Susu Formula Bayi dan Anak: Apakah lebih Mahal Lebih Baik? Meluruskan Salah Paham yang Sering Terjadi


Banyak orangtua sering salah paham tentang perbedaan mamfaat susu formula yang bermacam-macam yang ada di pasaran terhadap pertumbuhan dan perkembangan bayi. Ada sebagian yang sangat percaya bahwa semakin mahal susu formula, maka akan semakin baik mamfaatnya buat pertumbuhan dan perkembangan bayi. Benarkah demikian? Bagaimana dengan berbagai macam klaim-klaim produsen susu tentang berbagai kelebihan produknya berdasarkan berbagai bahan tambahan tertentu yang terkait dengan pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita? Tulisan ini bermaksud untuk menjelaskan pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan landasan ilmiah.

Satu hal yang sudah pasti dan berlandaskan ilmu pengetahuan adalah air susu ibu (ASI) adalah makanan terbaik buat bayi. Badan kesehatan dunia WHO, Pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan  secara tegas menganjurkan agar bayi diberi ASI ekslusif sampai 6 bulan, setelahnya ditambah dengan makanan pendamping ASI (MP-ASI) sambil berupaya meneruskan pemberian ASI sampai anak berumur 2 tahun bahkan sampai tiga tahun.1 Meskipun susu formula dibuat sedemikian rupa untuk menyamai kandungan nutrisi ASI dengan inovasi teknologi dan pengetahuan yang mutakhir, namun secara alamiah ASI terbukti lebih baik memberikan mamfaat bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi. ASI merupakan makanan yang cukup bagi bayi hingga bulan-bulan pertama kehidupan bayi, namun setelah 5-6 bulan harus didampingi oleh MP-ASI untuk mencukupi kebutuhan bayi untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Setelah 6 bulan umpamanya, bayi membutuhkan sumber zat besi yang lebih banyak untuk menunjang pembuatan sel-sel darah merah, karena kandungan zat besi ASI relatif sedikit, apalagi jika diet ibunya juga tidak memadai mensuplai zat besi (lihat tabel 1).

Tabel 1. Perbandingan komposisi ASI, Susu sapi, Susu Formula

Perbandingan Komposisi zat gizi (per 100 ml)
Komposisi ASI Susu Sapi Susu Formula (modifikasi susu sapi)
Energi (kcal) 62 67 60-65
Protein (g) 1,3 3,5 1,5-1,9
Karbohidrat (g) 6,7 4,9 7,0-8,6
Casein:Whey 40:60 63:37 40:60 – 63:37
Lemak (g) 3,0 3,6 2,6-3,8
Natrium (mg) 0,65 2,3 0,65-1,1
Calcium (mg) 33 125 50
Zat besi (mg) 0,15 0,10 0,45-2

Ada banyak keuntungan yang diperoleh jika bayi diberi ASI dibanding susu formula. Beberapa diantaranya adalah imunitas yang diperoleh bayi dari ASI lebih baik; ASI juga lebih merangsang tumbuhnya bakteri yang bermamfaat di dalam usus besar bayi dibanding susu formula seperti Bifidobakteria dan menekan tumbuhnya bakteri yang berbahaya seperti Coliform 2. Kedua hal ini membuat bayi yang mendapat ASI lebih tahan terhadap penyakit infeksi. Data menunjukkan bahwa semakin lama ASI diberikan kepada bayi, semakin melindungi bayi dari penyakit diabetes tipe 1 dan tipe 2, kegemukan, asma, dan beberapa jenis kanker di kehidupan selanjutnya. 3 4 5

Perlu diketahui bahwa di Indonesia seperti halnya di seluruh dunia, ASI dianjurkan sebagai makanan utama bayi dan dan tenaga kesehatan seperti dokter, bidan, perawat dilarang untuk mempromosikan/menganjurkan susu formula sebagai pengganti ASI kecuali dengan alasan yang dibenarkan oleh undang-undang. Peraturan Pemerintah No.33 tahun 2012 dengan tegas menyatakan bahwa setiap ibu yang melahirkan harus memberikan ASI ekslusif kepada bayi yang dilahirkannya dan hanya dikesampingkan jika terdapat indikasi medis, ibu tidak ada, atau ibu terpisah dari bayi6. Praktek pemberian contoh formula cuma-cuma yang biasa dilakukan oleh oknum tertentu adalah pelanggaran undang-undang, yang akan menghambat program pemerintah dalam menggalakkan penggunaan ASI di masyarakat dan bisa dikenai sanksi mulai dari teguran sampai pencabutan izin praktek tenaga kesehatan.

Jenis-jenis susu formula

Secara garis besar ada dua macam susu formula menurut Codex Alimentarius, yang pertama adalah formula bayi (infant formula) dan formula bayi untuk keperluam medis khusus. Yang kedua adalah formula lanjutan (follow up formula) termasuk susu pertumbuhan (growing-up formula). Kita akan bahas macam-macam susu ini satu per satu.

Formula bayi (infant formula) yaitu susu formula yang dapat digunakan sebagai pengganti ASI untuk bayi yang berumur 0-6 bulan jika bayi karena sesuatu alasan tidak bisa mendapat ASI ekslusif. Susu formula bayi ini harus memiliki standar komposisi kandungan gizi dan keamanan yang harus dipenuhi oleh semua produsen baik berdasarkan standar yang ditetapkan oleh badan kesehatan dan makanan dunia (WHO dan FAO) yang dalam hal ini ditetapkan oleh Codex Alimentarius7, maupun standar yang ditetapkan oleh pemerintah negara setempat, yang kalau  kita di Indonesia oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Standar yang ditetapkan oleh BPOM juga mengacu pada standar yang ditetapkan oleh Codex Alimentarius sehingga standar susu formula di Indonesia sama dengan standar di negara lain (lihat tabel 2). Oleh karena itu, semua susu formula bayi yang telah disetujui oleh BPOM/Kemenkes untuk beredar dengan berbagai macam nama dan harga oleh produsen yang berbeda, secara kualitas kandungan gizi dan keamanannya relatif sama, sehingga pilihan produk berdasarkan harga tidak akan mempengaruhi perbedaan kualitas yang diperoleh oleh bayi. Dengan demikian memilih susu formula yang termurah bukanlah kesalahan pilihan namun merupakan pilihan yang rasional. Standar kandungan gizi susu formula yang ditetapkan tersebut telah didasarkan pada bukti-bukti penelitian yang menunjukkan bahwa kandungannya bisa menunjang pertumbuhan dan perkembangan bayi 0-6 bulan, dan dengan demikian bisa menggantikan ASI. Jikalau ada tambahan kandungan gizi tertentu yang menjadi nilai jual (selling point) produk tertentu, bukan merupakan zat gizi yang harus ada pada susu formula bayi untuk menjamin pertumbuhan dan perkembangan bayi.

Bagaimana bukti ilmiah klaim produk formula bayi?

Berbagai klaim tentang mamfaat kesehatan produk susu formula bayi biasanya terkait dengan struktur dan komponen tertentu yang ditambahkan. Klaim bisa memberikan mamfaat atau fungsi tertentu seperti mengurang sakit perut (kolik),  mengurangi lendir, meningkatkan ketajaman penglihatan dan otak, biasa disebut “structure-function claim”. Banyaknya klaim-klaim terkait susu formula bayi ini, menyebabkan BPOM Amerika Serikat (Food and Drug Administration) mengeluarkan tata aturan yang mengharuskan agar setiap klaim-klaim tersebut harus dilandasi dengan bukti-bukti ilmiah yang cukup8. Ini didasari oleh temuan, banyak dari klaim-klaim mamfaat kesehatan susu formula bayi tidak memiliki landasan ilmiah yang cukup sehingga menyebabkan banyak dokter merasa prihatin. Sebagai contoh, FDA AS pada tahun 2014 telah menolak klaim  susu formula yang diproduksi oleh Nestle yang mengandung modifikasi protein Whey, yang mereka sebut dapat mengurangi resiko kejadian alergi makanan. Adapula klaim susu formula bayi dengan bahan dasar  kedelai, susu formula dengan kandungan laktosa yang dikurangi atau ditiadakan, susu formula yang menggunakan hydrolysed protein, susu formula dengan tambahan pre/probiotik yang bisa mencegah terjadinya gejala alergi pada bayi dengan faktor resiko tinggi alergi atau intoleransi laktosa, mencegah bayi rewel karena sakit perut (kolik), maka sampai saat ini bukti ilmiahnya belum cukup untuk membenarkan klaim-klaim tersebut9. Patut diingat, mencegah potensi alergi tidak sama dengan mengurangi/menghilangkan gejala alergi susu sapi pada bayi. Potensi alergi di sini adalah kesempatan timbulnya gejala alergi pada bayi yang diketahui punya resiko alergi yang tinggi karena misalnya kedua orang tuanya juga adalah penderita alergi. Jadi inti klaim produk-produk anti alergi, jika produk mereka diberikan kepada bayi, maka akan mencegah atau menghindarkan bayi dari gejala alergi di kemudian hari. Sementara ada produk susu formula memang diindikasikan untuk mengurangi/menghilangkan gejala alergi terhadap susu, berarti gejala alergi sudah terjadi pada bayi dan salah satu cara penanganannya adalah memilih susu formula yang hipoalergenik, biasanya dengan memilih produk susu formula dengan modifikasi protein seperti produk dengan protein terhidrolisa ekstensif, atau produk yang menggunakan sumber proteinnya berupa asam-asam amino. Bukti-bukti ilmiah penggunaan produk-produk untuk penderita alergi memang sudah banyak dan kuat dan golongan produk ini termasuk contoh formula bayi untuk keperluan medis khusus, dimana penggunaannya bukan untuk semua bayi dan hanya berdasarkan indikasi medis dari dokter.

Bagaimana dengan susu formula bayi dengan tambahan DHA, EPA, ARA yang banyak diklaim oleh produsen bisa memberikan mamfaat berupa peningkatan ketajaman penglihatan, peningkatan kecerdasan karena memperbaiki fungsi retina dan otak? Dari berbagai data ilmiah sampai saat ini kesimpulan yang didapatkan masih kontradiksi, sehingga belum cukup untuk mendasari rekomendasi agar DHA menjadi zat yang wajib ada di susu formula.9 10 Bagaimana dengan efek pemberian DHA kepada ibu yang hamil dan menyusui terhadap kecerdasan dan penglihatan anak? Ini juga belum bisa dibuktikan memberikan mamfaat seperti yang diharapkan secara teoretis. Akan lebih efisien jika ibu diminta untuk lebih banyak mengkonsumsi ikan selama kehamilan dan menyusui agar kandungan DHA ASI lebih banyak. Namun jenis ikan yang dianjurkan adalah ikan yang berminyak, dan menghindari ikan yang berpotensi terkontaminasi oleh merkuri.

Bagaimana dengan susu formula dengan tambahan prebiotic seperti Galacto-oligosacharide (GOS), Fructo-oligosacharide (FOS), serta probiotik berupa bakteri-bakteri penghasil laktat seperti bifidobakteria yang diklaim bisa memperbaiki status imun dan juga flora usus? Masalah ini sampai sekarang masih secara intensif diteliti dan dari data yang ada,  penambahan prebiotic dan probiotik meski dianggap cukup aman, namun bukti-bukti ilmiah untuk mendukung penggunaannya secara rutin masih lemah menurut persatuan dokter gastroenterologi anak Eropa (dokter anak yang spesialis organ dan fungsi pencernaan)  (ESPGHAN)11.

Tabel 2.  Standar Kandungan Susu Formula yang disyaratkan oleh BPOM

Standar Kandungan Zat Gizi (100 kkal) BPOM12
Minimum Maksimum Acuan Batas Atas (ABA)
Energi (100 ml) 60 kkal 70 kkal
Protein 1,8 g 3 g
Isolat protein kedelai 2,25 g 3 g
Lemak total 4,4 g 6,0 g
Asam linoleate 300 mg 1400 mg
Asam α-linolenic 50 mg
Rasi Asam linoleat/ Asam α-linolenic 5/1 15/1
Total Karbohidrat 9 g  14 g
Kandungan Vitamin yang wajib
Vitamin A 60 mcg RE 180 mcg RE
Vitamin D3 1 mcg calciferol 2,5 calciferol
Vitamin E 0,5 mg α-TE 5 mg TE
Vitamin K 4 mcg 27 mcg TE
Thiamin (Vit. B1) 60 mcg 100 mcg
Riboflavin (Vit. B2) 80 mcg 500 mcg
Niacin (Vit. B3) 300 1500 mcg
Pyridoxine (Vit. B6) 35 mcg 175 mcg
Cyanocobalamine (Vit. B12) 0,1 mcg 1,5 mcg
Asam Pantotenat (Vit. B5) 400 mcg 2000 mcg
Asam Folat (Vit. B9) 10 mcg 50 mcg
Vitamin C 10 mg 70 mg
Biotin 1,5 mcg 10 mcg
Kandungan Mineral yang wajib
Zat Besi 0,45 mg 2 mg
Kalsium 50 mg 140 mg
Fosfor 25 mg 100 mg
Rasio Kalsium/Fosfor 1:1 2:1
Natrium 20 mg 60 mg
Magnesium 5 mg 15 mg
Klorida 50 mg 160 mg
Kalium 60 mg 180 mg
Mangan 1 mg 100 mg
Yodium 10 mcg 60 mcg
Selenium 1 mcg 9 mcg
Tembaga 35 mcg 120 mcg
Zinc 0,5 mg 1,5 mg
Komponen lain
Kolin 7 mg 50 mg
Myo-Inositol 4 mg 40 mg
L-Karnitin 1,2 mg
Bahan lain yang dapat ditambahkan (tidak wajib)
Taurin 12 mg
Nukleotida 16 mg
DHA (% asam lemak) 0,2 0,5
Arachidonic Acid harus menyertai pemberian DHA dengan ratio DHA:ARA 1:1-2
Bila diberi EPA kandungannya tidak boleh lebih dari kandungan DHA
Disamping bahan-bahan tersebut dalam tabel, susu formula juga biasanya mengandung bahan tambahan makanan yang  berfungsi  sebagai pengental, pengemulsi, pengatur keasaman, dan antioksidan yang juga telah diatur berapa jumlahnya secara ketat oleh BPOM.

 

Formula bayi untuk keperluan medis khusus adalah formula pengganti ASI atau formula bayi, yang diolah dan diformulasikan secara khusus sebagai tatalaksana diet karena kondisi penyakit atau medis khusus samapai beberapa bulan pertama kehidupan bayi, sampai  MP-ASI dapat diberikan. Susu formula jenis ini harus mencantumkan secara spesifik untuk kondisi atau penyakit apa susu tersebut ditujukan dengan mencantumkan tulisan “Untuk control diet pada…” dan harus mencantumkan pernyataan “GUNAKAN DIBAWAH PENGAWASAN MEDIS”, disamping peringatan bahayanya jika dikonsumsi oleh bayi yang sehat atau tidak menderita penyakit atau kondisi medis tertentu.12 Kandungan zat gizinya harus sesuai dengan komposisi susu formula bayi biasa, kecuali modifikasi komposisi tertentu terkait dengan kondisi penyakit atau keadaan medis yang menjadi indikasi pemberiannya. Karenanya harus dicantumkan pernyataan tentang zat gizi yang mengalami pengurangan, penghapusan, peningkatan atau modifikasi lain dibanding persyaratan normal, dan alasan modifikasi yang dilakukan. Contoh indikasi susu formula untuk keperluan medis tertentu diantaranya adalah susu formula khusus untuk bayi yang mengalami alergi susu sapi, bayi dengan kelainan metabolisme protein bawaan seperti mengalami galaktosemia, maple syrup urine disease, fenilketonuria.

Susu formula berikutnya adalah formula lanjutan (follow-up formula) dan formula untuk pertumbuhan (growing-up formula). Menurut Codex Alimentarius, formula lanjutan adalah jenis makanan yang dimaksudkan untuk menjadi bagian dari diet penyapihan berbentuk cair untuk bayi berumur 6 bulan dan balita.13 Namun sekali lagi, ASI masih merupakan pilihan terbaik sebagai bagian dari makanan yang semakin beragam setelah bayi berumur lebih dari enam bulan hingga dua tahun atau lebih.

WHO sendiri menyatakan dengan tegas bahwa formula lanjutan tidak perlu dan tidak sesuai untuk pengganti ASI setelah bayi berumur 6 bulan. Bayi disarankan terus mendapat ASI dan MP-ASI berupa makanan lokal yang sehat dan bergizi.

Satu hal yang harus menjadi perhatian masyarakat dan tenaga kesehatan adalah cara-cara pemasaran (marketing strategy) susu formula lanjutan yang seringkali membingungkan para orangtua, seakan-akan susu formula lanjutan ini merupakan susu yang wajib diberikan sebagai pengganti ASI setelah bayi berumur 6 bulan. Kebingungan para orangtua ini disebabkan oleh strategi pengemasan, pemberian merek (branding), dan pemberian label (labelling) yang menyerupai susu formula bayi (infant formula) yang banyak terjadi di negara berkembang.14 Banyak produsen melakukan cross-promotion (promosi silang) yaitu memasarkan produk formula bayi yang saling berkesinambungan dengan formula lanjutan dan formula pertumbuhan. Seringkali pemakaian istilah tahap 1, 2, 3 atau A+, 2+ dan lain lain juga digunakan sehingga timbul kesan bahwa pemberian susu formula hingga lanjutan merupakan rangkaian yang perlu bahkan wajib. Sebagai akibatnya, banyak orangtua yang menganggap bahwa formula lanjutan ini sebagai pengganti ASI, sehingga ibu-ibu yang sudah harus kembali bekerja atau alasan lain tanpa ragu menghentikan pemberian ASI setelah bayi mereka berumur 6 bulan.

Susu formula lanjutan ini juga harus memenuhi syarat-syarat tertentu seperti yang telah ditetapkan oleh Codex Alimentarius.15 Dengan demikian, tanpa memandang harga, semua susu formula lanjutan ini memiliki komposisi yang sepadan dalam menunjang pertumbuhan dan perkembangan bayi 6 bulan ke atas. Oleh karena itu, memilih yang lebih murah adalah hal yang rasional dilakukan oleh para orangtua.

Susu pertumbuhan (growing-up formula) biasanya diperuntukkan untuk anak yang berumur 1-3 tahun, sehingga biasa disebut toddler formula. Sebenarnya komposisinya sama dengan susu sapi biasa yang biasa dikonsumsi oleh orang dewasa, meski tiap pabrikan juga punya spefikasi yang berbeda. Rasanya juga sudah seperti susu yang biasa dikonsumsi oleh orang dewasa. Orangtua harus waspada, karena banyak produk-produk susu pertumbuhan ini mengandung gula sehingga gigi anak-anak gampang mengalami karies. Haruskah anak-anak mendapat susu pertumbuhan ini? Tidak harus, apalagi kalau masih mendapat ASI dan makannya bagus. Konsumsi yang berlebihan gampang menyebabkan kelebihan berat badan. Kalau harus memberi susu, maka boleh dipilih susu biasa yang diperuntukkan untuk orang dewasa, dan tentu saja ini adalah pilihan yang lebih ekonomis.

ibu-menyusui-bisa-menyimpan-asi-perahnya-dalam-berbagai-cara-_150804081233-318

ASI makanan terbaik bayi, kalau perlu bisa dipompa dan disimpan untuk diberikan ke bayi ketika ibu lagi bekerja. Gambar dari Republika online.

Lalu apa yang membedakan antara formula bayi dan formula lanjutan?

Kalau kita melihat ketentuan Codex Alimentarius, maka susu formula lanjutan memiliki standar energi, dan makronutrien seperti protein, lemak, dan karbohidrat yang boleh lebih tinggi sedikit dibanding susu formula biasa. Jadi secara umum komposisi energi dan makronutriennya tidak terlalu jauh berbeda. Begitu pula kandungan hampir semua vitamin dan mineralnya tidak berbeda kecuali sedikit lebih tinggi pada zat besi, kalsium. Kalau bayi umur enam bulan yang mendapat ASI dan juga MP-ASI yang memadai, maka formula lanjutan ini sebenarnya tidak perlu. Bagaimana dengan bayi yang tidak mendapat ASI lagi karena suatu sebab? Boleh dipertimbangkan sebagai jalan terakhir. Bagaimanapun ASI tetap yang terbaik. Memompa ASI, jadual pemberian ASI yang lebih fleksibel, seperti hanya ketika ibu sudah di rumah merupakan pilihan yang terbaik, karena setelah enam bulan, bayi sudah mendapat MP-ASI dan bisa minum air putih selama ibu tidak di rumah. Kalau memang terpaksa memilih formula lanjutan, pilihlah yang paling ekonomis, karena secara kualitas, susu formula lanjutan punya standar yang sama.

Referensi

  1. Department of Child and adolescent health and development WHO. Guiding principles of feeding non-breastfed children 6-24 months old. (2005).
  2. Yoshioka, H., Iseki, K.-I. & Fujita, K. Development and Differences of Intestinal Flora in the Neonatal Period in Breast-Fed and Bottle-Fed Infants. 72, (1983).
  3. Sadauskaitė-Kuehne, V., Ludvigsson, J., Padaiga, Ž., Jašinskienė, E. & Samuelsson, U. Longer breastfeeding is an independent protective factor against development of type 1 diabetes mellitus in childhood. Diabetes. Metab. Res. Rev. 20, 150–157 (2004).
  4. Feeding Baby | Part I: Age 0-6 Months, Breast Milk or Formula. Available at: http://feedingmynewbaby.com/chapters/part-i-age-0-6-months-breast-milk-or-formula/. (Accessed: 16th February 2018)
  5. Lemas, D. J. et al. Alterations in human milk leptin and insulin are associated with early changes in the infant intestinal microbiome 1,2. Am. J. Clin. Nutr. 103, 291–300 (2016).
  6. Presiden Republik Indonesia. PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA Nomor 33 Tentang Pemberian Air Susu ibu. (2012).
  7. Organization, W. H. & Orgization, F. and A. STANDARD FOR INFANT FORMULA AND FORMULAS FOR SPECIAL MEDICAL PURPOSES INTENDED FOR INFANTS. Codex Alimentarius (2007).
  8. Food and Drug Administration. Substantiation for Structure/Function Claims Made in Infant Formula Labels and Labeling: Guidance for Industry. (2016).
  9. Belamarich, P. F., Bochner, R. E. & Racine, A. D. A Critical Review of the Marketing Claims of Infant Formula Products in the United States. Clin. Pediatr. (Phila). 55, 437–442 (2016).
  10. Jasani, B., Simmer, K., Patole, S. K. & Rao, S. C. Long chain polyunsaturated fatty acid supplementation in infants born at term. Cochrane Database Syst. Rev. (2017). doi:10.1002/14651858.CD000376.pub4
  11. Braegger, C. et al. Supplementation of Infant Formula With Probiotics and/or Prebiotics: A Systematic Review and Comment by the ESPGHAN Committee on Nutrition. JPGN 52, 238–250 (2011).
  12. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. Pengawasan Formula Bayi Dan Formula Bayi Untuk. 1–30 (2006).
  13. World Health Organozation. information concerning the use and marketing of follow-up formula. (2013).
  14. Pereira, C. et al. Cross-sectional survey shows that follow-up formula and growing-up milks are labelled similarly to infant formula in four low and middle income countries. Matern. Child Nutr. 12, 91–105 (2016).
  15. World Health Organization & Organization, F. and A. STANDARD FOR FOLLOW-UP FORMULA. (2017).
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s