Oligarki Simbiosis Penguasa dan Pengusaha: kepada Siapa Rakyat Berharap?


Dalam demokrasi, secara prinsip suara atau kehendak mayoritas rakyat adalah perwakilan suara Tuhan. Apa yang diinginkan oleh rakyat betapapun itu radikal berbeda dengan kenyataan, negara- dalam hal ini pemerintah- harus mewujudkannya, karena pemerintah adalah pelayan atau pesuruh rakyat.

Kekuasaan politik dalam demokrasi dibagi menjadi tiga pelaksana yang sering disebut sebagai Trias Politika, yaitu: kekuasaan eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Secara teoretis, ketiga lembaga kekuasaan ini bersifat independen dan berinteraksi untuk cross-check and balance dalam melaksanakan tugas sebagai pelayan rakyat.

Namun pada kenyataannya (De Facto), dalam sebuah negara demokrasi ada unsur lain penentu jalannya sebuah negara, yaitu pemilik modal. Pemilik modal ini bisa bertingkat mulai dari yang memiliki modal yang relatif kecil, sampai yang memiliki modal yang masif. Sering tampak, semakin masif modal yang dimiliki, maka akan semakin besar potensi pengaruh pemilik modal terhadap pemerintah. Tidak bisa dipungkiri, pemilik modal bisa menjadi besar, juga sering karena difasilitasi oleh pemerintah berupa akses ke modal, kontrak kerja, dan perlakuan khusus yang lain. Celakanya, dalam demokrasi pergantian tampuk pimpinan politik adalah sebuah keniscayaan, namun pemilik modal akan tetap bertahan dan berusaha dengan segenap tenaga untuk tetap hidup dan untung.

Usaha untuk bertahan hidup dan menciptakan lingkungan usaha yang menguntungkan, akan mendorong pemilik modal untuk melakukan segala cara untuk mempengaruhi kebijakan dan perundang-undangan. Bagaimana mereka melakukannya?

Pemilik modal membuka pintu masuk ke kekuasaan dimulai saat kampanye pemilihan pimpinan eksekutif dan anggota legislatif. Kampanye pemilihan ini merupakan proses yang mahal dengan segala macam keperluan logistik dan ongkos untuk pergerakan roda partai pendukung. Pemilik modal yang pintar biasanya memberikan dukungan modal yang besar  kepada calon yang memiliki elektabilitas yang tinggi, meski tidak jarang mereka mendukung logistik semua calon dengan jumlah yang berbeda untuk cari aman.

Cara lain untuk mendapat akses ke kekuasaan adalah pemilik modal sendiri turun langsung di gelanggang politik praktis sebagai politisi dengan membuat atau bergabung dengan partai politik. Maka jangan heran, jika begitu banyak pengusaha baik kecil maupun konglomerat menjadi politisi, karena dengan demikian, keamanan modal dan usaha mereka bisa lebih terjamin.

Dengan sistem demokrasilah, terjadilah oligarki simbiosis penguasa dan pengusaha menjalankan kekuasaan atas nama rakyat. Sesungguhnya simbiosis ini tidak melulu bersifat negatif, hanya saja kalau dilandasi oleh motif menguasai ekonomi dan bukan untuk kepentingan rakyat banyak, maka akan melahirkan rejim yang timpang dalam memperjuangkan kesejahteraan rakyat.

Banyak ahli politik yang berpendapat bahwa dalam sebuah demokrasi yang sehat, diperlukan kebebasan pers dan institusi masyarakat sipil berupa organisasi massa yang bersih dari kepentingan politik.  Kedua lembaga non-pemerintah ini diharapakan bisa menjadi pengontrol kekuasaan agar tetap dijalurnya memperjuangkan rakyat kebanyakan. Namun fakta menunjukkan, banyak pers dan media juga dimiliki oleh pemilik modal yang menyebabkan mereka menjadi bias dan berpihak sesuai dengan tujuan pemiliknya. Organisasi massa meski bersifat lebih independen, sering pula ikut menjadi pendukung kekuasaan. Organisasi yang kritis terhadap penguasa bisa menghadapi kebijakan diktatorial yang bermaksud membungkam mereka secara konstitusional. Jadi harapan rakyat akan bertumpu ke mana?

Rakyat mungkin bisa berharap banyak kepada kaum intelektual yang idealis dan agamawan yang ikhlas yang menjauh atau terpinggirkan dari kekuasaan karena idealisme dan keikhlasan mereka. Meski mereka lemah dalam tataran praktis memberi kesejahteraan material kepada rakyat, namun mereka bisa memberi kesejahteraan bentuk lain berupa pikiran dan qalbu yang bahagia karena dekat dengan kebenaran dan Tuhan. Namun tak bisa dipungkiri, kadang perut yang lapar bisa merubah pikiran dan qalbu yang bahagia menjadi pribadi yang lepas kendali dan mudah membuat kerusakan.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s