Pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia: Apa pilihan selanjutnya bagi dakwah HTI?


Pembubaran HTI yang dilakukan oleh Pemerintah melalui Menkopolhukam Wiranto menyebabkan kegaduhan di negeri ini. Ada banyak pro dan kontra atas keputusan tersebut.

Terlepas dari pro dan kontra, keputusan pembubaran tersebut masih bersifat politis. Keputusan pembubaran HTI harus punya dasar hukum karena HTI adalah ormas yang berbadan hukum. Untuk itu diperlukan keputusan pengadilan. Pengadilan tentunya akan menimbang bukti-bukti pelanggaran dan  alasan yang akan  diajukan oleh Pemerintah apakah memenuhi syarat dalam membubarkan ormas HTI. Kita tunggu saja bagaimana drama ini akan berakhir di pengadilan. Di negara ini, konon yang jadi panglima adalah hukum dan bukan politik.

Yang santer didengungkan oleh sebagian kalangan mengenai pembubaran HTI adalah karena mereka ingin mengubah sistem ketatanegaraan Indonesia. Ini kan sebatas wacana HTI yang mereka ajukan berdasarkan pengkajian mereka terhadap Islam. Ini analogi dengan wacana sebagian orang yang ingin mengubah sistem presidensil menjadi sistem parlementer di Indonesia. Dan bahkan eksperimen tersebut sudah pernah dilakukan di Indonesia di awal-awal kehidupan RI. Wacana tentu harus ditantang dengan wacana. Dialog yang terbuka dan kekeluargaan adalah hal yang paling pantas dilakukan oleh pemerintah dengan HTI. Mengenai tuduhan bahwa HTI akan mengubah Pancasila, ini harus dibuktikan di pengadilan. Benarkah demikian? Selama ini, HTI tidak pernah membahas atau menjauhkan diri dari membahas masalah pancasila sebagaimana ormas-ormas lain tidak pernah menjadikan Pancasila sebagai objek utama kajian mereka. Mereka lebih banyak mengawal bagaimana agar undang-undang yang dihasilkan DPR RI tidak melemahkan nilai tawar RI, sebutlah misalnya UU Migas, UU Sisdiknas, dan lain-lain dimana HTI turut memberikan masukan kepada Pemerintah. Mengenai seruan kembali ke kehidupan islam, bukankah semua ormas dan organisasi islam juga menyerukan hal yang sama?

HTI di satu sisi juga harus lebih akomodatif dalam melakukan dakwah politiknya di tengah masyarakat, mengingat bahwa banyak ormas Islam yang tidak sependapat dengan wacana-wacana yang mereka usung. Silaturrahim, dialog dan kebersamaan adalah kunci menyelesaikan ikhtilaf diantara sesama muslim. Kebangkitan Islam tidak akan menjadi hasil kerja individu atau satu organisasi Islam, tapi pada akhirnya adalah merupakan hasil kerjasama dan peran dari semua komponen umat Islam. Masing-masing memperbaiki umat dari berbagai sisi, ada yang menitik beratkan apada aspek tauhid, ibadah, sosial kemasyarakatan, pendidikan, ekonomi, kesadaran politis, sehingga umat pada akhirnya menjadi umat yang bangkit dengan potensi yang kuat.

Lalu apa pilihan dakwah aktivis dakwah HTI pasca pembubaran?

Jauh sebelum HTI menjadi ormas, sesungguhnya organisasi ini sudah aktif melaksanakan dakwahnya di masyarakat. Dakwah HTI tidak bergantung pada statusnya sebagai ormas atau tidak, karena gerakan HTI adalah gerakan pemikiran dan ideologis. Dan di era demokrasi;  pemikiran, wacana  dan interaksi ide-ide ideologis, gagasan politis bukanlah hal yang melanggar hukum. Demokrasi menghargai perbedaan wacana dan pemikiran. Kekuatan sebuah wacana dan interaksi ideologis adalah tergantung seberapa besar ianya mempengaruhi akal, pemikiran, dan hati pendengarnya. Oleh karena itu pembubaran HTI, tidak akan berdampak terhadap dakwah yang mereka perjuangkan. bahkan kegaduhan ini, justeru akan menambah momentum bagi masyarakat untuk mencari tahu apa dan tujuan HTI berdakwah di Indonesia. Ormas atau tidak ormasnya HTI, saya kira tidak mempengaruhi laju dakwah mereka di tengah-tengah masyarakat.

Pilihan lain, atau lebih tepatnya pilihan tambahan buat HTI adalah melakukan improvisasi jalan dakwah dengan mengikuti proses politik praktis di Indonesia. Dengan kata lain, mereka membuka jalan untuk menjadi partai politik yang bertarung di pemilu. Saya kira dengan aktivis dan simpatisan yang banyak, kans mereka untuk meraih suara di pemilu cukup terbuka. Dengan menempuh cara ini, HTI akan berpeluang memperjuangkan aspirasi politiknya dengan cara sedikit inovatif.

Pilihan berikutnya, HTI bisa melakukan metamorfosis core ideology-nya untuk menyesuaikan dengan visi nation state Indonesia. HTI dikenal selama ini sebagai organisasi transnasional dengan aspirasi global. Saya kira wacana dakwah Islam politik dalam wadah NKRI adalah salah satu pilihan. Artinya HTI harus memformulasikan ulang ideologi partainya dalam rangka mencapai tujuan menerapkan Islam sebagai dasar negara bangsa. Ini mungkin sebuah hal yang radikal bagi HTI tapi bisa saja dilakukan. Wallahu a’lam bisshawab.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s