Sebentar lagi civitas akademik Universitas Hasanuddin akan melakukan pemilihan rektor baru yang akan dilangsungkan bulan Januari 2014 mendatang. Pemilihan ini akan dilakukan oleh anggota Senat Universitas Hasanuddin. Menteri Pendidikan Nasional juga akan memiliki suara yang siginifikan dalam proses pemilihan ini, karena memiliki kontribusi sebesar 35% suara dihitung dari jumlah suara Senat Universitas. Sampai saat ini sudah terdaftar 6 bakal calon rektor yang selanjutnya akan ditetapkan sebagai calon rektor secara resmi oleh Senat Universitas pada bulan Desember 2013.

logo-unhas

Ayam Jantan dari Timur, Logo Unhas diambil dari http://www.unhas.ac.id/content/lambang-unhas

Sebagai Universitas yang menjadi barometer universitas-universitas yang berada di Kawasan Indonesia Timur, sudah sewajarnya jika Unhas harus terus memberikan contoh dan pengalaman kepada universitas lain termasuk dalam hal penyelenggaraan pemilihan rektor. Tidak jarang, pemilihan rektor di kampus-kampus perguruan tinggi tidak ubahnya pemilihan kepala daerah yang penuh dengan nuansa politis yang kental yang saya kira tidak sehat bagi atmosfir akademik di perguruan tinggi. Oleh karena itu, patut diapreasiasi atmosfir pemilihan rektor kali ini di Unhas yang diawali dengan nuansa yang lebih tenang dan kekeluargaan dari para kandidat dan pendukungnya. Hendaknya hal positif ini terus dipertahankan sampai semua tahapan pemilihan bisa diselesaikan dan menghasilkan rektor yang bisa diterima oleh semua pihak dan seluruh civitas akademik Unhas.

Memilih rektor secara subyektif dan obyektif

Pemilihan rektor yang ideal tentunya harus didasarkan kepada kemampuan dan kompetensi yang dimiliki oleh calon rektor. Semuanya saya kira bisa ditetapkan standarnya secara terukur. Namun perlu juga dimaklumi, preferensi seseorang dalam memilih calon tertentu juga tidak pernah bisa lepas dari subyektifitas anggota senat.

Saya ingin mengulas tentang subyektifitas ini terlebih dahulu. Ada dua hal yang saya kira bisa mempengaruhi subyektifitas seseorang dalam memilih calon. Ini lebih banyak terkait dengan kuantitas dan kualitas interaksi dan komunikasi personal antara calon rektor dan pemilih, dalam hal ini para anggota Senat Universitas Hasanuddin. Yang pertama adalah ditentukan oleh bagaimana seorang calon rektor bisa menempatkan dirinya secara utuh sebagai seorang individu yang memiliki karakter yang khas.  Bagaimana kemampuan seorang calon mengkomunikasikan karakter pribadinya sebagai individu kepada pemilih. Karakter pribadi ini tentunya sangat luas dan mencakup berbagai macam kemampuan, diantaranya kemampuan menjalin dialog dan komunikasi yang baik dengan para pemilih, kemampuan persuasif dan marketing ide-ide yang ditawarkan, dan tentu saja kesantunan dan kesopanan, nilai-nilai religius dan moralitas yang baik. Citra para calon rektor yang ditangkap oleh pemilih sangat tergantung dari proses dialog dan komunikasi ini. Namun jangan lupa tinggalkan pencitraan, yang akhir-akhir ini sering dikonotasikan sebagai hal yang negatif.

Yang kedua adalah ditentukan oleh karakter, nilai, dan pola pikir dan mindset para pemilih. Hal ini sangat bervariasi dari orang ke orang, dan tentunya sangat sulit untuk dikira-kira tanpa ada usaha calon rektor dalam melakukan komunikasi yang baik. Tentu ada pemilih dari anggota senat yang lebih memakai standar religiusitas subyektif misalnya,  karena latar belakangnya yang memang menempatkan nilai-nilai religius adalah yang terpenting. Ada juga pemilih yang mungkin lebih mengutamakan penilaian dari segi kemampuan artikulasi dan komunikasi calon rektor. Mereka lebih menyukai calon rektor yang memiliki kemampuan bicara yang artikulatif, padat dan berisi. Ada pemilih yang mungkin lebih cenderung memilih calon yang memiliki latar belakang akademik yang cemerlang, peneliti yang yang banyak menghasilkan paper atau kertas kerja baik secara nasional maupun internasional. Tak menutup kemungkinan ada pemilih yang menitikberatkan penilaian subyektifnya pada berbagai faktor yang disebut di atas.

Nah, metode dialogis baik secara formal dan informal  dalam memaparkan berbagai program kerja dari para calon rektor adalah cara yang paling tepat dalam mempengaruhi subyektifitas pemilih ini. Oleh karena itu, penting sekali seorang calon rektor untuk menyiapkan diri secara psikologis dan materil dalam memaparkan ide-ide dan program kerjanya. Program kerja yang tertulis tentunya perlu dikomunikasikan secara interaktif kepada pemilih. Oleh karena saya sangat menunggu aktivitas-aktivitas dialogis ini sebagai ajang para calon rektor menampilkan bukan hanya visi, misi dan program kerjanya, namun juga menampilkan diri seutuhnya sebagai seorang individu dan pribadi.

Disamping penilaian yang bersifat subyektif dari para pemilih, penilaian obyektif saya kira merupakan hal yang terpenting dari seluruh rangkaian pemilihan rektor. Karena bersifat obyektif, tentu saja yang jadi standar dan tolok ukurnya adalah sesuatu yang bisa diuji secara kuantitatif dan kualitatif. Yang biasa diuji secara kuantitatif ini biasanya hal yang terkait dengan persyaratan legal formal yang biasanya ditetapkan sebagai kriteria-kriteria tertentu. Sebagai contoh, bisa saja dipersyaratkan bahwa calon rektor sebelumnya telah memangku jabatan dekan di fakultas, bisa pula dipersyaratkan calon rektor memiliki gelar S3, memangku jabatan guru besar, dan sebagainya. Ini semuanya bisa terukur dengan obyektif.

Penilaian secara obyektif kualitatif saya kira bertumpu pada visi, misi, dan program kerja yang ditawarkan beserta kemampuan para calon mengkomunikasikan dan menjelaskannya kepada pemilih. Tentu saja pemilih harus memberikan tantangan dan pertanyaan yang substantif untuk mengklarifikasi, menguji, serta menilai sejauh mana calon rektor yang bersangkutan memahami apa yang ditawarkan untuk memajukan universitas ke depan. Para pemilih juga diharapkan tidak menonjolkan ego sektoral dalam menilai secara obyektif calon rektor, yaitu adanya penonjolan ikatan batin yang berlebihan kepada calon tertentu hanya karena calon berasal dari fakultas yang sama atau karena berasal dari blok anu-kompleks yang sama.

Beberapa pekerjaan rumah besar bagi rektor Unhas yang akan datang

Siapapun yang terpilih menjadi rektor Unhas selanjutnya, diharapkan bisa menakhkodai Universitas ini ke arah yang lebih baik secara lebih cepat. Menurut saya pribadi,  ada pekerjaan rumah besar yang harus diselesaikan oleh rektor Unhas yang selanjutnya, seperti:

1. Bagaimana kebijakan Unhas terhadap isu komersialisasi pendidikan. Isu ini saya kira belum terangkat secara maksimal atau belum menjadi sorotan publik sehingga ada kesan bahwa apa yang dilakukan selama ini sudah ideal. Ini bisa menjadi bom waktu ke depan, jikalau Unhas tidak siap dengan jawaban yang substantif terhadap suara-suara minor dari tengah-tengah masyarakat dan kalangan tertentu tentang  isu komersialisasi pendidikan ini (1, 2, 3, 4). Kita tentu tidak menginginkan akses ke perguruan tinggi hanya diperoleh secara dominan oleh mereka yang berasal dari kalangan yang berduit, sementara dari kalangan menengah ke bawah peluang mereka semakin terjepit.

2. Bagaimana menyelesaikan secara tuntas budaya tawuran yang masih terjadi di Unhas. Budaya ini saya kira harus dihilangkan sama sekali melalui kerjasama dan komunikasi yang konstruktif antara pimpinan universitas dan mahasiswa.

3. Bagaimana kebijakan Unhas untuk meningkatkan jumlah kertas kerja/paper serta buku yang diterbitkan oleh para dosen dan guru besar baik secara nasional dan internasional. Ini tentu suatu tantangan yang kompleks yang melibatkan masalah pendanaan penelitian, peningkatan kualitas SDM para dosen dalam penelitian. Saya kira sistem publish or perish sudah bisa dipertimbangkan untuk diberlakukan. Peringkat Unhas dari tahun ke tahun di lembaga pemeringkatan terpercaya seperti Times Higher Education tidak pernah beranjak dari peringkat ribuan kesekian. Tentu butuh kerja keras seluruh civitas akademik Unhas dan tentu saja dukungan pemerintah.

4. Bagaimana meningkatkan dan mengembangkan IT universitas yang lebih terintegrasi dan dikelola secara profesional dan aman dari segala gangguan. Sudah mesti dipikirkan pengembangan website yang terintegrasi ke semua fakultas, termasuk sistem data dan penilaian mahasiswa, data dosen, dan fasilitas-fasilitas pelayanan yang bersifat online, seperti peminjaman buku maupun jurnal/periodik, pengisian KRS, dan lain-lain. Selama ini terkesan dikelola secara amatir dan asal-asalan. Fakta lucu yang perlu digarisbawahi juga adalah, kebanyakan dosen dan mahasiswa Unhas masih memakai email komersil  seperti Yahoo, Google mail, dan sebagainya dalam kegiatan akademiknya. Ini sungguh ironis dan bertolakbelakang dengan keinginan Unhas untuk menjadi world-class university.

Kecepatan internet di Unhas juga harus ditingkatkan agar bisa memfasilitasi kegiatan belajar mengajar yang lebih baik.

5. Bagaimana meningkatkan pelayanan birokratis dan akademik yang efisien dan efektif. Pelayanan kepada pegawai Unhas dan dosen harus bisa lebih profesional dan cermat, demikian juga pelayanan administratif kepada mahasiswa harus lebih mudah dan cepat, karena ini merupakan ciri kemajuan institusi yang merupakan dasar pelayanan prima.  Jangan lagi pelayanan-pelayanan yang demikian, melestarikan ciri-ciri pelayanan dunia ketiga yang lambat, tidak profesional, dan kadang-kadang korup.  Ini kalau dipelihara hanya akan menghambat kemajuan Unhas sebagai institusi yang terhormat.

Yang saya daftar diatas hanyalah sebagian pekerjaan rumah besar yang menunggu rektor Unhas yang baru ke depan. Siapa pun calon rektor yang akan dipilih setidaknya harus bisa menjawab masalah-masalah di atas serta masalah yang lain secara paripurna dengan konsep yang realistis dan masuk akal.

Akhirnya, saya mengucapkan selamat memilih rektor baru Unhas.