Survey Politik: Siapakah yang akan Anda Pilih sebagai presiden pada Pemilu 2019

Istimewa

Iklan

Anemia Kekurangan Zat Besi: Penjelasan tentang pengaruh interaksi makanan sehari-hari terhadap penyerapan zat besi dan resiko anemia

Salah satu penyakit yang paling banyak mengenai masyarakat Indonesia adalah anemia yang dikarenakan kekurangan zat besi. Anemia adalah berkurangnya sel-sel darah merah dalam cairan darah seseorang atau berkurangnya kadar hemoglobin yang terkandung dalam sel-sel darah merah. Kekurangan zat besi dalam tubuh menyebabkan terganggunya pembuatan dan fungsi sel-sel darah merah sehingga tak mampu lagi mensuplai oksigen yang cukup ke seluruh tubuh. Kekurangan zat besi ini menganggu pembentukan hemoglobin, sebuah protein yang terdapat dalam sel darah merah yang berfungsi mengikat oksigen.

Jumlah dan fungsi sel darah merah yang tidak normal ini menyebabkan gejala gejala seperti lemah dan gampang merasa letih, tidak bisa berkonsentrasi, daya pikir yang menurun, kepala terasa ringan, pusing, jantung berdebar, hingga  sesak napas jika telah menjadi berat. Secara fisik orang anemia tampak pucat kulitnya, kadang kadang bila berat  lidahnya terasa sakit karena bengkak. Kadang adapula orang  berkeinginan makan benda-benda tak lazim menjadi makanan seperti tanah atau lumpur, es batu, atau tepung; gejala ini disebut pica (dibaca: pika).1 Namun perlu diingat, sering terjadi anemia tidak menimbulkan tanda atau gejala apapun dan hanya terdeteksi ketika dilakukan pemeriksaan darah. Ini biasanya terjadi pada permulaan anemia.

Bagaimana dokter mendiagnosis anemia kekurangan zat besi? Dokter biasanya curiga terjadi anemia kekurangan zat besi jika terjadi gejala dan tanda-tanda seperti yang disebut di atas, disertai pemeriksaan fisik serta laboratorium darah. Pemeriksaan laboratorium yang dimaksud bisa berupa pemeriksaan darah rutin, pemeriksaan darah lengkap (Complete Blood Count), maupun pemeriksaan kimia dan biokimia darah yang lain.

signs-of-iron-deficiency

Tanda dan Gejala Anemia diambil dari http://www.organsofthebody.com

Mengapa orang bisa mengalami anemia kekurangan zat besi?

Orang bisa mengalami anemia kekurangan zat besi karena berbagai faktor. Yang paling sering menjadi penyebabnya adalah yang pertama, adanya kehilangan darah kronis. Ini merupakan penyebab paling sering, dan harus dipikirkan pertama kali ketika seseorang mengalami anemia kekurangan besi. Kadang sumber perdarahan kronis ini tidak terlihat dengan jelas atau tidak diketahui oleh pasien sendiri. Dalam keadaan demikian biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menyingkirkan kemungkinan perdarahan kronis di berbagai organ, seperti misalnya pemeriksaan endoskopi untuk melihat adanya kemungkinan perdarahan di saluran pencernaan, pemeriksaan tinja untuk melihat adanya darah samar dan tanda tanda infeksi parasit usus. Sumber perdarahan bisa saja berupa kanker di saluran pencernaan, adanya luka akibat penyakit maag yang berkepanjangan, sakit wasir, bahkan penyakit gigi kronis yang menyebabkan perdarah gusi. Penyebab yang ke-2, peningkatan kebutuhan zat besi yang disebabkan oleh beberapa hal seperti anak-anak dan remaja yang sedang tumbuh, ibu hamil dan menyusui.  Remaja puteri yang sudah mendapat menstruasi jauh lebih rentan terkena defisiensi zat besi karena secara rutin mereka kehilangan zat besi lewat darah haidnya terlebih jika terjadi gangguan haid seperti haid yang lebih lama, atau volume haid yang lebih besar dari normal. Penyebab yang ke-3, gangguan absorpsi atau penyerapan zat besi di usus. Gangguan penyerapan ini bisa terjadi pada orang orang lambungnya telah diangkat sebagian karena sebab tertentu (gastrektomi), pada orang orang yang mengalami gastritis atropik, yaitu peradangan kronis pada lambung yang menyebabkan sel-sel lambung tertentu mengalami kematian dan penurunan fungsi yang pada akhirnya menyebabkan gangguan penyerapan zat besi.2 Yang terakhir ini, sering terjadi pada orangtua terutama pada wanita. Penyebab lain adalah adanya zat-zat tertentu yang berasal makanan yang mengikat zat besi sehingga tidak atau kurang dapat diabsorpsi secara optimal. Inilah yang akan diuraikan secara lebih detail selanjutnya di tulisan ini.

Kebutuhan zat besi dan zat makanan yang berpengaruh terhadap penyerapan zat besi di usus

Banyaknya zat besi yang diserap di usus halus sangat terkait dengan berapa banyak cadangan besi yang ada dalam tubuh manusia. Cadangan ini sekitar 4 gram pada laki-laki, dan sekitar 2,5 gram pada wanita. Cadangan ini sebagian besarnya ada dalam hemoglobin darah, disusul dengan cadangan di hati yang disebut ferritin. Tubuh memerlukan 20-25 mg zat besi sehari untuk proses pembentukan sel darah merah. Sel darah merah kita berumur kurang lebih 120 hari, dan pada saat penghancuran sel darah merah ini, zat besinya didaur ulang oleh tubuh untuk digunakan kembali. Bahkan sebagian besar kebutuhan tubuh kita akan zat besi disediakan oleh proses daur ulang ini, dan hanya sebagian kecil saja yang diperlukan dari makanan. Kita hanya memerlukan 1-2 mg sehari zat besi yang diserap lewat usus untuk mengganti zat besi yang hilang karena proses pengelupasan kulit, proses matinya sel-sel di saluran pencernaan. Kalau cadangan besi berkurang, maka tubuh punya mekanisme untuk meningkatkan jumlah yang diserap, begitupun sebaliknya jika cadangan sudah cukup, maka penyerapan kembali ke tingkat semula. Pada orang dengan cadangan besi yang cukup, zat besi yang ada pada makanan kita hanya diserap 10% saja secara rata-rata. Jadi makan terlalu banyak zat besi juga tidak akan meningkatkan jumlah penyerapan. Di kepustakaan disebutkan bahwa jumlah maksimal zat besi yang bisa diserap pada keadaan normal, jarang melebihi 6 mg sehari. Kalau kita hanya butuh 1-2 mg sehari berarti kita harus makan makanan yang menyediakan kurang lebih 10-20 mg zat besi sehari karena penyerapannya rata-rata hanya 10%. Namun penyerapan zat besi ini juga dipengaruhi oleh jenis zat besi yang kita konsumsi.

Ada dua jenis zat besi yang kita konsumsi sehari hari dalam makanan. Yang pertama disebut sebagai heme-iron yaitu zat besi yang berasal dari makanan hewani seperti daging sapi, ayam dan ikan. Zat besi yang berasal dari hewan ini lebih gampang dan lebih banyak penyerapannya di usus dan relatif tidak dipengaruhi oleh zat-zat penghambat  penyerapan zat besi yang ada pada makanan lain. Yang kedua disebut non heme-iron yaitu zat besi yang berasal dari makanan nabati seperti sayuran hijau tua seperti bayam; sayuran kacangan seperti kedele, kacang merah, buncis; biji-bijian dan kacang seperti wijen, biji labu (kwaci), biji mete dan lain lain. Non heme iron ini penyerapannya lebih kurang dan bisa dihambat oleh zat zat yang pada makanan lain jika dikonsumsi secara bersamaan.

Makanan sumber zat besi Jumlah zat besi (mg)/100 gram
Heme Iron:

Dagimg sapi

Hati sapi

Daging ayam

Jantung ayam

Hati ayam

 

1,85

7,17

1,11

5,96

8,99

Non heme iron:

Bayam

Kedele

Tahu

Tempeh

Wijen

Kacang mete

Dark chocolate

 

2,71

3,55

5,36

2,70

14,55

6

6,32

Sumber: MyFoodCalories app.

Untuk membantu penyerapan non heme iron, ada beberapa anjuran yang bisa diikuti yaitu: bila mungkin makanlah makanan sumber non heme iron dan heme iron secara bersamaan agar jumlah zat besi yang diserap bisa lebih banyak. Bila memungkinkan konsumsi makanan non heme iron dengan makanan yang mengandung vitamin C atau tablet vitamin C agar penyerapannya lebih baik. Kalau makan di luar rumah, mungkin lebih bijak memesan minuman berupa es jeruk, orange juice, mango juice dan minuman kaya vitamin C sebagai teman makanannya.

Bagi mereka yang beresiko mengalami kekurangan zat besi seperti anak dan remaja, ibu hamil dan menyusui, bila mengkonsumsi teh, kopi, dan susu, jangan bersamaan pada saat makan, tapi minumlah minimal dua jam sebelum atau sesudah makan.3 Meski konsumsi teh tidak berpengaruh pada masyarakat atau segmen masyarakat yang tidak beresiko kekurangan zat besi, dan pada masyarakat yang asupan zat besinya relative cukup seperti negara-negara eropa,4 namun kita di Indonesia dengan jumlah penduduk beresiko kekurangan zat besi yang banyak,asupan zat besi yang rendah, dan kebiasaan minum teh dan kopi  yang memasyarakat, adalah bijaksana jika anjuran di atas lebih diperhatikan.

Kasus anemia defisiensi zat besi yang cukup berat pernah dilaporkan karena konsumsi teh hijau secara rutin tiap hari minimal sebanyak 1500 ml.5 Karena efek anti penyerapan zat besi, maka the hijau pernah pula dilaporkan efektif dalam pengobatan kelebihan zat besi dari penderita thalassemia intermedia.4

Referensi

  1. Iron deficiency anemia – Symptoms and causes – Mayo Clinic. Available at: https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/iron-deficiency-anemia/symptoms-causes/syc-20355034. (Accessed: 31st May 2018)
  2. Cavalcoli, F., Zilli, A., Conte, D. & Massironi, S. Micronutrient deficiencies in patients with chronic atrophic autoimmune gastritis: A review. World J. Gastroenterol. 23, 563 (2017).
  3. Zijp, I. M., Korver, O. & Tijburg, L. B. M. Effect of Tea and Other Dietary Factors on Iron Absorption. Crit. Rev. Food Sci. Nutr. 40, 371–398 (2000).
  4. Jetsrisuparb, A., Komwilaisak, P. & Wiangnon, S. Green tea consumption prevented iron overload: A case report of thalassemia intermedia. J Hematol Transfus Med 24, 389–394 (2014).
  5. Fan, F. S. Iron deficiency anemia due to excessive green tea drinking. Clin. case reports 4, 1053–1056 (2016).

 

Susu Formula Bayi dan Anak: Apakah lebih Mahal Lebih Baik? Meluruskan Salah Paham yang Sering Terjadi

Banyak orangtua sering salah paham tentang perbedaan mamfaat susu formula yang bermacam-macam yang ada di pasaran terhadap pertumbuhan dan perkembangan bayi. Ada sebagian yang sangat percaya bahwa semakin mahal susu formula, maka akan semakin baik mamfaatnya buat pertumbuhan dan perkembangan bayi. Benarkah demikian? Bagaimana dengan berbagai macam klaim-klaim produsen susu tentang berbagai kelebihan produknya berdasarkan berbagai bahan tambahan tertentu yang terkait dengan pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita? Tulisan ini bermaksud untuk menjelaskan pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan landasan ilmiah.

Satu hal yang sudah pasti dan berlandaskan ilmu pengetahuan adalah air susu ibu (ASI) adalah makanan terbaik buat bayi. Badan kesehatan dunia WHO, Pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan  secara tegas menganjurkan agar bayi diberi ASI ekslusif sampai 6 bulan, setelahnya ditambah dengan makanan pendamping ASI (MP-ASI) sambil berupaya meneruskan pemberian ASI sampai anak berumur 2 tahun bahkan sampai tiga tahun.1 Meskipun susu formula dibuat sedemikian rupa untuk menyamai kandungan nutrisi ASI dengan inovasi teknologi dan pengetahuan yang mutakhir, namun secara alamiah ASI terbukti lebih baik memberikan mamfaat bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi. ASI merupakan makanan yang cukup bagi bayi hingga bulan-bulan pertama kehidupan bayi, namun setelah 5-6 bulan harus didampingi oleh MP-ASI untuk mencukupi kebutuhan bayi untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Setelah 6 bulan umpamanya, bayi membutuhkan sumber zat besi yang lebih banyak untuk menunjang pembuatan sel-sel darah merah, karena kandungan zat besi ASI relatif sedikit, apalagi jika diet ibunya juga tidak memadai mensuplai zat besi (lihat tabel 1).

Tabel 1. Perbandingan komposisi ASI, Susu sapi, Susu Formula

Perbandingan Komposisi zat gizi (per 100 ml)
Komposisi ASI Susu Sapi Susu Formula (modifikasi susu sapi)
Energi (kcal) 62 67 60-65
Protein (g) 1,3 3,5 1,5-1,9
Karbohidrat (g) 6,7 4,9 7,0-8,6
Casein:Whey 40:60 63:37 40:60 – 63:37
Lemak (g) 3,0 3,6 2,6-3,8
Natrium (mg) 0,65 2,3 0,65-1,1
Calcium (mg) 33 125 50
Zat besi (mg) 0,15 0,10 0,45-2

Ada banyak keuntungan yang diperoleh jika bayi diberi ASI dibanding susu formula. Beberapa diantaranya adalah imunitas yang diperoleh bayi dari ASI lebih baik; ASI juga lebih merangsang tumbuhnya bakteri yang bermamfaat di dalam usus besar bayi dibanding susu formula seperti Bifidobakteria dan menekan tumbuhnya bakteri yang berbahaya seperti Coliform 2. Kedua hal ini membuat bayi yang mendapat ASI lebih tahan terhadap penyakit infeksi. Data menunjukkan bahwa semakin lama ASI diberikan kepada bayi, semakin melindungi bayi dari penyakit diabetes tipe 1 dan tipe 2, kegemukan, asma, dan beberapa jenis kanker di kehidupan selanjutnya. 3 4 5

Perlu diketahui bahwa di Indonesia seperti halnya di seluruh dunia, ASI dianjurkan sebagai makanan utama bayi dan dan tenaga kesehatan seperti dokter, bidan, perawat dilarang untuk mempromosikan/menganjurkan susu formula sebagai pengganti ASI kecuali dengan alasan yang dibenarkan oleh undang-undang. Peraturan Pemerintah No.33 tahun 2012 dengan tegas menyatakan bahwa setiap ibu yang melahirkan harus memberikan ASI ekslusif kepada bayi yang dilahirkannya dan hanya dikesampingkan jika terdapat indikasi medis, ibu tidak ada, atau ibu terpisah dari bayi6. Praktek pemberian contoh formula cuma-cuma yang biasa dilakukan oleh oknum tertentu adalah pelanggaran undang-undang, yang akan menghambat program pemerintah dalam menggalakkan penggunaan ASI di masyarakat dan bisa dikenai sanksi mulai dari teguran sampai pencabutan izin praktek tenaga kesehatan.

Jenis-jenis susu formula

Secara garis besar ada dua macam susu formula menurut Codex Alimentarius, yang pertama adalah formula bayi (infant formula) dan formula bayi untuk keperluam medis khusus. Yang kedua adalah formula lanjutan (follow up formula) termasuk susu pertumbuhan (growing-up formula). Kita akan bahas macam-macam susu ini satu per satu.

Formula bayi (infant formula) yaitu susu formula yang dapat digunakan sebagai pengganti ASI untuk bayi yang berumur 0-6 bulan jika bayi karena sesuatu alasan tidak bisa mendapat ASI ekslusif. Susu formula bayi ini harus memiliki standar komposisi kandungan gizi dan keamanan yang harus dipenuhi oleh semua produsen baik berdasarkan standar yang ditetapkan oleh badan kesehatan dan makanan dunia (WHO dan FAO) yang dalam hal ini ditetapkan oleh Codex Alimentarius7, maupun standar yang ditetapkan oleh pemerintah negara setempat, yang kalau  kita di Indonesia oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Standar yang ditetapkan oleh BPOM juga mengacu pada standar yang ditetapkan oleh Codex Alimentarius sehingga standar susu formula di Indonesia sama dengan standar di negara lain (lihat tabel 2). Oleh karena itu, semua susu formula bayi yang telah disetujui oleh BPOM/Kemenkes untuk beredar dengan berbagai macam nama dan harga oleh produsen yang berbeda, secara kualitas kandungan gizi dan keamanannya relatif sama, sehingga pilihan produk berdasarkan harga tidak akan mempengaruhi perbedaan kualitas yang diperoleh oleh bayi. Dengan demikian memilih susu formula yang termurah bukanlah kesalahan pilihan namun merupakan pilihan yang rasional. Standar kandungan gizi susu formula yang ditetapkan tersebut telah didasarkan pada bukti-bukti penelitian yang menunjukkan bahwa kandungannya bisa menunjang pertumbuhan dan perkembangan bayi 0-6 bulan, dan dengan demikian bisa menggantikan ASI. Jikalau ada tambahan kandungan gizi tertentu yang menjadi nilai jual (selling point) produk tertentu, bukan merupakan zat gizi yang harus ada pada susu formula bayi untuk menjamin pertumbuhan dan perkembangan bayi.

Bagaimana bukti ilmiah klaim produk formula bayi?

Berbagai klaim tentang mamfaat kesehatan produk susu formula bayi biasanya terkait dengan struktur dan komponen tertentu yang ditambahkan. Klaim bisa memberikan mamfaat atau fungsi tertentu seperti mengurang sakit perut (kolik),  mengurangi lendir, meningkatkan ketajaman penglihatan dan otak, biasa disebut “structure-function claim”. Banyaknya klaim-klaim terkait susu formula bayi ini, menyebabkan BPOM Amerika Serikat (Food and Drug Administration) mengeluarkan tata aturan yang mengharuskan agar setiap klaim-klaim tersebut harus dilandasi dengan bukti-bukti ilmiah yang cukup8. Ini didasari oleh temuan, banyak dari klaim-klaim mamfaat kesehatan susu formula bayi tidak memiliki landasan ilmiah yang cukup sehingga menyebabkan banyak dokter merasa prihatin. Sebagai contoh, FDA AS pada tahun 2014 telah menolak klaim  susu formula yang diproduksi oleh Nestle yang mengandung modifikasi protein Whey, yang mereka sebut dapat mengurangi resiko kejadian alergi makanan. Adapula klaim susu formula bayi dengan bahan dasar  kedelai, susu formula dengan kandungan laktosa yang dikurangi atau ditiadakan, susu formula yang menggunakan hydrolysed protein, susu formula dengan tambahan pre/probiotik yang bisa mencegah terjadinya gejala alergi pada bayi dengan faktor resiko tinggi alergi atau intoleransi laktosa, mencegah bayi rewel karena sakit perut (kolik), maka sampai saat ini bukti ilmiahnya belum cukup untuk membenarkan klaim-klaim tersebut9. Patut diingat, mencegah potensi alergi tidak sama dengan mengurangi/menghilangkan gejala alergi susu sapi pada bayi. Potensi alergi di sini adalah kesempatan timbulnya gejala alergi pada bayi yang diketahui punya resiko alergi yang tinggi karena misalnya kedua orang tuanya juga adalah penderita alergi. Jadi inti klaim produk-produk anti alergi, jika produk mereka diberikan kepada bayi, maka akan mencegah atau menghindarkan bayi dari gejala alergi di kemudian hari. Sementara ada produk susu formula memang diindikasikan untuk mengurangi/menghilangkan gejala alergi terhadap susu, berarti gejala alergi sudah terjadi pada bayi dan salah satu cara penanganannya adalah memilih susu formula yang hipoalergenik, biasanya dengan memilih produk susu formula dengan modifikasi protein seperti produk dengan protein terhidrolisa ekstensif, atau produk yang menggunakan sumber proteinnya berupa asam-asam amino. Bukti-bukti ilmiah penggunaan produk-produk untuk penderita alergi memang sudah banyak dan kuat dan golongan produk ini termasuk contoh formula bayi untuk keperluan medis khusus, dimana penggunaannya bukan untuk semua bayi dan hanya berdasarkan indikasi medis dari dokter.

Bagaimana dengan susu formula bayi dengan tambahan DHA, EPA, ARA yang banyak diklaim oleh produsen bisa memberikan mamfaat berupa peningkatan ketajaman penglihatan, peningkatan kecerdasan karena memperbaiki fungsi retina dan otak? Dari berbagai data ilmiah sampai saat ini kesimpulan yang didapatkan masih kontradiksi, sehingga belum cukup untuk mendasari rekomendasi agar DHA menjadi zat yang wajib ada di susu formula.9 10 Bagaimana dengan efek pemberian DHA kepada ibu yang hamil dan menyusui terhadap kecerdasan dan penglihatan anak? Ini juga belum bisa dibuktikan memberikan mamfaat seperti yang diharapkan secara teoretis. Akan lebih efisien jika ibu diminta untuk lebih banyak mengkonsumsi ikan selama kehamilan dan menyusui agar kandungan DHA ASI lebih banyak. Namun jenis ikan yang dianjurkan adalah ikan yang berminyak, dan menghindari ikan yang berpotensi terkontaminasi oleh merkuri.

Bagaimana dengan susu formula dengan tambahan prebiotic seperti Galacto-oligosacharide (GOS), Fructo-oligosacharide (FOS), serta probiotik berupa bakteri-bakteri penghasil laktat seperti bifidobakteria yang diklaim bisa memperbaiki status imun dan juga flora usus? Masalah ini sampai sekarang masih secara intensif diteliti dan dari data yang ada,  penambahan prebiotic dan probiotik meski dianggap cukup aman, namun bukti-bukti ilmiah untuk mendukung penggunaannya secara rutin masih lemah menurut persatuan dokter gastroenterologi anak Eropa (dokter anak yang spesialis organ dan fungsi pencernaan)  (ESPGHAN)11.

Tabel 2.  Standar Kandungan Susu Formula yang disyaratkan oleh BPOM

Standar Kandungan Zat Gizi (100 kkal) BPOM12
Minimum Maksimum Acuan Batas Atas (ABA)
Energi (100 ml) 60 kkal 70 kkal
Protein 1,8 g 3 g
Isolat protein kedelai 2,25 g 3 g
Lemak total 4,4 g 6,0 g
Asam linoleate 300 mg 1400 mg
Asam α-linolenic 50 mg
Rasi Asam linoleat/ Asam α-linolenic 5/1 15/1
Total Karbohidrat 9 g  14 g
Kandungan Vitamin yang wajib
Vitamin A 60 mcg RE 180 mcg RE
Vitamin D3 1 mcg calciferol 2,5 calciferol
Vitamin E 0,5 mg α-TE 5 mg TE
Vitamin K 4 mcg 27 mcg TE
Thiamin (Vit. B1) 60 mcg 100 mcg
Riboflavin (Vit. B2) 80 mcg 500 mcg
Niacin (Vit. B3) 300 1500 mcg
Pyridoxine (Vit. B6) 35 mcg 175 mcg
Cyanocobalamine (Vit. B12) 0,1 mcg 1,5 mcg
Asam Pantotenat (Vit. B5) 400 mcg 2000 mcg
Asam Folat (Vit. B9) 10 mcg 50 mcg
Vitamin C 10 mg 70 mg
Biotin 1,5 mcg 10 mcg
Kandungan Mineral yang wajib
Zat Besi 0,45 mg 2 mg
Kalsium 50 mg 140 mg
Fosfor 25 mg 100 mg
Rasio Kalsium/Fosfor 1:1 2:1
Natrium 20 mg 60 mg
Magnesium 5 mg 15 mg
Klorida 50 mg 160 mg
Kalium 60 mg 180 mg
Mangan 1 mg 100 mg
Yodium 10 mcg 60 mcg
Selenium 1 mcg 9 mcg
Tembaga 35 mcg 120 mcg
Zinc 0,5 mg 1,5 mg
Komponen lain
Kolin 7 mg 50 mg
Myo-Inositol 4 mg 40 mg
L-Karnitin 1,2 mg
Bahan lain yang dapat ditambahkan (tidak wajib)
Taurin 12 mg
Nukleotida 16 mg
DHA (% asam lemak) 0,2 0,5
Arachidonic Acid harus menyertai pemberian DHA dengan ratio DHA:ARA 1:1-2
Bila diberi EPA kandungannya tidak boleh lebih dari kandungan DHA
Disamping bahan-bahan tersebut dalam tabel, susu formula juga biasanya mengandung bahan tambahan makanan yang  berfungsi  sebagai pengental, pengemulsi, pengatur keasaman, dan antioksidan yang juga telah diatur berapa jumlahnya secara ketat oleh BPOM.

 

Formula bayi untuk keperluan medis khusus adalah formula pengganti ASI atau formula bayi, yang diolah dan diformulasikan secara khusus sebagai tatalaksana diet karena kondisi penyakit atau medis khusus samapai beberapa bulan pertama kehidupan bayi, sampai  MP-ASI dapat diberikan. Susu formula jenis ini harus mencantumkan secara spesifik untuk kondisi atau penyakit apa susu tersebut ditujukan dengan mencantumkan tulisan “Untuk control diet pada…” dan harus mencantumkan pernyataan “GUNAKAN DIBAWAH PENGAWASAN MEDIS”, disamping peringatan bahayanya jika dikonsumsi oleh bayi yang sehat atau tidak menderita penyakit atau kondisi medis tertentu.12 Kandungan zat gizinya harus sesuai dengan komposisi susu formula bayi biasa, kecuali modifikasi komposisi tertentu terkait dengan kondisi penyakit atau keadaan medis yang menjadi indikasi pemberiannya. Karenanya harus dicantumkan pernyataan tentang zat gizi yang mengalami pengurangan, penghapusan, peningkatan atau modifikasi lain dibanding persyaratan normal, dan alasan modifikasi yang dilakukan. Contoh indikasi susu formula untuk keperluan medis tertentu diantaranya adalah susu formula khusus untuk bayi yang mengalami alergi susu sapi, bayi dengan kelainan metabolisme protein bawaan seperti mengalami galaktosemia, maple syrup urine disease, fenilketonuria.

Susu formula berikutnya adalah formula lanjutan (follow-up formula) dan formula untuk pertumbuhan (growing-up formula). Menurut Codex Alimentarius, formula lanjutan adalah jenis makanan yang dimaksudkan untuk menjadi bagian dari diet penyapihan berbentuk cair untuk bayi berumur 6 bulan dan balita.13 Namun sekali lagi, ASI masih merupakan pilihan terbaik sebagai bagian dari makanan yang semakin beragam setelah bayi berumur lebih dari enam bulan hingga dua tahun atau lebih.

WHO sendiri menyatakan dengan tegas bahwa formula lanjutan tidak perlu dan tidak sesuai untuk pengganti ASI setelah bayi berumur 6 bulan. Bayi disarankan terus mendapat ASI dan MP-ASI berupa makanan lokal yang sehat dan bergizi.

Satu hal yang harus menjadi perhatian masyarakat dan tenaga kesehatan adalah cara-cara pemasaran (marketing strategy) susu formula lanjutan yang seringkali membingungkan para orangtua, seakan-akan susu formula lanjutan ini merupakan susu yang wajib diberikan sebagai pengganti ASI setelah bayi berumur 6 bulan. Kebingungan para orangtua ini disebabkan oleh strategi pengemasan, pemberian merek (branding), dan pemberian label (labelling) yang menyerupai susu formula bayi (infant formula) yang banyak terjadi di negara berkembang.14 Banyak produsen melakukan cross-promotion (promosi silang) yaitu memasarkan produk formula bayi yang saling berkesinambungan dengan formula lanjutan dan formula pertumbuhan. Seringkali pemakaian istilah tahap 1, 2, 3 atau A+, 2+ dan lain lain juga digunakan sehingga timbul kesan bahwa pemberian susu formula hingga lanjutan merupakan rangkaian yang perlu bahkan wajib. Sebagai akibatnya, banyak orangtua yang menganggap bahwa formula lanjutan ini sebagai pengganti ASI, sehingga ibu-ibu yang sudah harus kembali bekerja atau alasan lain tanpa ragu menghentikan pemberian ASI setelah bayi mereka berumur 6 bulan.

Susu formula lanjutan ini juga harus memenuhi syarat-syarat tertentu seperti yang telah ditetapkan oleh Codex Alimentarius.15 Dengan demikian, tanpa memandang harga, semua susu formula lanjutan ini memiliki komposisi yang sepadan dalam menunjang pertumbuhan dan perkembangan bayi 6 bulan ke atas. Oleh karena itu, memilih yang lebih murah adalah hal yang rasional dilakukan oleh para orangtua.

Susu pertumbuhan (growing-up formula) biasanya diperuntukkan untuk anak yang berumur 1-3 tahun, sehingga biasa disebut toddler formula. Sebenarnya komposisinya sama dengan susu sapi biasa yang biasa dikonsumsi oleh orang dewasa, meski tiap pabrikan juga punya spefikasi yang berbeda. Rasanya juga sudah seperti susu yang biasa dikonsumsi oleh orang dewasa. Orangtua harus waspada, karena banyak produk-produk susu pertumbuhan ini mengandung gula sehingga gigi anak-anak gampang mengalami karies. Haruskah anak-anak mendapat susu pertumbuhan ini? Tidak harus, apalagi kalau masih mendapat ASI dan makannya bagus. Konsumsi yang berlebihan gampang menyebabkan kelebihan berat badan. Kalau harus memberi susu, maka boleh dipilih susu biasa yang diperuntukkan untuk orang dewasa, dan tentu saja ini adalah pilihan yang lebih ekonomis.

ibu-menyusui-bisa-menyimpan-asi-perahnya-dalam-berbagai-cara-_150804081233-318

ASI makanan terbaik bayi, kalau perlu bisa dipompa dan disimpan untuk diberikan ke bayi ketika ibu lagi bekerja. Gambar dari Republika online.

Lalu apa yang membedakan antara formula bayi dan formula lanjutan?

Kalau kita melihat ketentuan Codex Alimentarius, maka susu formula lanjutan memiliki standar energi, dan makronutrien seperti protein, lemak, dan karbohidrat yang boleh lebih tinggi sedikit dibanding susu formula biasa. Jadi secara umum komposisi energi dan makronutriennya tidak terlalu jauh berbeda. Begitu pula kandungan hampir semua vitamin dan mineralnya tidak berbeda kecuali sedikit lebih tinggi pada zat besi, kalsium. Kalau bayi umur enam bulan yang mendapat ASI dan juga MP-ASI yang memadai, maka formula lanjutan ini sebenarnya tidak perlu. Bagaimana dengan bayi yang tidak mendapat ASI lagi karena suatu sebab? Boleh dipertimbangkan sebagai jalan terakhir. Bagaimanapun ASI tetap yang terbaik. Memompa ASI, jadual pemberian ASI yang lebih fleksibel, seperti hanya ketika ibu sudah di rumah merupakan pilihan yang terbaik, karena setelah enam bulan, bayi sudah mendapat MP-ASI dan bisa minum air putih selama ibu tidak di rumah. Kalau memang terpaksa memilih formula lanjutan, pilihlah yang paling ekonomis, karena secara kualitas, susu formula lanjutan punya standar yang sama.

Referensi

  1. Department of Child and adolescent health and development WHO. Guiding principles of feeding non-breastfed children 6-24 months old. (2005).
  2. Yoshioka, H., Iseki, K.-I. & Fujita, K. Development and Differences of Intestinal Flora in the Neonatal Period in Breast-Fed and Bottle-Fed Infants. 72, (1983).
  3. Sadauskaitė-Kuehne, V., Ludvigsson, J., Padaiga, Ž., Jašinskienė, E. & Samuelsson, U. Longer breastfeeding is an independent protective factor against development of type 1 diabetes mellitus in childhood. Diabetes. Metab. Res. Rev. 20, 150–157 (2004).
  4. Feeding Baby | Part I: Age 0-6 Months, Breast Milk or Formula. Available at: http://feedingmynewbaby.com/chapters/part-i-age-0-6-months-breast-milk-or-formula/. (Accessed: 16th February 2018)
  5. Lemas, D. J. et al. Alterations in human milk leptin and insulin are associated with early changes in the infant intestinal microbiome 1,2. Am. J. Clin. Nutr. 103, 291–300 (2016).
  6. Presiden Republik Indonesia. PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA Nomor 33 Tentang Pemberian Air Susu ibu. (2012).
  7. Organization, W. H. & Orgization, F. and A. STANDARD FOR INFANT FORMULA AND FORMULAS FOR SPECIAL MEDICAL PURPOSES INTENDED FOR INFANTS. Codex Alimentarius (2007).
  8. Food and Drug Administration. Substantiation for Structure/Function Claims Made in Infant Formula Labels and Labeling: Guidance for Industry. (2016).
  9. Belamarich, P. F., Bochner, R. E. & Racine, A. D. A Critical Review of the Marketing Claims of Infant Formula Products in the United States. Clin. Pediatr. (Phila). 55, 437–442 (2016).
  10. Jasani, B., Simmer, K., Patole, S. K. & Rao, S. C. Long chain polyunsaturated fatty acid supplementation in infants born at term. Cochrane Database Syst. Rev. (2017). doi:10.1002/14651858.CD000376.pub4
  11. Braegger, C. et al. Supplementation of Infant Formula With Probiotics and/or Prebiotics: A Systematic Review and Comment by the ESPGHAN Committee on Nutrition. JPGN 52, 238–250 (2011).
  12. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. Pengawasan Formula Bayi Dan Formula Bayi Untuk. 1–30 (2006).
  13. World Health Organozation. information concerning the use and marketing of follow-up formula. (2013).
  14. Pereira, C. et al. Cross-sectional survey shows that follow-up formula and growing-up milks are labelled similarly to infant formula in four low and middle income countries. Matern. Child Nutr. 12, 91–105 (2016).
  15. World Health Organization & Organization, F. and A. STANDARD FOR FOLLOW-UP FORMULA. (2017).

ASPEK GIZI DAN KESEHATAN PUASA RAMADHAN

Tulisan ini merupakan salinan tulisan saya yang terbit di Harian Fajar tahun 2007.

Dalam beberapa hari lagi umat Islam akan memasuki Bulan Ramadhan, bulan suci dimana mereka melaksanakan puasa (shaum) sebulan penuh sebagai bagian dari ibadah mahdah yang diwajibkan. Sebagai orang beriman, kewajiban itu tentunya harus dilaksanakan dengan ikhlas disertai harapan terhadap ridha Allah SWT. Sudah menjadi keyakinan kita bahwa setiap perintah Allah SWT baik berupa ibadah ritual maupun perintah syariat yang lain pasti mengandung hikmah yang pada dasarnya untuk kepentingan manusia sendiri baik mereka sadari atau tidak. Tetapi perlu disadari bahwa pelaksanaan setiap perintah syariat termasuk puasa bukan didasari oleh karena adanya hikmah dan mamfaat yang terkandung didalamnya, namun semata-mata karena konsekuensi iman terhadap perintah atau syariat tersebut. Hikmah yang terkandung dalam syariat atau perintah Allah SWT menurut penulis adalah merupakan dimensi empiris yang bisa dirasakan secara subyektif oleh manusia, diukur atau dibuktikan dengan ilmu pengetahuan.

Tulisan ini bukan bermaksud untuk menguraikan hikmah Puasa Ramadhan  tetapi hanya untuk memberikan informasi tentang beberapa aspek gizi dan kesehatan dari puasa Ramadhan yang penting diketahui oleh pembaca yang budiman.

Puasa Ramadhan dan Asupan kalori total

Jumlah kalori menunjukkan banyaknya kandungan energi yang terkandung dalam makanan. Kalori ini didapat dari karbohidrat, lemak, dan protein. Untuk setiap gramnya, lemak mengandung kalori lebih dari dua kali lipat dari karbohidrat dan protein. Oleh karena itu lemak disebut zat gizi yang padat kalori. Kelebihan asupan kalori ditandai dengan naiknya berat badan.

Banyaknya kalori total yang dikonsumsi selama Puasa Ramadhan jika dibandingkan sebelum Ramadhan berbeda-beda  menurut penelitian-penelitian yang telah dilakukan. Ada peneliti yang menemukan asupan kalori yang tidak berbeda bahkan lebih yang ditandai dengan berat badan yang tak berubah atau meningkat. Sementara peneliti yang lain menemukan yang sebaliknya yang ditandai dengan penurunan berat badan. Perbedaan hasil penelitian ini kemungkinan besar diakibatkan oleh perbedaan kuantitas dan kualitas makanan yang dikonsumsi selama Puasa Ramadhan. Selama puasa frekuensi makan cenderung menurun tetapi jenis serta variasi makanan cenderung lebih beragam. Kandungan kalori makanan juga cenderung meningkat karena selama Ramadhan makanan yang disajikan biasanya banyak makanan yang manis-manis dan  mengandung lemak yang lebih banyak. Bagi mereka yang gemuk atau dengan berat badan yang lebih, tentu makanan seperti ini mesti dibatasi agar berat badan tidak bertambah.

Nasehat Rasulullah SAW yang menganjurkan agar tidak terlalu kenyang pada saat makan bisa dilaksanakan dengan melatih pengendalian diri dan tidak menjadikan waktu buka sebagai waktu “balas dendam”. Rasulullah SAW biasanya mengkonsumsi dua sampai tiga biji kurma pada saat buka puasa. Kita bisa mengikuti contoh ini, atau kalau mengkonsumsi makanan atau minuman yang manis sebaiknya jumlahnya dibatasi.

Pada saat makan malam pun demikian tidak sampai berlebihan. Adalah lebih baik makan lebih sering dalam porsi yang kecil daripada makan porsi besar sekaligus.

Rasulullah SAW memberi petunjuk agar pada saat makan lambung hanya diisi sepertiga makanan, sepertiga air (putih), dan sisanya untuk udara. Inti dari pesan beliau adalah makan dan minum secukupnya.

Makan sahur sebaiknya jangan dilewatkan karena makan dan minum pada waktu ini berfungsi meningkatkan cadangan makanan tubuh menghadapi waktu puasa. Makan sahur bisa menjaga tenaga dan vitalitas tubuh sehingga orang  bisa beraktivitas normal selama berpuasa. Rasulullah sendiri mengingatkan kita bahwa makan sahur itu mengandung berkah, terlebih lagi jika makan sahur ditakhirkan mendekati saat imsak. Rasulullah juga menganjurkan agar tidak menunda-nunda buka puasa bila telah tiba waktunya, agar cadangan makanan tubuh yang hilang bisa segera tergantikan. Dengan mengikuti anjuran-anjuran Rasulullah ini, insya Allah asupan kalori selama bulan Ramadhan tidak akan berlebihan atau kekurangan secara ekstrim.

Puasa Ramadhan bagi penderita penyakit kronis tertentu

Allah SWT memberikan keringanan kepada mereka yang sakit untuk tidak berpuasa pada bulan Ramadhan. Namun pada beberapa penyakit kronis seperti diabetes (kencing manis), sakit jantung, dan sakit maag masih dimungkinkan untuk berpuasa dengan syarat-syarat tertentu. Kita tidak bisa memungkiri banyak diantara kaum muslimin yang tetap bersikeras berpuasa meskipun memiliki penyakit tersebut. Namun harus diingat bahwa petunjuk dan izin dari dokter  harus dicari untuk menjaga agar pelaksanaan puasa tidak malah memperburuk kondisi kesehatan.

Dari penelitian-penelitian diketahui bahwa tidak ada efek puasa yang berbahaya bagi orang yang berpenyakit diabetes terutama bagi mereka yang gula darahnya terkontrol dengan baik. Sebagian besar pasien diabetes yang menjalani puasa tidak mengalami perubahan dalam kontrol gula darahnya. Tapi bagi pasien diabetes yang kontrol gula darahnya tidak baik, pasien diabetes yang kurang patuh minum obat, atau disertai penyakit lain sebaiknya tidak usah berpuasa.

Bagi mereka yang dizinkan berpuasa oleh dokternya, harus menghindari makan dalam porsi besar pada waktu buka puasa dan tetap meneruskan olahraga ringan pada saat tidak berpuasa pada malam hari. Kemudian perubahan jadual minum obat dan dosisnya juga harus diperhatikan dengan baik sesuai dengan petunjuk dokter.

Bagaimana dengan yang berpenyakit jantung ?

Kepustakaan dan penelitian tentang masalah ini sangat terbatas. Menurut referensi yang penulis miliki, puasa masih dimungkinkan pada orang yang berpenyakit jantung koroner (penyumbatan pembuluh darah jantung) yang ringan. Sampai sekarang belum diketahui apakah dehidrasi (kekurangan cairan) ringan yang lazim terjadi selama puasa Ramadhan bisa membahayakan pasien penyakit jantung koroner yang sedang sampai berat. Oleh karena itu bagi pasien golongan ini lebih baik tidak berpuasa  kecuali dokter yang merawat mengizinkan.

Pada penderita penyakit maag yang disertai luka pada lambung atau usus halus dan sedang minum obat untuk proses penyembuhan luka, menurut beberapa penelitian tingkat kesembuhannya tidak dipengaruhi oleh puasa. Puasa tidak mempercepat atau memperlambat penyembuhan luka dilambung atau diusus. Bagi pasien-pasien sakit maag yang ringan  (tanpa ada luka di lambung atau usus) tetap bisa menjalani puasa dengan baik. Menghindari makan dalam porsi yang besar, makanan yang pedas dan asam, disertai obat untuk menurunkan asam lambung bisa membantu kenyamanan dalam berpuasa

Puasa Ramadhan bagi orang hamil dan menyusui

 Sebagaimana orang yang sakit, tidak ada kewajiban bagi ibu hamil dan menyusui untuk melakukan puasa. Penelitian tentang puasa pada orang hamil dan menyusui sangat sedikit. Satu penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan Inggris, Cross JH dan kawan-kawan (1990) menunjukkan bahwa 13.300 bayi yang lahir dari ibu yang berpuasa dalam bulan Ramadhan mempunyai berat badan yang tidak berbeda dengan bayi yang dilahirkan oleh ibu-ibu yang tidak berpuasa. Namun untuk kepentingan ibu dan bayi, sebelum adanya penelitian-penelitian yang lain dan lebih dalam, sebaiknya tidak usah berpuasa pada bulan Ramadhan. Kalaupun tetap ingin melaksanakannya disarankan kualitas dan kuantitas makanan yang dikonsumsi dijaga agar sesuai dengan kebutuhan untuk ibu dan bayi. Nasehat dokter dan ahli gizi harus dicari untuk memastikan kesejahteraan ibu dan anak.

Gizi seimbang selama puasa Ramadhan

Sebagai penutup, saya ingin memberikan beberapa tips-tips praktis selama melaksanakan puasa Ramadhan agar asupan gizi tetap seimbang. Gizi yang seimbang adalah gizi yang memenuhi kebutuhan tubuh akan zat-zat gizi dalam jumlah yang optimal dalam menjaga kesehatan. Pertama, tetap jaga keanekaragaman hidangan atau makanan selama puasa. Kandungan zat gizi tiap makanan berbeda-beda, ada yang kaya akan zat gizi tertentu tapi kurang pada zat gizi yang lain. Oleh karena itu kebiasaan terpaku pada satu atau beberapa menu dengan bahan makanan yang sama terus menerus kurang baik. Itu kemungkinan bisa menyebabkan kelebihan zat gizi tertentu dan kekurangan zat gizi yang lain.

Usahakan menu makan malam dan sahur memenuhi anjuran 4 sehat 5 sempurna yang terdiri dari makanan pokok (nasi, jagung, ubi), lauk pauk, sayuran dan buah ditambah segelas susu. Untuk susu dianjurkan susu yang rendah lemak (susu skim, bukan yang full cream).

Kedua, jaga asupan cairan agar cukup selama puasa Ramadhan. Delapan sampai sepuluh gelas cairan (lebih dalam bentuk air putih) per hari dibutuhkan oleh tubuh. Bagi orang yang berpuasa mungkin bisa “menyicil” minum airnya antara waktu buka puasa dan sahur.

Ketiga, hindari terlalu berlebihan mengkonsumsi makanan yang berkadar gula tinggi. Tidak mengapa mengkonsumsinya pada saat buka puasa dalam jumlah yang cukup. Gula sendiri meskipun mengandung kalori tetapi sangat miskin zat-zat gizi yang lain sehingga gula dijuluki kalori kosong (empty calorie).

Dan yang terakhir, hindari mengkonsumsi tablet multivitamin atau supplemen makanan tanpa ada petunjuk dokter. Multivitamin hanya bermamfaat bagi mereka yang terbukti kurang gizi atau mengalami defisiensi.  Kalau berat badan anda normal dan makan dengan dengan cukup maka mengkonsumsi multivitamin hanya pemborosan dan berpotensi menyebabkan kelebihan vitamin yang berbahaya bagi kesehatan.

KERACUNAN MAKANAN: MENCEGAH LEBIH BAIK DARIPADA MENGOBATI

Tulisan ini merupakan salinan tulisan saya yang diterbitkan di Harian Fajar tahun 2007.

Barangkali masih segar dalam ingatan kita berita kasus-kasus keracunan makanan yang menimpa orang-orang yang menghadiri hajatan perkawinan atau kegiatan lain yang menyuguhkan makanan kepada undangan atau orang menghadirinya. Tak tanggung-tanggung peristiwa seperti ini bisa memakan banyak korban tanpa memandang bulu mulai dari anak kecil sampai orang tua. Gejala keracuanan makanan yang timbul pun bisa mulai dari teringan seperti mual, pusing-pusing, diare,  muntah sampai yang paling berat seperti kerusakan organ vital misalnya ginjal akibat dehidrasi sampai kematian.

Kalau kita cermati, keracunan makanan ini paling sering terjadi secara massal yang mengenai orang dalam jumlah yang banyak  akibat memakan makanan yang disuguhkan oleh jasa penyedia makanan (baca: catering) atau makanan yang dibuat dalam jumlah banyak oleh pihak tertentu untuk suatu acara  atau perhelatan. Bisa dibayangkan berapa besar kerugian dan bahaya keracuanan makanan jika misalnya kejadian itu mengenai orang dalam jumlah yang sangat besar dalam waktu yang hampir bersamaan. Jumlah korban yang banyak tentunya memerlukan kesiapan serta sumber daya kesehatan baik obat maupun tenaga kesehatan dari segi jumlah dan kualitasnya dalam situasi darurat. Belum lagi kita menghitung akibat ekonomi yang besar akibat biaya pengobatan serta perawatan, hilangnya jam kerja akibat kesakitan dan kematian para korban.

Disamping implikasi kesehatan dan ekonomi,  kejadian keracuanan makanan juga setidaknya memiliki implikasi kegagalan regulasi dan pengawasan instansi pemerintah terkait terhadap usaha-usaha penyedia makanan secara massal.

Penyebab keracunanan makanan

Secara umum penyebab keracunan makanan bisa dikategorikan menjadi tiga: 1) kontaminan biologis (bakteri, virus, parasit, dan jamur) serta kontaminan dari lingkungan yang lain seperti pestisida dan logam berat (selenium, merkuri, cadmium), 2) konstituen atau kandungan toksik yang secara alami ada pada makanan seperti misalnya senyawa sianida pada ubikayu, 3) zat aditif makanan yang ditambahkan untuk maksud tertentu seperti pengawet, pewarna, penguat rasa dan lain-lain.

Dari ketiga kategori peyebab keracunan makanan tersebut, kontaminan atau pencemaran kuman merupakan penyebab lebih dari sembilan puluh persen kejadian keracunan makanan. Yang paling berbahaya adalah adalah kontaminasi makanan oleh bakteri dan dan jamur yang dapat memproduksi toksin atau racun yang tetap utuh dan terkandung oleh makanan meskipun telah melalui proses pengolahan yang mematikan bakteri atau jamur yang menghasilkannya. Kontaminan lingkungan seperti pestisida dan logam berat umumnya lebih terkontrol dalam sistem rantai suplai makanan kita sekarang. Biasanya menjadi ancaman pada daerah-daerah tertentu misalnya daerah industri yang menghasilkan limbah yang dibuang tanpa memperhatikan proses pengolahan limbah yang aman seperti misalnya kejadian atau kasus Buyat yang sempat menyita perhatian karena adanya gangguan kesehatan orang bermukim di sekitar industri yang memakan ikan dan memakai air yang diduga mengandung merkuri dari pembuangan limbah ke laut.

Akan halnya kandungan zat toksik alami dari makanan biasanya tidak menjadi ancaman jika diolah dan konsumsi dalam jumlah yang normal. Begitupula dengan zat aditif sangat kecil kemungkinannya menyebabkan keracunan karena keamanannya sudah teruji secara toksikologis dan jumlah yang boleh dipakai telah dibakukan dengan baik. Hanya saja kita harus mewaspadai zat tambahan yang bukan merupakan golongan zat aditif yang sering ditambahkan sebagai pengawet makanan seperti yang lagi ramai mendapat perhatian baru-baru ini yakni formalin yang terkandung dalam produk-produk impor dari Cina. Formalin sebenarnya bukan pengawet makanan tapi merupakan pengawet mayat yang bisa menyebabkan gangguan kesehatan serius jika dikonsumsi oleh manusia.

Upaya mengontrol keracunan makanan

Karena sebagian besar keracunan makanan disebabkan oleh kontaminasi biologis dalam hal ini kontaminasi bakteri, maka upaya untuk mengontrol keracunan makanan boleh dikatakan bertitik tumpu pada penvegahan kontaminasi bakteri pathogen atau bakteri penyebab penyakit. Menurut penelitian bakteri bakteri penyebab keracunan makanan tumbuh dan berkembang biak pada makanan dan menyebabkan keracunan makanan karena faktor-faktor berikut yang diurut menurut besar kontribusinya (Williams, 2001): 1) proses pendinginan makanan yang tidak benar (44%). Makanan yang telah dimasak yang akan disajikan kemudian tidak bisa disimpan dalam suhu ruangan jika dimaksudkan akan disimpan lebih dari dua jam. Makanan tersebut mesti didinginkan dibawah 4 derajat Celcius untuk menghindari tumbuhnya bakteri yang merugikan. Oleh karena itu seyogyanya sebuah usaha catering memiliki penyimpanan yang berpendingin yang cukup jika usaha tersebut membuat makanan dalam jumlah besar dan akan disajikan kemudian. Proses pemanasan makanan yang dingin juga mesti perhatikan yaitu memanaskannya minimal 60 derajat celcius dan menjaganya tetap demikian pada saat penyajian.

2) adanya jedah lebih dari 12 jam atau lebih antara penyiapan makanan dan konsumsinya (23%). Jadi sebaiknya makanan yang akan disajikan disiapkan kurang dari 12 jam sebelum disajikan untuk dikonsumsi meskipun proses pendinginannya baik secara prosedural . Bagi usaha catering yang kecil yang tidak memiliki sarana pendingin makanan yang cukup, lebih baik memang jika menyiapkan makanan pada saat hari yang sama dengan acara. Namun keterbatasan waktu dan tenaga tentunya akan menjadi masalah apalagi jika makanan yang disiapkan dalam jumlah yang sangat besar.

3) kontaminasi pekerja makanan (18%). Semua orang yang terlibat dalam proses pengolahan makanan mempunyai peluang untuk mengkontaminasi makanan dengan bakteri atau kuman yang lain , oleh karena itu sebenarnya pengolah makanan atau siapapun yang kontak dengan makanan selama pengolahan seharusnya adalah orang yang sehat. Saya kira sudah saatnya pemerintah dalam hal ini dinas kesehatan atau instansi terkait melakukan sertifikasi usaha dan pekerja pengolah makanan pada usaha penyediaan makanan. Pekerja atau pengolah makanan harus sudah terbukti bebas dari penyakit yang bisa ditularkan melalui makanan melalui pemeriksaan kesehatan yang menyeluruh. Ini penting karena ada kemungkinan orang yang tampak sehat tapi memiliki potensi untuk mengkotaminasi makanan karena termasuk golongan carrier atau pembawa kuman penyakit. Tentu saja kebijakan seperti ini mempunyai implikasi biaya yang bisa pada akhirnya membebani konsumen. Tetapi ini tentunya jauh lebih kecil jika dibanding dengan biaya untuk mengobati jika terjadi wabah keracunan makanan, apalagi jika kemudian konsumen yang sadar hukum menggugat ganti rugi terhadap jasa penyedia makanan di pengadilan.

4) bahan makanan atau bahan mentah yang terkontaminasi (16%). Tentunya kontaminasi ini merupakan tanggung jawab produsen bahan mentah dan distributornya. Oleh karena itu sekali lagi perlu adanya sertifikasi produk sebagi bukti bahwa bahan mentah yang dibeli merupakan bahan mentah yang sehat. Ini saya kira masih jauh dari kenyataan,  dibuktikan dengan fakta dilapangan dimana  kebanyakan usaha-usaha penyedia makanan boleh dikatakan mengelola usahanya secara tradisional dalam skala keluarga yang bahan mentahnya tidak bersertifikasi karena memang tidak ada bahan mentah yang disertifikasi kesehatannya oleh pemerintah sejauh pengamatan penulis atau mereka membelinya dari pasar-pasar tradisional yang pengawasan kesehatannya minim kalau tidak mau dikatakan tidak ada sama sekali.

Disamping itu adapula kemungkinan terjadinya kontaminasi silang antara makanan yang telah jadi dengan bahan mentah pada proses produksi makanan karena pengolahan yang kurang profesional misalnya memakai peralatan yang sama antara makanan yang masak dan bahan mentah contohnya pisau pemotong, panci, dan wadah-wadah yang lain yang berpotensi memindahkan kuman penyakit ke makanan yang telah masak.

Tugas pemerintah dalam mencegah keracunan makanan

Pemerintah sebagai pengayom masyarakat sudah seharusnya jeli dalam melihat permasalahn keracunan makanan yang nampaknya semakin sering terjadi. Tindakan reaktif yang hanya dilakukan pada saat keracunan makanan massal sudah terjadi tidak lagi memadai. Hal ini bisa ditempuh  (antara lain sudah dibicarakan diatas) adalah:

  1. perlu pengawasan berkala dan sertifikasi usaha –usaha penyedia makanan massal (catering) untuk menjamin mutu dan keamanan produknya, hal ini juga mencakup reward and punishment dalam prosesnya
  2. perlu pengawasan dan sertifikasi produk dari produsen dan distributor bahan makanan mentah untuk menjamin mutu dan keamanannya terutama produsen dan distributor yang besar dan sering dijadikan sumber bahan mentah oleh jasa penyedia makanan
  3. pasar-pasar tradisional yang mungkin sekali sebagai sumber bahan mentah yang murah dari usaha penyedia makanan harus diawasi kebersihan dan sanitasi lingkungannya
  4. sudah saatnya Hazard Analysis of Critical Control Points (HACCP) dimasyarakatkan , disosialisasikan, dilatihkan dan dijadikan standar baku dalam setiap usaha produksi makanan massal dan  penyediaan makanan dalam institusi tertentu seperti rumah sakit, sekolah, pabrik dan sebagainya .

      Ruangan yang terbatas membatasi penulis dalam membahas masalah ini secara       detail tetapi prinsipnya sudah pernah dibahas dikolom yang sama di Harian Fajar           beberapa waktu yang lalu.

 

Kegemukan (Obesitas) dan Resiko Terkena Kanker dan Tips Pencegahannya

Obesitas meningkatkan resiko terkena kanker

Bukti-bukti penelitian mengenai keterkaitan obesitas dengan penyakit degeneratif sangat banyak dan kuat. Telah diketahui bahwa obesitas sangat terkait bahkan bisa disebut sebagai penyebab penyakit-penyakit degeneratif seperti diabetes tipe II, Hipertensi, dyslipidemia, penyakit jantung Koroner, dan stroke.  Salah satu penyakit degeneratif yang menakutkan yang juga punya hubungan erat dengan obesitas yang akan kita bahas pada tulisan ini adalah kanker atau tumor ganas. Hubungan obesitas dan kanker meski belum bisa dipastikan sebagai hubungan kausal atau hubungan sebab akibat, namun diyakini bahwa obesitas meningkatkan resiko seseorang mengalami kanker. Data menunjukkan bahwa 14-20% kematian akibat kanker pada laki-laki dan wanita disebabkan oleh kondisi kelebihan berat badan (Font-Burgada, Sun and Karin, 2016).

 Mari kita lihat tingkat resiko terkena kanker tertentu dengan peningkatan 5 poin Indeks Massa Tubuh (IMT) seseorang  seperti yang terlihat pada tabel di bawah (Calle and Thun, 2004). Peningkatan IMT 5 poin yang dimaksud ini dari IMT 23 ke 28, 24 ke 29,  28 ke 32 dan seterusnya. Untuk menghitung IMT, Anda hanya membutuhkan data berat badan (Kg) dan tinggi badan (Meter), lalu dihitung berdasarkan rumus BB (kg)/TB2 (m).

Jenis Kanker Relative Risk (Tingkat Resiko)
Laki-laki
Adenocarcinoma esophagus (kanker kerongkongan)

Kanker Tiroid

Kanker Usus Besar

Kanker Ginjal

Kanker hati

1.52

1.35

1.24

1.24

1.24

Wanita
Kanker Endometrium (dinding rahim)

Kanker Kandung Empedu

Adenocarcinoma esophagus

Kanker Ginjal

Leukemia

Kanker Tiroid

Kanker Payudara (Setelah Menopause)

1.59

1.59

1.51

1.34

1.17

1.14

1.12

Sebagai contoh, jika Anda seorang perempuan dengan IMT 28 maka resiko Anda terkena kanker dinding Rahim 1,59 kali lipat dibanding wanita yang punya IMT 23.

Yang menarik adalah penelitian yang menunjukkan bahwa disamping tingkat obesitas, tinggi gula darah juga meningkatkan resiko terkena kanker tertentu (Moore et al., 2018). Ada orang yang mempunyai berat badan berlebih atau obesitas namun mereka secara metabolik masih sehat yaitu ditandai dengan gula darah yang masih normal, sementara yang lain sudah mengalami peningkatan. Penelitian Moore ini menarik karena merupakan analisis data Studi Framingham yang terkenal itu.

 Penelitian Moore dan kawan-kawan menunjukkan bahwa orang dewasa dengan IMT > 25 , WHtR (Waist to Height Ratio) > 0.51 (Laki-laki), > 0.57 (Wanita), dengan gula darah sewaktu > 125 mg/dl memiliki resiko 2 kali lipat untuk terkena kanker (kanker payudara setelah menopause,  organ reproduksi, usus, hati, kandung empedu, pancreas, ginjal, kerongkongan) sementara yang gula darahnya normal hanya 1,5 kali lipat. Orang dewasa yang punya berat badan normal dengan gula darah yang tinggi tidak mengalami peningkatan resiko. Khusus bagi wanita, yang memiliki berat badan lebih dan gula darah yang meningkat memiliki resiko 2,6 kali lipat terkena kanker organ reproduksi (kanker serviks, endometrium, rahim) dan kanker payudara setelah menopause dibanding wanita dengan berat badan berlebih dengan glukosa darah yang normal. Sebagai catatan untuk menghitung WHtR, Anda perlu mengukur lingkar perut (caranya Anda bisa baca di sini) dan tinggi badan dan dihitung menurut rumus Lingkar Perut (cm)/Tinggi Badan (cm).  Contoh, kalau Anda seorang laki-laki dengan lingkat perut 120 cm dan tinggi badan 165 cm maka WHtR Anda adalah 120/165= 0.727 yang berarti Anda memiliki ratio yang lebih tinggi dari 0.51. Kalau IMT Anda misalkan 25 dan glukosa darah sewaktu (GDS) 129 mg/dl berarti Anda punya resiko 2 kali lipat dari orang yang normal untuk menderita kanker. Namun  penelitian ini adalah penelitian observasional yang  hanya bisa melihat hubungan keterkaitan semata, bukan hubungan sebab akibat. Disamping itu interpretasinya harus dilihat dengan pendekatan komunal/masyarakat bukan individual.

Bagaimana obesitas bisa memicu terjadinya kanker?

Terjadinya kanker terkait obesitas bisa berbeda di setiap organ, bahkan mekanisme terjadinya sampai sekarang masih belum bisa dipastikan. Namun ada beberapa indikasi yang dipercaya mengapa obesitas itu bisa memicu timbulnya kanker(Font-Burgada, Sun and Karin, 2016). Yang pertama adalah terjadinya reaksi radang ringan kronis pada sel-sel lemak pada obesitas yang menghasilkan zat-zat yang memicu terjadinya tumbuhnya tumor baik berupa zat radang maupun hormone-hormon tertentu. Yang kedua, terjadinya resistensi insulin, suatu keadaan dimana sel-sel tubuh menjadi tidak peka lagi terhadap insulin yang mengakibatkan peninggian insulin dan gula darah. Insulin dan gula darah yang tinggi dipercaya merupakan pemicu tumbuhnya sel-sel kanker. Yang ketiga, pada obesitas diketahui terjadi perubahan microflora dalam usus karena adanya komposisi diet yang biasanya tinggi lemak dan kurang serat makanan. Perubahan microflora usus ini bisa menyebabkan peradangan ringan kronis secara sistemis dan tumbuhnya bakteri jahat yang menghasilkan zat yang memicu tumbuhnya sel kanker. Yang keempat, gangguan kerja sel-sel imun sehingga tidak bisa mematikan sel-sel tumor yang sedang tumbuh

Gaya hidup yang bagaimana untuk mencegah kanker terkait obesitas?

Sebenarnya ada dua hal yang bisa dilakukan untuk mencegah obesitas dan kanker. Yang pertama adalah pendekatan diet yang sehat dan seimbang dan yang kedua adalah aktivitas fisik berupa olahraga yang teratur.

Untuk mencegah kelebihan berat badan diperlukan kesadaran untuk tetap menjaga kestabilan berat dalam kisaran normal. Berat badan dalam kisaran normal untuk orang Indonesia adalah dengan IMT antara 18,6-22,9. Untuk itu diperlukan asupan kalori yang cukup dan tidak berlebihan. Disarankan untuk menimbang berat badan secara teratur tiap minggu untuk memonitor kestabilan berat badan. Timbanglah berat badan Anda di pagi hari sebelum makan minum dan berolahraga dan dianjurkan pada waktu yang sama. Makan, minum dan berolahraga bisa berpengaruh pada berat badan Anda. Jika terjadi peningkatan, maka secara sederhana perlu mengurangi jumlah kalori yang dikonsumsi, atau lebih meningkatkan aktivitas fisik agar berat badan stabil. Jika seumpama Anda menambah berat badan (lemak tubuh) sebanyak ½ kg dalam seminggu, berarti Anda kelebihan kalori berkisar 500-600 kalori per hari. Pertimbangkan untuk mengurangi porsi makanan atau mengurangi kalori yang dikonsumsi yang caranya bisa bermacam-macam seperti menghindari makanan yang  padat kalori  seperti makanan yang manis-manis dan berlemak, bisa juga mengurangi jumlah karbohidrat yang dikonsumsi.

Vibrant Produce

Sayur dan Buah Sumber Serat dan Zat Pencegah Timbulnya Kanker (Gambar dari https://naturespulchritude.wordpress.com)

Untuk aktivitas fisik, dianjurkan berolahraga setiap hari selama 30 menit. Pilihan yang baik antara lain senam, bersepeda, atau jogging. Latihan beban 2-3 kali seminggu juga dianjurkan untuk menjaga massa otot.

Perbanyaklah mengkonsumsi sayuran dan buah. Dalam sehari Anda dianjurkan mengkonsumsi sayuran sebanyak 4-5 porsi, buah 3-4 porsi. Satu porsi sayuran kira-kira setara dengan ½ cangkir sayuran daun yang telah dimasak dan ditiriskan. Satu porsi buah contohnya satu apel sedang, satu pisang sedang, atau setengah cangkir buah yang dipotong dadu. Sayuran dan buah merupakan sumber serat makanan yang sudah diketahui bisa mencegah kanker terutama kanker usus besar. Serat juga baik untuk menjaga microflora yang sehat dalam usus. Sayuran dan buah juga merupakan sumber antioksidan serta zat-zat lain yang bisa mencegah terjadinya kanker.

Kurangi makanan yang berlemak tinggi, daging merah, susu full cream. Dianjurkan untuk mengkomsumsi susu rendah lemak atau skim sebagai sumber kalsium. Untuk masakan pilihlah sumber minyak yang sehat yang banyak mengandung lemak tidak jenuh seperti olive oil, minyak wijen, minyak bunga matahari dan lain-lain.

Tidak merokok dan tidak minum alcohol adalah dua hal dianjurkan untuk mengurangi resiko terjadinya kanker.

Kepustakaan

Calle, E. E. and Thun, M. J. (2004) ‘Obesity and cancer’, Oncogene. Nature Publishing Group, 23(38), pp. 6365–6378. doi: 10.1038/sj.onc.1207751.

Font-Burgada, J., Sun, B. and Karin, M. (2016) ‘Obesity and Cancer: The Oil that Feeds the Flame’. doi: 10.1016/j.cmet.2015.12.015.

Moore, L. L. et al. (2018) ‘Metabolic Health Reduces Risk of Obesity-Related Cancer in Framingham Study Adults’. doi: 10.1158/1055-9965.EPI-14-0240.

Berpolitik di era disruption technology: Tanggung jawab komunikasi politik digital

Era baru dalam politik dan berpolitik di dunia telah terjadi seiring dengan semakin berkembangnya infrastruktur komunikasi digital. Era disruption technology telah dan akan terus mengubah wajah perpolitikan dan perilaku politisi di mana saja termasuk di Indonesia. Perubahan yang niscaya ini sepertinya tidak akan mengubah tujuan berpolitik itu sendiri, setidaknya tujuan jangka pendeknya yaitu merebut atau memperoleh kekuasaan politik, yang idealnya merupakan langkah pertama untuk menerapkan kebijakan-kebijakan pembangunan sesuai dengan harapan rakyat. Politisi yang tidak responsif akan perubahan ini, alias gagal move-on akan gagal dalam aspirasi politiknya di masa depan.

Ada dua kekuatan utama komunikasi di era disruption technology seperti sekarang ini yang penting diketahui oleh para politisi. Dengan memahami ini, politisi dan institusi politik akan lebih antisipatif dan bertanggungjawab dalam melakoni komunikasi politik mereka dengan masyarakat luas atau konstituen mereka.

Pertama, informasi apapun secara virtual akan dengan mudah tersebar dengan cepat dan menjangkau banyak orang. Ini bisa menjadi senjata ampuh sekaligus mematikan untuk meraih dan kehilangan simpati dan dukungan masyarakat luas terhadap isu-isu politik. Secara praktis, ini akan mempengaruhi keakuratan polling yang dilakukan oleh lembaga-lembaga polling  baik terkait kepopuleran maupun elektabilitas seseorang atau partai tertentu. Hasil polling yang  bersifat dinamis dan terikat dengan dimensi waktu dan metodologi, lebih dinisbikan lagi oleh mudahnya dukungan, vote, dan opini masyarakat berubah oleh pengaruh informasi melalui komunikasi digital, salah satunya melalui media sosial. Informasi yang akurat/obyektif maupun tidak benar/hoax akan mempengaruhi dukungan, vote, dan opini masyarakat secara luas. Contoh konkrit yang bisa kita lihat adalah kemenangan Donald Trump di AS dalam pemilu presiden, dan kemenangan pasangan Anies-Sandi di Pilkada DKI, yang sama-sama menyelisihi berbagai hasil polling yang lebih mengunggulkan kandidat/pasangan kandidat lain dalam kontestasi politik yang bersangkutan. Dalam kedua contoh tersebut, kontestasi dan perang opini di media sosial begitu intens, baik yang berdasarkan fakta maupun hoax. Perang opini di media sosial ini akan sangat mempengaruhi sentimen masyarakat terlebih jika isu dan topik yang diangkat terkait masalah SARA.

Kedua, komunikasi di era disruption technology ini memungkinkan peningkatan partisipasi politik masyarakat terhadap isu-isu politik yang sedang ramai diperbincangkan. Diperkirakan tahun 2018 ini pengguna smartphone di Indonesia akan meningkat melebihi 100 juta orang, membuat Indonesia menjadi salah satu raksasa digital dunia. Dan angka ini  diperkirakan akan terus bertambah di tahun-tahun yang akan datang. Penggunaan media komunikasi digital, media sosial melalui smartphone tentunya akan membuat masyarakat lebih partisipatif sekaligus reaksioner terhadap isu-isu politik aktual yang sedang terjadi baik itu akurat maupun hoax. Tantangan kita sekarang adalah bagaimana agar peningkatan partisipasi politik masyarakat itu disertai oleh peningkatan kualitas partisipasi mereka. Kualitas partisipasi politik ini bisa diukur dengan seberapa kritis masyarakat terhadap informasi yang mereka dapatkan secara online. Partisipasi politik digital yang berkualitas tidak akan mempan terhadap informasi tidak benar/hoax.

Berpolitik di era disruption technology

Di era dimana “everyone goes digital“, “everyone goes online” maka politisi dan institusi politik juga mau tidak mau harus berubah budaya.  Budaya yang saya maksud adalah budaya melek informasi. Politisi harus lebih antisipatif. Politisi harus memiliki kepekaan akan ide, isu, dan kepentingan arus bawah (grass root) konstituen mereka. Politisi mau tidak mau, suka atau tidak suka harus terjun ke komunikasi digital, media sosial, bukan hanya dalam rangka memperkenalkan diri dan aspirasi politik yang mereka inginkan, namun juga dalam rangka menyerap keinginan dan harapan arus bawah masyarakat ini. Ini akan memudahkan para politisi memformulasikan visi dan misi politik mereka yang bersifat bottom-up yang bertumpu pada aspirasi dan keinginan masyarakat secara luas.

Politisi dan dan institusi politik juga dituntut lebih bertanggungjawab dalam hal beropini dan mengeluarkan pernyataan secara umum melalui media digital dan media sosial. Politisi harus akurat dan obyektif dalam menyebarkan informasi terlebih jika ingin menggerakkan opini masyarakat terhadap suatu isu tertentu. Ini menuntut politisi tidak hanya pandai berasumsi tetapi juga pandai dalam mencari, mengumpulkan, dan menganalisa, dan menyajikan data sesuai dengan isu yang mereka ingin sampaikan. Apakah semua politisi kita mulai dari pusat sampai daerah sudah memiliki kemampuan ini?Ini saya kira perlu pengkajian yang mendalam. Pendek kata, politisi di masa depan harus berubah menjadi politisi yang lebih pintar/terpelajar dan lebih obyektif.

Salah satu hal yang tidak bisa dihindarkan dalam era politik digital ini adalah adanya perang opini antar politisi dan pendukungnya di media sosial. Ini bukanlah hal yang negatif sepanjang perang opini ini bertumpu pada ide dan asumsi yang ditunjang oleh fakta dan data yang akurat. Komunikasi politik seperti ini di masa depan akan bertambah sengit dan meluas, dan mudah-mudahan bisa menambah kecerdasan dan partisipasi politik masyarakat. Dalam kondisi seperti ini, instrumen hukum yang tegas dan adil merupakan wasit yang diperlukan agar interaksi politik digital ini tidak keluar dari rambu-rambu yang melanggar hak dan mencemarkan nama baik orang lain. Hukum yang tidak tegas dan memihak justru akan memicu perpecahan di arus bawah dan akan memunculkan politik dendam kesumat, ketidaksinambungan kebijakan ketika terjadi pergantian rezim.

Peranan intelektual, media massa dan pemuka agama dalam komunikasi politik digital

Ketiga pilar masyarakat ini yaitu para intelektual, media massa dan pemuka agama bisa memainkan peranan yang krusial dalam era komunikasi politik digital.

Para intelektual harus memainkan peranan sebagai agen pencerdasan masyarakat secara keseluruhan termasuk bagi politisi. Ini tentu bisa dilakukan baik dengan terjun secara langsung ke dunia politik praktis maupun secara tidak langsung dengan berkontribusi dalam penyampaian opini dan pendapat yang obyektif dan berdasarkan fakta terhadap isu-isu politik.  Politisi intelektual dan intelektual politisi tidak boleh seratus persen terbawa arus partisan dalam menyikapi isu politik tertentu. Tentu ini sulit dalam lingkungan dan struktur politik indonesia, dimana partai sangat berkuasa terhadap politisi mereka yang sudah terpilih di parlemen. Mungkin pemikiran agar kekuasaan partai dikurangi bahkan ditiadakan dalam parlemen perlu dipertimbangkan, sehingga anggota parlemen dari partai betul-betul hadir sebagai wakil rakyat dibanding wakil partai mereka.

Media massa telah lama diharapkan bisa menjadi pilar politik yang obyektif di tengah masyarakat, namun sayangnya media-media masaa juga tidak imun dari sikap partisan. Salah satu sebabnya adalah kepemilikan media tersebut juga dipunyai oleh politisi-politisi. Ke depan, harus dicari cara yang efektif agar media massa bisa lepas pengaruh politik partisan ini. Media massa yang obyektif, mencerdaskan hanya bisa jika dilandasi oleh semangat mendidik masyarakat agar lebih cerdas dan tidak dibutakan oleh kacamata kuda kepentingan politik pemiliknya. Aturan yang tegas dan jelas bagi media massa agar tidak partisan, bertindak adil, cover both side, harus terus diefektifkan tanpa pandang bulu. Upaya masyarakat secara luas dalam mengontrol media juga perlu terus didukung agar media massa bisa lebih bertanggungjawab di masa depan terkait sikap dan opini politiknya.

Sudah diketahui bersama bahwa Indonesia adalah negara yang berdasarkan sendi-sendi agama yang kuat meski secara resmi bukan negara agama. Ini berarti bahwa nilai dan norma agama dipandang sangat penting oleh mayoritas masyarakat. Isu-isu yang bertentangan dengan norma dan nilai agama meskipun itu dipandang merupakan bagian dari kampanye HAM tidak akan pernah mendapat tempat dalam pandangan masyarakat indonesia. Oleh karena itu dalam komunikasi politiknya, politisi mau tidak mau harus mempertimbangkan sensitivitas keberagamaan masyarakat di Indonesia. Politik yang tuna agama di Indonesia adalah suatu hal yang tidak mungkin.

Pemuka agama tentu diharapkan memainkan peranan yang besar dan konstruktif dalam mencerdaskan seluruh elemen bangsa dalam komunikasi politik digital. Karena nilai agama itu bersifat universal dalam hal mencapai kemaslahatan seluruh masyarakat, kecurigaan dan ketakutan terhadap pemuka agama terlibat dalam komunikasi politik digital adalah berlebihan. Ruang diskusi dan interaksi di media digital dan media sosial harus dimamfaatkan oleh pemuka agama untuk mendidik dan mencerdaskan masyarakat tanpa harus mengorbankan nilai dan hukum agama tertentu. Di lain pihak, penguasa dan politisi harus siap berkomunikasi secara makruf dan konstruktif dengan pemuka agama secara keseluruhan jika terjadi perbedaan pandangan dan pendapat mengenai isu politik tertentu. Inti dari semuanya adalah penciptaan saluran komunikasi dan silaturrahim yang inklusif bukan ekslusif dalam memecahkan perbedaan pandangan politik dengan pemuka agama manapun.

Selamat Jalan Guru Kami Prof. DR.dr. R.Satriono, Sp.A(K), Sp.GK

Telah berpulang ke rahmatullah Guru Kami, Prof Satriono pada tanggal 21 November 2017 setelah dirawat karena menderita sakit.

Prof Satriono

Beliau adalah perintis Departemen Ilmu Gizi FKUH dan telah mengabdi beberapa dekade sebagai pendidik dan dokter yang berdedikasi tinggi.

Semoga ilmu yang telah beliau ajarkan kepada seluruh murid-muridnya menjadi amal jariah di hadapan Allah SWT.

 

Untuk Kakanda Taruna Ikrar: Mari Kita Istighfar dan Mari Memperbaiki Diri Ke Depan

Bismillahirrahmanirrahim

Ini surat terbuka buat Kakanda Taruna Ikrar yang saya hormati. Saya dan Kanda tidak pernah bertemu, meski kita sama-sama dilahirkan oleh Kampus Merah Universitas Hasanuddin yang kita banggakan. Namun saya dan Kanda Taruna adalah bersaudara dalam Islam. Dalam Islam orang yang paling baik adalah orang yang apabila dia berbuat salah maka segera beristighfar karena Allah Maha Pengampun. Apalah artinya dunia fana ini Kanda, sementara dunia yang hakiki akan kita hadapi setelah maut itu menjemput.

Tiada seorang pun di dunia ini yang sempurna, semua memiliki cela dan aib, termasuk diri saya yang jauh dari sempurna. Kalau Allah tidak menutupi aib kita, maka niscaya semua manusia pasti akan malu dengan dirinya sendiri.

Episode yang tidak nyaman ini bukan hanya bagi Kanda, tapi juga bagi diri saya yang merasa terpaksa membuka ini semua setelah kurang lebih 4 bulan mulai Agustus 2017 berusaha mengklarifikasi ke berbagai pihak mengenai credentials Kanda Taruna. Ada pergolakan batin dalam diri saya sebelum memposting apa yang telah saya posting.

Mungkin ada yang menyesalkan mengapa saya tidak konfirmasi dulu ke Kanda Taruna sebelum posting, namun ada beberapa pertimbangan antara mudharat dan mamfaat sehingga saya memutuskan posting secara publik:

  1. Mengingat Kanda Taruna adalah publik figure, maka saya kira akan lebih berfaedah jika ini menjadi berita publik sehingga semua ilmuwan dan akademisi Indonesia bisa  menjadi insan yang lebih bertanggungjawab ke depannya dalam menjaga integritas keilmuwanan. Kalau diumpamakan bahwa membangun budaya integritas ilmuwan Indonesia seperti membangun bangunan yang kokoh, maka saya ingin episode ini, yang melibatkan Kanda- bisa menjadi bata dalam bangunan itu.
  2. Saya ingin Kanda menunjukkan kebesaran jiwa sebagai seorang muslim, sebagai putra dengan budaya Bugis-Makassar yang memegang teguh Siri na Pacce mengakui denga jantan jika terjadi khilaf dalam perjalanan karir Kanda. Insya Allah semua akan memaafkan, dan Kanda bisa terus berkarya demi kebaikan umat manusia dalam pengembangan science.

Dengan rendah hati, Saya memohon Kanda untuk setidaknya mengklarifikasi apa yang telah saya tulis. Allah sebagai saksi saya, bahwa ini semua ini demi kebaikan Kanda ke depan agar bisa menjadi ilmuwan yang lebih baik.

Semoga Allah mengampuni saya jika apa yang saya lakukan ini lebih banyak mudharatnya.

Hormat Saya

Aminuddin

Mencari Kebenaran Academic Credentials Dokter Taruna Ikrar: Fraud Detected!

Bismillahirahmanirrahim

Beberapa tahun belakangan ini, dunia akademik di tanah air diramaikan dengan berita terkait Dokter Taruna Ikrar yang telah populer dengan academic credentials yang cemerlang. Beliau dikabarkan telah memiliki setidaknya dua paten sebagaimana pengakuan beliau sendiri (https://www.youtube.com/watch?v=podcTlKMvbk) dan dari berbagai website bahkan media TV nasional. Yang lebih hebat lagi, beliau dikabarkan dan dikonfirmasi oleh beliau sendiri, dinominasikan untuk meraih hadiah Nobel dalam bidang physiology and Medicine 2016 (https://www.youtube.com/watch?v=GQVogEokq7w) oleh University of California Irvine. Dan masih banyak lagi academic credentials yang dapat kita baca dari berbagi media online yang tak perlu disebutkan satu-per satu.

Tidak terkecuali, dunia akademik dan kampus juga merayakan pencapaian dr. Taruna Ikrar dengan memberi beliau kesempatan berbicara, pidato, dan kuliah umum di depan khalayak akademik, bahkan memberi beliau kedudukan akademik tertentu. Tentu pencapaian dr. Taruna ini sangat membaggakan kita semua, terutama akademisi tanah air yang telah begitu lama tertinggal dan tertatih-tatih dalam mengembangkan penelitian, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Pencapaian ini, kalau benar adanya, merupakan tonggak sejarah ilmu pengetahuan indonesia. Saya sebagai yunior beliau di Kedokteran Unhas akan merasa berbahagia, karena ini akan mengangkat nama institusi kami ke tingkat yang lebih tinggi.

Foto Taruna Ikrar

Dr. Taruna Ikrar

Namun saya menangkap beberapa keganjilan dari academic credentials dr. Taruna Ikrar ini.

  1. Beliau mengaku dinominasikan oleh professor atau institusi beliau di University of California Irvine untuk hadiah Nobel tahun 2016. Sepengetahuan saya, yang bisa menominasikan seseorang menjadi penerima hadiah Nobel dalam bidang kedokteran dan bidang yang lain, hanya pihak tertentu,  diantaranya adalah penerima hadiah Nobel sebelumnya di kategori yang sama. Jadi peraih hadiah Nobel bidang kedokteran hanya bisa diajukan oleh peraih hadiah Nobel Kedokteran sebelumnya. Untuk syarat nominasi, Anda bisa akses di https://www.nobelprize.org/nomination/medicine/. Terlebih lagi, siapa yang dinominasikan tidak bisa diketahui umum karena baru bisa dibuka 50 tahun setelah nominasi tersebut diumumkan. Sepengatahuan saya dr. taruna tidak pernah berkolaborasi dengan peraih hadiah Nobel dalam penelitiannya, dan sangat mengherankan beliau tahu bahwa dia dinominasikan sebagai peraih hadiah Nobel padahal dokumen nominasi belum dibuka. Dari mana beliau tahu?
  2. Beliau mengatakan sudah memiliki dua paten dari hasil penelitian di University of California, dan sepertinya beliau mengklaim hal tersebut sendirian. saya bisa saja salah dalam impresi ini, tapi anda bisa lihat sendiri berita-berita dan video yang memberitakan masalah ini. Setahu saya, patent hanya bisa diklaim oleh institusi atau principal investigators dalam sebuah penelitian yang menghasilkan teknologi atau metodologi baru. Setahu saya, beliau bukan sebagai principal investigator dalam penelitian di University of California Irvine.
  3. Berita bahwa sekarang beliau telah menjadi dekan dan profesor di California School of Biomedicine National Health University dengan link https://www.thenhu.org/school-of-biomedical-sciences. Kalau Anda mengakses websitenya, hampir semuanya masih “in construction”, yang menimbulkan tanda tanya tentang bonafiditas institusi ini. Saya mencoba mencarinya dalam database universitas di California, namun institusi yang bersangkutan tidak terdaftar. Kalau gelar profesor beliau datang dari institusi ini, maka tentu akan banyak yang mempertanyakannya. Sekarang website ini sudah tidak bisa di akses, namun sudah berganti nama institusi lain yaitu Pacific Health Science University https://www.pacifichealthu.org/isb. Di tempat baru ini dr. Taruna Ikrar berkedudukan sebagai dekan dan professor di bidang biomedical science. Sama seperti website universitas sebelumnya, website institusi yang terbaru ini juga lebih banyak dalam konstruksi alias belum lengkap. Tidak jelas kenapa terjadi perubahan nama institusi ini, dr. Taruna tidak melakukan keterangan pers atau pengumuman apapun, padahal ini ini perlu dilakukan kalau memang institusi yang bersangkutan punya reputasi.

Dalam dunia akademik kita dituntut untuk selalu klarifikasi dan mencari fakta-fakta yang sebenarnya. Dalam rangka itu saya kemudian menghubungi Professor Joshua T Trachtenberg di UCLA (https://www.neurobio.ucla.edu/people/joshua-trachtenberg-phd), yang merupakan profesor Neurobiologi di UCLA,  principal investigator pada proyek penelitian dimana dr. Taruna terlibat di dalamnya sebagai colaborator, untuk mengklarifikasi mengenai ketiga hal tersebut diatas.

Berikut screenshot dari email saya ke Prof. Trachtenberg. (saya kirim email ke email resminya memakai email resmi saya dan email pribadinya memakai email pribadi saya, namun beliau balas lewat email pribadinya yaitu gmail seperti terlihat pada screenshot kedua). Untuk membacanya, saya sarankan agar di zoom biar lebih jelas.

my email to Trachtenbergbagi yang susah membaca email tersebut ini copynya:

Dear Prof. Trachtenberg
My name is Aminuddin Aminuddin, lecturer and researcher in University of Hasanuddin, Makassar, Indonesia.
I am writing to you in relation to Mr. taruna Ikrar’s past few years claims to his indonesian audience about his academic credentials. As his former mentor and professor, I would like to ask some clarification on his self-described credentials as follows:
1. He described himself was nominated for Nobel Laureate for physiology and medicine the year Dr. Yamanaka was nominated, who later won the prestigious award in 2012 (there is a video in Youtube in which he confirms publicly about his nomination, unfortunately in bahasa Indonesia). he said in that video that he was nominated by his supervisor for this award. I guess he is inferring to you as his supervisor.
2. He claimed to have brain mapping methodology patent during his time in UCLA stint. From the way he describe himself, he seems to only credit himself solely for this patent
3. He claims to be the dean and professor in National Health University California School of Bio Medicine ( the link https://www.thenhu.org/school-of-biomedical-sciences) which is quite dubious because as far as I am concerned this institution in unrecognized in USA. The website is amateurish, to say the least, provides no details about the nature of this institution. Do you have any ideas about this institution?
Mr. Taruna Ikrar has engaged in many public speaking and lecture.  promoting his credentials above. Now many indonesians in academic circle is looking up to him as a role model.
I believe that all academics and scientists should promote honesty, objectivity and humbleness in their career to promote and produce science for the mankind. Based on this spirit, I decided to write to you hoping for some clarification.
I thank you for your time and look forward to your reply as soon as your convinient time.
Best regards,
Aminuddin Aminuddin
Department of Nutrition, Faculty of Medicine
University of Hasanuddin, Indonesia
Perintis Kemerdekaan Km. 11 Makassar

Ini email pertama saya, dan kemudian saya koreksi sedikit kesalahan pada email pertama saya,  pada email kedua saya, bahwa dr. Taruna dikabarkan dinominasi hadiah Nobel pada tahun 2016, bukan pada tahun 2012 spt pada email pertama saya. Prof. Trachtenberg pada intinya membantah bahwa beliau pernah menominasikan dr. Taruna Ikrar untuk hadiah Nobel dan tidak pernah tahu bahwa ia memiliki patent. Email Prof. Trachtenberg saya hapus karena beliau meminta saya untuk tidak menampilkannya secara publik.

 

Email yang sama kemudian saya kirimkan ke Xiangmin Xu yang disebut oleh Prof. Trachtenberg dalam email balasannya sebagai mentor dr. Taruna Ikrar. Rupanya Xiangmin Xu meneruskan email saya tersebut ke Associate Vice Chancellor for Academic Affairs Susan & Henry Samueli College of Health Science University of California Irvine  Prof. Alan L. Goldin, MD, PhD dan beliau membalas dengan mengirim email yang isinya dengan jelas membantah bahwa University of California Irvine pernah menominasikan dr. Taruna Ikrar sebagai peraih hadiah Nobel dan penghargaan internasional lainnya. Dr. Taruna Ikrar juga dinyatakan telah meninggalkan UCI pada bulan Agustus 2016. Suratnya bisa dilihat  di sini Ikrar Response Letter

Saat ini saya masih menunggu beberapa dokumen penting lainnya yang Insya Allah akan saya publish jika  sudah mendapatkannya dari UCI Public Record Service seperti yang dijanjikan oleh Direkturnya Eric Digman, PhD.

Saya menghimbau kepada semua media baik elektronik maupun tertulis, agar di masa depan mereka harus melakukan klarifikasi bahkan investigasi yang dalam sebelum menulis reputasi, prestasi atau berita tentang tokoh akademik terlebih yang berasal dari luar negeri agar tidak terjadi kejadian fraud oleh orang-orang yang ingin mendapatkan penghargaan berdasarkan credentialnya. Banyaknya kasus fraud akademisi dan ilmuwan Indonesia menunjukkan bahwa budaya integritas akademik di Indonesia masih harus ditingkatkan.

Terakhir, saya akan menyediakan tempat bagi dr. Taruna untuk memberikan tanggapan atau jawaban terhadap tulisan saya di Blog ini. Saya akan mem-publish jawaban tersebut secepat-cepatnya jika memang beliau berniat memberikan jawaban tertulis.

 

Referensi

http://www.icmi.or.id/blog/2016/06/dr-taruna-ikrar-tokoh-icmi-ilmuwan-kedokteran-dunia

https://lintassulsel.com/prof-taruna-ikrar-dokter-asal-makassar-masuk-nominasi-nobel-2016/2666

http://www.sainsindonesia.co.id/index.php/rubrik/tokoh/2922-taruna-ikrar-masuk-nominasi-nobel-awards-2016

https://www.thenhu.org/school-of-biomedical-sciences