Filosof Yunani kuno, Aristoteles, mengatakan bahwa manusia itu homo politicus yang berarti manusia itu mahluk politik. Dalam Bahasa Inggris manusia juga sering diistilahkan sebagai  political animal. Sebutan ini setidaknya secara sederhana bisa diartikan bahwa manusia, siapapun dia, selalu tertarik dengan urusan politik dan kekuasaan, kenegaraan, dan bagaimana urusan dan kepentingan masyarakat dilaksanakan oleh negara,  bahwa manusia punya ketertarikan secara inheren bagaimana hidup mereka diatur dan bagaimana cara mereka bisa terlibat dalam pengaturan tersebut.

Asumsi bahwa semua orang tertarik dengan politik, atau sedikitnya tertarik berbicara masalah politik boleh jadi benar adanya.  Tapi ini tentu harus dibedakan dengan hasrat atau keinginan terjun ke dunia politik praktis. Terjun ke politik praktis adalah hanya bagian yang sangat kecil dari perwujudan sifat homo politicus ini.

Mengapa saya mengatakan bahwa asumsi manusia sebagai homo politicus itu ada benarnya?
Lihat saja fenomena di masyarakat kita yang senang sekali dengan cerita dan pergunjingan politik, meskipun itu hanya sekedar cerita ringan- ringan alias gosip-gosip belaka. Berbicara politik secara santai  ini tak ubahnya seperti menyantap kudapan ringan yang renyah dan lezat, atau meminum secangkir teh atau kopi hangat yang nikmat. Sebagaimana minum teh atau kopi yang hangat, terlibat dengan cerita atau gosip politik secara ringan ini hanya dinikmati sesaat dan hanya berdampak pada diri sendiri dan lawan bicara. Kesenangan dengan pergunjingan politik ini  yang saya istilahkan dengan homo politicus kelas ringan. Kelas ringan  karena hanya berhenti pada tataran ide dan kata.

Mungkin hampir semua orang pernah menjadi homo politicus kelas ringan ini. Setiap ada berita-berita politik yang hangat, akan membuat kita merasa ingin ikut  berkomentar, menilai apa yang terjadi, membela atau menyerang aktor atau oknum politik tertentu yang terlibat di dalamnya. Kadang tanpa ragu kita dengan percaya diri melakukan analisa dan berdebat sehebat pengamat politik kawakan di media.

Jangan ditanya apa tujuan dan mamfaat ikut nimbrung gosip politik ini, karena sama dengan minum teh atau kopi hangat, nikmatnya tuh di sini! Di kepala dan di hati.  Diantara sekian banyak orang yang minum teh atau kopi hangat, barangkali hanya sedikit yang tahu apa mamfaat dan tujuannya. Yang penting itu adalah nikmatnya.

Nah bagaimana dengan homo politicus kelas berat?
Yang satu ini sama dengan orang yang minum atau memutuskan minum teh atau kopi karena ingin mencapai sesuatu yang besar. Dengan kata lain, dia ingin mencapai tujuan tertentu. Ada orang yang minum teh karena ingin mengambil mamfaat dari antioksidan yang terkandung didalamnya agar bisa sehat dan panjang umur. Ada yang rajin minum kopi karena ingin terhindar dari penyakit diabetes. Ada yang suka minum teh dan kopi karena ingin berkontribusi mensejahterakan petani teh dan kopi.

Kebanyakan yang tercatat dalam sejarah manusia itu adalah tipe homo politicus kelas berat. Yaitu orang-orang yang berbicara masalah politik karena suatu tujuan yang besar. Homo politicus kelas berat ini tidak hanya bicara politik tapi ikut aktif dalam aktifitas politik, meski ini tidaknya hanya boleh diartikan sempit dengan politik praktis, untuk mencapai tujuan yang besar tersebut.

Dalam sebuah masyarakat keberadaan homo politicus kelas berat ini tidak terlalu banyak, dan memang tidak perlu terlalu banyak, karena dengan kebesaran cita-cita dan tujuannya maka dia akan menarik homo politicus kelas ringan untuk naik kelas,  meski tidak mesti naik kelas ke kelas berat.

Homo politicus kelas berat  ini, visi dan tujuannya tidak lantas hanya terbatas pada hal-hal yang mulia saja, namun juga ada yang termotivasi karena alasan yang banal seperti ingin terkenal, masuk koran dan TV, dan tentu saja karena ingin kekayaan tanpa peduli halal atau haram. Homo politicus kelas berat macam ini laksana gulma bagi homo politicus yang bertujuan mulia. Karena mereka laksana gulma, maka seharusnya harus dicabut dengan akar-akarnya supaya tidak mengganggu dan mengkerdilkan visi dan upaya homo politicus yang mulia.

Pertanyaan saya sekarang, apakah Anda seorang homo politicus kelas ringan atau kelas berat?

Apakah Anda homo politicus kelas berat tipe gulma atau mulia?