Mencari Kebenaran Academic Credentials Dokter Taruna Ikrar: Fraud Detected!


Bismillahirahmanirrahim

Beberapa tahun belakangan ini, dunia akademik di tanah air diramaikan dengan berita terkait Dokter Taruna Ikrar yang telah populer dengan academic credentials yang cemerlang. Beliau dikabarkan telah memiliki setidaknya dua paten sebagaimana pengakuan beliau sendiri (https://www.youtube.com/watch?v=podcTlKMvbk) dan dari berbagai website bahkan media TV nasional. Yang lebih hebat lagi, beliau dikabarkan dan dikonfirmasi oleh beliau sendiri, dinominasikan untuk meraih hadiah Nobel dalam bidang physiology and Medicine 2016 (https://www.youtube.com/watch?v=GQVogEokq7w) oleh University of California Irvine. Dan masih banyak lagi academic credentials yang dapat kita baca dari berbagi media online yang tak perlu disebutkan satu-per satu.

Tidak terkecuali, dunia akademik dan kampus juga merayakan pencapaian dr. Taruna Ikrar dengan memberi beliau kesempatan berbicara, pidato, dan kuliah umum di depan khalayak akademik, bahkan memberi beliau kedudukan akademik tertentu. Tentu pencapaian dr. Taruna ini sangat membaggakan kita semua, terutama akademisi tanah air yang telah begitu lama tertinggal dan tertatih-tatih dalam mengembangkan penelitian, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Pencapaian ini, kalau benar adanya, merupakan tonggak sejarah ilmu pengetahuan indonesia. Saya sebagai yunior beliau di Kedokteran Unhas akan merasa berbahagia, karena ini akan mengangkat nama institusi kami ke tingkat yang lebih tinggi.

Foto Taruna Ikrar

Dr. Taruna Ikrar

Namun saya menangkap beberapa keganjilan dari academic credentials dr. Taruna Ikrar ini.

  1. Beliau mengaku dinominasikan oleh professor atau institusi beliau di University of California Irvine untuk hadiah Nobel tahun 2016. Sepengetahuan saya, yang bisa menominasikan seseorang menjadi penerima hadiah Nobel dalam bidang kedokteran dan bidang yang lain, hanya pihak tertentu,  diantaranya adalah penerima hadiah Nobel sebelumnya di kategori yang sama. Jadi peraih hadiah Nobel bidang kedokteran hanya bisa diajukan oleh peraih hadiah Nobel Kedokteran sebelumnya. Untuk syarat nominasi, Anda bisa akses di https://www.nobelprize.org/nomination/medicine/. Terlebih lagi, siapa yang dinominasikan tidak bisa diketahui umum karena baru bisa dibuka 50 tahun setelah nominasi tersebut diumumkan. Sepengatahuan saya dr. taruna tidak pernah berkolaborasi dengan peraih hadiah Nobel dalam penelitiannya, dan sangat mengherankan beliau tahu bahwa dia dinominasikan sebagai peraih hadiah Nobel padahal dokumen nominasi belum dibuka. Dari mana beliau tahu?
  2. Beliau mengatakan sudah memiliki dua paten dari hasil penelitian di University of California, dan sepertinya beliau mengklaim hal tersebut sendirian. saya bisa saja salah dalam impresi ini, tapi anda bisa lihat sendiri berita-berita dan video yang memberitakan masalah ini. Setahu saya, patent hanya bisa diklaim oleh institusi atau principal investigators dalam sebuah penelitian yang menghasilkan teknologi atau metodologi baru. Setahu saya, beliau bukan sebagai principal investigator dalam penelitian di University of California Irvine.
  3. Berita bahwa sekarang beliau telah menjadi dekan dan profesor di California School of Biomedicine National Health University dengan link https://www.thenhu.org/school-of-biomedical-sciences. Kalau Anda mengakses websitenya, hampir semuanya masih “in construction”, yang menimbulkan tanda tanya tentang bonafiditas institusi ini. Saya mencoba mencarinya dalam database universitas di California, namun institusi yang bersangkutan tidak terdaftar. Kalau gelar profesor beliau datang dari institusi ini, maka tentu akan banyak yang mempertanyakannya. Sekarang website ini sudah tidak bisa di akses, namun sudah berganti nama institusi lain yaitu Pacific Health Science University https://www.pacifichealthu.org/isb. Di tempat baru ini dr. Taruna Ikrar berkedudukan sebagai dekan dan professor di bidang biomedical science. Sama seperti website universitas sebelumnya, website institusi yang terbaru ini juga lebih banyak dalam konstruksi alias belum lengkap. Tidak jelas kenapa terjadi perubahan nama institusi ini, dr. Taruna tidak melakukan keterangan pers atau pengumuman apapun, padahal ini ini perlu dilakukan kalau memang institusi yang bersangkutan punya reputasi.

Dalam dunia akademik kita dituntut untuk selalu klarifikasi dan mencari fakta-fakta yang sebenarnya. Dalam rangka itu saya kemudian menghubungi Professor Joshua T Trachtenberg di UCLA (https://www.neurobio.ucla.edu/people/joshua-trachtenberg-phd), yang merupakan profesor Neurobiologi di UCLA,  principal investigator pada proyek penelitian dimana dr. Taruna terlibat di dalamnya sebagai colaborator, untuk mengklarifikasi mengenai ketiga hal tersebut diatas.

Berikut screenshot dari email saya ke Prof. Trachtenberg. (saya kirim email ke email resminya memakai email resmi saya dan email pribadinya memakai email pribadi saya, namun beliau balas lewat email pribadinya yaitu gmail seperti terlihat pada screenshot kedua). Untuk membacanya, saya sarankan agar di zoom biar lebih jelas.

my email to Trachtenbergbagi yang susah membaca email tersebut ini copynya:

Dear Prof. Trachtenberg
My name is Aminuddin Aminuddin, lecturer and researcher in University of Hasanuddin, Makassar, Indonesia.
I am writing to you in relation to Mr. taruna Ikrar’s past few years claims to his indonesian audience about his academic credentials. As his former mentor and professor, I would like to ask some clarification on his self-described credentials as follows:
1. He described himself was nominated for Nobel Laureate for physiology and medicine the year Dr. Yamanaka was nominated, who later won the prestigious award in 2012 (there is a video in Youtube in which he confirms publicly about his nomination, unfortunately in bahasa Indonesia). he said in that video that he was nominated by his supervisor for this award. I guess he is inferring to you as his supervisor.
2. He claimed to have brain mapping methodology patent during his time in UCLA stint. From the way he describe himself, he seems to only credit himself solely for this patent
3. He claims to be the dean and professor in National Health University California School of Bio Medicine ( the link https://www.thenhu.org/school-of-biomedical-sciences) which is quite dubious because as far as I am concerned this institution in unrecognized in USA. The website is amateurish, to say the least, provides no details about the nature of this institution. Do you have any ideas about this institution?
Mr. Taruna Ikrar has engaged in many public speaking and lecture.  promoting his credentials above. Now many indonesians in academic circle is looking up to him as a role model.
I believe that all academics and scientists should promote honesty, objectivity and humbleness in their career to promote and produce science for the mankind. Based on this spirit, I decided to write to you hoping for some clarification.
I thank you for your time and look forward to your reply as soon as your convinient time.
Best regards,
Aminuddin Aminuddin
Department of Nutrition, Faculty of Medicine
University of Hasanuddin, Indonesia
Perintis Kemerdekaan Km. 11 Makassar

Ini email pertama saya, dan kemudian saya koreksi sedikit kesalahan pada email pertama saya,  pada email kedua saya, bahwa dr. Taruna dikabarkan dinominasi hadiah Nobel pada tahun 2016, bukan pada tahun 2012 spt pada email pertama saya. Prof. Trachtenberg pada intinya membantah bahwa beliau pernah menominasikan dr. Taruna Ikrar untuk hadiah Nobel dan tidak pernah tahu bahwa ia memiliki patent. Email Prof. Trachtenberg saya hapus karena beliau meminta saya untuk tidak menampilkannya secara publik.

 

Email yang sama kemudian saya kirimkan ke Xiangmin Xu yang disebut oleh Prof. Trachtenberg dalam email balasannya sebagai mentor dr. Taruna Ikrar. Rupanya Xiangmin Xu meneruskan email saya tersebut ke Associate Vice Chancellor for Academic Affairs Susan & Henry Samueli College of Health Science University of California Irvine  Prof. Alan L. Goldin, MD, PhD dan beliau membalas dengan mengirim email yang isinya dengan jelas membantah bahwa University of California Irvine pernah menominasikan dr. Taruna Ikrar sebagai peraih hadiah Nobel dan penghargaan internasional lainnya. Dr. Taruna Ikrar juga dinyatakan telah meninggalkan UCI pada bulan Agustus 2016. Suratnya bisa dilihat  di sini Ikrar Response Letter

Saat ini saya masih menunggu beberapa dokumen penting lainnya yang Insya Allah akan saya publish jika  sudah mendapatkannya dari UCI Public Record Service seperti yang dijanjikan oleh Direkturnya Eric Digman, PhD.

Saya menghimbau kepada semua media baik elektronik maupun tertulis, agar di masa depan mereka harus melakukan klarifikasi bahkan investigasi yang dalam sebelum menulis reputasi, prestasi atau berita tentang tokoh akademik terlebih yang berasal dari luar negeri agar tidak terjadi kejadian fraud oleh orang-orang yang ingin mendapatkan penghargaan berdasarkan credentialnya. Banyaknya kasus fraud akademisi dan ilmuwan Indonesia menunjukkan bahwa budaya integritas akademik di Indonesia masih harus ditingkatkan.

Terakhir, saya akan menyediakan tempat bagi dr. Taruna untuk memberikan tanggapan atau jawaban terhadap tulisan saya di Blog ini. Saya akan mem-publish jawaban tersebut secepat-cepatnya jika memang beliau berniat memberikan jawaban tertulis.

 

Referensi

http://www.icmi.or.id/blog/2016/06/dr-taruna-ikrar-tokoh-icmi-ilmuwan-kedokteran-dunia

https://lintassulsel.com/prof-taruna-ikrar-dokter-asal-makassar-masuk-nominasi-nobel-2016/2666

http://www.sainsindonesia.co.id/index.php/rubrik/tokoh/2922-taruna-ikrar-masuk-nominasi-nobel-awards-2016

https://www.thenhu.org/school-of-biomedical-sciences

Iklan

49 thoughts on “Mencari Kebenaran Academic Credentials Dokter Taruna Ikrar: Fraud Detected!

  1. Terima kasih sudah mencari informasi yang benar untuk semua kesimpang siuran ini. Sejujurnya saya merasa sedih.
    Dia selama ini sebenarnya tidak pernah mengajak kita di fk untuk diskusi. Dia yang mengontak rektor secara langsung untuk urusan ajunct professornya.

  2. Hello, I am an administrator & attorney here at PHSU, and your blog post was forwarded to my office this morning because it mentioned the name of our institution. As a relatively new organization, it is important that we spend energy to clarify any misconceptions that new blog posts publicly declare or imply (such as yours).

    Dr. Ikrar was appointed as Dean & Professor of Biomedical Sciences at a private US-based institution that was just launched in 2017 known as PHSU; this institution (PHSU) does not have a broad reputation yet because it is relatively new and still in the process of developing & implementing its education & research programs as it prepares to launch its medical campus in 2020 in Central California. New institutions like PHSU must operate for at least 2 years before they are awarded formal recognition from government-recognized regulatory agencies. PHSU is still in the first year of its operation, thus explaining the absence of its name from any database that you speak of in your post.

    Dr. Ikrar was given this appointment to help develop these new programs, in collaboration with our team of science educators & medical researchers. He was appointed based on the following 5 variables that qualified him for this position:

    1) He has earned 3 verified graduate degrees from Indonesia & Japan (MD, MPharm, PhD).
    2) He has 60+ peer-reviewed scientific publications from his research over the past 15+ years, some of which are found in his field’s most prestigious journals (Including Nature).
    3) He has been actively serving humanity as a physician and medical scientist for 18+ years in both private & public sectors.
    4) He is a talented lecturer & educator that students enjoy interacting with & learning from.
    5) He is ranked as a professor in his home country of Indonesia.

    These 5 variables are verifiable facts, and are appropriate qualifiers for Dr. Ikrar’s appointment at PHSU; consistent with standards set forth by contemporary higher-education best-practices in North America.

    Please feel welcome to reach out to our administration and learn the facts before making hasty generalizations that mislead people based on superficial subjectivity rather than objective truths. We will be more than happy to clarify any concerns you may have.

    Thank you,
    PHSU Admin

    • Point 5. Which university in Indonesia ranked him as (full) professor? One cannot be granted a professor title in Indonesia if s/he doesnt work on fulltime basis in his/her homebase university? A professor in Indonesia is not only teaching, but also reseraching and supervising, and doing extension works for community. What courses and in which university Dr.Ikrar affiliated in Indonesia? How many students in that university he has supervised?

      Do you mean only affiliated lecturer? Guess lecturer? Summer lecturer? Thats not a professor at all by definition and regulation in Indonesia.

      This is the first time I know a legal team from a university in the US responded to a blog. What a joke!

      Point 4. Which students, in the US or Indonesia enjoy his lectures? He is not a faculty member in the US. As a senior specialist, his responsibility is research and maybe assisting students’ research. Not a main supervisor.

      PHSU web mentions he has been teaching in Japan and US. In Japan, he is just a teaching assistant, a graduate student. In UC-Irvine, not a faculty member. What a shame.

  3. Frankly, I am so sad to read this issu, I won’t believe it but as far as I read, Aminuddin’s article was so convincing. I highly appreciate what have been done by Aminuddin so far. I agree that integrity is a the highest value that should be embraced to whom works for human well being. Hope to hear clarification from Dr. Taruna Ikrar soon.

  4. There seems to be a lot of hate and false accusations in this post; I wonder why.
    It is unfortunate that our Indonesian brothers and sisters are trying to make each other look bad rather than spending time and communicating directly with each other to avoid unfairly hurting each others reputation. Where are your manners; Why so much unprovoked hate? Why not contact Dr. Ikrar directly rather than write accusations behind his back? Why not contact the current institution Dr. Ikrar is serving rather than talk bad behind its back? Strange. Did someone pay you to attack to Dr. Ikrar? Or are you his personal enemy?

    As a young indonesian medical student studying in Florida, I believe Dr. Ikrar is a real physician and scientist with 60+ peer-reviewed scientific publications in some of the world’s best scientific journal– I have read a lot of his work, and have heard about it in regional conferences. We can see from his Twitter account that he was meeting with the Indonesian Vice-President last week, surely the government of Indonesia has reviewed and verified his background before giving him such honor. Or do you also think the Indonesian government is fake?

    So what if a new private institution in America hired him as a dean/professor? There are many deans/professors in American colleges & universities that have similar or less credentials than Dr. Ikrar; what matters is their service, dedication to students, and public publication record. It is not a big deal.

    I also notice that there are misconceptions here that have stemmed from cultural/language barriers that have caused inaccurate reporting by media outlets– there are no universal definitions for terms such “nomination” or “professorship” or “deanship” or “faculty service” across different countries/regions— For example, each government, and each institution within a government has their own unique definitions for such terms. For example, there are people serving as professors & deans in Western colleges/universities that have only a a master’s degree; it is not a big deal.

    Furthermore, you should notice that Dr. Ikrar never claims to be “FORMALLY NOMINATED” for a Nobel, he was simply saying that the quality of his work that was published in Nature has been informally nominated by his colleagues as potentially Nobel-worthy in the future. This is a common and informal thing to say in western laboratory scientific circles as a means to keep motivated and inspired. It is unfortunate for this to be overblown by Indonesian media, again, perhaps due to the cultural and language barriers.

    May God help you guys get along and be nice to one another.

    • It is such an unfortunate that you hide behind anonymity responding to this post. Who are you speaking on behalf of Dr. Ikrar?
      There is no personal animosity or dispute between me and Dr. Taruna. I have not even met him personally.
      Well, it is my belief that academic dishonesty is a disgrace to science and personal dignity, hence needed to be stopped. And I am quite sure that many others share the same belief. How about you?
      Is there an informal Nobel nomination? Would you care to explain? Can you tell us the names of his colleagues who nominated him for Nobel informally?
      You need to check out so many media outlets and printed articles in which Dr. Ikrar himself directly indicated that he was a Nobel nominee.
      It raises my curiosity to know your identity because you seem a close associate to Dr. Ikrar that you know exactly details of event in his lab.
      It is irresponsible to make the Indonesian media as a scapegoat in this issue. If that so , don’t you think it is time for Dr. Ikrar to clarify this “overblown” thing?

    • You must be one of the people who was misguided by the information Taruna Ikrar gave to the media. How can you believe that Taruna has published 60+ internationally recognized publications while based on the fact from trusted sources such as Pubmed and Scopus, his total publications are only ~22 papers, with only 5 of them that Taruna has significant contributions (as first or lead author).

      Yes Indonesia government was also misguided by Taruna’s claims to the media. This is because the media wrote only what he claimed without thorough clarification such as by contacting Uni California Irvine. Unfortunately the government (and people like you) also believed the media without further research and investigation. Any media and institutions which believe Taruna’s fake claims should be ashamed because they have not done proper research (that should be easily done) to assess someone credential, and to believe solely based on claims. As a medical student you should learn more about scientific world such as paper quality, journal quality, paper authorship, trusted sources, number of publication etc..

  5. Ping balik: Jawaban Sdr Taruna Ikrar seputar pertanyaan terkait dengan Credential-nya | Ferizal Ramli's Blog

  6. Sekedar catatan:
    1. gelar prof dari univ baru yg mana? NHU atau PHU?
    2. sebagai dekan di univ baru yg mana? NHU atau PHU? krn 2 web tsb contentnya sama..
    3. statement dia pada nominasi nobel dst.. mungkin harus dicocokkan di tvone di youtube ya? 😁

    • 1. NHU itu scam, Univ/organisasi fiktif, tidak ada di Amerika NHU. PHU kemungkinan besar juga sama. Kalau dicek ke alamatnya dan no.telpnya kemungkinan besar fiktif juga. Silahkan kalau mau dicek tapi kalau saya boleh saran, tidak perlu, hanya menghabiskan biaya dan waktu.

      Jadi kalau Universitasnya fiktif, kira-kira gelar Prof. dan jabatan Dean-nya apa?

      2. Tidak mudah untuk mendapatkan domain dengan ekstension .edu, sebaliknya sangat mudah mendapatkan ekstension .org. Di website tak ada satupun nama tim atau stafnya. Boleh tanya ke orang yang biasa bikin website, itu gambar di websitenya terlalu umum, copotan dari google? Kenapa tidak pakai foto dia dan timnya?

      Dan kalau TI butuh website yang lebih meyakinkan dari itu, saya bisa kenalkan dengan seorang teman.

      3. Dia ketahuan bohong lalu menutupi itu dengan mengatakan itu mislead dari media yang salah nangkap lalu tersebar luas.

      Kalau memang benar demikian kenapa dia tidak memberikan klarifikasi secepatnya bukannya malah menikmati publisitasnya yang palsu itu? Atau memang itu yang dia harapkan?

      Semalam TI kemungkinan sibuk sekali, mengupdate situs scamnya, menutup twitternya dan unfriend teman-temannya di facebook.

      Postingan dia di FB dan Twitter bisa jadi bukti untuk menjerat dia kalau memang ‘benar’ dia menipu. Panglima TNI? Yusuf Kalla? UGM? Kementerian Pendidikan? Unhas?

      Terakhir, dari klarifikasi TI, gambarnya kok resolusinya jelek ya? Saya memiliki teman yang malah bisa merubah identitas di KTP dengan merubah nama, dll dengan hasil yang lebih bersih (hasil scan). Saya ragu keaslian dokumen screenshot yang dia upload.

  7. Mas Aminuddin apakah sudah dapat email lagi dari UCI? Mohon tanyakan peran Taruna Ikrar ini di UCI, apakah betul beliau ini postdoc seperti klaim TI atau hanya research specialist (technician). Btw kata TI dia prof dari PHSU, lha kata admin abal2 PHSU di atas TI prof dari Indonesia hahaha, ga sinkron… Kalo TI tidak mau mengakui dan minta maaf mungkin bisa kita pikirkan opsi untuk membawa beliau ke ranah hukum karena telah melakukan pembohongan publik

  8. Dr. Josh Trachtenburg is a bad racist person; he calls foreign scientists “technicians” even when they are published post-doctoral scientists that collaborate with his lab. Shame on him. Students & other faculty in neuroscience dislike him. He calls asian scientists “tools for the white man”.

    The only thing Dr. Josh Trachtenburg knows how to do is conduct experiments on mouse brains because his millionaire business partner funds his lab to support the Israeli army; he uses that money to hire smart people to conduct his experiments and write his reports– and then downplays those smart people as “just technicians in my lab that I don’t mentor”. This is american imperialistic racism at its finest.

    Shame on Aminuddin, who is just a jealous rat trying to attack his own Indonesian brother, rather than trying to help and clarify his valid expertise. I have the following 2 questions for Aminduddin:

    1) Why do you spend so much time contacting Dr. Trachtenburg, who has never mentored Dr. Ikrar and is thus not familiar with Dr. Ikrar’s CV and credentials? If you have a true desire for truth, shouldn’t you spend time directly communicating with Dr. Ikrar or at least with professional people who have worked with him and are familiar with his credentials?

    2) Who is paying you to attack Dr. Ikrar? Are you really Aminuddin or some sort of secret agent?

    • Perhaps this is the same person with TruthSeeker because the response is identical. Posting any response from readers will need sometime because I am not online all the time. Once online, I always approve any response from anyone.

  9. Dr. Josh Trachtenburg is obviously a racist person; he calls asian scientists “technicians” even when they are published post-doctoral physician-scientists (MD-PhD) that collaborate with his lab. Shame on him. I hear that many students & other faculty in neuroscience dislike him because it is rumored that he said that asian scientists are “tools for the white man” that should not be given leadership roles.

    The only verified thing Dr. Josh Trachtenburg knows how to do is conduct experiments on mouse brains because his millionaire business partner funds his lab to support certain unpublic agendas; he uses that money to hire smart people to conduct his experiments and write his reports– and then downplays those smart people as “just technicians in my lab that I don’t mentor”. This is american imperialistic racism at its finest.

    Shame on Aminuddin, who is just a jealous rat trying to attack his own Indonesian brother, rather than trying to help and clarify his valid expertise. I have the following 2 questions for Aminduddin:

    1) Why do you spend so much time contacting Dr. Trachtenburg, who has never mentored Dr. Ikrar and is thus not familiar with Dr. Ikrar’s CV and credentials? If you have a true desire for truth, shouldn’t you spend time directly communicating with Dr. Ikrar or at least with professional people who have worked with him and are familiar with his credentials?

    2) Who is paying you to attack Dr. Ikrar? Are you really Aminuddin or some sort of secret agent?

    If you are a real man, then don’t delete this message of mine like you did a couple hours ago.

    • You just did two lies on me. This is the first response from you, I have never deleted any post from you before. You are implying I have been paid to reveal the truth. I am not a secret agent or some sort of FBI agent for that matter. Why would I be jealous to Dr. Ikrar? I have not met him personally. Nor do I have any working relationship with him. It is purely for promoting and up-holding academic integrity, I did all my investigation. I did not attack him personally. I have a deep respect for him because he is my senior in Faculty of Medicine University of Hasanuddin

      • Sepertinya ini makin serius. Terus terang saya tidak ingin meluangkan waktu untuk mengurusi ini karena saya tahu semakin digali lebih dalam kesimpulannya tetap sama “TI tidak bisa dipercaya” dan “banyak manipulasi” yang sepertinya dilakukan untuk menutupi kebohongannya.

        Yang menjadikan masalah ini ‘indah’ adalah TI sepertinya cerdas, memiliki gelar MD, Ph.D sebelumnya sehingga orang-orang mudah percaya ketika dia muncul dengan gelar ‘profesor’ dan ‘dean’ yang diberikan oleh universitas rekaan (fiktif).

        Dia buat universitas imaginer, untuk mendukung kebohongannya (agar dipercaya orang-orang awam), dia membuat website universitas (imaginer), lalu membuat surat penunjukan untuk dirinya sendiri, sebagai profesor dan dean.

        Sayangnya, kita orang-orang umum tidak terbiasa untuk berpikir kritis, ribet, mendalam. Kita mudah percaya, punya positif thinking dengan orang lain, dan tidak pernah membayangkan akan melalukan hal serupa dengan TI. Ketika TI muncul dengan itu semua, kita percaya. Tidak heran saat ditunjukkan bukti-bukti pun tetap banyak yang simpati dan percaya ke dia.

        Masalahnya adalah, tidak semua orang gampang dibohongi, tidak semua orang tidak bisa bahasa inggris, tidak semua orang tidak tahu tentang metodologi penelitian, tidak semua orang tahu mendeteksi website yang fraud/scam, dll.

        Ketika satu persatu orang yang mengerti ini muncul, terbukalah semua, sedikit demi sedikit, dan yakinlah kebohongan ini akan makin terungkap.

        Dr. Aminuddin setahu saya orang yang sangat lurus, sangat bisa dipercaya, rekam jejaknya baik, agamanya baik, salah satu dosen Unhas yang mungkin potensial di masa depan untuk jadi pemimpin di fakultas.

        Kita berterima kasih kepada dr. Amin mau meluangkan waktunya untuk mengurusi ini bukan karena iri, dengki, cemburu atas apa yang dicapai TI. Melihat karakternya, justru dr. Amin-lah yang saya yakin, yang akan pertama mendukung apapun untuk kemajuan Unhas dan para alumninya.

        Ketika kamu menemukan fraud, hal yang tidak benar, kira-kira itu didorong oleh iri, dengki, cemburu atau karena ingin mencari kebenaran, meluruskan demi nama baik universitas?

        Percaya deh, melalui dr. Aminuddin atau bukan, kebohongan ini akan terbuka, mungkin kebetulan saja karena dokter Aminnya memiliki analisa dan pengamatan yang baik sehingga ini bisa lebih cepat terbuka.

        Melihat dari kata-katanya yang kasar, menyerang, menuduh, kira-kira kita lebih percaya dr. Amin atau orang seperti “TruthSeeker” atau “Alamat Gera”? Dan kenapa pula ia berlindung dibalik anonim?

        Curiga mereka orang yang sama, atau setidaknya mereka satu komplotan kriminal. Login logout untuk ganti akun, muncul lagi untuk komentar dengan nama anonim lain.

        Kalau beneran dia benar, saya yakin dia akan bawa pengacara beneran (which is not gonna happen because this is only makes their lies most obviously), muncul di publik, direkam live, dll. Maukah dia? Gak akan!

        Kasihan Dr. Josh Trachtenburg dituduh rasis, dll. Wow…nambah-nambah dosa aja nih orang. Setahu saya, lingkungan universitas itu biasanya dilingkupi oleh orang-orang cerdas, berpendidikan, cara berpikirnya logic tidak melihat kamu berasal dari mana, dll.

        Kira-kira kalau dia benci TI dia akan bilang begini tidak? “he seemed to be a fine electrophysiologist”, itu menyanjung lho, bercerita baik tentang dia, meskipun hanya pernah bertemu singkat dengan TI.

        Yang dia beberkan di atas hanya fakta. Dia dua kali tidak salah mengatakan “this is unfortunate” yang artinya dia sepertinya merasa TI tidak akan melakukan ini (meskipun ternyata dia melakukannya juga tentu saja), merasa menyesal, tidak menyangka TI akan melakukannya.

        Sudah dibaik-baikin sama dr. Aminuddin, oleh Universitas (Unhas) tapi TI masih begini, menutupi fraudnya dengan kebohongan lain, dll saya tidak heran kalau besok-besok ada yang bawa kasus ini ke polisi (melapor atau apalah, yang jelas it’ won’t be me or Dr. Amin yang tidak punya waktu untuk mengurusi ini, masih banyak pekerjaan lain yang lebih penting).

        Bayangin, Panglima TNI dan Wapres dia kibulin, haha.

  10. It looks like Irvan Mubarak is just another alias for Aminuddin, these things are easy to check with software nowadays. Why are you using 2 usernames to share your message with people? It looks like you are the one that is fraud, maybe?

    Dr. Aminuddin, I apologize for being negative towards you, I thought you deleted my post. I just have a big allergy to people who try to attack other people without getting their facts straight. This is the problem with our Indonesian people, rather than supporting each other and trying to understand each other, they talk bad about each other. This is why we are still a 3rd-world poor country dependent on other countries, because we don’t help each other understand truths. Im just frustrated as an Indonesian in America reading about all of this; it makes us look very bad. It is already very difficult for an Indonesian to get ahead in America, with all of the racism that I see now everyday. It makes me angry that our own Indonesian brothers and sisters are also to blame for this.

    For example, there is no reason here to attack one of our brothers, Taruna from University of Hassanudin. Afterall, he is an MD-PhD, has dozens of peer-reviewed research publications, heads a new biotechnology company (BioBlast Discovery) and is now a Dean & Professor in America at a small, new private institution that is less than a year old. Good for him. What is the problem? Where is the proof that he lied about any of these things?

    The only thing you are achieving with your blog post is to make us Indonesians look bad here in America. Please wake up..

    • I am a different person to Irvan Mubarak. From the IP check he is in central java. I checked your IP it is clear that TruthSeeker and Alamat Gera are the same person in California.
      Well, racism in America increases nowadays since President Trump holds the office, may be you need ask his responsibility.
      Dr. Taruna is a fine scientist, nobody deny that.

  11. Bagaimana bisa TruthSeeker atau Alamat Gera ini berfikir bahwa Dr. Aminuddin seorang agen rahasia? Hanya orang yang melakukan perbuatan jahat, curang, atau berniat untuk masuk ke dunia politik dan perlu menaikkan dan menjaga image dan kredibilitas yang mengaitkan semua ini dengan agen rahasia. If you did not do any crimes, then you should not be worried and afraid of any secret service or police.

  12. Sdr Aminuddin, terima kasih untuk investigasinya, sangat membantu kita2 yang berada disini.
    Saya sendiri meragukan beberapa klaim Dr. Taruna yang mungkin tidak terliput dari investigasi sdr Aminuddin:

    1. Klaim title MD (Medical Doctor): beliau mendapat title MD dari institusi mana ? Karena di Amerika, title MD ini sangat prestisius dan hanya beberapa institusi saja yang boleh mengeluarkan title MD. See https://en.wikipedia.org/wiki/Medical_education_in_the_United_States

    2. Klaim patent. Saya tidak menemukan patent atas nama Dr. Taruna Ikrar di google patent search: https://patents.google.com/

    3. Baik website NHU maupun PSHU sangat suspicious. Logonya diambil dari public domain. Silahkan liat di: https://thenounproject.com/term/university/106802/

    Saya kira ada baiknya publik membongkar hal ini agar jelas, dan saya harap Dr. Taruna pun bersedia untuk menjelaskan secara terbuka.

    • Saudara Lam, gelar MD beliau itu dari Fakultas Kedokteran Unhas. Meski secara legal formal agar bisa bisa praktek kedokteran di US harus mengikuti proses yang cukup panjang, tapi sepengetahuan saya beliau tidak praktek. Jadi MD yang beliau pakai adalah translasi dari gelar dokter yang beliau dapat dari Indonesia. Demikian, terima kasih atas infonya

      • Terima kasih untuk penjelasannya.
        Yang menarik bagi saya adalah institusi2 di Indonesia seperti unhas (dimana Dr Taruna menjadi adjunct professor?) dan universitas bosowa (punya MOU dgn PHSU?) koq tidak keberatan dgn kejadian ini ?
        Juga UKP yang memberikan award dan universitas2 lain, koq sepertinya tidak merasa “kecolongan” yah ?

      • Institusi-institusi yang Bapak sebut, saya yakin saat ini sedang meriview kejadian ini dan sebentar lagi akan mengeluarkan pernyataan sikap. Kita tunggu saja

      • Bukan hanya Universitas, dia juga tidak salah menjadi dewan pakar di IDI, ICMI, dll, tapi tidak tahu. Siapa yang bisa menolak seorang yang katanya berprestasi, Ph.D, profesor, katanya memiliki penemuan, katanya nominee Nobel, dll.

        Tidak ada yang salah dengan itu, kita bangga dan senang untuk dia kalau dia tidak mendapatkan itu dengan jujur, tanpa manipulasi, tapi faktanya…

        Dengan kasus ini saya jadi berpikir, bagaimana dengan lulusan-lulusan luar negeri yang lainnya yang ada sekarang? Apakah mereka semua gelarnya bisa dipertanggungawabkan, saya jadi ragu. Mungkin banyak TI-TI lain yang tidak (belum) ketahuan.

        Orang-orang akan mulai curiga dengan mahasiswa yang baru selesai sekolah di luar negeri dengan adanya peristiwa ini.

      • Saya tidak bisa membayangkan bagaimana geramnya guru-guru kita di Unhas dengan peristiwa ini. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana raut wajah mereka mengetahui ini.

      • Ya mereka menyesalkan dan saya kira sangat terpukul dengan episode ini. Saya ikut rapat conference klarifikasi dengan TI kemarin dengan rektor dan beberapa sesepuh/guru besar dan sejawat lain dari FKUH. Kanda TI sudah menyadari kekhilafannya dan berbesar hati untuk melakukan klarifikasi. Mari kita tunggu saja klarifikasi beliau.

  13. Hi! I’m a student-research volunteer contacting you from one of the computer labs that PHSU is using here in Stanislaus County, California. I noticed a couple of our Indonesian labmates talking about some Indonesian blog posts about one of our faculty members, Taruna Ikrar, so I decided to find this & another post to see what the fuss is about.

    I have been here a couple weeks and have not met Taruna Ikrar yet (I heard he went to visit Indonesia), but I forwarded your blog post to our school admin, so that they can do a full investigation of his credentials with the Indonesian authorities. I also shared it with our student advisor; she said she emailed you and the other blogger (Ferizal) already.

    If I find out that Taruna Ikrar is a fake scientist, I will quickly leave this place. I hope everything turns out to be ok. Thank you for your alert.

    Tracy
    Undergraduate Volunteer Research Assistant @ Bioinformatics of Biological-Aging Program

  14. I need to reveal this fact to all readers of this Blog that posts from PHSU administrator, Indonesian Medical Student, TruthSeeker, Alamat Gera, and Tracy aboves are all coming from the same IP Address 76.125.41.56 which is in California. Perhaps they are all different names but is a single person in reality? Because definitely they are using the same computer?

      • Maaf kak, kalau bisa pakai bahasa Indonesia saja. Supaya banyak yang lebih tahu.

        Ya kemungkinan besar mereka (PHSU administrator, Indonesian Medical Student, TruthSeeker, Alamat Gera dan Tracy) orang yang sama, bisa saja:

        – TI sendiri,
        – minta bantuan temannya untuk klarifikasi atau
        – satu komplotan scammer (penipu) yang lain.

        Iya kalau dicek IP Address (alamat komputer yang dipakai online) dia menggunakan jasa internet di Amerika (US) dari California.

        Ikatan Ilmuwan Indonesia (I-4) juga sudah mengeluarkan pernyataan sementara, intinya:

        – Mereka menyesalkan (disengaja atau tidak) kalau TI sudah memberikan pernyataan kalau dia nominee peraih Nobel.

        – Mereka belum yakin apakah gelar prof dan dekan TI valid, PHSU ini bohongan atau bukan, sementara mereka cek dan minta yang lain membantu verifikasi.

        Intinya sih, dari fakta-fakta yang muncul, sedikit demi sedikit terbuka. Yang rajin cek tulisan ini mungkin sudah tahu pendapat saya apa. TI not trustworthy (tidak bisa dipercaya) karena sudah kedapatan 2-3 kali bohong.

        – Bohong dengan mengatakan kalau dia tidak pernah mengatakan kalau dia sebagai nominator penerima Nobel, padahal dia yang mengatakan itu sendiri, ada rekaman videonya jelas.

        – Ketahuan bohong kalau dia kerja di National Health University padahal univ. itu tidak ada bahkan diduga scam, kemungkinan dipakai untuk menarik mahasiswa di Amerika untuk ikut dan membayar sejumlah uang padahal Univ tidak nyata (rekaan), sudah dicek alamat dan nomor teleponnya, semuanya fiktif.

        – PHSU kemungkinan sama dengan NHU, universitas bohongan untuk membenarkan klaim TI sebagai prof dan dekan. Gelar yang ada sebelumnya (MD, PhD) dan gelar bohongan barunya (prof, dekan) dipakai untuk dijual di Indonesia, jadi pembicara dimana-mana, menulis buku, mengisi seminar, bangun klinik, bikin rumah sakit, membentuk komunitas neurosains dll.

        Dan mungkin besok-besok menawarkan terapi semu yang katanya mutakhir atau modern yang belum terbukti efektif, dll.

        Ini bisa dilihat di facebook dan twitternya yang sudah dihapus (dihapus hanya beberapa jam setelah dugaan berita fraudnya tersebar).

        – Di facebook dan twitter berbedar juga bukti kalau TI memalsukan surat penujukan dekan/profesornya, terbukti dengan dua surat yang berbeda tanda-tangannya, kaidah penulisan surat yang salah, dll.

        Boleh search (cari) di Twitter dan Facebook ketik saja “Taruna Ikrar” cari postingan terbaru (Latest).

        Hanya tinggal menunggu waktu sih..

  15. Pak Aminuddin, terima kasih sekali telah memberi penjelasan yang bagus sekali. Thank you very much for your hard work and diligence. I feel so bad for TNI, UGM, and Unhas. I have been searching for the truth from Google about this fake PHSU University for almost one week. Thank you for your blog. God bless you.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s