Anemia Kekurangan Zat Besi: Penjelasan tentang pengaruh interaksi makanan sehari-hari terhadap penyerapan zat besi dan resiko anemia


Salah satu penyakit yang paling banyak mengenai masyarakat Indonesia adalah anemia yang dikarenakan kekurangan zat besi. Anemia adalah berkurangnya sel-sel darah merah dalam cairan darah seseorang atau berkurangnya kadar hemoglobin yang terkandung dalam sel-sel darah merah. Kekurangan zat besi dalam tubuh menyebabkan terganggunya pembuatan dan fungsi sel-sel darah merah sehingga tak mampu lagi mensuplai oksigen yang cukup ke seluruh tubuh. Kekurangan zat besi ini menganggu pembentukan hemoglobin, sebuah protein yang terdapat dalam sel darah merah yang berfungsi mengikat oksigen.

Jumlah dan fungsi sel darah merah yang tidak normal ini menyebabkan gejala gejala seperti lemah dan gampang merasa letih, tidak bisa berkonsentrasi, daya pikir yang menurun, kepala terasa ringan, pusing, jantung berdebar, hingga  sesak napas jika telah menjadi berat. Secara fisik orang anemia tampak pucat kulitnya, kadang kadang bila berat  lidahnya terasa sakit karena bengkak. Kadang adapula orang  berkeinginan makan benda-benda tak lazim menjadi makanan seperti tanah atau lumpur, es batu, atau tepung; gejala ini disebut pica (dibaca: pika).1 Namun perlu diingat, sering terjadi anemia tidak menimbulkan tanda atau gejala apapun dan hanya terdeteksi ketika dilakukan pemeriksaan darah. Ini biasanya terjadi pada permulaan anemia.

Bagaimana dokter mendiagnosis anemia kekurangan zat besi? Dokter biasanya curiga terjadi anemia kekurangan zat besi jika terjadi gejala dan tanda-tanda seperti yang disebut di atas, disertai pemeriksaan fisik serta laboratorium darah. Pemeriksaan laboratorium yang dimaksud bisa berupa pemeriksaan darah rutin, pemeriksaan darah lengkap (Complete Blood Count), maupun pemeriksaan kimia dan biokimia darah yang lain.

signs-of-iron-deficiency

Tanda dan Gejala Anemia diambil dari http://www.organsofthebody.com

Mengapa orang bisa mengalami anemia kekurangan zat besi?

Orang bisa mengalami anemia kekurangan zat besi karena berbagai faktor. Yang paling sering menjadi penyebabnya adalah yang pertama, adanya kehilangan darah kronis. Ini merupakan penyebab paling sering, dan harus dipikirkan pertama kali ketika seseorang mengalami anemia kekurangan besi. Kadang sumber perdarahan kronis ini tidak terlihat dengan jelas atau tidak diketahui oleh pasien sendiri. Dalam keadaan demikian biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menyingkirkan kemungkinan perdarahan kronis di berbagai organ, seperti misalnya pemeriksaan endoskopi untuk melihat adanya kemungkinan perdarahan di saluran pencernaan, pemeriksaan tinja untuk melihat adanya darah samar dan tanda tanda infeksi parasit usus. Sumber perdarahan bisa saja berupa kanker di saluran pencernaan, adanya luka akibat penyakit maag yang berkepanjangan, sakit wasir, bahkan penyakit gigi kronis yang menyebabkan perdarah gusi. Penyebab yang ke-2, peningkatan kebutuhan zat besi yang disebabkan oleh beberapa hal seperti anak-anak dan remaja yang sedang tumbuh, ibu hamil dan menyusui.  Remaja puteri yang sudah mendapat menstruasi jauh lebih rentan terkena defisiensi zat besi karena secara rutin mereka kehilangan zat besi lewat darah haidnya terlebih jika terjadi gangguan haid seperti haid yang lebih lama, atau volume haid yang lebih besar dari normal. Penyebab yang ke-3, gangguan absorpsi atau penyerapan zat besi di usus. Gangguan penyerapan ini bisa terjadi pada orang orang lambungnya telah diangkat sebagian karena sebab tertentu (gastrektomi), pada orang orang yang mengalami gastritis atropik, yaitu peradangan kronis pada lambung yang menyebabkan sel-sel lambung tertentu mengalami kematian dan penurunan fungsi yang pada akhirnya menyebabkan gangguan penyerapan zat besi.2 Yang terakhir ini, sering terjadi pada orangtua terutama pada wanita. Penyebab lain adalah adanya zat-zat tertentu yang berasal makanan yang mengikat zat besi sehingga tidak atau kurang dapat diabsorpsi secara optimal. Inilah yang akan diuraikan secara lebih detail selanjutnya di tulisan ini.

Kebutuhan zat besi dan zat makanan yang berpengaruh terhadap penyerapan zat besi di usus

Banyaknya zat besi yang diserap di usus halus sangat terkait dengan berapa banyak cadangan besi yang ada dalam tubuh manusia. Cadangan ini sekitar 4 gram pada laki-laki, dan sekitar 2,5 gram pada wanita. Cadangan ini sebagian besarnya ada dalam hemoglobin darah, disusul dengan cadangan di hati yang disebut ferritin. Tubuh memerlukan 20-25 mg zat besi sehari untuk proses pembentukan sel darah merah. Sel darah merah kita berumur kurang lebih 120 hari, dan pada saat penghancuran sel darah merah ini, zat besinya didaur ulang oleh tubuh untuk digunakan kembali. Bahkan sebagian besar kebutuhan tubuh kita akan zat besi disediakan oleh proses daur ulang ini, dan hanya sebagian kecil saja yang diperlukan dari makanan. Kita hanya memerlukan 1-2 mg sehari zat besi yang diserap lewat usus untuk mengganti zat besi yang hilang karena proses pengelupasan kulit, proses matinya sel-sel di saluran pencernaan. Kalau cadangan besi berkurang, maka tubuh punya mekanisme untuk meningkatkan jumlah yang diserap, begitupun sebaliknya jika cadangan sudah cukup, maka penyerapan kembali ke tingkat semula. Pada orang dengan cadangan besi yang cukup, zat besi yang ada pada makanan kita hanya diserap 10% saja secara rata-rata. Jadi makan terlalu banyak zat besi juga tidak akan meningkatkan jumlah penyerapan. Di kepustakaan disebutkan bahwa jumlah maksimal zat besi yang bisa diserap pada keadaan normal, jarang melebihi 6 mg sehari. Kalau kita hanya butuh 1-2 mg sehari berarti kita harus makan makanan yang menyediakan kurang lebih 10-20 mg zat besi sehari karena penyerapannya rata-rata hanya 10%. Namun penyerapan zat besi ini juga dipengaruhi oleh jenis zat besi yang kita konsumsi.

Ada dua jenis zat besi yang kita konsumsi sehari hari dalam makanan. Yang pertama disebut sebagai heme-iron yaitu zat besi yang berasal dari makanan hewani seperti daging sapi, ayam dan ikan. Zat besi yang berasal dari hewan ini lebih gampang dan lebih banyak penyerapannya di usus dan relatif tidak dipengaruhi oleh zat-zat penghambat  penyerapan zat besi yang ada pada makanan lain. Yang kedua disebut non heme-iron yaitu zat besi yang berasal dari makanan nabati seperti sayuran hijau tua seperti bayam; sayuran kacangan seperti kedele, kacang merah, buncis; biji-bijian dan kacang seperti wijen, biji labu (kwaci), biji mete dan lain lain. Non heme iron ini penyerapannya lebih kurang dan bisa dihambat oleh zat zat yang pada makanan lain jika dikonsumsi secara bersamaan.

Makanan sumber zat besi Jumlah zat besi (mg)/100 gram
Heme Iron:

Dagimg sapi

Hati sapi

Daging ayam

Jantung ayam

Hati ayam

 

1,85

7,17

1,11

5,96

8,99

Non heme iron:

Bayam

Kedele

Tahu

Tempeh

Wijen

Kacang mete

Dark chocolate

 

2,71

3,55

5,36

2,70

14,55

6

6,32

Sumber: MyFoodCalories app.

Untuk membantu penyerapan non heme iron, ada beberapa anjuran yang bisa diikuti yaitu: bila mungkin makanlah makanan sumber non heme iron dan heme iron secara bersamaan agar jumlah zat besi yang diserap bisa lebih banyak. Bila memungkinkan konsumsi makanan non heme iron dengan makanan yang mengandung vitamin C atau tablet vitamin C agar penyerapannya lebih baik. Kalau makan di luar rumah, mungkin lebih bijak memesan minuman berupa es jeruk, orange juice, mango juice dan minuman kaya vitamin C sebagai teman makanannya.

Bagi mereka yang beresiko mengalami kekurangan zat besi seperti anak dan remaja, ibu hamil dan menyusui, bila mengkonsumsi teh, kopi, dan susu, jangan bersamaan pada saat makan, tapi minumlah minimal dua jam sebelum atau sesudah makan.3 Meski konsumsi teh tidak berpengaruh pada masyarakat atau segmen masyarakat yang tidak beresiko kekurangan zat besi, dan pada masyarakat yang asupan zat besinya relative cukup seperti negara-negara eropa,4 namun kita di Indonesia dengan jumlah penduduk beresiko kekurangan zat besi yang banyak,asupan zat besi yang rendah, dan kebiasaan minum teh dan kopi  yang memasyarakat, adalah bijaksana jika anjuran di atas lebih diperhatikan.

Kasus anemia defisiensi zat besi yang cukup berat pernah dilaporkan karena konsumsi teh hijau secara rutin tiap hari minimal sebanyak 1500 ml.5 Karena efek anti penyerapan zat besi, maka the hijau pernah pula dilaporkan efektif dalam pengobatan kelebihan zat besi dari penderita thalassemia intermedia.4

Referensi

  1. Iron deficiency anemia – Symptoms and causes – Mayo Clinic. Available at: https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/iron-deficiency-anemia/symptoms-causes/syc-20355034. (Accessed: 31st May 2018)
  2. Cavalcoli, F., Zilli, A., Conte, D. & Massironi, S. Micronutrient deficiencies in patients with chronic atrophic autoimmune gastritis: A review. World J. Gastroenterol. 23, 563 (2017).
  3. Zijp, I. M., Korver, O. & Tijburg, L. B. M. Effect of Tea and Other Dietary Factors on Iron Absorption. Crit. Rev. Food Sci. Nutr. 40, 371–398 (2000).
  4. Jetsrisuparb, A., Komwilaisak, P. & Wiangnon, S. Green tea consumption prevented iron overload: A case report of thalassemia intermedia. J Hematol Transfus Med 24, 389–394 (2014).
  5. Fan, F. S. Iron deficiency anemia due to excessive green tea drinking. Clin. case reports 4, 1053–1056 (2016).

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s