Latest Entries »

Pembubaran HTI yang dilakukan oleh Pemerintah melalui Menkopolhukam Wiranto menyebabkan kegaduhan di negeri ini. Ada banyak pro dan kontra atas keputusan tersebut.

Terlepas dari pro dan kontra, keputusan pembubaran tersebut masih bersifat politis. Keputusan pembubaran HTI harus punya dasar hukum karena HTI adalah ormas yang berbadan hukum. Untuk itu diperlukan keputusan pengadilan. Pengadilan tentunya akan menimbang bukti-bukti pelanggaran dan  alasan yang akan  diajukan oleh Pemerintah apakah memenuhi syarat dalam membubarkan ormas HTI. Kita tunggu saja bagaimana drama ini akan berakhir di pengadilan. Di negara ini, konon yang jadi panglima adalah hukum dan bukan politik.

Yang santer didengungkan oleh sebagian kalangan mengenai pembubaran HTI adalah karena mereka ingin mengubah sistem ketatanegaraan Indonesia. Ini kan sebatas wacana HTI yang mereka ajukan berdasarkan pengkajian mereka terhadap Islam. Ini analogi dengan wacana sebagian orang yang ingin mengubah sistem presidensil menjadi sistem parlementer di Indonesia. Dan bahkan eksperimen tersebut sudah pernah dilakukan di Indonesia di awal-awal kehidupan RI. Wacana tentu harus ditantang dengan wacana. Dialog yang terbuka dan kekeluargaan adalah hal yang paling pantas dilakukan oleh pemerintah dengan HTI. Mengenai tuduhan bahwa HTI akan mengubah Pancasila, ini harus dibuktikan di pengadilan. Benarkah demikian? Selama ini, HTI tidak pernah membahas atau menjauhkan diri dari membahas masalah pancasila sebagaimana ormas-ormas lain tidak pernah menjadikan Pancasila sebagai objek utama kajian mereka. Mereka lebih banyak mengawal bagaimana agar undang-undang yang dihasilkan DPR RI tidak melemahkan nilai tawar RI, sebutlah misalnya UU Migas, UU Sisdiknas, dan lain-lain dimana HTI turut memberikan masukan kepada Pemerintah. Mengenai seruan kembali ke kehidupan islam, bukankah semua ormas dan organisasi islam juga menyerukan hal yang sama?

HTI di satu sisi juga harus lebih akomodatif dalam melakukan dakwah politiknya di tengah masyarakat, mengingat bahwa banyak ormas Islam yang tidak sependapat dengan wacana-wacana yang mereka usung. Silaturrahim, dialog dan kebersamaan adalah kunci menyelesaikan ikhtilaf diantara sesama muslim. Kebangkitan Islam tidak akan menjadi hasil kerja individu atau satu organisasi Islam, tapi pada akhirnya adalah merupakan hasil kerjasama dan peran dari semua komponen umat Islam. Masing-masing memperbaiki umat dari berbagai sisi, ada yang menitik beratkan apada aspek tauhid, ibadah, sosial kemasyarakatan, pendidikan, ekonomi, kesadaran politis, sehingga umat pada akhirnya menjadi umat yang bangkit dengan potensi yang kuat.

Lalu apa pilihan dakwah aktivis dakwah HTI pasca pembubaran?

Jauh sebelum HTI menjadi ormas, sesungguhnya organisasi ini sudah aktif melaksanakan dakwahnya di masyarakat. Dakwah HTI tidak bergantung pada statusnya sebagai ormas atau tidak, karena gerakan HTI adalah gerakan pemikiran dan ideologis. Dan di era demokrasi;  pemikiran, wacana  dan interaksi ide-ide ideologis, gagasan politis bukanlah hal yang melanggar hukum. Demokrasi menghargai perbedaan wacana dan pemikiran. Kekuatan sebuah wacana dan interaksi ideologis adalah tergantung seberapa besar ianya mempengaruhi akal, pemikiran, dan hati pendengarnya. Oleh karena itu pembubaran HTI, tidak akan berdampak terhadap dakwah yang mereka perjuangkan. bahkan kegaduhan ini, justeru akan menambah momentum bagi masyarakat untuk mencari tahu apa dan tujuan HTI berdakwah di Indonesia. Ormas atau tidak ormasnya HTI, saya kira tidak mempengaruhi laju dakwah mereka di tengah-tengah masyarakat.

Pilihan lain, atau lebih tepatnya pilihan tambahan buat HTI adalah melakukan improvisasi jalan dakwah dengan mengikuti proses politik praktis di Indonesia. Dengan kata lain, mereka membuka jalan untuk menjadi partai politik yang bertarung di pemilu. Saya kira dengan aktivis dan simpatisan yang banyak, kans mereka untuk meraih suara di pemilu cukup terbuka. Dengan menempuh cara ini, HTI akan berpeluang memperjuangkan aspirasi politiknya dengan cara sedikit inovatif.

Pilihan berikutnya, HTI bisa melakukan metamorfosis core ideology-nya untuk menyesuaikan dengan visi nation state Indonesia. HTI dikenal selama ini sebagai organisasi transnasional dengan aspirasi global. Saya kira wacana dakwah Islam politik dalam wadah NKRI adalah salah satu pilihan. Artinya HTI harus memformulasikan ulang ideologi partainya dalam rangka mencapai tujuan menerapkan Islam sebagai dasar negara bangsa. Ini mungkin sebuah hal yang radikal bagi HTI tapi bisa saja dilakukan. Wallahu a’lam bisshawab.

 

 

Statues which are being laughing stock in Indonesia

pictures are taken from http://style.tribunnews.com/2017/03/16/setelah-macan-cisewu-kini-giliran-patung-bapak-bapak-menyusui-ini-yang-menghibur-netizen

There is nothing more hilarious than seeing a military statue which one would expect to be tough and scary but it turns out to look like a grinning cartoon figure. This statue is supposed to represent the military symbol of Siliwangi Military Area Command which has been put on displays for years in one of its subdistrict base in Cisewu. Of course military gallantry image will be hurt by this kind of figure, so it wast later reported that this status was demolished under instruction of the  military command chief after it has made its round in social media as a laughing stock.

The second statue is not less amusing. This statue is supposed to represent a couple in which the wife is having her baby breastfed. However, if you look at the wife’s face you can see it more masculine than it should be. How do you think?

This statue has also made viral circulation in social media as a laughing stock. No recent report about its fate, though. Is it going to be put into ashes like its counterpart, the military “grinning tiger”?

 

 

Kalau kita perhatikan Koefisien Gini Indonesia, tampak bahwa kesenjangan pendapatan masyarakat secara perlahan tapi pasti semakin melebar sejak Zaman Reformasi (lihat gini)1. Peningkatan kesenjangan itu tampak di semua provinsi. Meski indeks ini jauh dari sempurna, namun cukup valid  dipakai untuk melihat secara garis besar tingkat pemerataan pembagian kue pembangunan.

Dikatakan bahwa koefisien Gini  0.4 merupakan batas kritis dimana kesenjangan tersebut bisa memicu ketidakstabilan politik dan sosial. Artinya, jika koefisien tersebut terus meningkat diatas batas kritis 0.4 maka kerawanan politik dan sosial akan meningkat pula.2

Salah satu hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi koefisien Gini adalah meningkatkan pendapatan segmen masyarakat bawah. Sampai saat ini, masyarakat kita yang masih hidup dibawah garis kemiskinan masih kurang lebih 28 juta orang. Upaya meningkatkan pendapatan rakyat miskin dan kelas menengah  dengan membuka lapangan kerja baru, meningkatkan upah minimum kerja, dan mencegah liberalisasi perekrutan sumber daya manusia yang terlalu menguntungkan korporasi adalah hal-hal yang bisa dipertimbangkan. Pemangku amanah di jajaran pemerintahan tentu sudah memiliki strategi untuk itu. Namun kita butuh kerja yang berani dengan hasil yang cepat. Langkah berani diperlukan karena sering kebijakan pemerintah selama ini hanya menguntungkan segelintir orang di Republik ini. Reformasi kebijakan tentu akan mendapatkan tantangan dari segelintir orang ini yang tidak mau privilege nya berkurang.

Ketimpangan ekonomi ini diakibatkan oleh adanya kesalahan struktural dalam kebijakan negara. Dengan kata lain, Negara ini masih dikelola tidak profesional, atau memimjam istilah Ibu Sri Mulyani Negara ini masih dikelola ala kadarnya. Hasilnya bisa terlihat sekarang ini, kekayaan 1 persen dari penduduk segelintir itu sama dengan kekayaan 100 juta penduduk lainnya. Bahkan menurut laporan Oxfam dan INFID kekayaan empat orang terkaya indonesia sama dengan kekayaan 100 juta penduduk indonesia (40% penduduk Indonesia).

Pertumbuhan ekonomi penting, tapi tidak kalah pentingnya adalah pemerataan kesempatan kerja dan pendapatan masyarakat. Pembangunan harus bisa dirasakan oleh semua segmen masyarakat secara adil dan merata, bukan hanya dikuasai oleh segelintir rakyat. Apa rencana strategis pemerintah untuk memperkecil kesenjangan pendapatan masyarakat?

Zaman reformasi tidak harus menjadi zaman inequalitas. Perlu langkah strategis pemerintah untuk mengatasinya.

Referensi

  1. https://data.go.id/dataset/rasio-gini
  2. https://www.tutor2u.net/economics/blog/inequality-the-gini-coefficient

Berita menggembirakan tentang  vaksin Demam Berdarah atau Demam Dengue sudah tersedia di Indonesia. Vaksin ini merupakan vaksin Dengue pertama di dunia yang sesudah memasuki pengujian tahap ke-3 dengan hasil yang menggembirakan.

Diberitakan bahwa vaksin ini menunjukkan kemamfaatan atau kemanjuran  yang sangat baik pada kelompok umur 9-16 tahun. Vaksin bisa mengurangi tingkat infeksi Dengue sebanyak 65%, bisa mengurangi angka masuk rumah sakit karena Dengue sebanyak 80%, dan mengurangi kasus Dengue yang serius sebanyak 92%. Tidak diberitakan bagaimana kemanjuran vaksin pada kelompok umur yang lain. Tidak diberitakan pula ada tidaknya efek samping yang terjadi selama pengujian. Vaksin ini merupakan vaksin produksi perusahaan farmasi Sanofi-Pasteur.

Dari hasil penelusuran saya,  nama vaksin yang beredar di Indonesia adalah Dengvaxia dan telah disetujui oleh BPOM. Vaksin ini merupakan vaksin tetravalent yang memberikan perlindungan bagi empat serotype/ atau jenis virus Dengue.

Dari paper yang melaporkan tentang hasil uji klinis fase III yang diterbitkan di New England Journal of Medicine (NEJM), diketahui bahwa kejadian masuk rumah sakit pada tahun ke 3 setelah vaksinasi pada anak di bawah umur 9 tahun justeru lebih tinggi dibanding dengan anak yang tidak diberi vaksinasi. Di editorial NEJM yang menyertai artikel penelitian ini, disarankan agar para peneliti terus melakukan surveilance penyakit pada semua subyek penelitian terkait masalah keamanan dan kemanjuran vaksin ini.

Yang menjadi pertanyaan saya, mengapa BPOM sudah memberikan persetujuan beredarnya vaksin ini secara komersial di indonesia sebelum berakhirnya uji klinis tahap III yang dijadualkan berakhir baru pada tahun 2017. Tercatat Indonesia adalah negara kedua di Asia yang menyetujui vaksin ini beredar secara komersial.

Saya akan terus mengupdate info ini.

 

Terawan Agus Putranto has been known quite some time as a controversial figure in medical field of interventional radiology. He has been known to use on a regular basis intra-arterial heparin flushing procedure he claims as a therapeutic method to clean brain arterial clog or blockage which causes ischemic stroke, he even uses the procedure for alleged prevention of stroke although it has not been proven scientifically.1 It is widely a popular procedure for people who are terrified against the prospect of having stroke attack, including of one of ministers in Yudhoyono administration who once published his personal experience of having his “brain sewerage” dirt cleaned off in his personal website.2 Patient list is long to have his service in Gatot Subroto Central Army Hospital where he works every day. He is reported to clean 30-40 patient brains every day, an impressive number, costing 30-40 million Rupiah for each patient.3

Much to my surprise, this controversy did not prevent him to be one of  presidential doctors4 who are responsible to take care of the president wellbeing. It did not make him barred from practicing this unproven therapeutic procedure. I do not know why Indonesia Medical Council did not do anything to prevent this?

Now He has taken it to a next level. Trying to prove it scientifically by conducting research to obtain his doctoral degree in the Faculty of Medicine University of Hasanuddin, the very institution where I work as a lecturer. This step may be appreciated; however it also proves that he had been using a shoddy treatment without scientific prove which is unethical and unlawful to say the least. Well, I am not going to fuzz further in this matter. I am more interested in how he and his team prove scientifically that his procedure is really worth what he claimed.

I only found one publication about his procedure which can be accessed publicly. 5 It is in an Indonesian open access journal called Bali Medical Journal. Based on his thesis title “EFEK INTRA ARTERIAL HEPARIN FLUSHING TERHADAP REGIONAL CEREBRAL BLOOD FLOW, MOTOR EVOKED POTENTIALS, DAN FUNGSI MOTORIK PADA PASIEN DENGAN STROKE ISKEMIK KRONIS”, Dr. Terawan measured IAHF effects on three dependent variables namely regional blood flow, motor evoked potentials, and motoric functions in chronic ischemic patients.

In the published report, He and his team only published on improvement of motoric function by using Manual Muscle Test-Medical Research Counsel Score.  So we need to wait for more published data on regional blood flow, and motor evoked potentials as dependent variables. However, one can safely assume that study design in this study is the one described in the published report. So no need to wait the other data to comment on the study design and methodology used in the study.

  1. Is there a place for reperfusion therapy for chronic ischemic stroke?

It is obviously clear that Terawan and his team intended the paper to show that heparin flushing does the magic by cleaning the blockage of brain artery

So they are kind of trying to prove that IAHF is a reperfusion modality for chronic ischemic disease. As far as I am concerned reperfusion using tPA other thrombolytics are only proven treatment for acute ischemic stroke which are caused by thrombosis or blood clot within 3 hours after the onset. If the golden hours pass, then it is considered less effective or may be wasting of time and money and may increase intracerebral haemorrhage or bleeding.6 Tissue Plasminogen Activator has been used for so long and proven to be efficacious in acute ischemic stroke since 1990s after extensive trials.7 There is not any study addressing reperfusion using thrombolytics for chronic ischemic stroke. So using IAHF as a therapy before rigorous trial is misconduct and irresponsible to say the least. Terawan had been doing that before trial.

  1. Subjects of Study

The study included patients diagnosed with chronic ischemic stroke both by radiology  and neurology examination. There are no clear cut subject criterias used. Instead he may have pooled all patients with the diagnosis together irrespective of the potential diversity of the patients in terms of clinical severity, severity or extension of infarct lesions in the brain, underlying mechanisms of ischemic stroke. These subjects’ criteria will obviously pose a threat to the validity of subjects included in the study. It is widely known that infarct volume either in acute or chronic ischemic is determinant of survival of subjects. The team did not mention what criteria on ischemic stroke subjects to be considered chronic in terms of length time after the onset. Is it more than 25 days after the onset? More than one year? Or more than 5 year after the onset of acute ischemic stroke? The longer the period after the onset of stroke attack it is likely  milder  ischemic stroke when it is in acute phase. The longer the period from acute episode, more likely that collateral natural reperfusion into ischemic area of the brain has occurred, so no need reperfusion therapy of any kind.

  1. Is it really a randomized controlled trial?

In the paper they say the design of  the study is  “pretest-posttest group design, with randomized controlled trial”.  There is no pretest-posttest RCT. In true RCT, subjects with comparable criteria or condition are randomized into at least two groups i.e. one the control group and the other is the intervention group of interest. The intervention group can be more than one if it is necessary to test many interventions, drugs, or new protocols of therapy. The group of interest outcomes after intervention is compared to control in terms of efficacy, safety, and other variable. There is no definitely pretest-posttest in RCT. In pretest-posttest design, subjects of study are also the control of the study. This is not considered a true clinical trial.

It is obvious from the report the design of the study is one group, pretest-posttest. Let us look at the experimental study using pretest-posttest designs which I downloaded from www.dartmouth.edu/~oir/docs/Types_of_Experimental_Designs_Handout.doc

2 Group, Post-test Comparison

Treatment Post-test
X O
O
  • The main advantage of this design is randomization. The post-test comparison with randomized subjects controls for the main effects of history, maturation, and pre-testing; because no pre-test is used there can be no interaction effect of pre-test and X. Another advantage of this design is that it can be extended to include more than two groups if necessary.

 

One group Pre-test, Post-test

Pre-test Treatment Post-test
O X O
  • Minimal Control. There is somewhat more structure, there is a single selected group under observation, with a careful measurement being done before applying the experimental treatment and then measuring after. This design has minimal internal validity, controlling only for selection of subject and experimental mortality. It has no external validity.

 

Two groups, Nonrandom Selection, Pre-test, Post-test

Group Pre-test Treatment Post-test
Experimental group = E O X O
Control Group = C O O
  • The main weakness of this research design is the internal validity is questioned from the interaction between such variables as selection and maturation or selection and testing. In the absence of randomization, the possibility always exists that some critical difference, not reflected in the pretest, is operating to contaminate the posttest data.  For example, if the experimental group consists of volunteers, they may be more highly motivated, or if they happen to have a different experience background that affects how they interact with the experimental treatment – such factors rather than X by itself, may account for the differences.


Two groups, Random Selection, Pre-test, Post-test

Group Pre-test Treatment Post-test
Experimental group = E (R) O X O
Control Group =

C (R)

O O
  • The advantage here is the randomization, so that any differences that appear in the posttest should be the result of the experimental variable rather than possible difference between the two groups to start with. This is the classical type of experimental design and has good internal validity. The external validity or generalizability of the study is limited by the possible effect of pre-testing. The Solomon Four-Group Design accounts for this.

4. How did they measure MMT

Solomon Four-Group Design

Group Pre-test Treatment Post-test
Pre-tested Experimental Group = E (R) O X O
Pre-tested Control Group = C (R) O O
Unpre-tested Experimental Group = UE (R) X O
Unpre-tested Control Group = UC (R) O
  • This design overcomes the external validity weakness in the above design caused when pre-testing affect the subjects in such a way that they become sensitized to the experimental variable and they respond differently than the unpre-tested subjects.

 

So it is obvious, Terawan study has no external validity and minimal internal validity. To claim the study as a an RCT is outright false. At least they should have tried  the two groups, random selection, pretest-posttest design in order to have more powerful study design although it is not an RCT itself. Minimal validity means that the study design is to large extent biased, no external validity means that the study result can not be generalized  to population. So the study result can not be used as a prove to validate the use of IAHF to treat chronic ischemic stroke not to mention to claim that it can prevent stroke attack.

4. How did they measure the MMT?

In the article they did not say anything about which muscles they checked. Upper limbs? Lower limbs?  How did they come up with the mean score 30.21 +/- and 36.27+/-11.59 (they actually used comma to designate decimal which ok in Bahasa Indonesia, but actually we have to use point (.) instead in english, not a good job from the journal editing section). Did they add up the score of four limbs for each patients?

How many trained physician and neurologist involved in rating the MMT? Are they all comparatively skillful? How much is the inter-rater reliability? Cohen kappa anyone?

5. Statistical method used proper?

MMT Score is ordinal data, so to compute the difference using parametric T Test is little bit improper, better to use non parametric such as Wilcoxon rank test.

Reference

 

  1. Terapi Cuci Otak Tak Bisa Cegah dan Obati Stroke – Kompas.com. Available at: http://health.kompas.com/read/2015/12/17/175000023/Terapi.Cuci.Otak.Tak.Bisa.Cegah.dan.Obati.Stroke.
  2. Membersihkan Gorong-Gorong Buntu di Otak | Catatan Dahlan Iskan. Available at: https://dahlaniskan.wordpress.com/2013/02/18/membersihkan-gorong-gorong-buntu-di-otak/.
  3. Metode ‘Cuci Otak’ Ala dr Terawan, Seperti Apa Sih? Available at: http://health.detik.com/read/2015/06/15/071351/2942163/763/metode-cuci-otak-ala-dr-terawan-seperti-apa-sih.
  4. FOTO: Promosi Doktor Tim Dokter Kepresidenan di FK Unhas – Tribun Timur. Available at: http://makassar.tribunnews.com/2016/08/04/foto-promosi-doktor-tim-dokter-kepresidenan-di-fk-unhas.
  5. Putranto, T. A., Yusuf, I., Murtala, B. & Wijaya, A. Intra Arterial Heparin Flushing Increases Manual Muscle Test – Medical Research Councils (MMT-MRC) Score in Chronic Ischemic Stroke Patient. Bali Med. JournalBali Med J) Bali Med. J. 5, 25–29 (2016).
  6. Clark, W. M., Albers, G. W., Madden, K. P. & Hamilton, S. The rtPA (alteplase) 0- to 6-hour acute stroke trial, part A (A0276g) : results of a double-blind, placebo-controlled, multicenter study. Thromblytic therapy in acute ischemic stroke study investigators. Stroke. 31, 811–6 (2000).
  7. Chapman, K. M. et al. Intravenous Tissue Plasminogen Activator for Acute Ischemic Stroke : A Canadian Hospital’s Experience. Stroke 31, 2920–2924 (2000).

 

Innalillahi wa innailaihi raajiuun

dokter-husain-husni-1_20160513_203619

dr. Husain Husni, Sp.S., FINS

Telah menghadap Allah yang Maha Pengampun, Sejawat, Kakanda  Husain Husni pada hari Jumat pagi  13 Mei 2015. Beliau mengalami kecelakaan lalu lintas di Kabupaten Bantaeng saat menuju ke Makassar  untuk melaksanakan tugas.

Saya yakin begitu banyak keluarga, teman, sahabat, dan orang lain yang pernah berkenalan dengan Beliau, pasien-pasiennya  merasa kehilangan atas kepergian beliau. Beliau memiliki pribadi yang mulia, ringan tangan membantu sesama yang membutuhkan, ahli ibadah, pengemban dakwah, serta seorang dokter professional  yang terus bersemangat menuntut ilmu.

Saya pribadi kenal dengan Beliau, dan sejak mahasiswa sering berinteraksi dalam berbagai kesempatan.  Beliau seorang yang sederhana, rendah hati, dan seingat saya selama menjadi mahasiswa, Beliau dikenal sebagai mahasiswa yang tekun dan terampil, penyayang terhadap mahasiswa yuniornya. Beliau seorang asisten laboratorium Biokimia yang arif dan tidak pernah mempersulit mahasiswa bimbingannya. Bagi sebagian mahasiswa yuniornya, Beliau menjadi role model yang inspiratif.

Terakhir kali bertemu beliau Tahun 2008 ketika sama-sama akan mendaftar Program Pendidikan Dokter Spesialis di Univesitas Hasanuddin. Beliau menceritakan bagaimana ketika tes wawancara, penguji  di Departemen Neurologi, memberi masukan agar jenggotnya yang panjang dirapikan sebelum masuk pendidikan. Beliau tersenyum dan mengatakan siap merapikan tapi tidak bersedia memotongnya.  Sesunngguhnya  Beliau juga berminat masuk di Departemen Gizi Klinik dan saya sempat memfasilitasi Beliau untk mendaftar, namun Allah menentukan takdir Beliau menjadi seorang ahli saraf.

Selamat jalan Kak Ucheng, semoga Allah memberimu Jannah-Nya. Semoga Keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kesabaran.

Ya Allah, ampunkanlah beliau, sayangilah beliau, maafkanlah beliau.

 

Aminuddin

Departemen Gizi Fakultas Kedokteran

Universitas Hasanuddin

Obesity is on the rise in Indonesia, one of the largest studies of the double burden of malnutrition in children has revealed.

Sumber: Obesity on the rise in Indonesia: The ‘double burden of malnutrition’

Berikut ini saya berikan link untuk mengupdate informasi tentang penerbit dan jurnal abal-abal yang harus diwaspadai menurut Jeffrey Bealls.

Sebagai akademisi dan periset, sebaiknya kita tidak menerbitkan artikel penelitian pada penerbit serta jurnal abal abal tersebut. Kebanyakan, kalau bukan semua penerbit dan jurnal tersebut hanya bermotifkan uang dengan cara gampang.

 

 

Bocornya dokumen rahasia firma hukum Mossack Fonseca dalam jumlah raksasa, yang berisi nama-nama orang VIP dunia yang terlibat dalam pendirian perusahaan cangkang di berbagai negara bebas pajak, mengagetkan banyak orang termasuk beberapa orang hebat dan kaya di Indonesia. Kita tentu tidak boleh secara langsung menilai bahwa mereka melakukan tindakan kriminal dengan perusahaan-perusahaan cangkang mereka sebelum ada bukti-bukti yang valid. Siapa saja mereka?

Berikut tulisan yang saya terbitkan ulang dari Indonesia Investments.

Reportedly, 3,000 Indonesian individuals and companies are mentioned in the Panama Papers, the massive leak involving around 11.5 million confidential documents from the database of the world’s fourth-largest offshore law firm, Mossack Fonseca. These documents show how political figures as well as celebrities, sport stars and businessmen exploit secretive offshore tax regimes. Icelandic Prime Minister Sigmundur David Gunnlaugsson became the first victim of the leakage (he resigned on Tuesday). What about Indonesia and the Panama Papers?

Sumber: Indonesia and the Panama Papers: Names and Numbers | Indonesia Investments

Survey Kesehatan

Pembaca yang budiman, mohon waktunya untuk mengisi Survey Kesehatan dibawah ini.

Saya ucapkan banyak terima kasih atas waktu dan partisipasinya.