Selamat Jalan Guru Kami Prof. DR.dr. R.Satriono, Sp.A(K), Sp.GK

Telah berpulang ke rahmatullah Guru Kami, Prof Satriono pada tanggal 21 November 2017 setelah dirawat karena menderita sakit.

Prof Satriono

Beliau adalah perintis Departemen Ilmu Gizi FKUH dan telah mengabdi beberapa dekade sebagai pendidik dan dokter yang berdedikasi tinggi.

Semoga ilmu yang telah beliau ajarkan kepada seluruh murid-muridnya menjadi amal jariah di hadapan Allah SWT.

 

Iklan

Untuk Kakanda Taruna Ikrar: Mari Kita Istighfar dan Mari Memperbaiki Diri Ke Depan

Bismillahirrahmanirrahim

Ini surat terbuka buat Kakanda Taruna Ikrar yang saya hormati. Saya dan Kanda tidak pernah bertemu, meski kita sama-sama dilahirkan oleh Kampus Merah Universitas Hasanuddin yang kita banggakan. Namun saya dan Kanda Taruna adalah bersaudara dalam Islam. Dalam Islam orang yang paling baik adalah orang yang apabila dia berbuat salah maka segera beristighfar karena Allah Maha Pengampun. Apalah artinya dunia fana ini Kanda, sementara dunia yang hakiki akan kita hadapi setelah maut itu menjemput.

Tiada seorang pun di dunia ini yang sempurna, semua memiliki cela dan aib, termasuk diri saya yang jauh dari sempurna. Kalau Allah tidak menutupi aib kita, maka niscaya semua manusia pasti akan malu dengan dirinya sendiri.

Episode yang tidak nyaman ini bukan hanya bagi Kanda, tapi juga bagi diri saya yang merasa terpaksa membuka ini semua setelah kurang lebih 4 bulan mulai Agustus 2017 berusaha mengklarifikasi ke berbagai pihak mengenai credentials Kanda Taruna. Ada pergolakan batin dalam diri saya sebelum memposting apa yang telah saya posting.

Mungkin ada yang menyesalkan mengapa saya tidak konfirmasi dulu ke Kanda Taruna sebelum posting, namun ada beberapa pertimbangan antara mudharat dan mamfaat sehingga saya memutuskan posting secara publik:

  1. Mengingat Kanda Taruna adalah publik figure, maka saya kira akan lebih berfaedah jika ini menjadi berita publik sehingga semua ilmuwan dan akademisi Indonesia bisa  menjadi insan yang lebih bertanggungjawab ke depannya dalam menjaga integritas keilmuwanan. Kalau diumpamakan bahwa membangun budaya integritas ilmuwan Indonesia seperti membangun bangunan yang kokoh, maka saya ingin episode ini, yang melibatkan Kanda- bisa menjadi bata dalam bangunan itu.
  2. Saya ingin Kanda menunjukkan kebesaran jiwa sebagai seorang muslim, sebagai putra dengan budaya Bugis-Makassar yang memegang teguh Siri na Pacce mengakui denga jantan jika terjadi khilaf dalam perjalanan karir Kanda. Insya Allah semua akan memaafkan, dan Kanda bisa terus berkarya demi kebaikan umat manusia dalam pengembangan science.

Dengan rendah hati, Saya memohon Kanda untuk setidaknya mengklarifikasi apa yang telah saya tulis. Allah sebagai saksi saya, bahwa ini semua ini demi kebaikan Kanda ke depan agar bisa menjadi ilmuwan yang lebih baik.

Semoga Allah mengampuni saya jika apa yang saya lakukan ini lebih banyak mudharatnya.

Hormat Saya

Aminuddin

Mencari Kebenaran Academic Credentials Dokter Taruna Ikrar: Fraud Detected!

Bismillahirahmanirrahim

Beberapa tahun belakangan ini, dunia akademik di tanah air diramaikan dengan berita terkait Dokter Taruna Ikrar yang telah populer dengan academic credentials yang cemerlang. Beliau dikabarkan telah memiliki setidaknya dua paten sebagaimana pengakuan beliau sendiri (https://www.youtube.com/watch?v=podcTlKMvbk) dan dari berbagai website bahkan media TV nasional. Yang lebih hebat lagi, beliau dikabarkan dan dikonfirmasi oleh beliau sendiri, dinominasikan untuk meraih hadiah Nobel dalam bidang physiology and Medicine 2016 (https://www.youtube.com/watch?v=GQVogEokq7w) oleh University of California Irvine. Dan masih banyak lagi academic credentials yang dapat kita baca dari berbagi media online yang tak perlu disebutkan satu-per satu.

Tidak terkecuali, dunia akademik dan kampus juga merayakan pencapaian dr. Taruna Ikrar dengan memberi beliau kesempatan berbicara, pidato, dan kuliah umum di depan khalayak akademik, bahkan memberi beliau kedudukan akademik tertentu. Tentu pencapaian dr. Taruna ini sangat membaggakan kita semua, terutama akademisi tanah air yang telah begitu lama tertinggal dan tertatih-tatih dalam mengembangkan penelitian, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Pencapaian ini, kalau benar adanya, merupakan tonggak sejarah ilmu pengetahuan indonesia. Saya sebagai yunior beliau di Kedokteran Unhas akan merasa berbahagia, karena ini akan mengangkat nama institusi kami ke tingkat yang lebih tinggi.

Foto Taruna Ikrar

Dr. Taruna Ikrar

Namun saya menangkap beberapa keganjilan dari academic credentials dr. Taruna Ikrar ini.

  1. Beliau mengaku dinominasikan oleh professor atau institusi beliau di University of California Irvine untuk hadiah Nobel tahun 2016. Sepengetahuan saya, yang bisa menominasikan seseorang menjadi penerima hadiah Nobel dalam bidang kedokteran dan bidang yang lain, hanya pihak tertentu,  diantaranya adalah penerima hadiah Nobel sebelumnya di kategori yang sama. Jadi peraih hadiah Nobel bidang kedokteran hanya bisa diajukan oleh peraih hadiah Nobel Kedokteran sebelumnya. Untuk syarat nominasi, Anda bisa akses di https://www.nobelprize.org/nomination/medicine/. Terlebih lagi, siapa yang dinominasikan tidak bisa diketahui umum karena baru bisa dibuka 50 tahun setelah nominasi tersebut diumumkan. Sepengatahuan saya dr. taruna tidak pernah berkolaborasi dengan peraih hadiah Nobel dalam penelitiannya, dan sangat mengherankan beliau tahu bahwa dia dinominasikan sebagai peraih hadiah Nobel padahal dokumen nominasi belum dibuka. Dari mana beliau tahu?
  2. Beliau mengatakan sudah memiliki dua paten dari hasil penelitian di University of California, dan sepertinya beliau mengklaim hal tersebut sendirian. saya bisa saja salah dalam impresi ini, tapi anda bisa lihat sendiri berita-berita dan video yang memberitakan masalah ini. Setahu saya, patent hanya bisa diklaim oleh institusi atau principal investigators dalam sebuah penelitian yang menghasilkan teknologi atau metodologi baru. Setahu saya, beliau bukan sebagai principal investigator dalam penelitian di University of California Irvine.
  3. Berita bahwa sekarang beliau telah menjadi dekan dan profesor di California School of Biomedicine National Health University dengan link https://www.thenhu.org/school-of-biomedical-sciences. Kalau Anda mengakses websitenya, hampir semuanya masih “in construction”, yang menimbulkan tanda tanya tentang bonafiditas institusi ini. Saya mencoba mencarinya dalam database universitas di California, namun institusi yang bersangkutan tidak terdaftar. Kalau gelar profesor beliau datang dari institusi ini, maka tentu akan banyak yang mempertanyakannya. Sekarang website ini sudah tidak bisa di akses, namun sudah berganti nama institusi lain yaitu Pacific Health Science University https://www.pacifichealthu.org/isb. Di tempat baru ini dr. Taruna Ikrar berkedudukan sebagai dekan dan professor di bidang biomedical science. Sama seperti website universitas sebelumnya, website institusi yang terbaru ini juga lebih banyak dalam konstruksi alias belum lengkap. Tidak jelas kenapa terjadi perubahan nama institusi ini, dr. Taruna tidak melakukan keterangan pers atau pengumuman apapun, padahal ini ini perlu dilakukan kalau memang institusi yang bersangkutan punya reputasi.

Dalam dunia akademik kita dituntut untuk selalu klarifikasi dan mencari fakta-fakta yang sebenarnya. Dalam rangka itu saya kemudian menghubungi Professor Joshua T Trachtenberg di UCLA (https://www.neurobio.ucla.edu/people/joshua-trachtenberg-phd), yang merupakan profesor Neurobiologi di UCLA,  principal investigator pada proyek penelitian dimana dr. Taruna terlibat di dalamnya sebagai colaborator, untuk mengklarifikasi mengenai ketiga hal tersebut diatas.

Berikut screenshot dari email saya ke Prof. Trachtenberg. (saya kirim email ke email resminya memakai email resmi saya dan email pribadinya memakai email pribadi saya, namun beliau balas lewat email pribadinya yaitu gmail seperti terlihat pada screenshot kedua). Untuk membacanya, saya sarankan agar di zoom biar lebih jelas.

my email to Trachtenbergbagi yang susah membaca email tersebut ini copynya:

Dear Prof. Trachtenberg
My name is Aminuddin Aminuddin, lecturer and researcher in University of Hasanuddin, Makassar, Indonesia.
I am writing to you in relation to Mr. taruna Ikrar’s past few years claims to his indonesian audience about his academic credentials. As his former mentor and professor, I would like to ask some clarification on his self-described credentials as follows:
1. He described himself was nominated for Nobel Laureate for physiology and medicine the year Dr. Yamanaka was nominated, who later won the prestigious award in 2012 (there is a video in Youtube in which he confirms publicly about his nomination, unfortunately in bahasa Indonesia). he said in that video that he was nominated by his supervisor for this award. I guess he is inferring to you as his supervisor.
2. He claimed to have brain mapping methodology patent during his time in UCLA stint. From the way he describe himself, he seems to only credit himself solely for this patent
3. He claims to be the dean and professor in National Health University California School of Bio Medicine ( the link https://www.thenhu.org/school-of-biomedical-sciences) which is quite dubious because as far as I am concerned this institution in unrecognized in USA. The website is amateurish, to say the least, provides no details about the nature of this institution. Do you have any ideas about this institution?
Mr. Taruna Ikrar has engaged in many public speaking and lecture.  promoting his credentials above. Now many indonesians in academic circle is looking up to him as a role model.
I believe that all academics and scientists should promote honesty, objectivity and humbleness in their career to promote and produce science for the mankind. Based on this spirit, I decided to write to you hoping for some clarification.
I thank you for your time and look forward to your reply as soon as your convinient time.
Best regards,
Aminuddin Aminuddin
Department of Nutrition, Faculty of Medicine
University of Hasanuddin, Indonesia
Perintis Kemerdekaan Km. 11 Makassar

Ini email pertama saya, dan kemudian saya koreksi sedikit kesalahan pada email pertama saya,  pada email kedua saya, bahwa dr. Taruna dikabarkan dinominasi hadiah Nobel pada tahun 2016, bukan pada tahun 2012 spt pada email pertama saya. Prof. Trachtenberg pada intinya membantah bahwa beliau pernah menominasikan dr. Taruna Ikrar untuk hadiah Nobel dan tidak pernah tahu bahwa ia memiliki patent. Email Prof. Trachtenberg saya hapus karena beliau meminta saya untuk tidak menampilkannya secara publik.

 

Email yang sama kemudian saya kirimkan ke Xiangmin Xu yang disebut oleh Prof. Trachtenberg dalam email balasannya sebagai mentor dr. Taruna Ikrar. Rupanya Xiangmin Xu meneruskan email saya tersebut ke Associate Vice Chancellor for Academic Affairs Susan & Henry Samueli College of Health Science University of California Irvine  Prof. Alan L. Goldin, MD, PhD dan beliau membalas dengan mengirim email yang isinya dengan jelas membantah bahwa University of California Irvine pernah menominasikan dr. Taruna Ikrar sebagai peraih hadiah Nobel dan penghargaan internasional lainnya. Dr. Taruna Ikrar juga dinyatakan telah meninggalkan UCI pada bulan Agustus 2016. Suratnya bisa dilihat  di sini Ikrar Response Letter

Saat ini saya masih menunggu beberapa dokumen penting lainnya yang Insya Allah akan saya publish jika  sudah mendapatkannya dari UCI Public Record Service seperti yang dijanjikan oleh Direkturnya Eric Digman, PhD.

Saya menghimbau kepada semua media baik elektronik maupun tertulis, agar di masa depan mereka harus melakukan klarifikasi bahkan investigasi yang dalam sebelum menulis reputasi, prestasi atau berita tentang tokoh akademik terlebih yang berasal dari luar negeri agar tidak terjadi kejadian fraud oleh orang-orang yang ingin mendapatkan penghargaan berdasarkan credentialnya. Banyaknya kasus fraud akademisi dan ilmuwan Indonesia menunjukkan bahwa budaya integritas akademik di Indonesia masih harus ditingkatkan.

Terakhir, saya akan menyediakan tempat bagi dr. Taruna untuk memberikan tanggapan atau jawaban terhadap tulisan saya di Blog ini. Saya akan mem-publish jawaban tersebut secepat-cepatnya jika memang beliau berniat memberikan jawaban tertulis.

 

Referensi

http://www.icmi.or.id/blog/2016/06/dr-taruna-ikrar-tokoh-icmi-ilmuwan-kedokteran-dunia

https://lintassulsel.com/prof-taruna-ikrar-dokter-asal-makassar-masuk-nominasi-nobel-2016/2666

http://www.sainsindonesia.co.id/index.php/rubrik/tokoh/2922-taruna-ikrar-masuk-nominasi-nobel-awards-2016

https://www.thenhu.org/school-of-biomedical-sciences

Survey Politik: Siapakah yang akan Anda Pilih sebagai presiden pada Pemilu 2019

Oligarki Simbiosis Penguasa dan Pengusaha: kepada Siapa Rakyat Berharap?

Dalam demokrasi, secara prinsip suara atau kehendak mayoritas rakyat adalah perwakilan suara Tuhan. Apa yang diinginkan oleh rakyat betapapun itu radikal berbeda dengan kenyataan, negara- dalam hal ini pemerintah- harus mewujudkannya, karena pemerintah adalah pelayan atau pesuruh rakyat.

Kekuasaan politik dalam demokrasi dibagi menjadi tiga pelaksana yang sering disebut sebagai Trias Politika, yaitu: kekuasaan eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Secara teoretis, ketiga lembaga kekuasaan ini bersifat independen dan berinteraksi untuk cross-check and balance dalam melaksanakan tugas sebagai pelayan rakyat.

Namun pada kenyataannya (De Facto), dalam sebuah negara demokrasi ada unsur lain penentu jalannya sebuah negara, yaitu pemilik modal. Pemilik modal ini bisa bertingkat mulai dari yang memiliki modal yang relatif kecil, sampai yang memiliki modal yang masif. Sering tampak, semakin masif modal yang dimiliki, maka akan semakin besar potensi pengaruh pemilik modal terhadap pemerintah. Tidak bisa dipungkiri, pemilik modal bisa menjadi besar, juga sering karena difasilitasi oleh pemerintah berupa akses ke modal, kontrak kerja, dan perlakuan khusus yang lain. Celakanya, dalam demokrasi pergantian tampuk pimpinan politik adalah sebuah keniscayaan, namun pemilik modal akan tetap bertahan dan berusaha dengan segenap tenaga untuk tetap hidup dan untung.

Usaha untuk bertahan hidup dan menciptakan lingkungan usaha yang menguntungkan, akan mendorong pemilik modal untuk melakukan segala cara untuk mempengaruhi kebijakan dan perundang-undangan. Bagaimana mereka melakukannya?

Pemilik modal membuka pintu masuk ke kekuasaan dimulai saat kampanye pemilihan pimpinan eksekutif dan anggota legislatif. Kampanye pemilihan ini merupakan proses yang mahal dengan segala macam keperluan logistik dan ongkos untuk pergerakan roda partai pendukung. Pemilik modal yang pintar biasanya memberikan dukungan modal yang besar  kepada calon yang memiliki elektabilitas yang tinggi, meski tidak jarang mereka mendukung logistik semua calon dengan jumlah yang berbeda untuk cari aman.

Cara lain untuk mendapat akses ke kekuasaan adalah pemilik modal sendiri turun langsung di gelanggang politik praktis sebagai politisi dengan membuat atau bergabung dengan partai politik. Maka jangan heran, jika begitu banyak pengusaha baik kecil maupun konglomerat menjadi politisi, karena dengan demikian, keamanan modal dan usaha mereka bisa lebih terjamin.

Dengan sistem demokrasilah, terjadilah oligarki simbiosis penguasa dan pengusaha menjalankan kekuasaan atas nama rakyat. Sesungguhnya simbiosis ini tidak melulu bersifat negatif, hanya saja kalau dilandasi oleh motif menguasai ekonomi dan bukan untuk kepentingan rakyat banyak, maka akan melahirkan rejim yang timpang dalam memperjuangkan kesejahteraan rakyat.

Banyak ahli politik yang berpendapat bahwa dalam sebuah demokrasi yang sehat, diperlukan kebebasan pers dan institusi masyarakat sipil berupa organisasi massa yang bersih dari kepentingan politik.  Kedua lembaga non-pemerintah ini diharapakan bisa menjadi pengontrol kekuasaan agar tetap dijalurnya memperjuangkan rakyat kebanyakan. Namun fakta menunjukkan, banyak pers dan media juga dimiliki oleh pemilik modal yang menyebabkan mereka menjadi bias dan berpihak sesuai dengan tujuan pemiliknya. Organisasi massa meski bersifat lebih independen, sering pula ikut menjadi pendukung kekuasaan. Organisasi yang kritis terhadap penguasa bisa menghadapi kebijakan diktatorial yang bermaksud membungkam mereka secara konstitusional. Jadi harapan rakyat akan bertumpu ke mana?

Rakyat mungkin bisa berharap banyak kepada kaum intelektual yang idealis dan agamawan yang ikhlas yang menjauh atau terpinggirkan dari kekuasaan karena idealisme dan keikhlasan mereka. Meski mereka lemah dalam tataran praktis memberi kesejahteraan material kepada rakyat, namun mereka bisa memberi kesejahteraan bentuk lain berupa pikiran dan qalbu yang bahagia karena dekat dengan kebenaran dan Tuhan. Namun tak bisa dipungkiri, kadang perut yang lapar bisa merubah pikiran dan qalbu yang bahagia menjadi pribadi yang lepas kendali dan mudah membuat kerusakan.

 

Pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia: Apa pilihan selanjutnya bagi dakwah HTI?

Pembubaran HTI yang dilakukan oleh Pemerintah melalui Menkopolhukam Wiranto menyebabkan kegaduhan di negeri ini. Ada banyak pro dan kontra atas keputusan tersebut.

Terlepas dari pro dan kontra, keputusan pembubaran tersebut masih bersifat politis. Keputusan pembubaran HTI harus punya dasar hukum karena HTI adalah ormas yang berbadan hukum. Untuk itu diperlukan keputusan pengadilan. Pengadilan tentunya akan menimbang bukti-bukti pelanggaran dan  alasan yang akan  diajukan oleh Pemerintah apakah memenuhi syarat dalam membubarkan ormas HTI. Kita tunggu saja bagaimana drama ini akan berakhir di pengadilan. Di negara ini, konon yang jadi panglima adalah hukum dan bukan politik.

Yang santer didengungkan oleh sebagian kalangan mengenai pembubaran HTI adalah karena mereka ingin mengubah sistem ketatanegaraan Indonesia. Ini kan sebatas wacana HTI yang mereka ajukan berdasarkan pengkajian mereka terhadap Islam. Ini analogi dengan wacana sebagian orang yang ingin mengubah sistem presidensil menjadi sistem parlementer di Indonesia. Dan bahkan eksperimen tersebut sudah pernah dilakukan di Indonesia di awal-awal kehidupan RI. Wacana tentu harus ditantang dengan wacana. Dialog yang terbuka dan kekeluargaan adalah hal yang paling pantas dilakukan oleh pemerintah dengan HTI. Mengenai tuduhan bahwa HTI akan mengubah Pancasila, ini harus dibuktikan di pengadilan. Benarkah demikian? Selama ini, HTI tidak pernah membahas atau menjauhkan diri dari membahas masalah pancasila sebagaimana ormas-ormas lain tidak pernah menjadikan Pancasila sebagai objek utama kajian mereka. Mereka lebih banyak mengawal bagaimana agar undang-undang yang dihasilkan DPR RI tidak melemahkan nilai tawar RI, sebutlah misalnya UU Migas, UU Sisdiknas, dan lain-lain dimana HTI turut memberikan masukan kepada Pemerintah. Mengenai seruan kembali ke kehidupan islam, bukankah semua ormas dan organisasi islam juga menyerukan hal yang sama?

HTI di satu sisi juga harus lebih akomodatif dalam melakukan dakwah politiknya di tengah masyarakat, mengingat bahwa banyak ormas Islam yang tidak sependapat dengan wacana-wacana yang mereka usung. Silaturrahim, dialog dan kebersamaan adalah kunci menyelesaikan ikhtilaf diantara sesama muslim. Kebangkitan Islam tidak akan menjadi hasil kerja individu atau satu organisasi Islam, tapi pada akhirnya adalah merupakan hasil kerjasama dan peran dari semua komponen umat Islam. Masing-masing memperbaiki umat dari berbagai sisi, ada yang menitik beratkan apada aspek tauhid, ibadah, sosial kemasyarakatan, pendidikan, ekonomi, kesadaran politis, sehingga umat pada akhirnya menjadi umat yang bangkit dengan potensi yang kuat.

Lalu apa pilihan dakwah aktivis dakwah HTI pasca pembubaran?

Jauh sebelum HTI menjadi ormas, sesungguhnya organisasi ini sudah aktif melaksanakan dakwahnya di masyarakat. Dakwah HTI tidak bergantung pada statusnya sebagai ormas atau tidak, karena gerakan HTI adalah gerakan pemikiran dan ideologis. Dan di era demokrasi;  pemikiran, wacana  dan interaksi ide-ide ideologis, gagasan politis bukanlah hal yang melanggar hukum. Demokrasi menghargai perbedaan wacana dan pemikiran. Kekuatan sebuah wacana dan interaksi ideologis adalah tergantung seberapa besar ianya mempengaruhi akal, pemikiran, dan hati pendengarnya. Oleh karena itu pembubaran HTI, tidak akan berdampak terhadap dakwah yang mereka perjuangkan. bahkan kegaduhan ini, justeru akan menambah momentum bagi masyarakat untuk mencari tahu apa dan tujuan HTI berdakwah di Indonesia. Ormas atau tidak ormasnya HTI, saya kira tidak mempengaruhi laju dakwah mereka di tengah-tengah masyarakat.

Pilihan lain, atau lebih tepatnya pilihan tambahan buat HTI adalah melakukan improvisasi jalan dakwah dengan mengikuti proses politik praktis di Indonesia. Dengan kata lain, mereka membuka jalan untuk menjadi partai politik yang bertarung di pemilu. Saya kira dengan aktivis dan simpatisan yang banyak, kans mereka untuk meraih suara di pemilu cukup terbuka. Dengan menempuh cara ini, HTI akan berpeluang memperjuangkan aspirasi politiknya dengan cara sedikit inovatif.

Pilihan berikutnya, HTI bisa melakukan metamorfosis core ideology-nya untuk menyesuaikan dengan visi nation state Indonesia. HTI dikenal selama ini sebagai organisasi transnasional dengan aspirasi global. Saya kira wacana dakwah Islam politik dalam wadah NKRI adalah salah satu pilihan. Artinya HTI harus memformulasikan ulang ideologi partainya dalam rangka mencapai tujuan menerapkan Islam sebagai dasar negara bangsa. Ini mungkin sebuah hal yang radikal bagi HTI tapi bisa saja dilakukan. Wallahu a’lam bisshawab.

 

Bad artists made these military and hospital statues laughing stocks in Indonesia

 

Statues which are being laughing stock in Indonesia

pictures are taken from http://style.tribunnews.com/2017/03/16/setelah-macan-cisewu-kini-giliran-patung-bapak-bapak-menyusui-ini-yang-menghibur-netizen

There is nothing more hilarious than seeing a military statue which one would expect to be tough and scary but it turns out to look like a grinning cartoon figure. This statue is supposed to represent the military symbol of Siliwangi Military Area Command which has been put on displays for years in one of its subdistrict base in Cisewu. Of course military gallantry image will be hurt by this kind of figure, so it wast later reported that this status was demolished under instruction of the  military command chief after it has made its round in social media as a laughing stock.

The second statue is not less amusing. This statue is supposed to represent a couple in which the wife is having her baby breastfed. However, if you look at the wife’s face you can see it more masculine than it should be. How do you think?

This statue has also made viral circulation in social media as a laughing stock. No recent report about its fate, though. Is it going to be put into ashes like its counterpart, the military “grinning tiger”?

 

 

Tahukah Anda? Kesenjangan pendapatan masyarakat Indonesia semakin melebar sejak Zaman Reformasi

Kalau kita perhatikan Koefisien Gini Indonesia, tampak bahwa kesenjangan pendapatan masyarakat secara perlahan tapi pasti semakin melebar sejak Zaman Reformasi (lihat gini)1. Peningkatan kesenjangan itu tampak di semua provinsi. Meski indeks ini jauh dari sempurna, namun cukup valid  dipakai untuk melihat secara garis besar tingkat pemerataan pembagian kue pembangunan.

Dikatakan bahwa koefisien Gini  0.4 merupakan batas kritis dimana kesenjangan tersebut bisa memicu ketidakstabilan politik dan sosial. Artinya, jika koefisien tersebut terus meningkat diatas batas kritis 0.4 maka kerawanan politik dan sosial akan meningkat pula.2

Salah satu hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi koefisien Gini adalah meningkatkan pendapatan segmen masyarakat bawah. Sampai saat ini, masyarakat kita yang masih hidup dibawah garis kemiskinan masih kurang lebih 28 juta orang. Upaya meningkatkan pendapatan rakyat miskin dan kelas menengah  dengan membuka lapangan kerja baru, meningkatkan upah minimum kerja, dan mencegah liberalisasi perekrutan sumber daya manusia yang terlalu menguntungkan korporasi adalah hal-hal yang bisa dipertimbangkan. Pemangku amanah di jajaran pemerintahan tentu sudah memiliki strategi untuk itu. Namun kita butuh kerja yang berani dengan hasil yang cepat. Langkah berani diperlukan karena sering kebijakan pemerintah selama ini hanya menguntungkan segelintir orang di Republik ini. Reformasi kebijakan tentu akan mendapatkan tantangan dari segelintir orang ini yang tidak mau privilege nya berkurang.

Ketimpangan ekonomi ini diakibatkan oleh adanya kesalahan struktural dalam kebijakan negara. Dengan kata lain, Negara ini masih dikelola tidak profesional, atau memimjam istilah Ibu Sri Mulyani Negara ini masih dikelola ala kadarnya. Hasilnya bisa terlihat sekarang ini, kekayaan 1 persen dari penduduk segelintir itu sama dengan kekayaan 100 juta penduduk lainnya. Bahkan menurut laporan Oxfam dan INFID kekayaan empat orang terkaya indonesia sama dengan kekayaan 100 juta penduduk indonesia (40% penduduk Indonesia).

Pertumbuhan ekonomi penting, tapi tidak kalah pentingnya adalah pemerataan kesempatan kerja dan pendapatan masyarakat. Pembangunan harus bisa dirasakan oleh semua segmen masyarakat secara adil dan merata, bukan hanya dikuasai oleh segelintir rakyat. Apa rencana strategis pemerintah untuk memperkecil kesenjangan pendapatan masyarakat?

Zaman reformasi tidak harus menjadi zaman inequalitas. Perlu langkah strategis pemerintah untuk mengatasinya.

Referensi

  1. https://data.go.id/dataset/rasio-gini
  2. https://www.tutor2u.net/economics/blog/inequality-the-gini-coefficient

Tahukah Anda: Vaksin Demam Dengue/Berdarah sudah tersedia di Indonesia? Hanya untuk umur 9 tahun ke atas, mengapa?

Berita menggembirakan tentang  vaksin Demam Berdarah atau Demam Dengue sudah tersedia di Indonesia. Vaksin ini merupakan vaksin Dengue pertama di dunia yang sesudah memasuki pengujian tahap ke-3 dengan hasil yang menggembirakan.

Diberitakan bahwa vaksin ini menunjukkan kemamfaatan atau kemanjuran  yang sangat baik pada kelompok umur 9-16 tahun. Vaksin bisa mengurangi tingkat infeksi Dengue sebanyak 65%, bisa mengurangi angka masuk rumah sakit karena Dengue sebanyak 80%, dan mengurangi kasus Dengue yang serius sebanyak 92%. Tidak diberitakan bagaimana kemanjuran vaksin pada kelompok umur yang lain. Tidak diberitakan pula ada tidaknya efek samping yang terjadi selama pengujian. Vaksin ini merupakan vaksin produksi perusahaan farmasi Sanofi-Pasteur.

Dari hasil penelusuran saya,  nama vaksin yang beredar di Indonesia adalah Dengvaxia dan telah disetujui oleh BPOM. Vaksin ini merupakan vaksin tetravalent yang memberikan perlindungan bagi empat serotype/ atau jenis virus Dengue.

Dari paper yang melaporkan tentang hasil uji klinis fase III yang diterbitkan di New England Journal of Medicine (NEJM), diketahui bahwa kejadian masuk rumah sakit pada tahun ke 3 setelah vaksinasi pada anak di bawah umur 9 tahun justeru lebih tinggi dibanding dengan anak yang tidak diberi vaksinasi. Di editorial NEJM yang menyertai artikel penelitian ini, disarankan agar para peneliti terus melakukan surveilance penyakit pada semua subyek penelitian terkait masalah keamanan dan kemanjuran vaksin ini.

Yang menjadi pertanyaan saya, mengapa BPOM sudah memberikan persetujuan beredarnya vaksin ini secara komersial di indonesia sebelum berakhirnya uji klinis tahap III yang dijadualkan berakhir baru pada tahun 2017. Tercatat Indonesia adalah negara kedua di Asia yang menyetujui vaksin ini beredar secara komersial.

Saya akan terus mengupdate info ini.

 

Shaky Ground for Dr. Terawan’s Intra-Arterial Heparin Flushing (IAHF) Procedure to Treat Chronic Ischemic Stroke : Analysis on Study Design of the Published Report

Terawan Agus Putranto has been known quite some time as a controversial figure in medical field of interventional radiology. He has been known to use on a regular basis intra-arterial heparin flushing procedure he claims as a therapeutic method to clean brain arterial clog or blockage which causes ischemic stroke, he even uses the procedure for alleged prevention of stroke although it has not been proven scientifically.1 It is widely a popular procedure for people who are terrified against the prospect of having stroke attack, including of one of ministers in Yudhoyono administration who once published his personal experience of having his “brain sewerage” dirt cleaned off in his personal website.2 Patient list is long to have his service in Gatot Subroto Central Army Hospital where he works every day. He is reported to clean 30-40 patient brains every day, an impressive number, costing 30-40 million Rupiah for each patient.3

Much to my surprise, this controversy did not prevent him to be one of  presidential doctors4 who are responsible to take care of the president wellbeing. It did not make him barred from practicing this unproven therapeutic procedure. I do not know why Indonesia Medical Council did not do anything to prevent this?

Now He has taken it to a next level. Trying to prove it scientifically by conducting research to obtain his doctoral degree in the Faculty of Medicine University of Hasanuddin, the very institution where I work as a lecturer. This step may be appreciated; however it also proves that he had been using a shoddy treatment without scientific prove which is unethical and unlawful to say the least. Well, I am not going to fuzz further in this matter. I am more interested in how he and his team prove scientifically that his procedure is really worth what he claimed.

I only found one publication about his procedure which can be accessed publicly. 5 It is in an Indonesian open access journal called Bali Medical Journal. Based on his thesis title “EFEK INTRA ARTERIAL HEPARIN FLUSHING TERHADAP REGIONAL CEREBRAL BLOOD FLOW, MOTOR EVOKED POTENTIALS, DAN FUNGSI MOTORIK PADA PASIEN DENGAN STROKE ISKEMIK KRONIS”, Dr. Terawan measured IAHF effects on three dependent variables namely regional blood flow, motor evoked potentials, and motoric functions in chronic ischemic patients.

In the published report, He and his team only published on improvement of motoric function by using Manual Muscle Test-Medical Research Counsel Score.  So we need to wait for more published data on regional blood flow, and motor evoked potentials as dependent variables. However, one can safely assume that study design in this study is the one described in the published report. So no need to wait the other data to comment on the study design and methodology used in the study.

  1. Is there a place for reperfusion therapy for chronic ischemic stroke?

It is obviously clear that Terawan and his team intended the paper to show that heparin flushing does the magic by cleaning the blockage of brain artery

So they are kind of trying to prove that IAHF is a reperfusion modality for chronic ischemic disease. As far as I am concerned reperfusion using tPA other thrombolytics are only proven treatment for acute ischemic stroke which are caused by thrombosis or blood clot within 3 hours after the onset. If the golden hours pass, then it is considered less effective or may be wasting of time and money and may increase intracerebral haemorrhage or bleeding.6 Tissue Plasminogen Activator has been used for so long and proven to be efficacious in acute ischemic stroke since 1990s after extensive trials.7 There is not any study addressing reperfusion using thrombolytics for chronic ischemic stroke. So using IAHF as a therapy before rigorous trial is misconduct and irresponsible to say the least. Terawan had been doing that before trial.

  1. Subjects of Study

The study included patients diagnosed with chronic ischemic stroke both by radiology  and neurology examination. There are no clear cut subject criterias used. Instead he may have pooled all patients with the diagnosis together irrespective of the potential diversity of the patients in terms of clinical severity, severity or extension of infarct lesions in the brain, underlying mechanisms of ischemic stroke. These subjects’ criteria will obviously pose a threat to the validity of subjects included in the study. It is widely known that infarct volume either in acute or chronic ischemic is determinant of survival of subjects. The team did not mention what criteria on ischemic stroke subjects to be considered chronic in terms of length time after the onset. Is it more than 25 days after the onset? More than one year? Or more than 5 year after the onset of acute ischemic stroke? The longer the period after the onset of stroke attack it is likely  milder  ischemic stroke when it is in acute phase. The longer the period from acute episode, more likely that collateral natural reperfusion into ischemic area of the brain has occurred, so no need reperfusion therapy of any kind.

  1. Is it really a randomized controlled trial?

In the paper they say the design of  the study is  “pretest-posttest group design, with randomized controlled trial”.  There is no pretest-posttest RCT. In true RCT, subjects with comparable criteria or condition are randomized into at least two groups i.e. one the control group and the other is the intervention group of interest. The intervention group can be more than one if it is necessary to test many interventions, drugs, or new protocols of therapy. The group of interest outcomes after intervention is compared to control in terms of efficacy, safety, and other variable. There is no definitely pretest-posttest in RCT. In pretest-posttest design, subjects of study are also the control of the study. This is not considered a true clinical trial.

It is obvious from the report the design of the study is one group, pretest-posttest. Let us look at the experimental study using pretest-posttest designs which I downloaded from www.dartmouth.edu/~oir/docs/Types_of_Experimental_Designs_Handout.doc

2 Group, Post-test Comparison

Treatment Post-test
X O
O
  • The main advantage of this design is randomization. The post-test comparison with randomized subjects controls for the main effects of history, maturation, and pre-testing; because no pre-test is used there can be no interaction effect of pre-test and X. Another advantage of this design is that it can be extended to include more than two groups if necessary.

 

One group Pre-test, Post-test

Pre-test Treatment Post-test
O X O
  • Minimal Control. There is somewhat more structure, there is a single selected group under observation, with a careful measurement being done before applying the experimental treatment and then measuring after. This design has minimal internal validity, controlling only for selection of subject and experimental mortality. It has no external validity.

 

Two groups, Nonrandom Selection, Pre-test, Post-test

Group Pre-test Treatment Post-test
Experimental group = E O X O
Control Group = C O O
  • The main weakness of this research design is the internal validity is questioned from the interaction between such variables as selection and maturation or selection and testing. In the absence of randomization, the possibility always exists that some critical difference, not reflected in the pretest, is operating to contaminate the posttest data.  For example, if the experimental group consists of volunteers, they may be more highly motivated, or if they happen to have a different experience background that affects how they interact with the experimental treatment – such factors rather than X by itself, may account for the differences.


Two groups, Random Selection, Pre-test, Post-test

Group Pre-test Treatment Post-test
Experimental group = E (R) O X O
Control Group =

C (R)

O O
  • The advantage here is the randomization, so that any differences that appear in the posttest should be the result of the experimental variable rather than possible difference between the two groups to start with. This is the classical type of experimental design and has good internal validity. The external validity or generalizability of the study is limited by the possible effect of pre-testing. The Solomon Four-Group Design accounts for this.

4. How did they measure MMT

Solomon Four-Group Design

Group Pre-test Treatment Post-test
Pre-tested Experimental Group = E (R) O X O
Pre-tested Control Group = C (R) O O
Unpre-tested Experimental Group = UE (R) X O
Unpre-tested Control Group = UC (R) O
  • This design overcomes the external validity weakness in the above design caused when pre-testing affect the subjects in such a way that they become sensitized to the experimental variable and they respond differently than the unpre-tested subjects.

 

So it is obvious, Terawan study has no external validity and minimal internal validity. To claim the study as a an RCT is outright false. At least they should have tried  the two groups, random selection, pretest-posttest design in order to have more powerful study design although it is not an RCT itself. Minimal validity means that the study design is to large extent biased, no external validity means that the study result can not be generalized  to population. So the study result can not be used as a prove to validate the use of IAHF to treat chronic ischemic stroke not to mention to claim that it can prevent stroke attack.

4. How did they measure the MMT?

In the article they did not say anything about which muscles they checked. Upper limbs? Lower limbs?  How did they come up with the mean score 30.21 +/- and 36.27+/-11.59 (they actually used comma to designate decimal which ok in Bahasa Indonesia, but actually we have to use point (.) instead in english, not a good job from the journal editing section). Did they add up the score of four limbs for each patients?

How many trained physician and neurologist involved in rating the MMT? Are they all comparatively skillful? How much is the inter-rater reliability? Cohen kappa anyone?

5. Statistical method used proper?

MMT Score is ordinal data, so to compute the difference using parametric T Test is little bit improper, better to use non parametric such as Wilcoxon rank test.

Reference

 

  1. Terapi Cuci Otak Tak Bisa Cegah dan Obati Stroke – Kompas.com. Available at: http://health.kompas.com/read/2015/12/17/175000023/Terapi.Cuci.Otak.Tak.Bisa.Cegah.dan.Obati.Stroke.
  2. Membersihkan Gorong-Gorong Buntu di Otak | Catatan Dahlan Iskan. Available at: https://dahlaniskan.wordpress.com/2013/02/18/membersihkan-gorong-gorong-buntu-di-otak/.
  3. Metode ‘Cuci Otak’ Ala dr Terawan, Seperti Apa Sih? Available at: http://health.detik.com/read/2015/06/15/071351/2942163/763/metode-cuci-otak-ala-dr-terawan-seperti-apa-sih.
  4. FOTO: Promosi Doktor Tim Dokter Kepresidenan di FK Unhas – Tribun Timur. Available at: http://makassar.tribunnews.com/2016/08/04/foto-promosi-doktor-tim-dokter-kepresidenan-di-fk-unhas.
  5. Putranto, T. A., Yusuf, I., Murtala, B. & Wijaya, A. Intra Arterial Heparin Flushing Increases Manual Muscle Test – Medical Research Councils (MMT-MRC) Score in Chronic Ischemic Stroke Patient. Bali Med. JournalBali Med J) Bali Med. J. 5, 25–29 (2016).
  6. Clark, W. M., Albers, G. W., Madden, K. P. & Hamilton, S. The rtPA (alteplase) 0- to 6-hour acute stroke trial, part A (A0276g) : results of a double-blind, placebo-controlled, multicenter study. Thromblytic therapy in acute ischemic stroke study investigators. Stroke. 31, 811–6 (2000).
  7. Chapman, K. M. et al. Intravenous Tissue Plasminogen Activator for Acute Ischemic Stroke : A Canadian Hospital’s Experience. Stroke 31, 2920–2924 (2000).