Institusi yang belajar (learning institution)

Membangun institusi yang efektif bukan perkara yang mudah. Institusi apapun itu, perlu memiliki kemampuan terus menyempurnakan diri sehingga tujuan organisasi bisa dicapai dengan baik. Institusi yang demikian disebut sebagai institusi yang belajar (learning institution).Institusi yang belajar adalah organisasi yang terus bisa mengubah diri untuk tetap efektif dan berpengaruh meskipun dihadapkan dengan perubahan kondisi, tantangan, dan keterbatasan sumber daya yang tersedia. Organisasi ini mampu terus produktif ditengah-tengah tuntutan perubahan lingkungan, laksana sebuah sel hidup yang bisa memperbaharui diri dan memiliki kemampuan menyembuhkan luka dan penyakitnya bila terjadi. Institusi yang belajar selalu bisa memperbaiki diri dengan belajar dari pengalaman, kesalahan, dan kekurangan organisasi yang telah terjadi. Institusi ini tidak malas untuk mengadakan perubahan-perubahan yang dianggap perlu, untuk memperbaiki kinerja dan produktifitas. Organisasi ini mampu mendayagunakan semua sumberdaya yang dimiliki secara sinergis, dan mampu memamfaatkan keunggulan-keunggulan tiap sumberdaya yang dimiliki secara maksimal untuk mencapai tujuan organisasi.

Kepemimpinan yang efektif

Salah satu bagian penting, bahkan utama dari sebuah institusi yang belajar adalah adanya kepemimpinan yang efektif. Kepemimpinan yang efektif adalah kepemimpinan yang memiliki kemampuan dan kekuatan menggerakkan roda organisasi sesuai dengan visi dan misi yang diembannya untuk mencapai suatu hasil dan tujuan yang ditetapkan.

Kepemimpinan yang efektif hanya bisa dilakukan oleh pemimpin yang berpikir, berintegritas dan otoritatif. Pemimpin yang berpikir adalah pemimpin yang mampu mengartikulasikan tujuan organisasi atau institusinya menjadi sebuah visi dan misi praktis yang bisa dicapai (achievable). Oleh karena itu adalah suatu hal yang sangat penting memilih pemimpin yang cerdas secara intelektual dan spiritual. Sesungguhnya kecerdasan seseorang tidak bisa hanya diukur dengan kumpulan ijazah dan sertifikat yang diperoleh. Yang lebih utama dari seorang pemimpin yang cerdas adalah kemampuannya melahirkan gagasan atau ide-ide yang orisinil pada saat dibutuhkan. Ia adalah seorang yang bisa melahirkan gagasan untuk menyelesaikan masalah (problem solver) secara efektif. Ini yang disebut sebagai cerdas secara intelektual. Menyelesaikan masalah secara efektif ini disamping merupakan ciri pemimpin yang cerdas juga merupakan kewajiban dari seorang pemimpin. Karena efektifitas ini sesuatu yang bisa diukur secara kualitatif dan kuantitatif oleh masyarakat, maka keberhasilan seorang pemimpin dinilai sebagian besarnya dari sejauh mana dan seberapa banyak dia bisa menyelesaikan masalah secara cepat dan tepat.

Disaat yang sama, seorang pemimpin yang cerdas juga memiliki kemampuan menilai secara normatif ide-ide atau gagasannya apakah sesuai dengan berbagai norma yang ada di dalam masyarakat, salah satunya yang paling penting adalah norma agama. Inilah yang dimaksud kecerdasan secara spiritual.

Unsur berikutnya yang mesti dimiliki oleh pemimpin yang efektif adalah integritas. Sesungguhnya integritas seorang pemimpin itu sangat dipengaruhi oleh motivasi, niat, dan tujuannya menjadi pemimpin. Ini tentu berada pada ranah personal. Hanya dia seorang yang tahu pasti mengapa dia mau jadi pemimpin, meskipun dia bisa saja menjelaskan tujuan dan niatnya itu kepada publik. Namun karena integritas itu adalah penilaian eksternal dari masyarakat dan pranatanya termasuk hukum, maka integritas dari seorang pemimpin itu melekat erat dengan tindak-tanduk dan kebijakannya. Masyarakat kita sering menilai integritas seorang pemimpin itu secara sempit dengan melihat seberapa bersih dia dari korupsi dan seberapa bersih dia dari skandal moralitas. Ini tentu tidak salah, terlebih lagi masyarakat dan negara kita masih berada dalam deraan kasus-kasus penyelewengan pemimpin berupa korupsi dan skandal moralitas yang menyebabkan perlambatan pembangunan dan ketidakpercayaan masyarakat terhadap institusi pemerintah. Dalam ruang lingkup yang lebih luas, integritas seorang pemimpin itu adalah kemampuannya untuk menempatkan tujuan organisasi atau institusinya di atas kepentingan pribadi dan golongannya dalam menjalankan kepemimpinan dan roda organisasi. Penting juga untuk digarisbawahi bahwa semua itu harus dilakukan dengan tetap berpegang teguh pada aturan hukum dan norma masyarakat.

Setiap kepemimpinan tentu dilengkapi dengan otoritasnya yang melekat. Oleh karena itu setiap pemimpin harus mengetahui dan memahami otoritas yang dimilikinya. Pemimpin yang otoritatif adalah pemimpin yang mampu menggunakan otoritasnya secara penuh dan bertanggungjawab. Otoritas ini harus digunakan secara strategis untuk menggerakkan roda organisasi secara efektif dan mendayagunakan sumberdaya organisasi secara efisien.

Salahsatu otoritas seorang pemimpin adalah memilih jajaran pembantu-pembantu utamanya dalam menggerakan roda birokrasinya. Dia berkewajiban memilih pembantu-pembantu utamanya berdasarkan kompetensi dan meritokrasi, bukan secara feodalistik atau atas dasar suka atau tidak suka (like and dislike). Pemimpin yang efektif juga tidak malas untuk melakukan evaluasi kinerja aparatnya dan tidak segan melakukan perubahan-perubahan jika ekspektasi realistis yang dia harapkan dari pembantu-pembantu utamanya tidak terpenuhi secara optimal. Sistem insentif dan hukuman (reward and punishment) adalah merupakan salah satu alat utama pemimpin yang otoritatif untuk memperbaiki kinerja organisasi.

Kepemimpinan efektif dan jabatan politik

Banyak orang yang pesimistik terhadap kepemimpinan politik dalam suatu institusi. Ini suatu yang wajar ditengah-tengah masih begitu banyaknya pemimpin-pemimpin dalam jabatan politis yang menyalahgunakan jabatan dan otoritasnya. Dengan kata lain banyak pemimpin jabatan politik yang menperlihatkan integritas yang rendah. Tidak sedikit juga pemimpin jabatan politik yang tidak cerdas yang miskin gagasan dan ide-ide orisinil. Banyak pemimpin politik yang gagap menyelesaikan masalah dengan cepat dan tepat. Banyak pemimpin politik yang merupakan hasil transaksi politis yang berkepentingan jangka pendek.

Karena jabatan politik dipilih berdasarkan pilihan rakyat, maka kenyataan banyaknya pemimpin jabatan politik yang tidak efektif memunculkan pertanyaan mendasar, apakah sistem yang kita pakai memilih pemimpin jabatan politik itu sudah benar? Ataukah rakyat pemilih kita yang masih belum tahu memilih pemimpin yang efektif? Ini dua pertanyaan yang cukup sulit untuk dijawab.

Salah satu penyakit demokrasi adalah pemunculan calon-calon pemimpin yang mesti didukung dengan modal finansial yang kuat. Demokrasi sebagian besar memberi peluang kepada pemilik modal dan kepentingan untuk memunculkan calon pemimpin yang sesuai dengan keinginan dan agenda mereka.

Untuk melahirkan pemimpin jabatan politis yang efektif, maka pemunculan tokoh-tokoh pemimpin harus diupayakan sedemikian rupa lepas dari pengaruh kepentingan pemilik modal. Dengan kata lain kita harus melahirkan pemimpin politik secara murah. Untuk itu, kita harus memakai sistem yang memungkinkan pemunculan calon seluas-luasnya tanpa pembatasan (calon independen) kecuali berdasarkan kompetensi, integritas, dan ide/gagasan yang ditawarkan. Yang menjadi pertanyaan adakah sistem yang bisa mengakomodasikan hal yang demikian? Bukankah politik adalah kepentingan?

Tapi mesti kita ingat bahwa kepentingan politik itu akan tunduk dan mengikuti orientasi ideologi yang dipercayai dan diperjuangkan tulus oleh pengemban atau partai. Ideologi yang kuat dan dipercaya kebenarannya oleh partai atau pengembannya akan memunculkan tokoh-tokoh pemimpin yang akan bekerja demi ideologi. Pertanyaannya sekarang, adakah partai-partai sekarang memiliki ideologi yang kuat dan benar yang dipercaya oleh anggota-anggotanya? Adakah ideologi partai yangbetul-betul menempatkan kepentingan dan kesejahteraan rakyat sebagai pilarnya?Adakah masyarakat secara umum punya waktu dan keinginan, serta punya akses yang mudah untuk membaca dan memahami ideologi partai? Adakah anggota partai memahami ideologi partai yang diperjuangkannya?

Wallahu a`lam