Latest Entries »

Innalillahi wa innailaihi raajiuun

dokter-husain-husni-1_20160513_203619

dr. Husain Husni, Sp.S., FINS

Telah menghadap Allah yang Maha Pengampun, Sejawat, Kakanda  Husain Husni pada hari Jumat pagi  13 Mei 2015. Beliau mengalami kecelakaan lalu lintas di Kabupaten Bantaeng saat menuju ke Makassar  untuk melaksanakan tugas.

Saya yakin begitu banyak keluarga, teman, sahabat, dan orang lain yang pernah berkenalan dengan Beliau, pasien-pasiennya  merasa kehilangan atas kepergian beliau. Beliau memiliki pribadi yang mulia, ringan tangan membantu sesama yang membutuhkan, ahli ibadah, pengemban dakwah, serta seorang dokter professional  yang terus bersemangat menuntut ilmu.

Saya pribadi kenal dengan Beliau, dan sejak mahasiswa sering berinteraksi dalam berbagai kesempatan.  Beliau seorang yang sederhana, rendah hati, dan seingat saya selama menjadi mahasiswa, Beliau dikenal sebagai mahasiswa yang tekun dan terampil, penyayang terhadap mahasiswa yuniornya. Beliau seorang asisten laboratorium Biokimia yang arif dan tidak pernah mempersulit mahasiswa bimbingannya. Bagi sebagian mahasiswa yuniornya, Beliau menjadi role model yang inspiratif.

Terakhir kali bertemu beliau Tahun 2008 ketika sama-sama akan mendaftar Program Pendidikan Dokter Spesialis di Univesitas Hasanuddin. Beliau menceritakan bagaimana ketika tes wawancara, penguji  di Departemen Neurologi, memberi masukan agar jenggotnya yang panjang dirapikan sebelum masuk pendidikan. Beliau tersenyum dan mengatakan siap merapikan tapi tidak bersedia memotongnya.  Sesunngguhnya  Beliau juga berminat masuk di Departemen Gizi Klinik dan saya sempat memfasilitasi Beliau untk mendaftar, namun Allah menentukan takdir Beliau menjadi seorang ahli saraf.

Selamat jalan Kak Ucheng, semoga Allah memberimu Jannah-Nya. Semoga Keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kesabaran.

Ya Allah, ampunkanlah beliau, sayangilah beliau, maafkanlah beliau.

 

Aminuddin

Departemen Gizi Fakultas Kedokteran

Universitas Hasanuddin

Obesity is on the rise in Indonesia, one of the largest studies of the double burden of malnutrition in children has revealed.

Sumber: Obesity on the rise in Indonesia: The ‘double burden of malnutrition’

Berikut ini saya berikan link untuk mengupdate informasi tentang penerbit dan jurnal abal-abal yang harus diwaspadai menurut Jeffrey Bealls.

Sebagai akademisi dan periset, sebaiknya kita tidak menerbitkan artikel penelitian pada penerbit serta jurnal abal abal tersebut. Kebanyakan, kalau bukan semua penerbit dan jurnal tersebut hanya bermotifkan uang dengan cara gampang.

 

 

Bocornya dokumen rahasia firma hukum Mossack Fonseca dalam jumlah raksasa, yang berisi nama-nama orang VIP dunia yang terlibat dalam pendirian perusahaan cangkang di berbagai negara bebas pajak, mengagetkan banyak orang termasuk beberapa orang hebat dan kaya di Indonesia. Kita tentu tidak boleh secara langsung menilai bahwa mereka melakukan tindakan kriminal dengan perusahaan-perusahaan cangkang mereka sebelum ada bukti-bukti yang valid. Siapa saja mereka?

Berikut tulisan yang saya terbitkan ulang dari Indonesia Investments.

Reportedly, 3,000 Indonesian individuals and companies are mentioned in the Panama Papers, the massive leak involving around 11.5 million confidential documents from the database of the world’s fourth-largest offshore law firm, Mossack Fonseca. These documents show how political figures as well as celebrities, sport stars and businessmen exploit secretive offshore tax regimes. Icelandic Prime Minister Sigmundur David Gunnlaugsson became the first victim of the leakage (he resigned on Tuesday). What about Indonesia and the Panama Papers?

Sumber: Indonesia and the Panama Papers: Names and Numbers | Indonesia Investments

Survey Kesehatan

Pembaca yang budiman, mohon waktunya untuk mengisi Survey Kesehatan dibawah ini.

Saya ucapkan banyak terima kasih atas waktu dan partisipasinya.

Filosof Yunani kuno, Aristoteles, mengatakan bahwa manusia itu homo politicus yang berarti manusia itu mahluk politik. Dalam Bahasa Inggris manusia juga sering diistilahkan sebagai  political animal. Sebutan ini setidaknya secara sederhana bisa diartikan bahwa manusia, siapapun dia, selalu tertarik dengan urusan politik dan kekuasaan, kenegaraan, dan bagaimana urusan dan kepentingan masyarakat dilaksanakan oleh negara,  bahwa manusia punya ketertarikan secara inheren bagaimana hidup mereka diatur dan bagaimana cara mereka bisa terlibat dalam pengaturan tersebut.

Asumsi bahwa semua orang tertarik dengan politik, atau sedikitnya tertarik berbicara masalah politik boleh jadi benar adanya.  Tapi ini tentu harus dibedakan dengan hasrat atau keinginan terjun ke dunia politik praktis. Terjun ke politik praktis adalah hanya bagian yang sangat kecil dari perwujudan sifat homo politicus ini.

Mengapa saya mengatakan bahwa asumsi manusia sebagai homo politicus itu ada benarnya?
Lihat saja fenomena di masyarakat kita yang senang sekali dengan cerita dan pergunjingan politik, meskipun itu hanya sekedar cerita ringan- ringan alias gosip-gosip belaka. Berbicara politik secara santai  ini tak ubahnya seperti menyantap kudapan ringan yang renyah dan lezat, atau meminum secangkir teh atau kopi hangat yang nikmat. Sebagaimana minum teh atau kopi yang hangat, terlibat dengan cerita atau gosip politik secara ringan ini hanya dinikmati sesaat dan hanya berdampak pada diri sendiri dan lawan bicara. Kesenangan dengan pergunjingan politik ini  yang saya istilahkan dengan homo politicus kelas ringan. Kelas ringan  karena hanya berhenti pada tataran ide dan kata.

Mungkin hampir semua orang pernah menjadi homo politicus kelas ringan ini. Setiap ada berita-berita politik yang hangat, akan membuat kita merasa ingin ikut  berkomentar, menilai apa yang terjadi, membela atau menyerang aktor atau oknum politik tertentu yang terlibat di dalamnya. Kadang tanpa ragu kita dengan percaya diri melakukan analisa dan berdebat sehebat pengamat politik kawakan di media.

Jangan ditanya apa tujuan dan mamfaat ikut nimbrung gosip politik ini, karena sama dengan minum teh atau kopi hangat, nikmatnya tuh di sini! Di kepala dan di hati.  Diantara sekian banyak orang yang minum teh atau kopi hangat, barangkali hanya sedikit yang tahu apa mamfaat dan tujuannya. Yang penting itu adalah nikmatnya.

Nah bagaimana dengan homo politicus kelas berat?
Yang satu ini sama dengan orang yang minum atau memutuskan minum teh atau kopi karena ingin mencapai sesuatu yang besar. Dengan kata lain, dia ingin mencapai tujuan tertentu. Ada orang yang minum teh karena ingin mengambil mamfaat dari antioksidan yang terkandung didalamnya agar bisa sehat dan panjang umur. Ada yang rajin minum kopi karena ingin terhindar dari penyakit diabetes. Ada yang suka minum teh dan kopi karena ingin berkontribusi mensejahterakan petani teh dan kopi.

Kebanyakan yang tercatat dalam sejarah manusia itu adalah tipe homo politicus kelas berat. Yaitu orang-orang yang berbicara masalah politik karena suatu tujuan yang besar. Homo politicus kelas berat ini tidak hanya bicara politik tapi ikut aktif dalam aktifitas politik, meski ini tidaknya hanya boleh diartikan sempit dengan politik praktis, untuk mencapai tujuan yang besar tersebut.

Dalam sebuah masyarakat keberadaan homo politicus kelas berat ini tidak terlalu banyak, dan memang tidak perlu terlalu banyak, karena dengan kebesaran cita-cita dan tujuannya maka dia akan menarik homo politicus kelas ringan untuk naik kelas,  meski tidak mesti naik kelas ke kelas berat.

Homo politicus kelas berat  ini, visi dan tujuannya tidak lantas hanya terbatas pada hal-hal yang mulia saja, namun juga ada yang termotivasi karena alasan yang banal seperti ingin terkenal, masuk koran dan TV, dan tentu saja karena ingin kekayaan tanpa peduli halal atau haram. Homo politicus kelas berat macam ini laksana gulma bagi homo politicus yang bertujuan mulia. Karena mereka laksana gulma, maka seharusnya harus dicabut dengan akar-akarnya supaya tidak mengganggu dan mengkerdilkan visi dan upaya homo politicus yang mulia.

Pertanyaan saya sekarang, apakah Anda seorang homo politicus kelas ringan atau kelas berat?

Apakah Anda homo politicus kelas berat tipe gulma atau mulia?

Institusi yang belajar (learning institution)

Membangun institusi yang efektif bukan perkara yang mudah. Institusi apapun itu, perlu memiliki kemampuan terus menyempurnakan diri sehingga tujuan organisasi bisa dicapai dengan baik. Institusi yang demikian disebut sebagai institusi yang belajar (learning institution).Institusi yang belajar adalah organisasi yang terus bisa mengubah diri untuk tetap efektif dan berpengaruh meskipun dihadapkan dengan perubahan kondisi, tantangan, dan keterbatasan sumber daya yang tersedia. Organisasi ini mampu terus produktif ditengah-tengah tuntutan perubahan lingkungan, laksana sebuah sel hidup yang bisa memperbaharui diri dan memiliki kemampuan menyembuhkan luka dan penyakitnya bila terjadi. Institusi yang belajar selalu bisa memperbaiki diri dengan belajar dari pengalaman, kesalahan, dan kekurangan organisasi yang telah terjadi. Institusi ini tidak malas untuk mengadakan perubahan-perubahan yang dianggap perlu, untuk memperbaiki kinerja dan produktifitas. Organisasi ini mampu mendayagunakan semua sumberdaya yang dimiliki secara sinergis, dan mampu memamfaatkan keunggulan-keunggulan tiap sumberdaya yang dimiliki secara maksimal untuk mencapai tujuan organisasi.

Kepemimpinan yang efektif

Salah satu bagian penting, bahkan utama dari sebuah institusi yang belajar adalah adanya kepemimpinan yang efektif. Kepemimpinan yang efektif adalah kepemimpinan yang memiliki kemampuan dan kekuatan menggerakkan roda organisasi sesuai dengan visi dan misi yang diembannya untuk mencapai suatu hasil dan tujuan yang ditetapkan.

Kepemimpinan yang efektif hanya bisa dilakukan oleh pemimpin yang berpikir, berintegritas dan otoritatif. Pemimpin yang berpikir adalah pemimpin yang mampu mengartikulasikan tujuan organisasi atau institusinya menjadi sebuah visi dan misi praktis yang bisa dicapai (achievable). Oleh karena itu adalah suatu hal yang sangat penting memilih pemimpin yang cerdas secara intelektual dan spiritual. Sesungguhnya kecerdasan seseorang tidak bisa hanya diukur dengan kumpulan ijazah dan sertifikat yang diperoleh. Yang lebih utama dari seorang pemimpin yang cerdas adalah kemampuannya melahirkan gagasan atau ide-ide yang orisinil pada saat dibutuhkan. Ia adalah seorang yang bisa melahirkan gagasan untuk menyelesaikan masalah (problem solver) secara efektif. Ini yang disebut sebagai cerdas secara intelektual. Menyelesaikan masalah secara efektif ini disamping merupakan ciri pemimpin yang cerdas juga merupakan kewajiban dari seorang pemimpin. Karena efektifitas ini sesuatu yang bisa diukur secara kualitatif dan kuantitatif oleh masyarakat, maka keberhasilan seorang pemimpin dinilai sebagian besarnya dari sejauh mana dan seberapa banyak dia bisa menyelesaikan masalah secara cepat dan tepat.

Disaat yang sama, seorang pemimpin yang cerdas juga memiliki kemampuan menilai secara normatif ide-ide atau gagasannya apakah sesuai dengan berbagai norma yang ada di dalam masyarakat, salah satunya yang paling penting adalah norma agama. Inilah yang dimaksud kecerdasan secara spiritual.

Unsur berikutnya yang mesti dimiliki oleh pemimpin yang efektif adalah integritas. Sesungguhnya integritas seorang pemimpin itu sangat dipengaruhi oleh motivasi, niat, dan tujuannya menjadi pemimpin. Ini tentu berada pada ranah personal. Hanya dia seorang yang tahu pasti mengapa dia mau jadi pemimpin, meskipun dia bisa saja menjelaskan tujuan dan niatnya itu kepada publik. Namun karena integritas itu adalah penilaian eksternal dari masyarakat dan pranatanya termasuk hukum, maka integritas dari seorang pemimpin itu melekat erat dengan tindak-tanduk dan kebijakannya. Masyarakat kita sering menilai integritas seorang pemimpin itu secara sempit dengan melihat seberapa bersih dia dari korupsi dan seberapa bersih dia dari skandal moralitas. Ini tentu tidak salah, terlebih lagi masyarakat dan negara kita masih berada dalam deraan kasus-kasus penyelewengan pemimpin berupa korupsi dan skandal moralitas yang menyebabkan perlambatan pembangunan dan ketidakpercayaan masyarakat terhadap institusi pemerintah. Dalam ruang lingkup yang lebih luas, integritas seorang pemimpin itu adalah kemampuannya untuk menempatkan tujuan organisasi atau institusinya di atas kepentingan pribadi dan golongannya dalam menjalankan kepemimpinan dan roda organisasi. Penting juga untuk digarisbawahi bahwa semua itu harus dilakukan dengan tetap berpegang teguh pada aturan hukum dan norma masyarakat.

Setiap kepemimpinan tentu dilengkapi dengan otoritasnya yang melekat. Oleh karena itu setiap pemimpin harus mengetahui dan memahami otoritas yang dimilikinya. Pemimpin yang otoritatif adalah pemimpin yang mampu menggunakan otoritasnya secara penuh dan bertanggungjawab. Otoritas ini harus digunakan secara strategis untuk menggerakkan roda organisasi secara efektif dan mendayagunakan sumberdaya organisasi secara efisien.

Salahsatu otoritas seorang pemimpin adalah memilih jajaran pembantu-pembantu utamanya dalam menggerakan roda birokrasinya. Dia berkewajiban memilih pembantu-pembantu utamanya berdasarkan kompetensi dan meritokrasi, bukan secara feodalistik atau atas dasar suka atau tidak suka (like and dislike). Pemimpin yang efektif juga tidak malas untuk melakukan evaluasi kinerja aparatnya dan tidak segan melakukan perubahan-perubahan jika ekspektasi realistis yang dia harapkan dari pembantu-pembantu utamanya tidak terpenuhi secara optimal. Sistem insentif dan hukuman (reward and punishment) adalah merupakan salah satu alat utama pemimpin yang otoritatif untuk memperbaiki kinerja organisasi.

Kepemimpinan efektif dan jabatan politik

Banyak orang yang pesimistik terhadap kepemimpinan politik dalam suatu institusi. Ini suatu yang wajar ditengah-tengah masih begitu banyaknya pemimpin-pemimpin dalam jabatan politis yang menyalahgunakan jabatan dan otoritasnya. Dengan kata lain banyak pemimpin jabatan politik yang menperlihatkan integritas yang rendah. Tidak sedikit juga pemimpin jabatan politik yang tidak cerdas yang miskin gagasan dan ide-ide orisinil. Banyak pemimpin politik yang gagap menyelesaikan masalah dengan cepat dan tepat. Banyak pemimpin politik yang merupakan hasil transaksi politis yang berkepentingan jangka pendek.

Karena jabatan politik dipilih berdasarkan pilihan rakyat, maka kenyataan banyaknya pemimpin jabatan politik yang tidak efektif memunculkan pertanyaan mendasar, apakah sistem yang kita pakai memilih pemimpin jabatan politik itu sudah benar? Ataukah rakyat pemilih kita yang masih belum tahu memilih pemimpin yang efektif? Ini dua pertanyaan yang cukup sulit untuk dijawab.

Salah satu penyakit demokrasi adalah pemunculan calon-calon pemimpin yang mesti didukung dengan modal finansial yang kuat. Demokrasi sebagian besar memberi peluang kepada pemilik modal dan kepentingan untuk memunculkan calon pemimpin yang sesuai dengan keinginan dan agenda mereka.

Untuk melahirkan pemimpin jabatan politis yang efektif, maka pemunculan tokoh-tokoh pemimpin harus diupayakan sedemikian rupa lepas dari pengaruh kepentingan pemilik modal. Dengan kata lain kita harus melahirkan pemimpin politik secara murah. Untuk itu, kita harus memakai sistem yang memungkinkan pemunculan calon seluas-luasnya tanpa pembatasan (calon independen) kecuali berdasarkan kompetensi, integritas, dan ide/gagasan yang ditawarkan. Yang menjadi pertanyaan adakah sistem yang bisa mengakomodasikan hal yang demikian? Bukankah politik adalah kepentingan?

Tapi mesti kita ingat bahwa kepentingan politik itu akan tunduk dan mengikuti orientasi ideologi yang dipercayai dan diperjuangkan tulus oleh pengemban atau partai. Ideologi yang kuat dan dipercaya kebenarannya oleh partai atau pengembannya akan memunculkan tokoh-tokoh pemimpin yang akan bekerja demi ideologi. Pertanyaannya sekarang, adakah partai-partai sekarang memiliki ideologi yang kuat dan benar yang dipercaya oleh anggota-anggotanya? Adakah ideologi partai yangbetul-betul menempatkan kepentingan dan kesejahteraan rakyat sebagai pilarnya?Adakah masyarakat secara umum punya waktu dan keinginan, serta punya akses yang mudah untuk membaca dan memahami ideologi partai? Adakah anggota partai memahami ideologi partai yang diperjuangkannya?

Wallahu a`lam

Indonesia is well known prone to natural disasters. That is the price she has to pay for being situated in the so-called “Ring of Fire”, a string of active volcanoes in the Pacific area which are homes to more than 450 volcanoes. Volcanic activities and eruptions, as well as earthquakes associated with them for every now and then is going to occur.

Eruption of Mount Sinabung in North Sumatra Province and Mount Kelud in East Java Province show us again how important mitigation capacity and capability for responsible  government agencies as well as local governments to be continuously up-graded.  In time of needs like these, all country resources should be readily available and channeled to victims to mitigate the impacts. One important area where this capability needed to be up-graded is the command and coordination between various government agencies as well as private agencies involved in the mitigation process.

Gunung-Kelud

Mount Kelud with streams of hot lava. Taken from http://www.tribunnews.com

On the national level policy, we need some kind of preemptive vision which seek to prevent disruption to the nation economic growth due to natural disaster like this. More than 50% of Indonesia GDP and more than 60% of its population live in Java island. So it is high time for Indonesia to move much quickly and to diversify economic growth spots outside Java or western part of Indonesia to area less prone to natural disaster such as kalimantan and eastern part of Indonesia. Population is also important to be distributed equally. Do not put all the eggs in one basket, otherwise we are going to have great lost.

Economic activities and investments outside Java should be encouraged by supporting policies. Economic growth hot spots will eventually draw people to come, so we do not need any artificial forced transmigration such as in the past. If we continue to enlarge economic cake in Java, it will create more problems than benefits. Take a look at Jakarta mess. Traffic gridlocks, slums, criminal rate seems to be unresolvable in the near future. All because we created Jakarta as a  giant centre of economic activity. Now that it has already been transformed into a giant mess, no other option other than relieving its pressure by distributing more economic cakes to areas or regions outside Java.

The recent news regarding the plan of a big investment from Foxconn, a technological giant from Taiwan, to build manufacturing hub for smartphone  in Jakarta area seems to be a move in the wrong direction. It will further the pressure to Jakarta and around areas. I do not know exactly the reason for that move, but it seems that local government of Jakarta provide good incentives for the company to build its factory in their area. Of course, we would welcome any investments with open arms, however it is necessary to understand our limit. The Governments should have encouraged the company to invest outside Jakarta, or even outside Java for the better.

It is necessary for national and local governments to give more incentives to any investment outside Java to lure investors. Government companies should be in the front-line to invest to these areas to give example to others. The Governments should up-grade infrastructures more quickly outside Java to create favorable condition for investment. Incentives and adequate infrastructures will draw investment. Skilled workers will follow suit. People will follow the money.

If we can balance the economic activities throughout Indonesia islands, then we could expect the balance of population eventually. People will move to area where there are new promising opportunities. If people can migrate to foreign countries for new promising opportunities, then it is logical to expect people more readily to move to other areas within their own country. It will also narrow the people income gap between regions and nurture more cultural interaction between different ethnicity hopefully for the better unity of Indonesia.

Phenomenon of conflicts between local people and migrating ones should be handled with good policy. In the past we did transmigration but without adequate economic investment, so local people would have seen this as a threat to their economic viability. If adequate economic investment is there, where local people could participate with addition of talents which are non locals, the problem may not arise. Do not let people compete for their survival. Competition based on meritocracy is only appropriate when people can provide food for their every day life. If they are already struggling to provide foods for their family because of less economic opportunity, then the coming of non-locals will eventually induce resentment. In line with that, it is also necessary to increase local people skill and knowledge through more quality education in the first place.

Natural disaster is an eventuality.  People can only anticipate. In terms of economic preparedness against this eventuality, I think Indonesia needs to do more, and needs to do it as quickly as possible. If we put all our eggs in one basket, or majority of our assets in one basket, then expect we are going hungry someday when the basket ruptured due to any eventuality.

Sebentar lagi civitas akademik Universitas Hasanuddin akan melakukan pemilihan rektor baru yang akan dilangsungkan bulan Januari 2014 mendatang. Pemilihan ini akan dilakukan oleh anggota Senat Universitas Hasanuddin. Menteri Pendidikan Nasional juga akan memiliki suara yang siginifikan dalam proses pemilihan ini, karena memiliki kontribusi sebesar 35% suara dihitung dari jumlah suara Senat Universitas. Sampai saat ini sudah terdaftar 6 bakal calon rektor yang selanjutnya akan ditetapkan sebagai calon rektor secara resmi oleh Senat Universitas pada bulan Desember 2013.

logo-unhas

Ayam Jantan dari Timur, Logo Unhas diambil dari http://www.unhas.ac.id/content/lambang-unhas

Sebagai Universitas yang menjadi barometer universitas-universitas yang berada di Kawasan Indonesia Timur, sudah sewajarnya jika Unhas harus terus memberikan contoh dan pengalaman kepada universitas lain termasuk dalam hal penyelenggaraan pemilihan rektor. Tidak jarang, pemilihan rektor di kampus-kampus perguruan tinggi tidak ubahnya pemilihan kepala daerah yang penuh dengan nuansa politis yang kental yang saya kira tidak sehat bagi atmosfir akademik di perguruan tinggi. Oleh karena itu, patut diapreasiasi atmosfir pemilihan rektor kali ini di Unhas yang diawali dengan nuansa yang lebih tenang dan kekeluargaan dari para kandidat dan pendukungnya. Hendaknya hal positif ini terus dipertahankan sampai semua tahapan pemilihan bisa diselesaikan dan menghasilkan rektor yang bisa diterima oleh semua pihak dan seluruh civitas akademik Unhas.

Memilih rektor secara subyektif dan obyektif

Pemilihan rektor yang ideal tentunya harus didasarkan kepada kemampuan dan kompetensi yang dimiliki oleh calon rektor. Semuanya saya kira bisa ditetapkan standarnya secara terukur. Namun perlu juga dimaklumi, preferensi seseorang dalam memilih calon tertentu juga tidak pernah bisa lepas dari subyektifitas anggota senat.

Saya ingin mengulas tentang subyektifitas ini terlebih dahulu. Ada dua hal yang saya kira bisa mempengaruhi subyektifitas seseorang dalam memilih calon. Ini lebih banyak terkait dengan kuantitas dan kualitas interaksi dan komunikasi personal antara calon rektor dan pemilih, dalam hal ini para anggota Senat Universitas Hasanuddin. Yang pertama adalah ditentukan oleh bagaimana seorang calon rektor bisa menempatkan dirinya secara utuh sebagai seorang individu yang memiliki karakter yang khas.  Bagaimana kemampuan seorang calon mengkomunikasikan karakter pribadinya sebagai individu kepada pemilih. Karakter pribadi ini tentunya sangat luas dan mencakup berbagai macam kemampuan, diantaranya kemampuan menjalin dialog dan komunikasi yang baik dengan para pemilih, kemampuan persuasif dan marketing ide-ide yang ditawarkan, dan tentu saja kesantunan dan kesopanan, nilai-nilai religius dan moralitas yang baik. Citra para calon rektor yang ditangkap oleh pemilih sangat tergantung dari proses dialog dan komunikasi ini. Namun jangan lupa tinggalkan pencitraan, yang akhir-akhir ini sering dikonotasikan sebagai hal yang negatif.

Yang kedua adalah ditentukan oleh karakter, nilai, dan pola pikir dan mindset para pemilih. Hal ini sangat bervariasi dari orang ke orang, dan tentunya sangat sulit untuk dikira-kira tanpa ada usaha calon rektor dalam melakukan komunikasi yang baik. Tentu ada pemilih dari anggota senat yang lebih memakai standar religiusitas subyektif misalnya,  karena latar belakangnya yang memang menempatkan nilai-nilai religius adalah yang terpenting. Ada juga pemilih yang mungkin lebih mengutamakan penilaian dari segi kemampuan artikulasi dan komunikasi calon rektor. Mereka lebih menyukai calon rektor yang memiliki kemampuan bicara yang artikulatif, padat dan berisi. Ada pemilih yang mungkin lebih cenderung memilih calon yang memiliki latar belakang akademik yang cemerlang, peneliti yang yang banyak menghasilkan paper atau kertas kerja baik secara nasional maupun internasional. Tak menutup kemungkinan ada pemilih yang menitikberatkan penilaian subyektifnya pada berbagai faktor yang disebut di atas.

Nah, metode dialogis baik secara formal dan informal  dalam memaparkan berbagai program kerja dari para calon rektor adalah cara yang paling tepat dalam mempengaruhi subyektifitas pemilih ini. Oleh karena itu, penting sekali seorang calon rektor untuk menyiapkan diri secara psikologis dan materil dalam memaparkan ide-ide dan program kerjanya. Program kerja yang tertulis tentunya perlu dikomunikasikan secara interaktif kepada pemilih. Oleh karena saya sangat menunggu aktivitas-aktivitas dialogis ini sebagai ajang para calon rektor menampilkan bukan hanya visi, misi dan program kerjanya, namun juga menampilkan diri seutuhnya sebagai seorang individu dan pribadi.

Disamping penilaian yang bersifat subyektif dari para pemilih, penilaian obyektif saya kira merupakan hal yang terpenting dari seluruh rangkaian pemilihan rektor. Karena bersifat obyektif, tentu saja yang jadi standar dan tolok ukurnya adalah sesuatu yang bisa diuji secara kuantitatif dan kualitatif. Yang biasa diuji secara kuantitatif ini biasanya hal yang terkait dengan persyaratan legal formal yang biasanya ditetapkan sebagai kriteria-kriteria tertentu. Sebagai contoh, bisa saja dipersyaratkan bahwa calon rektor sebelumnya telah memangku jabatan dekan di fakultas, bisa pula dipersyaratkan calon rektor memiliki gelar S3, memangku jabatan guru besar, dan sebagainya. Ini semuanya bisa terukur dengan obyektif.

Penilaian secara obyektif kualitatif saya kira bertumpu pada visi, misi, dan program kerja yang ditawarkan beserta kemampuan para calon mengkomunikasikan dan menjelaskannya kepada pemilih. Tentu saja pemilih harus memberikan tantangan dan pertanyaan yang substantif untuk mengklarifikasi, menguji, serta menilai sejauh mana calon rektor yang bersangkutan memahami apa yang ditawarkan untuk memajukan universitas ke depan. Para pemilih juga diharapkan tidak menonjolkan ego sektoral dalam menilai secara obyektif calon rektor, yaitu adanya penonjolan ikatan batin yang berlebihan kepada calon tertentu hanya karena calon berasal dari fakultas yang sama atau karena berasal dari blok anu-kompleks yang sama.

Beberapa pekerjaan rumah besar bagi rektor Unhas yang akan datang

Siapapun yang terpilih menjadi rektor Unhas selanjutnya, diharapkan bisa menakhkodai Universitas ini ke arah yang lebih baik secara lebih cepat. Menurut saya pribadi,  ada pekerjaan rumah besar yang harus diselesaikan oleh rektor Unhas yang selanjutnya, seperti:

1. Bagaimana kebijakan Unhas terhadap isu komersialisasi pendidikan. Isu ini saya kira belum terangkat secara maksimal atau belum menjadi sorotan publik sehingga ada kesan bahwa apa yang dilakukan selama ini sudah ideal. Ini bisa menjadi bom waktu ke depan, jikalau Unhas tidak siap dengan jawaban yang substantif terhadap suara-suara minor dari tengah-tengah masyarakat dan kalangan tertentu tentang  isu komersialisasi pendidikan ini (1, 2, 3, 4). Kita tentu tidak menginginkan akses ke perguruan tinggi hanya diperoleh secara dominan oleh mereka yang berasal dari kalangan yang berduit, sementara dari kalangan menengah ke bawah peluang mereka semakin terjepit.

2. Bagaimana menyelesaikan secara tuntas budaya tawuran yang masih terjadi di Unhas. Budaya ini saya kira harus dihilangkan sama sekali melalui kerjasama dan komunikasi yang konstruktif antara pimpinan universitas dan mahasiswa.

3. Bagaimana kebijakan Unhas untuk meningkatkan jumlah kertas kerja/paper serta buku yang diterbitkan oleh para dosen dan guru besar baik secara nasional dan internasional. Ini tentu suatu tantangan yang kompleks yang melibatkan masalah pendanaan penelitian, peningkatan kualitas SDM para dosen dalam penelitian. Saya kira sistem publish or perish sudah bisa dipertimbangkan untuk diberlakukan. Peringkat Unhas dari tahun ke tahun di lembaga pemeringkatan terpercaya seperti Times Higher Education tidak pernah beranjak dari peringkat ribuan kesekian. Tentu butuh kerja keras seluruh civitas akademik Unhas dan tentu saja dukungan pemerintah.

4. Bagaimana meningkatkan dan mengembangkan IT universitas yang lebih terintegrasi dan dikelola secara profesional dan aman dari segala gangguan. Sudah mesti dipikirkan pengembangan website yang terintegrasi ke semua fakultas, termasuk sistem data dan penilaian mahasiswa, data dosen, dan fasilitas-fasilitas pelayanan yang bersifat online, seperti peminjaman buku maupun jurnal/periodik, pengisian KRS, dan lain-lain. Selama ini terkesan dikelola secara amatir dan asal-asalan. Fakta lucu yang perlu digarisbawahi juga adalah, kebanyakan dosen dan mahasiswa Unhas masih memakai email komersil  seperti Yahoo, Google mail, dan sebagainya dalam kegiatan akademiknya. Ini sungguh ironis dan bertolakbelakang dengan keinginan Unhas untuk menjadi world-class university.

Kecepatan internet di Unhas juga harus ditingkatkan agar bisa memfasilitasi kegiatan belajar mengajar yang lebih baik.

5. Bagaimana meningkatkan pelayanan birokratis dan akademik yang efisien dan efektif. Pelayanan kepada pegawai Unhas dan dosen harus bisa lebih profesional dan cermat, demikian juga pelayanan administratif kepada mahasiswa harus lebih mudah dan cepat, karena ini merupakan ciri kemajuan institusi yang merupakan dasar pelayanan prima.  Jangan lagi pelayanan-pelayanan yang demikian, melestarikan ciri-ciri pelayanan dunia ketiga yang lambat, tidak profesional, dan kadang-kadang korup.  Ini kalau dipelihara hanya akan menghambat kemajuan Unhas sebagai institusi yang terhormat.

Yang saya daftar diatas hanyalah sebagian pekerjaan rumah besar yang menunggu rektor Unhas yang baru ke depan. Siapa pun calon rektor yang akan dipilih setidaknya harus bisa menjawab masalah-masalah di atas serta masalah yang lain secara paripurna dengan konsep yang realistis dan masuk akal.

Akhirnya, saya mengucapkan selamat memilih rektor baru Unhas.

Tulisan saya yang lampau telah membahas secara ringkas tentang perut buncit yang disebabkan oleh penumpukan lemak di bawah kulit perut serta di sekitar organ-organ dalam perut. Penumpukan ini tidak baik bagi kesehatan karena bisa menjadi penyebab terjadinya gangguan metabolik yang diakibatkan oleh terjadinya resistensi insulin.

Lemak yang kita bicarakan di atas sebenarnya adalah jaringan lemak putih (white adipose tissue). Disebut demikian, karena memang warna jaringannya berwarna putih, sebagaimana lazimnya kita lihat pada lemak-lemak yang mendompleng daging yang kita konsumsi.

Tapi tahukah Anda bahwa sebenarnya kita juga punya jaringan lemak coklat (brown adipose tissue) yang warnanya gelap kecoklatan? Penampakan coklat ini diakibatkan oleh banyaknya jumlah pembuluh darah dan mitochondria dibanding jaringan lemak putih[1]. Bagi yang masih ingat pelajaran Biologinya, mungkin masih bisa mengingat bahwa mitochondria adalah organel dalam sel yang berfungsi sebagai pusat pernapasan dan metabolisme zat-zat gizi alias dapur sel untuk memproduksi ATP sebagai sumber tenaga biokimia. Semakin banyak mitochondria sel, maka semakin baik metabolisme sel tersebut dan semakin tinggi daya tahan jaringannya terhadap efek samping reaksi biokimia. Sebagai contoh, pelari maraton memiliki jaringan otot merah pada tungkai bawahnya yang lebih banyak dari pelari sprint/jarak pendek dan orang biasa. Kemerahan ototnya dikarenakan salah satunya oleh kandungan mitochondria yang lebih banyak yang memungkinkan otot pelari maraton lebih kuat dan tahan capek.

Nah, mari kita bicarakan perbedaan fungsi metabolik asasi dari kedua jenis jaringan lemak ini.

Fungsi jaringan lemak putih

Anda mungkin sudah mengetahui fungsi dan tugas jaringan lemak putih (JLP) dalam metabolisme tubuh. Ya benar, JLP ini berfungsi menyimpan kelebihan energi dari makanan yang kita makan sehari-hari dalam bentuk lemak trigliserida untuk digunakan kemudian, ketika suplai energi relatif berkurang. Namun sayang, banyak diantara kita, manusia moderen sekarang ini yang suplai energinya secara kronis (jangka panjang) melebihi energi yang terpakai, sehingga simpanan energi dalam bentuk lemak itu susah berkurang, malah bertambah alias makin gemuk. Ini tidak saja terjadi pada orang dewasa, namun juga pada anak-anak yang masih bertumbuh kembang. Penyebabnya adalah kebanyakan gaya hidup dan lingkungan hidup sehari-hari. Kita semakin banyak makan dan kurang bergerak atau beraktivitas untuk membakar kalori. Dan lebih celakanya lagi, banyak makanan yang tersedia sehari-hari pada zaman moderen ini adalah jenis makanan yang padat kalori, yang merupakan hasil olahan pabrik dalam bentuk instan. Memang rasanya mungkin lebih enak dan praktis, namun kalorinya sangat tinggi tapi justru miskin zat gizi. Coba bayangkan, kandungan energi dari coklat (chocolate bar) per 100 gramnya saja sudah bisa lewat 500 kkal, sementara satu sajian nasi (75-100 gram) hanya sekitar 135 kalori. Untuk makan siang, mungkin kita hanya mengkonsumsi 1-2 saji nasi sudah merasa kenyang, namun kita butuh banyak coklat untuk merasa kenyang, malah tak pernah merasa kenyang berapapun yang dimakan.

Nah, kalau ada orang yang gemuk yang bingung dan mengeluh pada Anda susah menurunkan berat badan, padahal sudah tidak makan nasi atau mengurangi konsumsi nasinya, mungkin sekarang Anda sudah tahu jawabannya, bukan? Ya benar, lihat kudapannya. Banyak orang gemuk yang makan nasinya sedikit atau malah cuma makan nasi sekali sehari, tapi di laci kantornya tersimpan banyak coklat dan makanan ringan lain yang dia konsumsi berkali-kali tanpa merasa bersalah, sambil minum teh manis dan mengetik laporan atau tugas kantornya. Wah, bisa habis sampai 4-5 coklat batang untuk menyelesaikan laporan. Makanya tidak heran jika JLP-nya semakin mengembang. Apalagi ditambah kebiasaan naik becaknya ke kedai untuk membeli coklat, meski jarak yang ditempuh cuma 200 meter!

img_3326[1]

Coklat sambil kerja, gambar diambil dari http://blog.healthyandsane.com

Fungsi jaringan lemak coklat

Sebenarnya ketertarikan para ahli terhadap fungsi jaringan lemak coklat (JLC) pada orang dewasa baru mulai sekitar sepuluh tahun belakangan ini[2]. Dulu dianggap bahwa JLC yang signifikan jumlahnya hanya ada pada janin dan anak bayi yang baru lahir, sementara jumlahnya pada manusia dewasa  dianggap tidak signifikan karena telah mengalami penyusutan. Sebenarnya penemuannya pada orang dewasa pun tidak direncanakan, namun terpantau ketika para ahli berusaha memantau sel kanker atau neoplasma dengan memakai glukosa radioaktif. Sel kanker bisa divisualisasi dengan dengan memakai Positron Emitting Tomography/Computerized Tomography karena menyerap glukosa radioaktif tersebut. Namun ternyata ada jaringan lain selain sel kanker yang juga terdeteksi menyerap glukosa radioaktif tersebut secara sangat aktif dan ternyata terbukti adalah JLC[3].

Nah, berbeda dengan JLP, jaringan lemak coklat berfungsi sebaliknya, yaitu membakar energi untuk menghasilkan panas. Ini bisa dilakukan oleh JLC berkat fungsi gen UCP1 (Uncoupling Protein 1) yang banyak terdapat dalam JLC[1]. UCP1 ini sangat penting untuk pembakaran energi makanan menjadi panas. UCP1 ini salah satu pembeda utama antara JLC dan JLP serta sel-sel lainnya, dan sering dipakai untuk membedakan sel-sel tersebut secara immunohistologis. Kalau sel-sel lain termasuk JLP memproses makanan menjadi energi berupa ATP yang dibutuhkan oleh tubuh untuk semua proses biologis, termasuk dalam membuat dan menyimpan Trigliserida, JLC memproses makanan untuk menjadi panas[4]. Proses menghasilkan panas ini disebut thermogenesis. Thermogenesis ini sangat diperlukan oleh tubuh kita termasuk hewan dalam mempertahankan suhu tubuh ketika berespon terhadap rangsangan suhu dingin.

Coba bayangkan kalau kita bisa memamfaatkan JLC ini secara optimal, mungkin kita bisa sedikit bebas makan apa saja tanpa terlalu khawatir untuk menjadi gemuk. Toh, yang kita makan hanya akan menjadi panas saja.

Nah, para ilmuwan sekarang ini sedang giat-giatnya mempelajari perilaku JLC untuk mencari kemungkinan pemamfaatannya dalam memerangi obesitas atau kegemukan[5, 6]. Meski peran JLC ini masih diperdebatkan,  sekarang telah ada data-data yang cukup menggembirakan meski masih awal tentang mamfaatnya bagi kesehatan metabolisme dan pencegahan obesitas.

Sebuah studi menunjukkan adanya korelasi negatif antara jumlah JLC ini dengan kegemukan pada manusia[7]. Studi ini menunjukkan bahwa indeks massa tubuh yang lebih rendah pada orang yang memiliki jumlah JLC lebih banyak. Studi lain juga menunjukkan bahwa dengan mengaktifkan JLC pada orang dewasa yang memiliki JLC yang kurang jumlahnya atau kurang aktif, mengakibatkan pengurangan massa JLP[8]. Studi ini membuka peluang kemungkinan intervensi medik untuk mengaktifkan JLC untuk melawan kegemukan.

Penelitian tentang peranan dan mamfaat JLC pada hewan malah lebih komplit lagi. Banyak sekali studi yang telah menunjukkan bahwa pengaktifan JLC pada hewan menyebabkan efek anti gemuk meski hewan diberi makanan tinggi lemak. Sebaliknya pengurangan JLC akan menyebabkan berkurangnya pemakaian energi dan membuat hewan coba lebih mudah menjadi gemuk ketika diberi makanan tinggi lemak[6].

Apakah semua orang dewasa memiliki JLC?

Tadi disebutkan bahwa JLC itu lebih banyak terdapat pada janin dan bayi, dan setelah dewasa akan mengalami penyusutan atau regresi. Namun demikian, para ilmuwan sekarang menyadari bahwa JLC ini tetap ada pada orang dewasa dan yang lebih menggembirakan lagi, JLC pada orang dewasa bisa diaktivasi[8]. Ada ilmuwan yang yakin bahwa prevalensi JLC pada orang dewasa adalah 30-100%[9], atau boleh dikatakan hampir sebagian besar orang dewasa mungkin memiliki JLC ini. Dimana saja lokasinya, bisa Anda lihat di gambar skematik dibawah ini. Pada gambar tersebut kita bisa lihat daerah sekitar leher dan di atas tulang selangka (clavicula) adalah daerah JLC yang paling aktif yang direpresentasikan oleh warna yang lebih coklat.

Gambar diambil dari ref. 9

Gambar diambil dari ref. 9

Bagaimana cara mengaktifkan JLC?

Pertanyaan yang paling penting untuk dijawab sebenarnya, apakah berguna pengaktifan JLC ini untuk kesehatan manusia terutama dalam memerangi kegemukan? Saat ini jawabannya masih samar-samar alias tidak jelas. Masih butuh waktu untuk menjawab pertanyaan tersebut. Namun demikian, cukup banyak ilmuwan yang cukup optimistis akan kemungkinan memamfaatkan JLC ini dalam memerangi kegemukan.

Dari berbagai percobaan, JLC pada orang dewasa bisa diaktifkan dengan berbagai cara. Yang pertama dengan memberikan pemaparan hawa dingin pada orang coba. Dalam satu studi pemaparan orang coba dengan suhu 19 derajat Celcius selama dua jam sudah cukup bagi sebagian orang coba untuk mengaktifkan JLCnya dan menyebabkan pengurangan massa JLP[8].

Yang kedua, pengaktifan JLC bisa dengan cara farmakologis dengan berbagai obat. Yang sering diuji adalah golongan perangsang reseptor beta-adrenergik[10] dan berbagai obat-obat lain. Kita masih harus menunggu untuk memastikan apakah obat-obat ini betul bisa bermamfaat bagi manusia dalam mengaktifkan JLC dalam rangka memerangi kegemukan.

Nah, untuk sementara ini saya menyarankan Anda barangkali lebih baik memilih daerah-daerah dingin atau sejuk untuk bertamasya jika ada hari libur. Mungkin saja ada mamfaatnya, namun bisa juga tidak. Tidak ada salahnya mencoba, bukan? Paling tidak bisa menghindari polusi udara kota yang sudah mengkhawatirkan.

Mungkin suatu saat saya akan meminta mahasiswa saya untuk meneliti perbandingan keaktifan JLC ini pada penduduk yang tinggal di pegunungan dan daerah pantai.  Mungkin saja orang-orang yang hidup di daerah pegunungan atau daerah yang sejuk memiliki JLC yang lebih aktif sehingga mereka tidak gampang gemuk dibanding dengan orang yang tinggal di daerah pantai yang  temperatur udaranya lebih panas.  

Daftar Pustaka

1.         Enerback, S., Human brown adipose tissue. Cell metabolism, 2010. 11(4): p. 248-52.

2.         Sacks, H. and M.E. Symonds, Anatomical locations of human brown adipose tissue: functional relevance and implications in obesity and type 2 diabetes. Diabetes, 2013. 62(6): p. 1783-90.

3.         Nedergaard, J., T. Bengtsson, and B. Cannon, Unexpected evidence for active brown adipose tissue in adult humans. Am J Physiol Endocrinol Metab, 2007. 293: p. E444-E452.

4.         Cinti, S., The role of brown adipose tissue in human obesity. Nutrition, metabolism, and cardiovascular diseases : NMCD, 2006. 16(8): p. 569-74.

5.         Zafrir, B., Brown adipose tissue: research milestones of a potential player in human energy balance and obesity. Hormone and metabolic research = Hormon- und Stoffwechselforschung = Hormones et metabolisme, 2013. 45(11): p. 774-85.

6.         Cypess, A.M. and C.R. Kahn, Brown fat as a therapy for obesity and diabetes. Curr Opin Endocrinol Diabetes Obese, 2010. 17(2): p. 143-149.

7.         Cypess, A.M., et al., Identification and importance of brown adipose tissue in adult humans. The New England Journal of Medicine, 2009. 360(19): p. 1509-1517.

8.         Yoneshiro, T., et al., Recruited brown adipose tissue as an antiobesity agent in humans. the Journal of Clinical Investigation, 2013. 123(8): p. 3404-3408.

9.         Nedergaard, J., T. Bengtsson, and B. Cannon, Three years with adult human brown adipose tissue. Annals of the New York Academy of Sciences, 2010. 1212: p. E20-36.

10.        Cypess, A.M., et al., Cold but not sympathomimetics activates human brown adipose tissue in vivo. Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America, 2012. 109(25): p. 10001-5.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 689 pengikut lainnya