Para produsen rokok dan aktivis organisasi petani tembakau sering menggunakan demonstrasi besar-besaran untuk menunjukkan penolakan atas nama kesejahteraan petani tembakau yang menurut klaim mereka berjumlah jutaan (bahkan mereka mereka sampai menggertak dengan klaim jumlah petani tembakau sebanyak 22 juta orang)  padahal menurut catatan Departemen Pertanian jumlahnya pada tahun 2004 saja kurang dari 700.000 petani.

Modus operandi perusahaan rokok ,agen-agennya dan aktivis organisasi petani tembakau ini setidaknya ada dua, yaitu melakukan show of force dengan demonstrasi yang besar atas setiap kebijakan yang menurut mereka akan berdampak buruk bagi petani tembakau. Klaim mengatasnamakan petani tembakau ini jelas-jelas menyesatkan karena seperti yang telah diuraikan di atas, kesejahteraan petani tembakau tidaklah sesuai yang diharapkan ditengah-tengah mega keuntungan perusahaan rokok . Bahkan klaim ini di dukung oleh aparat pemerintah di daerah tanpa back up data yang jelas. Jelas ini menunjukkan adanya indikasi simbiosis antara oknum pemerintah lokal dengan perusahaan rokok serta agen-agen mereka.

Modus operandi yang kedua adalah bermain ditingkat legislasi, dengan berusaha mempengaruhi agar DPR tidak membuat undang-undang yang akan merugikan perusahaan rokok. Tentu bentuk pengaruh itu tidak bisa dilihat secara kasat mata sebagaimana korupsi dalam bentuk lainnya.

Adanya kekuatan besar yang terlibat dalam upaya mempengaruhi kebijakan pemerintah dalam masalah rokok ini terindikasi oleh adanya penghilangan ayat tembakau dalam RUU Kesehatan. Meskipun hilangnya ayat tembakau itu karena alasan teknis sesuai dengan pengakuan Bagian Sekertariat Komisi IX DPR RI, namun tidak menutup kemungkinan ayat tersebut dihilangkan secara sengaja.

Secara singkat bisa disimpulkan bahwa kondisi tabaccogenic di Indonesia dikarenakan karena kuatnya lobby dan manipulasi massa oleh produsen rokok dan aktivis organisasi yang mengatasanamakan petani tembakau untuk menghadang segala bentuk undang-undang yang berpotensi untuk mengurangi keuntungan produsen rokok, padahal peningkatan laba produsen rokok ini tidak sejalan dengan kesejahteraan para petani tembakau yang mereka perjuangkan sesuai dengan klaim mereka selama ini.

Bagaimana jalan keluarnya?

Ketakutan dan ancaman akan adanya dampak ekonomi yang besar jika cukai rokok dinaikkan, adalah suatu isapan jempol saja. Menurut Farid Anfasa Moeloek Ketua Komisi Nasional Pengendalian Tembakau mengutip studi dari Bappenas, perusahaan rokok hanya menyumbang 50-54 trilyun tapi pengeluaran negara dan masyarakat akibat PKKT 5-7 kali lebih besar. Jadi secara ekonomi Negara dan masyarakat malah mengalami defisit jika kebijakan terus berpihak kepada produsen rokok.

Bagaimana dengan nasib para petani dan buruh tani tembakau? Saya kira program Departemen Pertanian yang dulunya menyediakan dana untuk konversi tanaman tembakau ke tanaman lain harus dilakukan lagi. Setidaknya kita mengetahui bahwa petani tembakau hanya melakukan kegiatan bertaninya selama 4 bulan, dan ini bisa memberikan jalan masuk untuk mendidik mereka untuk berusaha di bidang yang lain diluar empat bulan itu. Pemerintah baik pusat dan lokal harus kreatif untuk mencarikan jalan keluar bagi para petani dan buruh tani ini agar mereka bisa hidup lebih terjamin secara ekonomi sehingga tidak mudah dipakai oleh produsen rokok dan agen-agennya untuk menghalangi setiap kebijakan agar lingkungan di Indonesia lebih bersih dari asap rokok.

Untuk menunjukkan komitmennya pemerintah harus meratifikasi FCTC (Framework Convention on Tabacco Control) sebagai langkah awal. Indonesia adalah satu-satunya negara Asia Pasifik yang belum meratifikasi Konvensi tersebut tanpa alasan yang jelas. Konvensi ini pertama kali ditetapkan oleh WHO tahun 2003 dan berlaku sejak 2005. Merupakan konvensi yang dilatar belakangi oleh kekhawatiran terhadap epidemi rokok di dunia dan merupakan konvensi yang paling banyak ditandatangani oleh negara-negara di dunia (WHO). Dengan meratifikasi Konvensi ini maka Pemerintah Indonesia memiliki kewajiban untuk menjalankan apa yang disebut Core Demand Reduction Provisions yaitu:

  1. Kebijakan harga dan cukai rokok untuk mengurangi konsumsi rokok
  2. Kebijakan non harga yang lain untuk mengurangi konsumsi rokok seperti: kebijakan proteksi terhadap paparan asap rokok, peraturan tentang kandungan produk yang memakai tembakau, peraturan tentang label peringatan bahaya rokok di produk tembakau, kebijakan labellling dan promosi rokok, kebijakan pendidikan dan penerangan kepada masyarakat tentang bahaya rokok, peraturan yang mengawasi iklan, promosi, dan sponsoship rokok, dan kebijakan terkait program untuk mengurangi ketergantungan pada rokok dan rehabilitasi
  3. kebijakan terkait pengurangan supply rokok: berupa kebijakan untuk mencegah terjadinya perdagangan ilegal dan penyelundupan rokok, kebijakan larangan penjulan kepada golongan minor seperti anak dibawah umur, ibu hamil dan lain-lain, kebijakan untuk memberikan alternatif ekonomi lain bagi mereka yang hidup dari kegiatan perdaganagn rokok dalam hal ini tentunya para petani dan pekerja di pabrik rokok.

Sudah saatnya kita membatasi ruang-ruang publik dari sergapan asap rokok seperti yang terjadi selama ini dengan bebasnya. Namun hak bagi perokok tentunya juga harus diperhatikan. Ruangan bagi perokok harus disediakan khusus di tempat-tempat publik sehingga hak azasi mereka tidak terlanggar. Penjual rokok juga harus diatur agar tidak menjual rokok kepada pihak-pihak yang termasuk golongan minor seperti anak-anak dibawah umur, wanita hamil dan lain-lain. Semua ini tentunya memerlukan kemauan dan kesadaran politis pemerintah untuk memulainya. Kalau mereka tidak memiliki kemauan politis, seperti tidak adanya keinginan meratifikasi FCTC hanya karena lobby produsen rokok dan para agen-agennya, ini berarti pemerintah dengan sadar ikut terlibat meracuni rakyat dengan tembakau.

Kita harus dukung setiap langkah dan inisiatif  pemerintah baik pusat dan daerah untuk menciptakan lingkungan yang bebas asap rokok. Pada saat yang sama, peran serta  masyarakat terutama mereka yang bergerak di sektor kesehatan untuk terus menggalakkan kampanye dan pendidikan anti rokok bagi masyarakat  dengan memberikan informasi yang lengkap serta fakta-fakta ilmu pengetahuan tentang bahaya asap rokok bukan saja bagi perokok tapi juga orang lain di sekitarnya. Kampanye anti rokok ini harus dilakukan secara masif dan berkesinambungan agar efeknya bisa lebih besar.

Pada akhirnya kita juga harus ikut memikirkan nasib saudara-saudara kita para petani dan buruh tani tembakau- yang ditengah-tengah keuntungan besar produsen rokok- tetap hidup tidak mapan, agar mereka bisa mencari alternatif ekonomi lain untuk mengganti pendapatan dari kegiatan bertani tembakau. Tentunya pemerintah pusat dan pemerintah  daerah dimana para petani ini hidup memiliki tanggung jawab yang besar dalam hali ini. Jangan jadikan mereka pihak yang terjepit dan gampang diprovokasi untuk melakukan aksi-aksi menolak kebijakan pembatasan konsumsi rokok oleh pihak-pihak yang sebenarnya melakukan hal tersebut untuk kepentingan produsen rokok. Dengan kesadaran bersama masyarakat untuk hidup lebih sehat, dan didukung oleh kemauan politis dan kreatifitas pemerintah di daerah, bukan tidak mungkin kita menekan angka perokok di Indonesia yang sudah termasuk kategori epidemik saat ini. Kebijakan untuk konversi lahan tembakau ke tanaman lain, disertai upaya-upaya peningkatan tingkat ekonomi petani dan masyarakat pada umumnya harus terus diupayakan agar pertentangan kepentingan ini bisa segera diakhiri.


Dichloroacetate (DCA): Harapan Baru Pasien Kanker, Tak Menarik Bagi Perusahaan Obat

30 November 2009

Kanker sampai saat ini masih menjadi momok yang menakutkan baik bagi pasien dan dokter. Harapan kesembuhannya secara umum sangat kecil jika sudah sampai pada tahap lanjut. Bagi pasien, diagnosis kanker bagaikan vonis mati terlebih bagi mereka yang tidak memiliki dana untuk mengakses pengobatan terkini yang sangat mahal. Bagi dokter, Kanker merupakan salah satu penyakit yang memberikan tantangan yang luar biasa dalam mencari obat penyembuhnya.

Namun harapan bagi penderita kanker dan para dokter mungkin bisa dipenuhi oleh Dichloroacetate, satu obat lama yang pertama kali digunakan dalam satu penelitian klinis untuk mengobati penyakit genetis yang sangat jarang yang disebut congenital lactic acidosis dan syndrome MELAS. Pada kedua percobaan klinis tersebut, dichloroacetate memberikan hasil yang tidak memuaskan.

Bagaimana Dichloroacetate membunuh sel kanker?

Sebenarnya obat ini dalam kaitannya dengan pengobatan kanker mendapat perhatian publik yang luas dan juga dari kalangan ilmuwan kedokteran sejak diterbitkannya sebuah penelitian oleh kelompok ilmuwan dari Universitas Alberta Canada tahun 2007 yang dipimpin oleh Doktor Evangelos Michelakis. Dalam laporan penelitian yang diterbitkan di Cancer Cell dibuktikan bahwa Dichloroacetate mampu membunuh sel-sel kanker dalam percobaan in vitro (percobaan dengan memakai sel, jaringan, organisme di luar tubuh mahluk hidup) dan mengecilkan kanker pada tikus besar (rat) yang  ditumbuhkan dengan cara mencangkokkan sel kanker pada binatang tersebut. Dichloroacetate merangsang terjadinya apoptosis atau kematian sel kanker dengan cara mengganggu metabolisme sel kanker. Sel kanker diketahui menggunakan proses glikolisis untuk mempertahankan hidupnya dan memfasilitasi penyebaran baik di jaringan lokal maupun jaringan tubuh yang jauh (metastase). Proses glikolisis pada sitoplasma inilah yang diganggu oleh dichloroacetate dengan cara merangsang metabolisme oksidasi glukosa yang terjadi di mitochondria sel. Pada sel kanker mitochondria mengalami hambatan dalam proses oksidasi glukosa ini. Membaiknya fungsi mitochondria oleh pengaruh dichloroacetate ini, akhirnya bisa membantu dalam proses apoptosis/kematian terprogram sel kanker.

Menyusul hasil eksperimen tersebut, tim Universitas Alberta tersebut berinisiatif untuk melakukan percobaan klinis pada manusia agar mamfaatnya bisa segera diketahui dan dipertanggungjawabkan. Namun sayang sekali bahwa tidak ada satupun perusahaan obat di dunia yang tertarik untuk membiayai penelitian klinis tersebut karena Dichloroacetate adalah obat atau zat kimia yang sudah bebas paten/generik sehingga tidak memberikan potensi keuntungan bagi perusahaan obat. Penelitian klinis yang dilakukan pada banyak pasien dan multi centre di banyak negara sebagai salah satu prasyarat diakuinya suatu obat atau zat kimia untuk pengabatan suatu penyakit membutuhkan biaya yang luar biasa besar. Perusahaan obat tentu tidak mau mensponsori suatu penelitian obat jika tidak memberikan potensi ekonomi bagi mereka. Mengingat obat ini sudah menjadi obat generik, maka peluang bagi kembalinya modal dalam membiayai penelitian kecil. Obat yang sudah masuk kategori generik bisa diproduksi secara massal oleh siapapun tanpa harus membayar royalti kepada perusahaan tertentu.

 Akhirnya tim peneliti tersebut memutuskan untuk mengumpulkan dana dari masyarakat dan lembaga pemerintah untuk melaksanakan penelitian klinis kecil sebagai permulaan (link). Obat ini kalau berhasil dibuktikan efektif pada manusia dalam mengobati kanker, akan bisa menjadi pilihan yang sangat murah dalam melengkapi senjata obat para dokter dalam menyembuhkan kanker. Ditambah lagi ada indikasi bahwa DCA ini bisa dipergunakan pada berbagai jenis kanker karena target kerjanya pada metabolisme sel kanker yang hampir serupa pada sebagian besar sel sel kanker.

Pasien Kanker berani bertaruh nyawa demi DCA

Secara keilmuwan dan legal formal DCA masih belum bisa dijadikan obat dalam menangulangi penyakit kanker sebelum secara meyakinkan dibuktikan efektifitasnya dalam sebuah penelitian klinis yang besar. Butuh biaya besar dan waktu yang lama (lebih dari 10 tahun) untuk melakukan penelitian klinis yang menjadi norma dalam ilmu kedokteran untuk menyetujui suatu penggunaan suatu obat baru.

Namun pasien kanker tentunya tidak punya waktu yang lama untuk menunggu. Mereka setiap hari berjuang untuk tetap bertahan hidup. Ditambah lagi bahwa terapi kanker saat ini begitu mahal bukan saja bagi pasien di negara berkembang tapi juga di negara maju. Berita gembira dari penelitian preklinis dari Universitas Alberta tersebut kemudian memberikan banyak pasien keberanian untuk mencoba DCA tersebut. Bahkan sebuah klinik di Canada yang dijalankan oleh sepasang suami istri (Medicor Cancer Centre) berani memberikan DCA kepada pasien-pasien kanker tahap akhir yang hasilnya menurut saya secara pribadi cukup menjanjikan. Bahkan dua pasien kanker tahap akhirnya mengalami remisi total dari penyakitnya. Di websitenya mereka juga menyajikan data-data serta kasus-kasus pasien kanker yang diobati dengan DCA.

Pasien-pasien klinik tersebut juga datang dari berbagai negara, dimana mereka sudah mendapatkan seluruh pengobatan kanker terkini, namun penyakitnya tetap memburuk. Pilihan pengobatan dengan DCA menjadi harapan baru mereka  meskipun dunia kedokteran masih belum menetapkan efektifitasnya sejauh ini melalui penelitian klinis standar. Bahkan mereka siap menanggung resiko apapun terkait dengan keputusan memakai terapi itu.

Meski kita harus sangat hati hati dalam hal ini, namun apa yang dilakukan oleh klinik tersebut dan kerelaan para pasien kanker tahap akhir tersebut menjadi pasien meski mereka harus membayar, patut diberi apresiasi. Paling tidak ini masih jauh lebih baik dibandingkan dengan pasien-pasien kanker kita di tanah air yang lari ke pengobatan alternatif yang tidak memiliki landasan keilmuwan sama sekali. Kebanyakan pasien kita tidak bisa berpikir kritis dan mau saja membayar mahal terapi pengobatan dukun ala simsalabim atau ramuan-ramuan tertentu yang belum dibuktikan dalam penelitian apapun.

Dichloroacetate: Isu Etika dan Bisnis

Salahkah para pasien kanker tahap akhir tersebut serta dokter yang memberikan DCA kepada mereka? Secara etik dan hukum bisa saja para dokter itu dijerat karena mereka telah memberikan pengobatan yang belum dibuktikan efektifitasnya secara akademik formal melalui penelitian klinis. Pasien bisa dianggap korban malpraktek dalam hal ini. Akan tetapi jika pasien tersebut dengan kesadaran sendiri memilih ikut terapi meski harus membayar, bagaimana? Haruskah mereka menunggu bertahun-tahun selesainya penelitian klinis DCA yang nampaknya juga akan tersendat-sendat karena tidak adanya minat perusahaan obat mensponsorinya, sebelum akhirnya mereka secara hukum bisa mendapatkan terapi yang cukup menjanjikan tersebut? Sementara umur harapan hidup mereka sangatlah terbatas.

Saya kira ini secara etika kedokteran adalah persoalan yang pelik. Mungkin kalau di Indonesia, permasalahan ini sama sekali tidak menjadi masalah mengingat keberadaan pengobatan alternatif dan dukun-dukun berobat yang menawarkan penyembuhan berbagai penyakit berat seperti kanker saja tidak diatur. Pemerintah tidak ambil pusing apakah terapi mereka betul-betul efektif atau hanya menjadi ladang penipuan pasien-pasien yang sudah putus asa. Tapi di negara maju, ini menjadi isu yang sangat besar karena keselamatan pasien dan integritas dunia kedokteran dipertaruhkan. Dalam kasus DCA di atas, banyak sekali kalangan profesional yang sangat menyesalkan adanya dokter yang mau berpetualang apapun alasan yang mendasarinya.

Satu-satunya langkah yang tepat tentunya adalah mempercepat uji klinis dari obat ini untuk mengetahui secara pasti efektifitasnya. Namun secara bisnis obat ini tidak menarik bagi perusahaan obat untuk disponsori. Oleh karena itu di negara maju yang kapitalistis, penelitian klinis DCA ini mungkin akan terhambat.

Pelajaran Berharga dari Kasus

Negara adalah penanggung jawab penuh terhadap segala urusan warga negaranya termasuk masalah pelayanan kesehatan. Adalah tugas negara untuk menyedikan pelayanan kesehatan yang terjangkau bagi semua rakyatnya. Ini tidak berlaku di negara kapitalis seperti AS dimana korporasi dan dunia swasta sangat berperan dalam urusan kesehatan di sana. perdebatan mengenai kebijakan kesehatan nasional  yang terjadi antara kubu Presiden Obama dari Partai Demokrat dan kubu Partai Republik menunjukkan betapa rakyat Amerika  begitu kuatnya dipengaruhi oleh pengusaha dan korporasi. Partai republik yang pro korporasi begitu mati-matian melawan rencana Obama yang ingin memjalankan asuransi kesehatan yang  dijalankan oleh negara yang lebih terjangkau bagi sebagian besar rakyat amerika.

Negara yang dikuasai oleh lobi korporasi akan melahirkan kebijakan-kebijakan yang pro korporasi dan mengabaikan kepentingan orang banyak. Bagaimana segelintir kapitalis di Amerika dengan kekuatan finansialnya bisa memporak-porandakan ekonomi dunia menuju krisis adalah contoh paling konkret bahaya kapitalisme ini bagi kebanyakan orang.

Dengan kapitalisme yang berkuasa, maka harapan untuk mengembangkan penelitian  obat yang murah seperti DCA ini akan jalan di tempat. Perusahaan obat lebih menitik beratkan aspek ekonomi dibanding aspek kemanusiaan di dalam kiprahnya.

 


Harga Obat Mahal? Akibat Hubungan Kolutif Dokter-Perusahaan Obat? Sebuah Analisis Awal

27 November 2009

 

Sedikit Tentang Ekonomi Pasar

Harga obat sudah bukan rahasia lagi sejak dulu memang mahal. Namun ternyata mahalnya sebagian obat di Indonesia dikarenakan harga masih ditentukan oleh penjual bukan oleh mekanisme pasar menurut hasil penelitian disertasi Erni Widhyastari yang dipresentasikan dalam ujian promosi doktornya di UI dalam bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat (Kompas).

Bagaimana ini bisa terjadi? Adakah kartel harga obat? Adakah peranan dokter dalam hal ini? Apa yang bisa dilakukan untuk mempermurah harga obat?

Ini yang saya akan coba sedikit jelaskan setidaknya dari perspektif pribadi.

Dalam ekonomi pasar, harga suatu produk boleh dikatakan sangat tergantung pada hukum penawaran dan permintaan (Demand and Supply principle), dimana permintaan adalah  berapa banyak barang atau jasa  yang dibutuhkan oleh pembeli sedangkan penawaran adalah merupakan jumlah barang atau jasa yang ditawarkan oleh pasar (boleh jadi produsen, distributor obat dalam hal ini).

Hukum Permintaan menyatakan jika faktor-faktor lain dalam kondisi yang sama (setimbang) maka semakin tinggi harga produk menyebabkan penurunan permintaan akan produk tersebut. Sebaliknya Hukum Penawaran menyatakan semakin tinggi harga suatu produk maka produksi barang atau jasa tersebut akan semakin meningkat.

Dalam teori, keseimbangan (equilibrium) antara penawaran dan permintaan suatu produk bisa tercapai, namun pada kenyataannya hal tersebut sulit tercapai karena adanya perubahan baik dari sudut permintaan dan penawaran dan faktor-faktor lainnya  baik secara langsung atau tidak langsung. Dengan demikian harga senantiasa terbuka untuk berfluktuasi. Dalam ekonomi pasar dimana terjadi kompetisi terbuka antar produsen dengan catatan tidak ada monopoli,oligopoli, serta kartel, harga obat akan cenderung mengikuti permintaan pasar. Dengan demikian dalam ekonomi pasar, konsumen tentunya cenderung bisa mendapatkan harga yang murah.

Variasi Harga Obat

Dalam orasinya, Erni Widhyastari mengemukakan bahwa variasi harga satu jenis obat bisa sangat tajam. Harga obat yang termahal bisa 14 kali lipat harga yang paling murah dari jenis yang sama. Perbedaan harga ini belum tentu mencerminkan perbedaan kualitas, mengingat di Indonesia diberlakukan standar yang sama untuk semua produsen obat untuk menjamin kualitasnya. Standar ini diukur dengan indikator cara pembuatan obat yang baik (CPOB). Kalau berdasarkan kriteria ini, bisa kita meyakini bahwa obat-obat yang beredar di pasaran dengan variasi harga yang tajam tersebut, semuanya memiliki kualitas yang cukup menjamin efektifitas dan efikasinya.

Dalam penelitian tersebut juga diketahui bahwa perusahaan PMDN menjual produknya dalam kisaran harga pasar, perusahaan BUMN menjual 60% produknya dalam harga pasar, sementara perusahaan farmasi PMA dan inventor (penemu dan pemgembang obat) secara konsisten menjual produknya di atas harga rata-rata.

Obat mana yang paling banyak terjual: yang murah atau yang mahal?

Kalau standar CPOB yang diberlakukan oleh pemerintah dilaksanakan dengan baik, maka boleh dikatakan adalah suatu pemborosan untuk membeli obat yang mahal berkali-kali lipat sementara efektifitasnya bisa kita dapatkan dari obat yang lebih murah.  Oleh karena itu pasien tidak perlu ragu memakai obat yang harganya lebih murah. Hanya saja memang kita perlu berhati-hati terhadap peredaran obat palsu yang tentu saja harganya juga murah, namun kualitasnya jelek.

Dalam kondisi ekonomi pasar, tentu bisa diramalkan bahwa yang paling banyak terjual adalah obat yang termurah, namun di Indonesia hal tersebut tidak selalu terjadi sesuai dengan hasil survei harga obat yang dilakukan oleh Litbangkes tahun 2004. Dalam laporannya, diketahui bahwa harga obat generik termurah tidak selalu merupakan obat yang paling banyak terjual. Tentu banyak yang bisa menyebabkan hal ini terjadi, termasuk ketersediaan obat generik termurah tersebut di masyarakat. Namun satu faktor lain yang saya kira sangat berpengaruh dalam pemilihan obat atau preferensi jenis obat yaitu: pilihan dokter.

Pasien adalah pihak yang tidak bisa dikatakan sebagai konsumen obat sebagaimana konsumen-konsumen produk yang lain. Pasien lebih banyak- kalau tidak semuanya- tidak mempertanyakan mengenai pilihan-pilihan obat kepada dokternya.  Apa yang diresepkan oleh dokter mereka anggap sebagai harga mati, padahal dokter sering meresepkan obat merek tertentu yang lebih mahal padahal ada obat merek lain atau obat generik yang harganya lebih murah. Bukan rahasia lagi dokter-dokter zaman sekarang sering bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan farmasi tertentu dalam bentuk pemakaian obat dengan imbalan berbagai macam, seperti fee sekian persen dari harga obat yang dibayar pasien, fasilitas uang transportasi dan akomodasi dalam mengikuti kegiatan ilmiah dan akademik, dan lain-lain. Semakin banyak dokter tersebut memakai obat perusahaan tersebut, maka semakin besar imbal jasa yang akan diterima. Ini yang saya namakan sebagai kolusi terselubung antara dokter dan perusahaan farmasi.

Perusahaan-perusahaan farmasi melalui detailer-detailernya sejak dulu selalu berkompetisi satu sama lain untuk mendapatkan dokter pelanggan setianya (faithful prescribers) dengan tawaran-tawaran yang menggiurkan tentunya. Jadilah dokter-dokter kita sebagai konsumen obat, bukan para pasiennya.

Karena secara de facto, dokterlah yang menjadi konsumen obat, maka hukum ekonomi pasar tidak berlaku dalam perdagangan obat. Maka jangan heran, obat yang murah tidak menjadi obat yang terlaris. Yang terlaris tentunya obat yang produsennya memiliki jaringan faithful prescribers yang luas dan yang dipelihara dengan imbal jasa yang memuaskan dan terus-menerus.

Di front terdepan, perusahaan-perusahaan farmasi ini diwakili oleh para detailer-detailer yang didik sedemikian rupa untuk memiliki kemampuan komunikasi (baca: merayu) dengan para dokter. Mereka saya kira tidak asing bagi pasien di tempat-tempat praktek dan bahkan institusi kesehatan seperti rumah sakit. Mereka bahkan sanggup untuk menunggu praktek dokter hingga larut malam hanya untuk mempromosikan produk mereka.

Kerjasama yang bersifat kolusif seperti di atas, tentu saja tidak terjadi pada semua dokter dan institusi kesehatan. Masih cukup banyak dokter yang memiliki nurani, yang memilih obat sesuai dengan kebutuhan dan kondisi finansial pasien. Hanya saja berapa persentase dokter yang baik ini, sampai saat ini belum ada kejelasan. Mungkin sudah saatnya kita melakukan survey tentang ini.

Bagaimana jalan keluarnya?

 Untuk menyelesaikan masalah ini saya kira pemerintah memegang peranan penting untuk mengatur masalah peresepan obat. Sejauh yang saya ketahui belum ada undang-undang khusus yang mengatur tentang peresepan obat ini.

Kalau pemerintah menginginkan peresepan obat yang lebih teratur, efisien dan ekonomis, diperlukan undang-undang yang sedemikian rupa menjamin akses masyarakat sebagai konsumen terhadap obat murah. Dokter juga perlu diatur sedemikian rupa agar memiliki kewajiban secara hukum untuk memilih obat efektif yang termurah sebagai pilihan pertama kepada masyarakat. Juga perlu diatur adalah bagaimana status pemberian fee dan segala macam fasilitas yang diberikan kepada dokter oleh perusahaan farmasi tertentu yang obatnya dipakai oleh dokter yang bersangkutan, apakah melanggar hukum atau tidak. Sejauh pengamatan saya, kerjasama ini bersifat kolutif dan cenderung merugikan pasien, karena pasien akan membayar ongkos pengobatan yang lebih mahal dari komponen harga obat. Sudah waktunya pelanggaran ini dijadikan sebagai tindakan kriminal. Menjadikannya hanya sebagai pelanggaran kode etik yang hanya bisa diperiksa oleh dewan etik kedokteran tidak akan membantu banyak memperbaiki masalah.

Saya mengusulkan agar pilihan jenis obat juga dimasukkan sebagai hal yang memerlukan informed consent pasien, dimana dokter memberikan informasi kepada pasien tentang jenis-jenis obat terkait penyakitnya berdasarkan harga serta efektifitasnya. Dengan demikian pasien turut dilibatkan dalam memutuskan merek atau jenis obat yang digunakan.

Di pihak pasien, perlu juga terus diupayakan agar memiliki keberanian dan membiasakan diri untuk meminta resep obat murah dengan cara meminta penjelasan kepada dokter tentang pilihan-pilihan obat yang bisa digunakan. Pasien harus mendapat informasi yang cukup tentang obat generik berlogo misalnya sehingga ketika konsultasi bisa meminta dokternya untuk menuliskan resep obat generik berlogo.

Pemerintah juga harus menjamin ketersediaan obat generik berlogo ini dengan memberikan insentif yang cukup untuk perusahaan farmasi agar mau memproduksi obat generik berlogo dengan harga yang terjangkau.

Mengingat bahan baku obat sebagian besarnya masih di ekspor, sudah saatnya pemerintah memberikan lebih banyak insentif kepada perusahaan obat berupa penuruan tarif bea masuk impor bahan obat-obatan agar bisa menekan harga obat di pasaran.

Jikalau hal tersebut diatas dilakukan, maka besar peluang penggunaan obat bisa mengikuti harga pasar, dimana obat yang termurah dan efektif bisa lebih banyak terjual.

 


Menteri Kesehatan Endang Sedyaningsih: Perspektif Selintas tentang Kiprahnya, Menghalau Prasangka Buruk

22 Oktober 2009

 

Secara tak terduga dokter Endang Sedyaningsih diangkat menjadi Menteri Kesehatan yang baru di Kabinet Indonesia Bersatu jilid II mengalahkan spekulasi kuat sebelumnya yang memperkirakan Nila Anfasa Moeloek yang akan menggantikan Siti fadilah Supari. Pilihan yang tak diduga-duga bahkan oleh Bu Endang sendiri seperti pengakuannya, sangat wajar akan menimbulkan kontroversi di tengah-tengah masyarakat terlebih lagi alasan mengapa Bu Nila digantikan tidak jelas. Pemerintah atau lebih tepatnya SBY pasti akan beralasan bahwa hal itu adalah hak prerogatif presiden.

Mengenai Endang sendiri, kalau saya tidak salah ingat, beliau pernah mengasuh rubrik kesehatan di majalah anak-anak Ananda. Saya cukup sering membaca Majalah Ananda ketika masih SD dulu. Mungkin saja saya salah.

Sebagai wanita karir di Depkes, saya kira beliau punya pengalaman mengenai birokrasi di sana dan bisa menjadi modal untuk melakukan reformasi yang sangat diperlukan di Departemen Kesehatan. Reformasi dan kebijakan publik yang lebih dibutuhkan dan tepat sasaran ke rakyat tentunya. Ke depan tantangan berat dalam jangka menengah/panjang bagi Departemen Kesehatan adalah memastikan cakupan Jamkesmas yang makin meluas sehingga seluruh masyarakat bisa menikmati pelayanan kesehatan yang berkualitas dan murah. Salah satu masalah penting dalam hal ini, setidaknya dalam jangka pendek adalah penyediaan obat murah yang berkualitas, dan upaya untuk mendorong, kalau perlu memaksa dokter untuk memakai obat generik dalam setiap resepnya kalau memang tersedia. Pilihan ke obat mahal hanya bisa dilakukan jika sediaan generik tidak ada sama sekali atau tidak mencukupi. Bisakah Bu Endang melakukan ini? Mengingat ada kabar burung bahwa dia dipilih karena dekat dengan kepentingan Amerika Serikat (baca NAMRU). Kita tentu tahu bahwa kapitalis Amerika tidak menginginkan adanya program obat murah seperti ini karena kepentingan perusahaan-perusahaan obat raksasa.

Saya mencoba menelusuri track record beliau di penelitian dengan mencarinya di Google Scholar, dan hasilnya cukup impressif. Beliau menjadi coauthor di banyak paper ilmiah di berbagai jurnal internasional yang cukup bergengsi. Dapat saya simpulkan bahwa beliau adalah seorang ilmuwan. Beliau banyak bergelut di bidang penyaikit menular tropis terutama virus flu burung (avian flu). Sebagai seorang ilmuwan tentu kita mengharapkan beliau memiliki objetivitas dan integritas yang tidak bisa dibeli oleh alasan apapun. Namun perlu kita maklumi pula jabatan sebagai menteri sangat berbeda dengan jabatan sebagai peneliti. Seorang menteri adalah pengambil kebijakan yang sangat berpengaruh terhadap rakyat banyak. Kalau menteri melakukan kesalahan atau kebijakan yang tidak optimal, maka ada kemungkinan rakyat dan negara akan mendapatkan efek negatifnya baik dalam jangka pendek maupun panjang. Saya sendiri melihat bahwa sudah saatnya penelitian-penelitian medis di tanah air lebih ditingkatkan terkait dengan masalah-masalah yang memiliki potensi menimbulkan bencana epidemik seperti masalah penyebaran berbagai virus flu dari berbagai jenisnya. Penelitian ini tentunya diharapkan bisa memberikan kemampuan kepada kita untuk lebih mandiri sekaligus membuka lebar-lebar kerjasama dengan ilmuwan-ilmuwan dari luar atas dasar pengembangan pengetahuan dan menghindari motif-motif ekonomis. Bukan berarti bahwa hasil penelitian tidak boleh atau haram hukumnya untuk ditransformasi menjadi teknologi untuk kepentingan umat manusia, namun diperlukan upaya-upaya serius agar penelitian bisa ditransformasi menjadi produk yang murah dan terjangkau bagi seluruh umat manusia. Ini tentunya sangat sulit, namun kalau kita mau tentu bisa. Mulai dengan kebijakan untuk memperkuat kemandirian kita.

Kontroversi mengenai isu menjual virus yang dihembuskan oleh media seharusnya tidak boleh terjadi tanpa bukti yang kuat. Dalam dunia penelitian kadang karena keterbatasan fasilitas dan sumber daya manusia, suatu penelitian harus dilakukan di luar negeri. Kesan saya, mungkin saja Bu Endang mesti membawa sample flu burung ke luar negeri karena alasan ini, bukan karena alasan ekonomi. Oleh karena itu, kepada menteri yang baru, agar bisa  menepis isu ini, tentu perlu membuktikan kebijakannya ke depan untuk memberdayakan penelitian virology di Indonesia, sehingga kemandirian kita untuk meneliti dan memproduksi vaksin sendiri bisa terwujud. Adalah alasan yang tidak masuk akal untuk melarang membawa sample virus yang berpotensi mengakibatkan pandemik ke luar negeri untuk di teliti ( untuk pembuatan vaksin yang mendesak umpamanya) sementara di dalam negeri kita tidak memiliki fasilitas dan kemampuan untuk menilitinya.  Alasan nasionalisme sempit harus dijauhkan dari dunia penelitian, mengingat penelitian itu tidak mengenal tapal batas. Kolaborasi dari penelitian dari berbagai bangsalah yang membawa kemajuan seperti sekarang ini. Jadi inti masalah sebenarnya adalah bagaimana memberdayakan  penelitian yang mandiri agar kita bisa berkontribusi lebih banyak baik untuk masyarakat dan dunia ilmu pengetahuan.

Isu jual beli virus ini hanya kabar burung sepanjang keyakinan saya. Dan Ibu Siti Fadilah pasti tahu bahwa itu tidak terjadi. Permasalahan hangat yang terjadi terkait dengan proses virus sharing antara Pemerintah Indonesia dan Lembaga Kesehatan Dunia WHO, sebenarnya hanya karena Indonesia dalam hal ini Departemen Kesehatan merasa tidak diberikan penghargaan yang lebih dari WHO dan negara-negara maju pembuat vaksin yang menggunakan sample virus dari indonesia. Ini bisa dibaca dalam salah satu review article di Annals Academy of Medicine Singapore yang terbit tahun 2008 yang berjudul: Towards Mutual Trust, Transparency and Equity in Virus Sharing Mechanism: The Avian Influenza Case of Indonesia yang penulis-penulisnya (jangan kaget) adalah Bu Endang R Sedyaningsih, Siti  Isfandari, Triono Sundoro, dan mantan Bu Mentri Siti Fadilah Supari sendiri. Dalam artikel tersebut jelas sekali pendirian Bu Endang dan tentu saja Bu Siti Fadila tentang perlunya negara berkembang juga turut menikmati vaksin dari negara maju yang menggunakan sample dari negara berkembang sebagai bahannya dengan harga yang murah. Jadi jelas sekali tuduhan tersebut bisa diyakini tidak benar.

Abstrak dari review artikel tersebut

Abstrak dari review artikel tersebut

Terakhir buat Bu Endang, mungkin ada baiknya bila dalam jangka pendek, pemerintah segera melakukan vaksinasi flu babi dan flu burung gratis bagi masyarakat terutama golongan yang paling beresiko seperti pekerja medis, anak-anak dan ibu hamil serta lansia. Ini mengingat ancaman penyebaran flu ini sangat besar. Vaksinasi adalah upaya pencegahan yang paling efektif dibanding dengan memasang skrining dan sensor di bandara dan pelabuhan. Pencegahan lebih baik daripada mengobati dan mengisolasi.

Bisakah ibu melakukan ini dalam waktu 100 hari mengingat ancaman itu ada di depan mata. Kita tunggu bu Endang,  kiprahnya. 

 


Awet Muda dengan Sedikit Makan: Hasil Penelitian

30 September 2009

Sebuah Laporan penelitian terbaru di jurnal ilmu pengetahuan Science Volume 325 Bulan Juli 2009 sekali lagi memberikan bukti yang kuat bahwa dengan membatasi jumlah makan (kalori) yang dikonsumsi, daya tahan terhadap penyakit degeneratif dan penyakit terkait ketuaan bisa ditingkatkan serta bisa memberikan efek awet muda baik secara fisiologis maupun secara fisik (=panjang umur).

Pada penelitian tersebut sebanyak 76 kera jenis Rhesus (macaca mulatta) dibagi menjadi dua grup penelitian yaitu satu grup dengan makanan sebebasnya (ad libitum) dan satu grup lagi dengan pembatasan kalori sebanyak 30% dari konsumsi biasa hewan tersebut. Hewan ini selama 20 tahun terus diteliti (1989-2009) dan diawasi baik dari segi timbulnya penyakit terkait ketuaan dan mortalitas (tingkat kematian). Umur harapan hidup rata-rata kera jenis tersebut di dalam laboratorium percobaan sekitar 27 tahun.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama 20 tahun jangka penelitian 37 % kera kontrol yang diberi makan bebas mati akibat penyakit penyakit terkait ketuaan atau penyakit degeneratif (diabetes, kardiovaskular, kanker, atropi otak) dibanding kera dengan konsumsi kalori terbatas sebanyak 13%. Studi ini juga berkesimpulan bahwa kera konsumsi bebas memiliki mortalitas atau tingkat kematian 3 kali lebih besar dibanding kera konsumsi terbatas selama hidup.

Kesimpulan dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa kera konsumsi terbatas memiliki umur fisiologis yang lebih muda dan memiliki daya tahan terhadap penyakit degeneratif yang lebih kuat  dibanding kera kontrol dengan konsumsi bebas padahal umur mereka secara kronologis sebanding. Secara fisik pun kera konsumsi terbatas terlihat jauh lebih muda dibanding kera kontrol seperti yang terlihat dibawah ini. Gambar dibawah adalah foto masa tua kedua kelompok diambil pada kera dengan usia sebanding (rata-rata 27,6 tahun). Perhatikan perbedaannya: kera dengan konsumsi terbatas memiliki tampang dan kondisi fisik lebih muda dan sehat.

perbandingan tampang dan kondisi fisik kera konsumsi bebas (A dan B) dengan kera konsumsi terbatas (C dan D) foto dimabil dari Science vol 325 juli 2009
perbandingan tampang dan kondisi fisik kera konsumsi bebas (A dan B) dengan kera konsumsi terbatas (C dan D) foto dimabil dari Science vol 325 juli 2009

Penelitian ini semakin mengokohkan hasil-hasil penelitian terdahulu baik pada binatang lain maupun pada manusia yang secara umum bisa disimpulkan bahwa dengan konsumsi kalori terbatas (mengurangi jumlah makan) maka baik hewan maupun manusia bisa berumur lebih panjang dan lebih sehat.


Bagaimana kita merasa lapar dan kenyang? Mengapa kita perlu merasakan lapar

24 September 2009

 

Sebagian besar diantara kita mungkin pernah merasakan lapar dan tahu bahwa itu pertanda kita harus segera makan. Namun mengetahui bagaimana perut kita bisa menjadi lapar butuh sedikit motivasi untuk mencari informasinya. Apa perlunya kita mengetahui proses terjadinya lapar pada manusia?

 Rasa lapar sesungguhnya merupakan sinyal yang normal yang mengingatkan bahwa tubuh perlu  menambah energi yang  berkurang. Rasa lapar inilah yang mendorong manusia untuk makan. Dalam dunia modern seperti sekarang ini disinyalir bahwa semakin banyak orang yang tidak pernah lagi merasakan lapar karena berbagai alasan seperti karena gaya hidup dan pola makan yang berubah yang sedikit banyak terkait dengan makin banyaknya ragam makanan yang tersedia serta daya beli yang semakin meningkat seiring dengan kemakmuran dunia.

Manusia semakin banyak yang makan hanya karena sudah waktunya makan (sesuai jam makan yang teratur) meski belum merasakan lapar, karena godaan kelezatan makanan, dan alasan-alasan pendorong lain selain rasa lapar. Kenyataan seperti ini mungkin lazim terjadi pada masyarakat negara maju dan  negara berkembang terutama pada masyarakatnya yang tergolong ekonomi menengah ke atas. Cukup beralasan mengapa jumlah orang yang kegemukan atau obesitas meningkat pada segmen masyarakat tersebut.

Rasa lapar meskipun terasa tidak menyenangkan, ternyata perlu dirasakan dan dijadikan petunjuk utama kapan kita sebaiknya makan. 

Mengapa demikian? Saya akan uraikan alasannya sebagai berikut:

Sebenarnya pembicaraan kita tentang rasa lapar tidak akan lengkap tanpa membicarakan rasa kenyang karena keduanya sangat berhubungan erat dalam mengatur inisiasi (pemulaian) dan pengakhiran suatu proses makan. Namun secara umum bisa dikatakan bahwa pengaturan rasa kenyang secara fisiologis sedikit lebih sederhana dibanding pengaturan rasa lapar.

Secara singkat bisa dikatakan bahwa rasa kenyang disebabkan setidaknya oleh interaksi antara efek mekanistis makanan dalam lambung (berupa distensi atau penggembungan lambung oleh makanan) dengan efek kimia dari makanan berupa pelepasan hormon-hormon tertentu seperti Kolesistokinin dari usus halus. Pernahkah anda merasa sangat lapar dan kemudian minum air putih segelas, dan tiba-tiba anda merasa kenyang? Itu contoh sederhana bagaimana efek distensi tadi bisa menyebabkan rasa kenyang. Namun apakah kenyang karena minum air tersebut sama rasanya dengan kenyang karena makan sepiring nasi dan lauknya? Bagaimana kepuasan yang tercapai oleh dua jenis konsumsi yang berbeda di atas  jika dibandingkan?

Benar, tentu berbeda. Orang akan lebih merasa terpuaskan dengan kenyang karena sepiring nasi dan lauk dibanding kenyang karena segelas air putih. Disitulah letak unsur atau aksi kimiawi zat makanan dalam menginduksi rasa kenyang tadi. Telah diketahui bahwa berbagai zat gizi yang terdapat dalam makanan seperti lemak, protein, karbohidrat bisa merangsang produksi hormon yang menghantarkan signal rasa kenyang seperti Kolesistokinin ke otak untuk diproses. Air putih yang tidak memiliki kandungan zat gizi tersebut tidak mampu menimbulkan rasa kenyang yang memuaskan karena tidak adanya penghantaran signal kenyang tersebut ke otak. Itulah yang membedakan sensasi kenyang yang berbeda tersebut.

Manipulasi rasa kenyang karena distensi lambung kadang digunakan untuk terapi kegemukan yang berlebihan. Kadang lambung dioperasi menjadi lebih kecil agar cepat mencapai rasa kenyang ketika makan, kadang pula balon dipasang di dalam lambung untuk mengurangi tempat yang bisa terisi makanan namun tetap menimbulkan rasa kenyang. Kedua metode makanis tersebut ternyata terbukti bisa menurunkan berat badan dan memperbaiki kondisi metabolisme pasien kegemukan. Pasien menjadi cepat merasa kenyang dan menyebabkan jumlah energi yang dikonsumsi jauh berkurang.

Kenapa Kita perlu merasa lapar?

Telah diketahui bahwa distensi lambung akan memberikan sensasi kenyang. Namun sayangnya lambung yang terdistensi kuat memperlambat proses pengosongan lambung alias makanan membutuhkan waktu lebih lama untuk masuk ke dalam usus halus. Ini akan menyebabkan pelemahan penghantaran sinyal rasa kenyang (Kolesistokinin) ke otak dalam jangka panjang. Jadi semakin sering orang kekenyangan, akan menyebabkan orang tersebut lebih banyak makan (lebih gembul) dalam jangka panjang karena gangguan sinyal rasa kenyang di otak tadi. Ini salah satu alasan kenapa kita dianjurkan makan dalam porsi yang cukup atau tidak sampai menyebabkan perut kita terlalu kenyang. Bahkan mungkin makan kurang dari kenyang lebih baik, namun frekuensi makan ditambah. Dengan cara itu  kita bisa merasakan lapar secara teratur dan menjadikannya pertanda untuk makan. Jangan takut untuk merasa lapar, namun terlampau lapar berkepanjangan juga tidak baik. Sesegera mungkin ketika lapar anda makan.

Rasa lapar sebenarnya dipicu oleh peningkatan hormon Ghrelin dalam darah yang diproduksi oleh sel-sel dilambung. Puasa menyebabkan peningkatan produksi hormon Ghrelin ini di lambung. Ghrelin dalam penelitian menunjukkan efek positip terhadap sekresi dan kerja insulin.  Ghrelin yang meningkat menyebabkan kerja insulin lebih bagus. Pada orang gemuk Ghrelin dalam darah rendah dan disinyalir memperburuk sinyal insulin. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Ghrelin baik untuk membantu kerja insulin. Ini salah satu alasan tambahan mengapa rasa lapar itu penting untuk kita rasakan. Rasa lapar dan puasa akan cenderung meningkatkan produksi Ghrelin yang pada akhirnya penting untuk kesehatan metabolisme.

Makan Sedikit dan Panjang umur

Ada banyak sekali penelitian pada binatang yang menunjukkan bahwa hanya dengan mengurangi konsumsi kalori sampai setengah intake kalori biasanya memperpanjang umur binatang percobaan sampai 30-40%. Jadi nasehat agar makan sedikit dan berusaha merasakan lapar bisa jadi merupakan hal yang perlu dilakukan untuk bisa berumur panjang. (lihat tulisan lain di sini)

Adalah Walter Breuning  seorang lelaki tertua di dunia (tahun ini 113) yang mengaku bahwa umur panjang yang dia miliki sangat terkait dengan kebiasaan makannya yang sedikit. Dia mengaku hanya makan dua kali sehari dan dalam jumlah yang sedikit.(Klik di sini) Dia menasehatkan agar segera beranjak dari meja makan sebelum merasa kenyang.

Bagi orang islam nasehat Rasulullah SAW untuk melakukan puasa baik puasa ramadhan maupun puasa sunat, serta anjuran beliau untuk tidak makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang adalah selaras dengan penemuan ilmu pengetahuan ini yang pada intinya memberikan prinsip dasar untuk hidup sehat dan berumur panjang yaitu makan yang tidak berlebihan atau lebih tepat makan yang dituntun oleh rasa lapar dan berhenti makan sebelum merasa kenyang/kekenyangan.

 


Indonesia dan Brain Drain:Larinya Tenaga Profesional dan Ilmuwan ke Luar Negeri

17 Agustus 2009

 

Dalam sebuah artikel berita di Kompas online 28/07.09) yang mengutip pernyataan Prof. Yohannes Surya-seorang fisikawan- dinyatakan bahwa Indonesia membutuhkan lebih banyak doktor sains untuk mendukung pembangunan bangsa khususnya dalam bidang pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dikatakan bahwa doktor sains di Indonesia jumlahnya masih dibawah seribuan orang dan sangat jauh bila dibandingkan misalnya dengan China yang memiliki sekitar 30.000 orang doktor sains. Hal ini tentunya bukanlah wacana yang baru, akan tetapi nampaknya  pemerintah belum melakukan langkah yang optimal untuk mendukung pemberdayaan ilmuwan di indonesia.

Ditengah kekurangan akan tenaga ilmuwan tersebut, justeru banyak tenaga ilmuwan indonesia yang lari ke luar negeri karena kesempatan berkarya dan memberdayakan diri di tanah air minim. Seperti apa yang terjadi pada para ilmuwan nuklir kita yang banyak lari ke luar negeri seperti Malaysia dan beberapa negara Asia Pasifik lainnya (Kompas online 14/08/09).

Ini ditambah lagi dengan insentif yang sangat rendah sehingga banyak diantara ilmuwan termasuk para dosen yang bekerja di tanah air yang melakukan pekerjaan tambahan diluar tugas pokoknya atau malah akan memilih untuk bekerja di luar negeri untuk mendapatkan pendapatan yang lebih baik.

Kita tentu tidak bisa menyalahkan mereka bila kemudian ada diantaranya yang memilih untuk bekerja dan berkarya di luar negeri. Isu nasionalisme dan cinta tanah air, sama sekali bukan hal yang relevan dan penting dalam hal ini. Ilmuwan bekerja membutuhkan dana dan fasilitas yang lengkap untuk menghasilkan karya dan hasil penelitian yang baik, dan itu yang kurang atau tidak didapatkan oleh mereka di Indonesia. Ada kemungkinan bahwa mereka akan ketinggalan kereta atau ilmu mereka kemudian akan menjadi sia-sia jika terus menerus di dera oleh masalah minimnya dana dan fasilitas jika mereka bekerja di dalam negeri.

Kurangnya dana dan fasilitas penelitian di Indonesia bukan rahasia lagi. Meskipun pemerintah sudah memperlihatkan sedikit perhatian akhir-akhir ini terlihat dari peningkatan anggaran penelitian dari tahun ke tahun namun masih dibutuhkan percepatan yang lebih besar kalau kita ingin mengejar ketertinggalan kita selama ini. Kondisi ini menyebabkan banyak ilmuwan utamanya yang tamatan luar negeri, terhambat untuk mengembangkan ilmu mereka di dalam negeri, karena adanya kesenjangan dana dan fasilitas di dalam negeri jika dibandingkan dengan institusi pendidikan dimana mereka menuntut ilmu sebelumnya.

Keterbatasan dana dan fasilitas penelitian ini pulalah yang menyebabkan   sampai saat ini karya-karya ilmiah para ilmuwan dan dosen di Indonesia sangat sedikit yang bisa terbit di jurnal internasional yang terakreditasi yang nota bene adalah merupakan salah satu tolok ukur kemajuan institusi pendidikan tinggi secara internasional. Ini dikarenakan disamping jumlah penelitian yang masih minim, juga karena kualitas penelitian yang rendah. Oleh karena itu adalah hal yang sangat wajar jika keadaan tersebut menyebabkan banyak ilmuwan  yang enggan pulang setelah menyelesaikan pendidikannya, dan adapula ilmuwan yang sementara bekerja di dalam negeri yang memutuskan untuk hengkang ke negara lain.

 Brain Drain dan Pertumbuhan Ekonomi

Tidak bisa dipungkiri bahwa salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi  suatu negara adalah adanya kreatifitas dan produktifitas rakyatnya. Meski produktifitas yang tinggi suatu negara bisa dicapai dengan investasi asing yang membawa teknologinya untuk dipakai oleh orang pribumi, namun hal tersebut bisa dikatakan sebagai produktifitas yang semu dan tidak independen. Sewaktu-waktu pihak investor asing tersebut dapat saja hengkang dari Indonesia karena alasan tertentu dan menyebabkan keguncangan ekonomi dalam negeri. Wacana alih teknologi adalah wacana yang cukup usang yang tidak pernah nampak efeknya hingga sekarang ini. Paling tidak kita bisa mengambil contoh dari industri otomotif kita. Sampai sekarang kita hanya menjadi pasar dan tempat perakitan kendaraan dari perusahaan asing. Kita sampai sekarang belum bisa membuat mobil kita sendiri, padahal peluang ke arah itu ada jika kita bisa memberdayakan ilmuwan otomotif kita. Tentu banyak faktor lain yang juga menyebabkan gagalnya industri mobil nasional  disamping gagalnya kita memberdayakan ilmuwan otomotif.

Disamping itu, ketergantungan  akan teknologi asing menyebabkan negara bisa didikte oleh negara lain yang memiliki teknologi yang kita perlukan itu. Saya kira masih segar dalam ingatan, bagaimana efek embargo militer Amerika Serikat terhadap Indonesia. Banyak diantara peralatan militer TNI menjadi usang dan maintenancenya terganggu, yang akhirnya menyebabkan kerugian yang banyak termasuk meninggalnya prajurit TNI akibat kecelakaan pesawat. Bagaimanapun besarnya suatu negara, selama tidak bisa mandiri dalam industri peralatan militernya, maka akan menjadi bulan-bulanan negara lain. Keadaan inilah barangkali yang kemudian menyebabkan munculnya semacam momentum yang mendorong pemerintah untuk memfasilitasi pengembangan industri alutsista dalam negeri tahun belakangan ini. Meski kadang kebijakan pemerintah itu lebih terkesan reaksioner dibanding antisipatif-proaktif, Lebih baik terlambat memang daripada tidak sama sekali. Yang memprihatinkan adalah adanya isu larinya ilmuwan-ilmuwan kita dari industri-industri strategis seperti PT DI, PAL dan lain-lain hanya karena keterbatasan anggaran untuk menggaji mereka. Keterbatasan anggaran ini tentunya berpangkal salah satunya dari kurangnya pesanan dalam negeri. Oleh karena itu kalau kita ingin menggerakkan industri kita, sudah seharusnya kita sendiri yang dahulu memprioritaskan diri sebagai pemakainya. Alasan bahwa kita bisa membeli peralatan militer yang lebih murah di luar negeri daripada mengembangkan sendiri adalah alasan yang short-sighted. Kebijakan-kebijakan seperti ini yang kemudian semakin membuka peluang terjadinya brain drain di Indonesia.

Pemberdayaan ilmuwan yang ditandai dengan memperbanyak dana untuk penelitian dan pengembangan fasilitasnya dalam jangka panjang bisa menjadi modal utama untuk meningkatkan kreatifitas dan produktifitas negara. Dengan penelitian akan terbuka potensi yang sangat besar untuk menemukan produk-produk baru dan perbaikan terhadap produk yang lama,  yang tentunya  bernilai ekonomis. Sebuah bangsa yang ingin belajar menjadi maju tak perlu takut untuk mencoba kreatif dan produktif, meski diawal-awal mungkin akan diperhadapkan dengan masalah kualitas produk. Memang semua negara maju sekarang berawal dari tahap tersebut. Jepang dahulunya dikenal sebagai tempat produksi produk manufaktur yang kualitasnya rendah dan sering dianggap remeh, namun seiring dengan perjalanan waktu serta penelitian dan pengembangan yang berkesinambungan, akhirnya mereka bisa menjadi pemimpin di dunia manufaktur dan industri Hi-Tech. Sekarang China pun sudah memperlihatkan gejala yang sama, dan menjadikan China secara perlahan tapi pasti sebagai negara yang berpotensi menjadi raksasa ekonomi berikutnya.

Jadi inti dari sustainable economic growth dalam jangka panjang adalah kuatnya basis penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang salah satu pilarnya adalah institusi perguruan tinggi dan lembaga penelitian. Mau tidak mau pemerintah harus terus meningkatkan perhatiannya terhadap permasalahan ini, kalau negara ini ingin maju lebih cepat. Kita punya segalanya, alam kita kaya akan sumber daya alam, kita punya sumber daya manusia yang melimpah, ilmuwan kita cukup banyak dan kualitasnya tidak kalah baik dari ilmuwan luar negeri, yang kurang adalah kemauan politis dan perencanaan yang matang ke depan.

Brain Drain dan Kebijakan Politis

Kemana arah negara ini dalam jangka pendek dan jangka panjang sangat dipengaruhi oleh kebijakan politis yang diambil pemerintah saat ini. Oleh karena itu kedudukan politisi merupakan kedudukan yang strategis. Dibutuhkan politisi yang mengerti akar permasalahan, dan memiliki visi ke depan yang jelas serta memahami masalah pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tidak bisa ditutupi kenyataan bahwa kebanyakan politisi di tanah air mulai dari tingkat kabupaten sampai pusat diwarnai oleh mayoritas politisi dadakan yang integritas dan kredensialnya lebih banyak meragukan dibanding meyakinkan dikalangan akademik dan ilmuwan. Sangat sedikit politisi kita terutama di tingkat daerah yang memiliki visi dan pemikiran serta agenda yang jelas, karena memang mereka dipilih oleh mayoritas masyarakat bukan karena agenda dan pemikirannya tetapi karena alasan yang lain seperti uang, kebangsawanan, dan keterlibatan di partai politik yang mendapat simpati dari rakyat.

Tentu saja output yang dihasilkan oleh wakil-wakil rakyat tersebut akan jauh dari harapan. Dan seperti yang telah kita ketahui bersama, bersama dengan lembaga penegak keadilan seperti Kepolisian, Kejaksaan, Kehakiman, DPR dan DPRD adalah termasuk lembaga yang dinilai terkorup di tanah air. Ini dikarenakan lebih banyak politisi hanya mewakili agenda pribadi atau kelompok mereka saja dibanding mewakili aspirasi masyarakat dan kemajuan bangsa.

Terkait dengan masalah pengemabangan ilmu pengetahuan dan teknologi ini, sangat tampak tidak menjadi salah satu agenda utama para politisi kita. Sebagai contoh kecil saja, kemauan untuk memperbaiki nasib para ilmuwan dan lembaga penelitian kita seakan tersendat-sendat yang berlawanan dengan fakta bahwa insentif dan gaji politisi di tingkat daerah sampai pusat termasuk sangat besar untuk ukuran indonesia. Hal inilah yang mendorong banyak orang yang sebenarnya tidak memiliki kapasitas dan integritas namun memiliki uang dan modal untuk terjun ke dunia politik dengan agenda sesaat. Toh dengan modal ijazah SMA bahkan ijazah palsu mereka bisa menjadi politisi wakil rakyat dengan gaji yang besar plus kekuatan sosial yang tinggi. Kekuatan sosial yang tinggi tersebut, terkesan sering digunakan untuk kepentingan pribadi dibanding kepentingan masyarakat.

Mau tidak mau kita harus terus menerus mendorong politisi menjadi politisi yang visioner dan berpihak kepada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ini diantaranya bisa dilakukan dengan membuat kelompok pressure dan kelompok ilmuwan yang melek politis. Dengan bersinerginya para ilmuwan dan tenaga profesional, mereka akan memiliki kekuatan dan daya dorong yang lebih untuk menawarkan visi dan misi pengembangan dan ilmu pengetahuan di tanah air. Namun perlu diwaspadai pula bahwa kelompok-kelompok ilmuwan ini agar jangan sampai hanya menjadi kelompok orang-orang yang bergelar sama tapi tidak bergerak di bidang penelitian dan teknologi. Gelar akademik bukan menjadi jaminan ilmuwan tidaknya seseorang, karena seperti yang kita ketahui di Indonesia gelar sudah menjadi ukuran “kebangsawanan” yang baru sehingga tanpa perlu memiliki track record keilmuwan yang terpercaya dan terbukti, seseorang bisa menjadi anggota organisasi profesi. Organisasi “pseudo-ilmuwan” ini akan rentan ditunggangi oleh kepentingan politik perseorangan atau kelompok.

Terbentuknya Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional di Den Haag Belanda bulan Juli tahun 2009 yang diprakarsai oleh Forum Simposium Internasional Pelajar Indonesia yang terdiri dari wakil para ilmuwan indonesia, Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di seluruh dunia, dan organisasi kepemudaan dan mahasiswa indonesia yang diwakili oleh KNPI dan PB-HMI barangkali bisa menjadi modal dasar untuk membentuk kelompok pressure ini untuk mendorong para politisi indonesia untuk segera mengambil langkah-langkah konkrit untuk memberdayakan para ilmuwan indonesia baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Sudah saatnya indonesia memanggil kembali ilmuwan-ilmuwan indonesia di luar negeri untuk berkarya memajukan negara dengan menyediakan fasilitas dan dana yang cukup serta insentif yang bersaing. Dan ini tentu membutuhkan kemauan dan kebijakan politis yang tidak setengah hati. Kembali lagi ini ada ditangan para politisi dan pemerintah.


Diet Mediterrania: Diet Sehat Bermamfaat dan Beberapa Petunjuk Modifikasinya untuk Diet Orang Indonesia

3 Juli 2009

 

Pola Makan sebagai suatu hal yang dinamis

Pola makan kita makan sehari-hari boleh dikatakan sebagai sebuah budaya hasil perpaduan antara preferensi individual dan faktor lingkungan eksternal baik lingkungan fisik maupun sosial. Ini bisa dilihat setidaknya dari kenyataan bahwa masyarakat tertentu sering, kalau tidak mau dikatakan selalu, memiliki kebiasaan makan dan makanan yang khas yang berbeda dari masyarakat lain.

Akan tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa  pola makan, jenis serta ragam makanan seseorang bahkan masyarakat bisa berubah karena pengaruh faktor eksternal yang begitu banyak ragamnya. Perubahan ini sering menyertai perubahan gaya hidup, pengetahuan dan kesadaran terutama pengetahuan gizi, serta ketersediaan dan ragam makanan yang ada dalam masyarakat. Perubahan ini tentunya bisa memberikan mamfaat sekaligus juga ekses negatif.

Kita tidak perlu takut akan perubahan pola makan yang mungkin terjadi asalkan perubahan pola makan tersebut bisa memberikan mamfaat yang lebih baik terutama untuk kesehatan . Namun disaat yang sama kita juga perlu berhati-hati dengan perubahan pola makan yang bisa membawa efek negatif .

Perubahan pola makan yang ideal tentunya didasarkan atas pengetahuan yang jelas akan mamfaat yang bisa diperoleh dari perubahan tersebut. Oleh karena itu kita harus mendorong dan memfasilitasi masyarakat untuk memperoleh pengetahuan dan informasi yang benar tentang makanan dan pola makan yang sehat. Pada saat yang sama kita juga harus membentengi masyarakat kita dari informasi yang tidak akurat dan berpotensi menjerumuskan masyarakat terutama kalangan generasi muda ke dalam pola makan yang keliru.

Kita perlu belajar banyak dari negara-negara maju seperti Amerika Serikat yang bisa dikatakan telah mengalami revolusi dalam hal pola makan dan gaya hidup kesehariannya. Perubahan gaya hidup karena kemakmuran yang disertai perubahan pola makan selama beberapa dekade yang ditandai dengan gaya hidup serba nyaman dan praktis yang membuat tubuh tidak banyak bergerak, pola makan ala fast food dan instant akhirnya membuat lebih dari separuh penduduknya memiliki berat badan yang berlebih sekarang ini. Baru setelah mereka diperhadapkan dengan kenyataan bahwa angka kesakitan dan kematian yang tinggi akibat penyakit-penyakit terkait dengan kegemukan, akhirnya mereka sadar ada sesuatu yang salah dengan pola hidup dan pola makan mereka. Kini langkah-langkah serius telah banyak mereka lakukan untuk mengatasi masalah tersebut.

Dilain pihak, Indonesia terutama di kota-kota besar telah terlihat dengan jelas bahwa pola hidup dan pola makan kita sudah memperlihatkan kecenderungan mengikuti gaya amerika ini. Restoran-restoran cepat saji berdiri di mana-mana, iklan-iklan makanan yang tak akurat dan tak mendidik dengan bebas ditayangkan di televisi yang bisa ditonton setiap saat dan hampir oleh semua lapisan masyarakat. Lambat laun masyarakat kita akan berubah pola hidup dan makannya akibat budaya pop ini dan tentu saja ekses negatif  perubahan tersebut akan muncul dengan sendirinya. Saat ini Indonesia termasuk negara urutan keempat di dunia dalam hal banyaknya penderita diabetes tipe 2.  Saya berpendapat, perubahan pola hidup dan makan kita  juga turut berperan didalamnya.

Diet Mediterrania: Diet Sehat Bermamfaat

Bagi anda yang memiliki selera “eksploratif” yang suka akan pengalaman dan petualangan  rasa dan sensasi baru, sekaligus sehat; barangkali pilihan tersebut bisa jatuh pada pola makan ala mediterrania. Diet ala mediterrania ini bukan berarti bahwa anda mesti makan makanan dari negara-negara mediterrania setiap hari, namun cukup mengetahui jenis bahan-bahan makanan serta komposisi dietnya untuk dipakai dan diadaptasi ke dalam makanan dan diet kita sehari hari.

medsea

Negara-negara mediterrania adalah negara-negara yang mengelilingi laut Mediterrania dari mana diet mediterrania ini berasal (gambar dari www.worldatlas.org)

Diet mediterrania ini adalah jenis diet yang sangat ekstensif diteliti oleh para ilmuwan terkait dengan mamfaatnya bagi kesehatan. Diet ala mediterrania ini telah diketahui berhubungan erat dengan umur harapan hidup yang lebih panjang dan tingkat mortalitas yang lebih rendah untuk semua jenis penyakit.

Bagaimana pola diet mediterrania? 

Pola diet mediterrania adalah pola diet yang kaya akan makanan yang mengandung asam lemak monounsaturated. Pada kenyataannya diet mediterrania ini bercirikan dengan komposisi energi dari lemak yang tinggi (sekitar 30-40% dari total kalori per hari). Tentu ini sangat paradoks dengan anjuran untuk mengurangi konsumsi lemak sehari yang disarankan tidak lebih dari 25% dari total kalori. Tapi kuncinya ada di komposisi asam lemak yang terkandung. Asam lemak lemak ini ada yang disebut asam lemak jenuh (saturated fatty acid), asam lemak tak jenuh (unsaturated fatty acid). Asam lemak tak jenuh ini ada dua yaitu monounsaturated fatty acid (asam lemak dengan satu ikatan ganda pada rantai karbon -C=C- ) dan polyunsaturated fatty acid (PUFA) yaitu asam lemak dengan ikatan ganda pada rantai karbon yang lebih dari satu. Mungkin anda pernah mendengar EPA dan DHA? Keduanya merupakan contoh asam lemak yang termasuk PUFA.

Secara umum diet mediterrania ini bercirikan kaya akan makanan dari tumbuh-tumbuhan, sumber lemak utama adalah dari olive oil, konsumsi ikan dan ayam yang sedang, konsumsi daging merah (red meat) yang rendah, dan konsumsi anggur merah (red wine) yang sedang. Tentu yang terakhir ini (red wine) tidak mungkin kita masyarakatkan karena sebagian besar masyarakat kita adalah muslim.

Diet Mediterrania ini pada awalnya sangat popular dengan efek positipnya terhadap kesehatan jantung.  Orang-orang dengan diet mediterrania ini memiliki prevalensi penyakit jantung koroner yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan orang-orang dari negara lain yang memiliki asupan lemak yang setara komposisinya dari kalori total. Pengamatan  di salah satu negara yaitu Perancis, kemudian menghasilkan istilah “French Paradox” untuk menggambarkan fakta bahwa tingkat prevalensi penyakit jantung koroner di Perancis yang relatif rendah dibanding kenyataan bahwa tingkat konsumsi lemak penduduknya termasuk tinggi. Meskipun para ahli masih berbeda pendapat tentang alasan terjadinya paradox ini, namun mayoritas pendapat yang berbeda tersebut semuanya terkait dengan pola makan dan komposisi makanan yang dikonsumsi.

Mamfaat Lain Diet Mediterrania

Dalam sebuah hasil penelitian juga dikemukakan bahwa meskipun diet mediterrania ini tinggi lemak justeru cenderung menguntungkan untuk penurunan berat badan karena komposisi karbohidratnya cenderung lebih rendah. Dengan demikian bagi mereka yang ingin menurunkan berat badan dengan diet mediterrania ini, penting pula untuk memperhatikan berapa banyak karbohidrat yang dkonsumsi.

Disamping itu pula, diet mediterrania ini juga memberikan mamfaat dalam pencegahan dan penanganan penyakit diabetes tipe 2. Cukup banyak penelitian yang menunjukkan bahwa diet ini cenderung meningkatkan sensitivitas insulin, meningkatkan hormon adiponektin yang berfungsi untuk membantu kerja insulin, serta mengurangi senyawa-senyawa inflamasi (zat dalam tubuh yang berperan dalam meningkatkan resiko penyakit jantung koroner dan diabetes) seperti C-reactive Protein, Interleukin-18, serta memperbaiki profil lemak dalam darah.

Tips Diet ala Mediterrania

Nah berikut ini saya memberikan tips bagiamana anda bisa melakukan sedikit modifikasi terhadap diet anda selama ini agar bisa mendapat mamfaat kesehatan diet ini.

1. Konsumsi Makanan yang kaya akan Asam Lemak Monounsaturated

Diet Mediterrania kebanyakan memperoleh asam lemak jenis ini dari olive oil atau minyak zaitun sebagai campuran berbagai masakannya. Olive oil juga bisa digunakan sebagai minyak goreng namun konsumen harus memilih tipe yang cocok untuk ini mengingat adanya bermacam-macam olive oil di pasaran. Namun penggunaanya mungkin dibatasi oleh harganya yang cukup mahal. minyak lain seperti minyak bunga matahari, safflower oil , canola oil juga bisa digunakan. Kalau praktis, mungkin anda bisa mengurangi penggunaan minyak kelapa dan mensubsitusinya dengan margarine.

Sumber makanan lain yang kaya akan  Asam Lemak Monounsaturated adalah buah alpukat. Buah ini termasuk lezat dan cukup murah harganya. Cobalah mengkonsumsi alpukat secara teratur. Barangkali dengan lebih sering memilih jus alpukat dibanding jus yang lain akan memperbaiki profil lemak darah anda menjadi lebih sehat.

Buah alpukat kaya akan Asam Lemak Monounsaturated (Sumber: www.deptan.go.id/.../gambar/Horti)

Buah alpukat kaya akan Asam Lemak Monounsaturated (Sumber: www.deptan.go.id/.../gambar/Horti)

 

Sumber lain yang bisa dipilih adalah kacang atau nuts seperti hazelnut, almond, macademia, walnut, kacang tanah. Mengkonsumsi sekitar segenggam walnut per minggu  menurut penelitian sangat berguna untuk mencegah terjadinya penyakit jantung.

2. Memperbanyak konsumsi ikan

Dari penelitian 2-3 kali seminggu konsumsi ikan terutama ikan yang memiliki banyak minyak seperti sardine, tuna, dan sebagianya bisa memberikan mamfaat dalam mencegah terjadinya penyakit jantung. Mengkonsumsi lebih dari itu tidak memberikan mamfaat yang lebih. Namun ikan jauh lebih sehat jika dibandingkan dengan pilihan lauk yang lain seperti daging merah jika dikonsumsi secara teratur dalam jangka panjang, disamping memang harganya yang lebih murah. Mengkonsumsi ikan yang kecil mungkin lebih baik dari ikan yang besar karena kandungan merkurinya jauh lebih sedikit. Ini penting diperhatikan terutama oleh ibu yang hamil.

3. Perbanyak makan kacang-kacangan

Disamping kaya akan serat sayuran jenis ini juga banyak mengandung protein nabati.

4. Konsumsi makanan padi-padian yang masih dalam bentuk whole grain seperti misalnya beras tumbuk, roti whole grain. Lihat tulisan sebelumnya di sini

5. Bagi anda yang ingin turun berat badan, mengurangi porsi karbohidrat sepertiga sampai seperdua dari konsumsi biasanya mungkin akan lebih efektif.

6. Jangan lupa bahwa jumlah kalori secara keseluruhan juga tidak boleh berlebihan. Sebagai petunjuk praktis, kebanyakan orang indonesia dewasa dengan aktivitas sedang kebuthan kalorinya sekitar 2300-2800 kcal per hari.


Kasus Prita Mulyasari: Lemahnya Komunikasi Dokter-Pasien

4 Juni 2009

Kasus yang menimpa Ibu Prita Mulyasari yang dituntut oleh  Omni International Hospital Tangerang atas dasar pencemaran nama baik dan sempat ditahan di LP Wanita Tangerang sebelum akhirnya mendapat penangguhan penahanan, menjadi berita hangat yang memicu timbulnya simpati masyarakat sampai politisi di tanah air.

Kasus ini bermula dari tersebarnya email yang berisi keluhan Ibu Prita di internet yang oleh pihak RS Omni dianggap merugikan dan mencemarkan nama baik RS dan dua orang dokternya.

Dalam email yang tersebar luas tersebut, Ibu Prita dengan gamblang menyatakan bahwa RS Omni International telah melakukan penipuan atas dirinya karena menggunakan hasil lab yang hasilnya tidak valid untuk memutuskan rawat inap. Hasil lab yang dimaksud adalah hitung trombosit yang dilakukan dua kali yang hasilnya 27.000. Keesokan harinya dokter spesialis yang merawat mengatakan ada revisi tentang hasil lab yang dilakukan semalam, dan hasil yang benar adalah 181.000. Inilah yang kemudian dianggap sebagai penipuan oleh Ibu Prita.

Dari keterangan yang ada didalam email tersebut berupa gejala klinis dan hasil pemeriksaan trombosit awal, memang seorang dokter segera akan berpikir bahwa itu demam berdarah sebelum terbukti yang lain, karena Indonesia termasuk daerah endemik demam berdarah. Trombosit yang 27.000 ribu tersebut sudah termasuk membahayakan karena potensi terjadinya perdarahan cukup besar. Jadi berdasarkan pemeriksaan awal, saya kira memang sudah seharusnya Ibu Prita dirawat segera. Perlu dicatat bahwa nilai normal hitung trombosit adalah 150.000-300.000/mikroliter (ada variasi nilai normal antar laboratorium/RS). Nilai kritis pemeriksaan trombosit adalah 50.000. Potensi terjadinya perdarahan sangat besar bila nilainya sudah dibawa 20.000.

Namun yang mencengangkan saya adalah revisi hasil lab yang dimaksud keesokan harinya. Apakah revisi tersebut dilakukan dengan sampel yang sama? Apakah dua kali pemeriksaan  awal (sesuai email Ibu Prita)  tersebut dua-duanya salah? Ini sangat kontras dengan apa yang dijelaskan pihak RS Omni dalam klarifikasinya seperti yang diberitakan oleh Kompas.Pihak RS dari berita itu hanya melakukan dua kali pemeriksaan hitung trombosit, dan menyatakan bahwa pemeriksaan pertama tidak valid karena banyak gumpalan darah. Saya kira disinilah letak kompetensi laboratorium RS Omni yang harus dipertanyakan. Kenapa bisa terjadi banyak gumpalan darah? Darah yang telah diberi anticoagulan atau antibeku tidak akan membeku, oleh karena itu pihak RS Omni harus menjelaskan kepada masyarakat mengapa terdapat banyak gumpalan darah di sampel darah Ibu Prita yang menjadi alasan tidak validnya pemeriksaan pertama.

Secara keseluruhan kasus ini menurut saya hanya karena kurangnya komunikasi antara dokter dan pasien. Setiap tindakan yang diberikan kepada pasien seyogyanya memang mesti sepegentahuan pasien. Di sinilah letak pentingnya informed consent. Dokter-dokter kita sepertinya masih merasa terlalu sibuk untuk menjelaskan secara sederhana kepada pasien tentang penyakitnya, diagnosis,  prosedur pengobatan yang akan dilakukan, sehingga mereka lebih memilih untuk memberikan instruksi berupa resep dan tindakan medis dengn informasi yang seadanya kepada pasien. Dokter sering lebih terfokus kepada pendekatan mekanistis medis seakan-akan yang diobati adalah robot yang tidak memiliki perasaan dan kuasa untuk mempertanyakan apa yang mereka terima. Pendekatan kemanusiaan dan psikologis sangat kering, sehingga pasien merasa hanya bagaikan objek tindakan pengobatan.

Kasus Ibu Prita ini, saya kira hanya semata-mata wujud dari ketidakpuasannya terhadap pelayanan yang diberikan yang tidak memiliki sentuhan kekeluargaan. Meskipun Ibu ini menuduh RS Omni telah melakukan penipuan, sesungguhnya hal tersebut hanya karena kekecewaan dan kebuntuan yang dialaminya dalam memperjelas apa yang terjadi pada dirinya sebagai seorang pasien. Oleh karena itu cukup berlebihan bila kemudian RS Omni melakukan tuntutan karena pencemaran nama baik. Justru kejadian ini harus menjadi pelajaran penting bagi rumah sakit dan para tenaga medis agar dimasa yang akan datang pelayanan terhadap pasien jauh lebih baik dan lebih manusiawi.

Semasa kuliah di fakultas kedokteran, mahasiswa saya kira sudah ditekankan bahwa pasien harus memberikan informed consent sebelum tindakan tertentu dilakukan. Untuk mendapatkannya, tentunya seorang dokter harus menyediakan waktu yang cukup untuk berkomunikasi dengan pasien serta keluarganya tentang penyakit serta rencana dan pilihan-pilihan pengobatan yang akan ditempuh.