ASPEK GIZI DAN KESEHATAN PUASA RAMADHAN


Tulisan ini merupakan salinan tulisan saya yang terbit di Harian Fajar tahun 2007.

Dalam beberapa hari lagi umat Islam akan memasuki Bulan Ramadhan, bulan suci dimana mereka melaksanakan puasa (shaum) sebulan penuh sebagai bagian dari ibadah mahdah yang diwajibkan. Sebagai orang beriman, kewajiban itu tentunya harus dilaksanakan dengan ikhlas disertai harapan terhadap ridha Allah SWT. Sudah menjadi keyakinan kita bahwa setiap perintah Allah SWT baik berupa ibadah ritual maupun perintah syariat yang lain pasti mengandung hikmah yang pada dasarnya untuk kepentingan manusia sendiri baik mereka sadari atau tidak. Tetapi perlu disadari bahwa pelaksanaan setiap perintah syariat termasuk puasa bukan didasari oleh karena adanya hikmah dan mamfaat yang terkandung didalamnya, namun semata-mata karena konsekuensi iman terhadap perintah atau syariat tersebut. Hikmah yang terkandung dalam syariat atau perintah Allah SWT menurut penulis adalah merupakan dimensi empiris yang bisa dirasakan secara subyektif oleh manusia, diukur atau dibuktikan dengan ilmu pengetahuan.

Tulisan ini bukan bermaksud untuk menguraikan hikmah Puasa Ramadhan  tetapi hanya untuk memberikan informasi tentang beberapa aspek gizi dan kesehatan dari puasa Ramadhan yang penting diketahui oleh pembaca yang budiman.

Puasa Ramadhan dan Asupan kalori total

Jumlah kalori menunjukkan banyaknya kandungan energi yang terkandung dalam makanan. Kalori ini didapat dari karbohidrat, lemak, dan protein. Untuk setiap gramnya, lemak mengandung kalori lebih dari dua kali lipat dari karbohidrat dan protein. Oleh karena itu lemak disebut zat gizi yang padat kalori. Kelebihan asupan kalori ditandai dengan naiknya berat badan.

Banyaknya kalori total yang dikonsumsi selama Puasa Ramadhan jika dibandingkan sebelum Ramadhan berbeda-beda  menurut penelitian-penelitian yang telah dilakukan. Ada peneliti yang menemukan asupan kalori yang tidak berbeda bahkan lebih yang ditandai dengan berat badan yang tak berubah atau meningkat. Sementara peneliti yang lain menemukan yang sebaliknya yang ditandai dengan penurunan berat badan. Perbedaan hasil penelitian ini kemungkinan besar diakibatkan oleh perbedaan kuantitas dan kualitas makanan yang dikonsumsi selama Puasa Ramadhan. Selama puasa frekuensi makan cenderung menurun tetapi jenis serta variasi makanan cenderung lebih beragam. Kandungan kalori makanan juga cenderung meningkat karena selama Ramadhan makanan yang disajikan biasanya banyak makanan yang manis-manis dan  mengandung lemak yang lebih banyak. Bagi mereka yang gemuk atau dengan berat badan yang lebih, tentu makanan seperti ini mesti dibatasi agar berat badan tidak bertambah.

Nasehat Rasulullah SAW yang menganjurkan agar tidak terlalu kenyang pada saat makan bisa dilaksanakan dengan melatih pengendalian diri dan tidak menjadikan waktu buka sebagai waktu “balas dendam”. Rasulullah SAW biasanya mengkonsumsi dua sampai tiga biji kurma pada saat buka puasa. Kita bisa mengikuti contoh ini, atau kalau mengkonsumsi makanan atau minuman yang manis sebaiknya jumlahnya dibatasi.

Pada saat makan malam pun demikian tidak sampai berlebihan. Adalah lebih baik makan lebih sering dalam porsi yang kecil daripada makan porsi besar sekaligus.

Rasulullah SAW memberi petunjuk agar pada saat makan lambung hanya diisi sepertiga makanan, sepertiga air (putih), dan sisanya untuk udara. Inti dari pesan beliau adalah makan dan minum secukupnya.

Makan sahur sebaiknya jangan dilewatkan karena makan dan minum pada waktu ini berfungsi meningkatkan cadangan makanan tubuh menghadapi waktu puasa. Makan sahur bisa menjaga tenaga dan vitalitas tubuh sehingga orang  bisa beraktivitas normal selama berpuasa. Rasulullah sendiri mengingatkan kita bahwa makan sahur itu mengandung berkah, terlebih lagi jika makan sahur ditakhirkan mendekati saat imsak. Rasulullah juga menganjurkan agar tidak menunda-nunda buka puasa bila telah tiba waktunya, agar cadangan makanan tubuh yang hilang bisa segera tergantikan. Dengan mengikuti anjuran-anjuran Rasulullah ini, insya Allah asupan kalori selama bulan Ramadhan tidak akan berlebihan atau kekurangan secara ekstrim.

Puasa Ramadhan bagi penderita penyakit kronis tertentu

Allah SWT memberikan keringanan kepada mereka yang sakit untuk tidak berpuasa pada bulan Ramadhan. Namun pada beberapa penyakit kronis seperti diabetes (kencing manis), sakit jantung, dan sakit maag masih dimungkinkan untuk berpuasa dengan syarat-syarat tertentu. Kita tidak bisa memungkiri banyak diantara kaum muslimin yang tetap bersikeras berpuasa meskipun memiliki penyakit tersebut. Namun harus diingat bahwa petunjuk dan izin dari dokter  harus dicari untuk menjaga agar pelaksanaan puasa tidak malah memperburuk kondisi kesehatan.

Dari penelitian-penelitian diketahui bahwa tidak ada efek puasa yang berbahaya bagi orang yang berpenyakit diabetes terutama bagi mereka yang gula darahnya terkontrol dengan baik. Sebagian besar pasien diabetes yang menjalani puasa tidak mengalami perubahan dalam kontrol gula darahnya. Tapi bagi pasien diabetes yang kontrol gula darahnya tidak baik, pasien diabetes yang kurang patuh minum obat, atau disertai penyakit lain sebaiknya tidak usah berpuasa.

Bagi mereka yang dizinkan berpuasa oleh dokternya, harus menghindari makan dalam porsi besar pada waktu buka puasa dan tetap meneruskan olahraga ringan pada saat tidak berpuasa pada malam hari. Kemudian perubahan jadual minum obat dan dosisnya juga harus diperhatikan dengan baik sesuai dengan petunjuk dokter.

Bagaimana dengan yang berpenyakit jantung ?

Kepustakaan dan penelitian tentang masalah ini sangat terbatas. Menurut referensi yang penulis miliki, puasa masih dimungkinkan pada orang yang berpenyakit jantung koroner (penyumbatan pembuluh darah jantung) yang ringan. Sampai sekarang belum diketahui apakah dehidrasi (kekurangan cairan) ringan yang lazim terjadi selama puasa Ramadhan bisa membahayakan pasien penyakit jantung koroner yang sedang sampai berat. Oleh karena itu bagi pasien golongan ini lebih baik tidak berpuasa  kecuali dokter yang merawat mengizinkan.

Pada penderita penyakit maag yang disertai luka pada lambung atau usus halus dan sedang minum obat untuk proses penyembuhan luka, menurut beberapa penelitian tingkat kesembuhannya tidak dipengaruhi oleh puasa. Puasa tidak mempercepat atau memperlambat penyembuhan luka dilambung atau diusus. Bagi pasien-pasien sakit maag yang ringan  (tanpa ada luka di lambung atau usus) tetap bisa menjalani puasa dengan baik. Menghindari makan dalam porsi yang besar, makanan yang pedas dan asam, disertai obat untuk menurunkan asam lambung bisa membantu kenyamanan dalam berpuasa

Puasa Ramadhan bagi orang hamil dan menyusui

 Sebagaimana orang yang sakit, tidak ada kewajiban bagi ibu hamil dan menyusui untuk melakukan puasa. Penelitian tentang puasa pada orang hamil dan menyusui sangat sedikit. Satu penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan Inggris, Cross JH dan kawan-kawan (1990) menunjukkan bahwa 13.300 bayi yang lahir dari ibu yang berpuasa dalam bulan Ramadhan mempunyai berat badan yang tidak berbeda dengan bayi yang dilahirkan oleh ibu-ibu yang tidak berpuasa. Namun untuk kepentingan ibu dan bayi, sebelum adanya penelitian-penelitian yang lain dan lebih dalam, sebaiknya tidak usah berpuasa pada bulan Ramadhan. Kalaupun tetap ingin melaksanakannya disarankan kualitas dan kuantitas makanan yang dikonsumsi dijaga agar sesuai dengan kebutuhan untuk ibu dan bayi. Nasehat dokter dan ahli gizi harus dicari untuk memastikan kesejahteraan ibu dan anak.

Gizi seimbang selama puasa Ramadhan

Sebagai penutup, saya ingin memberikan beberapa tips-tips praktis selama melaksanakan puasa Ramadhan agar asupan gizi tetap seimbang. Gizi yang seimbang adalah gizi yang memenuhi kebutuhan tubuh akan zat-zat gizi dalam jumlah yang optimal dalam menjaga kesehatan. Pertama, tetap jaga keanekaragaman hidangan atau makanan selama puasa. Kandungan zat gizi tiap makanan berbeda-beda, ada yang kaya akan zat gizi tertentu tapi kurang pada zat gizi yang lain. Oleh karena itu kebiasaan terpaku pada satu atau beberapa menu dengan bahan makanan yang sama terus menerus kurang baik. Itu kemungkinan bisa menyebabkan kelebihan zat gizi tertentu dan kekurangan zat gizi yang lain.

Usahakan menu makan malam dan sahur memenuhi anjuran 4 sehat 5 sempurna yang terdiri dari makanan pokok (nasi, jagung, ubi), lauk pauk, sayuran dan buah ditambah segelas susu. Untuk susu dianjurkan susu yang rendah lemak (susu skim, bukan yang full cream).

Kedua, jaga asupan cairan agar cukup selama puasa Ramadhan. Delapan sampai sepuluh gelas cairan (lebih dalam bentuk air putih) per hari dibutuhkan oleh tubuh. Bagi orang yang berpuasa mungkin bisa “menyicil” minum airnya antara waktu buka puasa dan sahur.

Ketiga, hindari terlalu berlebihan mengkonsumsi makanan yang berkadar gula tinggi. Tidak mengapa mengkonsumsinya pada saat buka puasa dalam jumlah yang cukup. Gula sendiri meskipun mengandung kalori tetapi sangat miskin zat-zat gizi yang lain sehingga gula dijuluki kalori kosong (empty calorie).

Dan yang terakhir, hindari mengkonsumsi tablet multivitamin atau supplemen makanan tanpa ada petunjuk dokter. Multivitamin hanya bermamfaat bagi mereka yang terbukti kurang gizi atau mengalami defisiensi.  Kalau berat badan anda normal dan makan dengan dengan cukup maka mengkonsumsi multivitamin hanya pemborosan dan berpotensi menyebabkan kelebihan vitamin yang berbahaya bagi kesehatan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s