Kegemukan (Obesitas) dan Resiko Terkena Kanker dan Tips Pencegahannya

Obesitas meningkatkan resiko terkena kanker

Bukti-bukti penelitian mengenai keterkaitan obesitas dengan penyakit degeneratif sangat banyak dan kuat. Telah diketahui bahwa obesitas sangat terkait bahkan bisa disebut sebagai penyebab penyakit-penyakit degeneratif seperti diabetes tipe II, Hipertensi, dyslipidemia, penyakit jantung Koroner, dan stroke.  Salah satu penyakit degeneratif yang menakutkan yang juga punya hubungan erat dengan obesitas yang akan kita bahas pada tulisan ini adalah kanker atau tumor ganas. Hubungan obesitas dan kanker meski belum bisa dipastikan sebagai hubungan kausal atau hubungan sebab akibat, namun diyakini bahwa obesitas meningkatkan resiko seseorang mengalami kanker. Data menunjukkan bahwa 14-20% kematian akibat kanker pada laki-laki dan wanita disebabkan oleh kondisi kelebihan berat badan (Font-Burgada, Sun and Karin, 2016).

 Mari kita lihat tingkat resiko terkena kanker tertentu dengan peningkatan 5 poin Indeks Massa Tubuh (IMT) seseorang  seperti yang terlihat pada tabel di bawah (Calle and Thun, 2004). Peningkatan IMT 5 poin yang dimaksud ini dari IMT 23 ke 28, 24 ke 29,  28 ke 32 dan seterusnya. Untuk menghitung IMT, Anda hanya membutuhkan data berat badan (Kg) dan tinggi badan (Meter), lalu dihitung berdasarkan rumus BB (kg)/TB2 (m).

Jenis Kanker Relative Risk (Tingkat Resiko)
Laki-laki
Adenocarcinoma esophagus (kanker kerongkongan)

Kanker Tiroid

Kanker Usus Besar

Kanker Ginjal

Kanker hati

1.52

1.35

1.24

1.24

1.24

Wanita
Kanker Endometrium (dinding rahim)

Kanker Kandung Empedu

Adenocarcinoma esophagus

Kanker Ginjal

Leukemia

Kanker Tiroid

Kanker Payudara (Setelah Menopause)

1.59

1.59

1.51

1.34

1.17

1.14

1.12

Sebagai contoh, jika Anda seorang perempuan dengan IMT 28 maka resiko Anda terkena kanker dinding Rahim 1,59 kali lipat dibanding wanita yang punya IMT 23.

Yang menarik adalah penelitian yang menunjukkan bahwa disamping tingkat obesitas, tinggi gula darah juga meningkatkan resiko terkena kanker tertentu (Moore et al., 2018). Ada orang yang mempunyai berat badan berlebih atau obesitas namun mereka secara metabolik masih sehat yaitu ditandai dengan gula darah yang masih normal, sementara yang lain sudah mengalami peningkatan. Penelitian Moore ini menarik karena merupakan analisis data Studi Framingham yang terkenal itu.

 Penelitian Moore dan kawan-kawan menunjukkan bahwa orang dewasa dengan IMT > 25 , WHtR (Waist to Height Ratio) > 0.51 (Laki-laki), > 0.57 (Wanita), dengan gula darah sewaktu > 125 mg/dl memiliki resiko 2 kali lipat untuk terkena kanker (kanker payudara setelah menopause,  organ reproduksi, usus, hati, kandung empedu, pancreas, ginjal, kerongkongan) sementara yang gula darahnya normal hanya 1,5 kali lipat. Orang dewasa yang punya berat badan normal dengan gula darah yang tinggi tidak mengalami peningkatan resiko. Khusus bagi wanita, yang memiliki berat badan lebih dan gula darah yang meningkat memiliki resiko 2,6 kali lipat terkena kanker organ reproduksi (kanker serviks, endometrium, rahim) dan kanker payudara setelah menopause dibanding wanita dengan berat badan berlebih dengan glukosa darah yang normal. Sebagai catatan untuk menghitung WHtR, Anda perlu mengukur lingkar perut (caranya Anda bisa baca di sini) dan tinggi badan dan dihitung menurut rumus Lingkar Perut (cm)/Tinggi Badan (cm).  Contoh, kalau Anda seorang laki-laki dengan lingkat perut 120 cm dan tinggi badan 165 cm maka WHtR Anda adalah 120/165= 0.727 yang berarti Anda memiliki ratio yang lebih tinggi dari 0.51. Kalau IMT Anda misalkan 25 dan glukosa darah sewaktu (GDS) 129 mg/dl berarti Anda punya resiko 2 kali lipat dari orang yang normal untuk menderita kanker. Namun  penelitian ini adalah penelitian observasional yang  hanya bisa melihat hubungan keterkaitan semata, bukan hubungan sebab akibat. Disamping itu interpretasinya harus dilihat dengan pendekatan komunal/masyarakat bukan individual.

Bagaimana obesitas bisa memicu terjadinya kanker?

Terjadinya kanker terkait obesitas bisa berbeda di setiap organ, bahkan mekanisme terjadinya sampai sekarang masih belum bisa dipastikan. Namun ada beberapa indikasi yang dipercaya mengapa obesitas itu bisa memicu timbulnya kanker(Font-Burgada, Sun and Karin, 2016). Yang pertama adalah terjadinya reaksi radang ringan kronis pada sel-sel lemak pada obesitas yang menghasilkan zat-zat yang memicu terjadinya tumbuhnya tumor baik berupa zat radang maupun hormone-hormon tertentu. Yang kedua, terjadinya resistensi insulin, suatu keadaan dimana sel-sel tubuh menjadi tidak peka lagi terhadap insulin yang mengakibatkan peninggian insulin dan gula darah. Insulin dan gula darah yang tinggi dipercaya merupakan pemicu tumbuhnya sel-sel kanker. Yang ketiga, pada obesitas diketahui terjadi perubahan microflora dalam usus karena adanya komposisi diet yang biasanya tinggi lemak dan kurang serat makanan. Perubahan microflora usus ini bisa menyebabkan peradangan ringan kronis secara sistemis dan tumbuhnya bakteri jahat yang menghasilkan zat yang memicu tumbuhnya sel kanker. Yang keempat, gangguan kerja sel-sel imun sehingga tidak bisa mematikan sel-sel tumor yang sedang tumbuh

Gaya hidup yang bagaimana untuk mencegah kanker terkait obesitas?

Sebenarnya ada dua hal yang bisa dilakukan untuk mencegah obesitas dan kanker. Yang pertama adalah pendekatan diet yang sehat dan seimbang dan yang kedua adalah aktivitas fisik berupa olahraga yang teratur.

Untuk mencegah kelebihan berat badan diperlukan kesadaran untuk tetap menjaga kestabilan berat dalam kisaran normal. Berat badan dalam kisaran normal untuk orang Indonesia adalah dengan IMT antara 18,6-22,9. Untuk itu diperlukan asupan kalori yang cukup dan tidak berlebihan. Disarankan untuk menimbang berat badan secara teratur tiap minggu untuk memonitor kestabilan berat badan. Timbanglah berat badan Anda di pagi hari sebelum makan minum dan berolahraga dan dianjurkan pada waktu yang sama. Makan, minum dan berolahraga bisa berpengaruh pada berat badan Anda. Jika terjadi peningkatan, maka secara sederhana perlu mengurangi jumlah kalori yang dikonsumsi, atau lebih meningkatkan aktivitas fisik agar berat badan stabil. Jika seumpama Anda menambah berat badan (lemak tubuh) sebanyak ½ kg dalam seminggu, berarti Anda kelebihan kalori berkisar 500-600 kalori per hari. Pertimbangkan untuk mengurangi porsi makanan atau mengurangi kalori yang dikonsumsi yang caranya bisa bermacam-macam seperti menghindari makanan yang  padat kalori  seperti makanan yang manis-manis dan berlemak, bisa juga mengurangi jumlah karbohidrat yang dikonsumsi.

Vibrant Produce

Sayur dan Buah Sumber Serat dan Zat Pencegah Timbulnya Kanker (Gambar dari https://naturespulchritude.wordpress.com)

Untuk aktivitas fisik, dianjurkan berolahraga setiap hari selama 30 menit. Pilihan yang baik antara lain senam, bersepeda, atau jogging. Latihan beban 2-3 kali seminggu juga dianjurkan untuk menjaga massa otot.

Perbanyaklah mengkonsumsi sayuran dan buah. Dalam sehari Anda dianjurkan mengkonsumsi sayuran sebanyak 4-5 porsi, buah 3-4 porsi. Satu porsi sayuran kira-kira setara dengan ½ cangkir sayuran daun yang telah dimasak dan ditiriskan. Satu porsi buah contohnya satu apel sedang, satu pisang sedang, atau setengah cangkir buah yang dipotong dadu. Sayuran dan buah merupakan sumber serat makanan yang sudah diketahui bisa mencegah kanker terutama kanker usus besar. Serat juga baik untuk menjaga microflora yang sehat dalam usus. Sayuran dan buah juga merupakan sumber antioksidan serta zat-zat lain yang bisa mencegah terjadinya kanker.

Kurangi makanan yang berlemak tinggi, daging merah, susu full cream. Dianjurkan untuk mengkomsumsi susu rendah lemak atau skim sebagai sumber kalsium. Untuk masakan pilihlah sumber minyak yang sehat yang banyak mengandung lemak tidak jenuh seperti olive oil, minyak wijen, minyak bunga matahari dan lain-lain.

Tidak merokok dan tidak minum alcohol adalah dua hal dianjurkan untuk mengurangi resiko terjadinya kanker.

Kepustakaan

Calle, E. E. and Thun, M. J. (2004) ‘Obesity and cancer’, Oncogene. Nature Publishing Group, 23(38), pp. 6365–6378. doi: 10.1038/sj.onc.1207751.

Font-Burgada, J., Sun, B. and Karin, M. (2016) ‘Obesity and Cancer: The Oil that Feeds the Flame’. doi: 10.1016/j.cmet.2015.12.015.

Moore, L. L. et al. (2018) ‘Metabolic Health Reduces Risk of Obesity-Related Cancer in Framingham Study Adults’. doi: 10.1158/1055-9965.EPI-14-0240.

Iklan

Jaringan Lemak Ajaib dalam Tubuh Kita: Jaringan Lemak Coklat (Brown Adipose Tissue)

Tulisan saya yang lampau telah membahas secara ringkas tentang perut buncit yang disebabkan oleh penumpukan lemak di bawah kulit perut serta di sekitar organ-organ dalam perut. Penumpukan ini tidak baik bagi kesehatan karena bisa menjadi penyebab terjadinya gangguan metabolik yang diakibatkan oleh terjadinya resistensi insulin.

Lemak yang kita bicarakan di atas sebenarnya adalah jaringan lemak putih (white adipose tissue). Disebut demikian, karena memang warna jaringannya berwarna putih, sebagaimana lazimnya kita lihat pada lemak-lemak yang mendompleng daging yang kita konsumsi.

Tapi tahukah Anda bahwa sebenarnya kita juga punya jaringan lemak coklat (brown adipose tissue) yang warnanya gelap kecoklatan? Penampakan coklat ini diakibatkan oleh banyaknya jumlah pembuluh darah dan mitochondria dibanding jaringan lemak putih[1]. Bagi yang masih ingat pelajaran Biologinya, mungkin masih bisa mengingat bahwa mitochondria adalah organel dalam sel yang berfungsi sebagai pusat pernapasan dan metabolisme zat-zat gizi alias dapur sel untuk memproduksi ATP sebagai sumber tenaga biokimia. Semakin banyak mitochondria sel, maka semakin baik metabolisme sel tersebut dan semakin tinggi daya tahan jaringannya terhadap efek samping reaksi biokimia. Sebagai contoh, pelari maraton memiliki jaringan otot merah pada tungkai bawahnya yang lebih banyak dari pelari sprint/jarak pendek dan orang biasa. Kemerahan ototnya dikarenakan salah satunya oleh kandungan mitochondria yang lebih banyak yang memungkinkan otot pelari maraton lebih kuat dan tahan capek.

Nah, mari kita bicarakan perbedaan fungsi metabolik asasi dari kedua jenis jaringan lemak ini.

Fungsi jaringan lemak putih

Anda mungkin sudah mengetahui fungsi dan tugas jaringan lemak putih (JLP) dalam metabolisme tubuh. Ya benar, JLP ini berfungsi menyimpan kelebihan energi dari makanan yang kita makan sehari-hari dalam bentuk lemak trigliserida untuk digunakan kemudian, ketika suplai energi relatif berkurang. Namun sayang, banyak diantara kita, manusia moderen sekarang ini yang suplai energinya secara kronis (jangka panjang) melebihi energi yang terpakai, sehingga simpanan energi dalam bentuk lemak itu susah berkurang, malah bertambah alias makin gemuk. Ini tidak saja terjadi pada orang dewasa, namun juga pada anak-anak yang masih bertumbuh kembang. Penyebabnya adalah kebanyakan gaya hidup dan lingkungan hidup sehari-hari. Kita semakin banyak makan dan kurang bergerak atau beraktivitas untuk membakar kalori. Dan lebih celakanya lagi, banyak makanan yang tersedia sehari-hari pada zaman moderen ini adalah jenis makanan yang padat kalori, yang merupakan hasil olahan pabrik dalam bentuk instan. Memang rasanya mungkin lebih enak dan praktis, namun kalorinya sangat tinggi tapi justru miskin zat gizi. Coba bayangkan, kandungan energi dari coklat (chocolate bar) per 100 gramnya saja sudah bisa lewat 500 kkal, sementara satu sajian nasi (75-100 gram) hanya sekitar 135 kalori. Untuk makan siang, mungkin kita hanya mengkonsumsi 1-2 saji nasi sudah merasa kenyang, namun kita butuh banyak coklat untuk merasa kenyang, malah tak pernah merasa kenyang berapapun yang dimakan.

Nah, kalau ada orang yang gemuk yang bingung dan mengeluh pada Anda susah menurunkan berat badan, padahal sudah tidak makan nasi atau mengurangi konsumsi nasinya, mungkin sekarang Anda sudah tahu jawabannya, bukan? Ya benar, lihat kudapannya. Banyak orang gemuk yang makan nasinya sedikit atau malah cuma makan nasi sekali sehari, tapi di laci kantornya tersimpan banyak coklat dan makanan ringan lain yang dia konsumsi berkali-kali tanpa merasa bersalah, sambil minum teh manis dan mengetik laporan atau tugas kantornya. Wah, bisa habis sampai 4-5 coklat batang untuk menyelesaikan laporan. Makanya tidak heran jika JLP-nya semakin mengembang. Apalagi ditambah kebiasaan naik becaknya ke kedai untuk membeli coklat, meski jarak yang ditempuh cuma 200 meter!

img_3326[1]

Coklat sambil kerja, gambar diambil dari http://blog.healthyandsane.com

Fungsi jaringan lemak coklat

Sebenarnya ketertarikan para ahli terhadap fungsi jaringan lemak coklat (JLC) pada orang dewasa baru mulai sekitar sepuluh tahun belakangan ini[2]. Dulu dianggap bahwa JLC yang signifikan jumlahnya hanya ada pada janin dan anak bayi yang baru lahir, sementara jumlahnya pada manusia dewasa  dianggap tidak signifikan karena telah mengalami penyusutan. Sebenarnya penemuannya pada orang dewasa pun tidak direncanakan, namun terpantau ketika para ahli berusaha memantau sel kanker atau neoplasma dengan memakai glukosa radioaktif. Sel kanker bisa divisualisasi dengan dengan memakai Positron Emitting Tomography/Computerized Tomography karena menyerap glukosa radioaktif tersebut. Namun ternyata ada jaringan lain selain sel kanker yang juga terdeteksi menyerap glukosa radioaktif tersebut secara sangat aktif dan ternyata terbukti adalah JLC[3].

Nah, berbeda dengan JLP, jaringan lemak coklat berfungsi sebaliknya, yaitu membakar energi untuk menghasilkan panas. Ini bisa dilakukan oleh JLC berkat fungsi gen UCP1 (Uncoupling Protein 1) yang banyak terdapat dalam JLC[1]. UCP1 ini sangat penting untuk pembakaran energi makanan menjadi panas. UCP1 ini salah satu pembeda utama antara JLC dan JLP serta sel-sel lainnya, dan sering dipakai untuk membedakan sel-sel tersebut secara immunohistologis. Kalau sel-sel lain termasuk JLP memproses makanan menjadi energi berupa ATP yang dibutuhkan oleh tubuh untuk semua proses biologis, termasuk dalam membuat dan menyimpan Trigliserida, JLC memproses makanan untuk menjadi panas[4]. Proses menghasilkan panas ini disebut thermogenesis. Thermogenesis ini sangat diperlukan oleh tubuh kita termasuk hewan dalam mempertahankan suhu tubuh ketika berespon terhadap rangsangan suhu dingin.

Coba bayangkan kalau kita bisa memamfaatkan JLC ini secara optimal, mungkin kita bisa sedikit bebas makan apa saja tanpa terlalu khawatir untuk menjadi gemuk. Toh, yang kita makan hanya akan menjadi panas saja.

Nah, para ilmuwan sekarang ini sedang giat-giatnya mempelajari perilaku JLC untuk mencari kemungkinan pemamfaatannya dalam memerangi obesitas atau kegemukan[5, 6]. Meski peran JLC ini masih diperdebatkan,  sekarang telah ada data-data yang cukup menggembirakan meski masih awal tentang mamfaatnya bagi kesehatan metabolisme dan pencegahan obesitas.

Sebuah studi menunjukkan adanya korelasi negatif antara jumlah JLC ini dengan kegemukan pada manusia[7]. Studi ini menunjukkan bahwa indeks massa tubuh yang lebih rendah pada orang yang memiliki jumlah JLC lebih banyak. Studi lain juga menunjukkan bahwa dengan mengaktifkan JLC pada orang dewasa yang memiliki JLC yang kurang jumlahnya atau kurang aktif, mengakibatkan pengurangan massa JLP[8]. Studi ini membuka peluang kemungkinan intervensi medik untuk mengaktifkan JLC untuk melawan kegemukan.

Penelitian tentang peranan dan mamfaat JLC pada hewan malah lebih komplit lagi. Banyak sekali studi yang telah menunjukkan bahwa pengaktifan JLC pada hewan menyebabkan efek anti gemuk meski hewan diberi makanan tinggi lemak. Sebaliknya pengurangan JLC akan menyebabkan berkurangnya pemakaian energi dan membuat hewan coba lebih mudah menjadi gemuk ketika diberi makanan tinggi lemak[6].

Apakah semua orang dewasa memiliki JLC?

Tadi disebutkan bahwa JLC itu lebih banyak terdapat pada janin dan bayi, dan setelah dewasa akan mengalami penyusutan atau regresi. Namun demikian, para ilmuwan sekarang menyadari bahwa JLC ini tetap ada pada orang dewasa dan yang lebih menggembirakan lagi, JLC pada orang dewasa bisa diaktivasi[8]. Ada ilmuwan yang yakin bahwa prevalensi JLC pada orang dewasa adalah 30-100%[9], atau boleh dikatakan hampir sebagian besar orang dewasa mungkin memiliki JLC ini. Dimana saja lokasinya, bisa Anda lihat di gambar skematik dibawah ini. Pada gambar tersebut kita bisa lihat daerah sekitar leher dan di atas tulang selangka (clavicula) adalah daerah JLC yang paling aktif yang direpresentasikan oleh warna yang lebih coklat.

Gambar diambil dari ref. 9

Gambar diambil dari ref. 9

Bagaimana cara mengaktifkan JLC?

Pertanyaan yang paling penting untuk dijawab sebenarnya, apakah berguna pengaktifan JLC ini untuk kesehatan manusia terutama dalam memerangi kegemukan? Saat ini jawabannya masih samar-samar alias tidak jelas. Masih butuh waktu untuk menjawab pertanyaan tersebut. Namun demikian, cukup banyak ilmuwan yang cukup optimistis akan kemungkinan memamfaatkan JLC ini dalam memerangi kegemukan.

Dari berbagai percobaan, JLC pada orang dewasa bisa diaktifkan dengan berbagai cara. Yang pertama dengan memberikan pemaparan hawa dingin pada orang coba. Dalam satu studi pemaparan orang coba dengan suhu 19 derajat Celcius selama dua jam sudah cukup bagi sebagian orang coba untuk mengaktifkan JLCnya dan menyebabkan pengurangan massa JLP[8].

Yang kedua, pengaktifan JLC bisa dengan cara farmakologis dengan berbagai obat. Yang sering diuji adalah golongan perangsang reseptor beta-adrenergik[10] dan berbagai obat-obat lain. Kita masih harus menunggu untuk memastikan apakah obat-obat ini betul bisa bermamfaat bagi manusia dalam mengaktifkan JLC dalam rangka memerangi kegemukan.

Nah, untuk sementara ini saya menyarankan Anda barangkali lebih baik memilih daerah-daerah dingin atau sejuk untuk bertamasya jika ada hari libur. Mungkin saja ada mamfaatnya, namun bisa juga tidak. Tidak ada salahnya mencoba, bukan? Paling tidak bisa menghindari polusi udara kota yang sudah mengkhawatirkan.

Mungkin suatu saat saya akan meminta mahasiswa saya untuk meneliti perbandingan keaktifan JLC ini pada penduduk yang tinggal di pegunungan dan daerah pantai.  Mungkin saja orang-orang yang hidup di daerah pegunungan atau daerah yang sejuk memiliki JLC yang lebih aktif sehingga mereka tidak gampang gemuk dibanding dengan orang yang tinggal di daerah pantai yang  temperatur udaranya lebih panas.  

Daftar Pustaka

1.         Enerback, S., Human brown adipose tissue. Cell metabolism, 2010. 11(4): p. 248-52.

2.         Sacks, H. and M.E. Symonds, Anatomical locations of human brown adipose tissue: functional relevance and implications in obesity and type 2 diabetes. Diabetes, 2013. 62(6): p. 1783-90.

3.         Nedergaard, J., T. Bengtsson, and B. Cannon, Unexpected evidence for active brown adipose tissue in adult humans. Am J Physiol Endocrinol Metab, 2007. 293: p. E444-E452.

4.         Cinti, S., The role of brown adipose tissue in human obesity. Nutrition, metabolism, and cardiovascular diseases : NMCD, 2006. 16(8): p. 569-74.

5.         Zafrir, B., Brown adipose tissue: research milestones of a potential player in human energy balance and obesity. Hormone and metabolic research = Hormon- und Stoffwechselforschung = Hormones et metabolisme, 2013. 45(11): p. 774-85.

6.         Cypess, A.M. and C.R. Kahn, Brown fat as a therapy for obesity and diabetes. Curr Opin Endocrinol Diabetes Obese, 2010. 17(2): p. 143-149.

7.         Cypess, A.M., et al., Identification and importance of brown adipose tissue in adult humans. The New England Journal of Medicine, 2009. 360(19): p. 1509-1517.

8.         Yoneshiro, T., et al., Recruited brown adipose tissue as an antiobesity agent in humans. the Journal of Clinical Investigation, 2013. 123(8): p. 3404-3408.

9.         Nedergaard, J., T. Bengtsson, and B. Cannon, Three years with adult human brown adipose tissue. Annals of the New York Academy of Sciences, 2010. 1212: p. E20-36.

10.        Cypess, A.M., et al., Cold but not sympathomimetics activates human brown adipose tissue in vivo. Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America, 2012. 109(25): p. 10001-5.

Diet untuk Kegemukan: mulai dengan alasan yang benar

Dibawah ini akan saya jelaskan sedikit tentang bagaimana memulai diet. Tahapan ini penting sekali mengingat bahwa diet adalah sebuah usaha yang cukup berat dan berpotensi untuk berhasil, gagal, dan bahkan berefek negatif. Oleh karena itu mulailah diet dengan alasan yang benar.

Mengapa anda mau melakukan diet ?

Ini pertanyaan pertama yang harus dijawab oleh anda dan ini sering pula menjadi pertanyaan awal dokter atau ahli gizi kepada pasien atau klien yang ingin berkonsultasi.

Jawaban atas pertanyaan ini sangat mungkin bisa merefleksikan seberapa besar motivasi seseorang untuk melakukan diet. Dari jawaban ini pula kita bisa mendapatkan tujuan yang ingin dicapai. Tujuan diet yang ingin dicapai penting untuk proses evaluasi, nantinya ketika diet telah dilakukan apakah tercapai atau tidak. Menetapkan tujuan atau target tertentu mesti rasional dan bisa dicapai secara realistis.

Jawaban terhadap pertanyaan di atas seperti “Saya ingin lebih sehat”, “Saya ingin langsing”, “Saya ingin diet agar tidak ditertawakan teman sekolah”, mungkin saja dikatakan oleh seseorang yang ingin berdiet. Ketiganya bisa terlihat jelas memiliki perbedaan dalam hal motivasi dan tujuan.

Sebenarnya untuk tujuan apapun diet anda, tidak masalah, hanya saja saya lebih menekankan aspek kesehatan yang menjadi tujuan utama dan dalam rangka membiasakan diri untuk hidup lebih sehat (healthy life style) yang didalamnya diet termasuk hal yang integral.

Haruskah anda melakukan diet?

Tidak semua orang yang mau melakukan diet perlu melakukannya. Kenapa bisa?

Kita harus membedakan antara alasan subyektif dan alasan obyektif. Dokter untuk memutuskan sesuatu, begitu pula anda harus lebih mengutamakan alasan obyektif dalam mengambil keputusan.

Orang yang memerlukan diet untuk menurunkan berat badan adalah orang yang berat badannya berlebih, dan obesitas. Ukurannya obyektif.

Bagaimana anda tahu bahwa berat badan anda termasuk berlebih? Caranya adalah cukup sederhana seperti pada tulisan saya sebelumnya (di sini). Kalau anda termasuk memiliki berat badan yang beresiko, maka ada alasan kuat untuk melakukan diet.

Cara lain yang juga cukup populer adalah dengan menentukan indeks massa tubuh (IMT) dengan cara berat badan dalam kilogram (kg) dibagi dengan tinggi badan dalam meter (m) kuadrat (IMT= Berat Badan (kg)/Tinggi Badan (m)^2). Sebagai contoh seseorang yang berat badannya 70 kg dengan tinggi badan 160 cm akan memiliki IMT= 70/1,6^2 =  2 7.3 . Interpretasinya bisa menggunakan ukuran yang dipakai oleh WHO dimana IMT yang lebih dari 25 dianggap sebagai berat badan berlebih sementara yang 30 ke atas obesitas. Namun perlu anda tahu bahwa orang-orang asia kecenderungannya memiliki persentase lemak tubuh yang lebih dari orang kaukasia dalam IMT yang sama, karena body frame mereka lebih kecil. Namun sampai saat ini WHO belum merubah standar tersebut karena alasan yang juga bisa dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu saya sarankan memakai angka 25 sebagai titik poin. jadi jika anda memiliki IMT 25 berarti anda sudah perlu berpikir tentang diet yang lebih sehat, apalagi jika anda sudah memiliki IMT di atas 30. Indeks massa tubuh yang norml adalah antara 18.5-24.9.

Alasan obyektif yang lain yang menguatkan disamping berat badan yang berlebih adalah tekanan darah yang lebih dari normal sampai hipertensi, tingginya kadar lemak darah, IFG dan IGT (lihat di sini penjelasannya), riwayat diabetes dalam keluarga dekat (ayah- ibu, kakek-nenek, saudara), gula darah yang naik ketika hamil, ingin punya keturunan. Mengenai yang terakhir, yakni ingin punya keturunan, cukup banyak diantara wanita-wanita yang kegemukan mengalami gangguan pengeluaran telur (ovulasi) akibat gannguan hormonal yang diakibatkan secara langsung atau tidak langsung oleh kondisi kegemukannya. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa penurunan berat badan  5-10 % saja dari berat badan semula akan membuat perbedaan dalam kesuburan wanita yang terganggu karena gemuk. Langkah pertama atau pelengkap langkah yang lain pada wanita gemuk yang ingin punya keturunan adalah diet untuk menurunkan berat badan.

Setelah tahu bahwa anda punya alasan atau indikasi kuat untuk diet penurunan berat badan, barulah anda perlu tahu bagaimana cara melakukan diet yang benar. Mengenai ini akan saya bicarakan dalam tulisan selanjutnya.