Tulisan saya yang lampau telah membahas secara ringkas tentang perut buncit yang disebabkan oleh penumpukan lemak di bawah kulit perut serta di sekitar organ-organ dalam perut. Penumpukan ini tidak baik bagi kesehatan karena bisa menjadi penyebab terjadinya gangguan metabolik yang diakibatkan oleh terjadinya resistensi insulin.

Lemak yang kita bicarakan di atas sebenarnya adalah jaringan lemak putih (white adipose tissue). Disebut demikian, karena memang warna jaringannya berwarna putih, sebagaimana lazimnya kita lihat pada lemak-lemak yang mendompleng daging yang kita konsumsi.

Tapi tahukah Anda bahwa sebenarnya kita juga punya jaringan lemak coklat (brown adipose tissue) yang warnanya gelap kecoklatan? Penampakan coklat ini diakibatkan oleh banyaknya jumlah pembuluh darah dan mitochondria dibanding jaringan lemak putih[1]. Bagi yang masih ingat pelajaran Biologinya, mungkin masih bisa mengingat bahwa mitochondria adalah organel dalam sel yang berfungsi sebagai pusat pernapasan dan metabolisme zat-zat gizi alias dapur sel untuk memproduksi ATP sebagai sumber tenaga biokimia. Semakin banyak mitochondria sel, maka semakin baik metabolisme sel tersebut dan semakin tinggi daya tahan jaringannya terhadap efek samping reaksi biokimia. Sebagai contoh, pelari maraton memiliki jaringan otot merah pada tungkai bawahnya yang lebih banyak dari pelari sprint/jarak pendek dan orang biasa. Kemerahan ototnya dikarenakan salah satunya oleh kandungan mitochondria yang lebih banyak yang memungkinkan otot pelari maraton lebih kuat dan tahan capek.

Nah, mari kita bicarakan perbedaan fungsi metabolik asasi dari kedua jenis jaringan lemak ini.

Fungsi jaringan lemak putih

Anda mungkin sudah mengetahui fungsi dan tugas jaringan lemak putih (JLP) dalam metabolisme tubuh. Ya benar, JLP ini berfungsi menyimpan kelebihan energi dari makanan yang kita makan sehari-hari dalam bentuk lemak trigliserida untuk digunakan kemudian, ketika suplai energi relatif berkurang. Namun sayang, banyak diantara kita, manusia moderen sekarang ini yang suplai energinya secara kronis (jangka panjang) melebihi energi yang terpakai, sehingga simpanan energi dalam bentuk lemak itu susah berkurang, malah bertambah alias makin gemuk. Ini tidak saja terjadi pada orang dewasa, namun juga pada anak-anak yang masih bertumbuh kembang. Penyebabnya adalah kebanyakan gaya hidup dan lingkungan hidup sehari-hari. Kita semakin banyak makan dan kurang bergerak atau beraktivitas untuk membakar kalori. Dan lebih celakanya lagi, banyak makanan yang tersedia sehari-hari pada zaman moderen ini adalah jenis makanan yang padat kalori, yang merupakan hasil olahan pabrik dalam bentuk instan. Memang rasanya mungkin lebih enak dan praktis, namun kalorinya sangat tinggi tapi justru miskin zat gizi. Coba bayangkan, kandungan energi dari coklat (chocolate bar) per 100 gramnya saja sudah bisa lewat 500 kkal, sementara satu sajian nasi (75-100 gram) hanya sekitar 135 kalori. Untuk makan siang, mungkin kita hanya mengkonsumsi 1-2 saji nasi sudah merasa kenyang, namun kita butuh banyak coklat untuk merasa kenyang, malah tak pernah merasa kenyang berapapun yang dimakan.

Nah, kalau ada orang yang gemuk yang bingung dan mengeluh pada Anda susah menurunkan berat badan, padahal sudah tidak makan nasi atau mengurangi konsumsi nasinya, mungkin sekarang Anda sudah tahu jawabannya, bukan? Ya benar, lihat kudapannya. Banyak orang gemuk yang makan nasinya sedikit atau malah cuma makan nasi sekali sehari, tapi di laci kantornya tersimpan banyak coklat dan makanan ringan lain yang dia konsumsi berkali-kali tanpa merasa bersalah, sambil minum teh manis dan mengetik laporan atau tugas kantornya. Wah, bisa habis sampai 4-5 coklat batang untuk menyelesaikan laporan. Makanya tidak heran jika JLP-nya semakin mengembang. Apalagi ditambah kebiasaan naik becaknya ke kedai untuk membeli coklat, meski jarak yang ditempuh cuma 200 meter!

img_3326[1]

Coklat sambil kerja, gambar diambil dari http://blog.healthyandsane.com

Fungsi jaringan lemak coklat

Sebenarnya ketertarikan para ahli terhadap fungsi jaringan lemak coklat (JLC) pada orang dewasa baru mulai sekitar sepuluh tahun belakangan ini[2]. Dulu dianggap bahwa JLC yang signifikan jumlahnya hanya ada pada janin dan anak bayi yang baru lahir, sementara jumlahnya pada manusia dewasa  dianggap tidak signifikan karena telah mengalami penyusutan. Sebenarnya penemuannya pada orang dewasa pun tidak direncanakan, namun terpantau ketika para ahli berusaha memantau sel kanker atau neoplasma dengan memakai glukosa radioaktif. Sel kanker bisa divisualisasi dengan dengan memakai Positron Emitting Tomography/Computerized Tomography karena menyerap glukosa radioaktif tersebut. Namun ternyata ada jaringan lain selain sel kanker yang juga terdeteksi menyerap glukosa radioaktif tersebut secara sangat aktif dan ternyata terbukti adalah JLC[3].

Nah, berbeda dengan JLP, jaringan lemak coklat berfungsi sebaliknya, yaitu membakar energi untuk menghasilkan panas. Ini bisa dilakukan oleh JLC berkat fungsi gen UCP1 (Uncoupling Protein 1) yang banyak terdapat dalam JLC[1]. UCP1 ini sangat penting untuk pembakaran energi makanan menjadi panas. UCP1 ini salah satu pembeda utama antara JLC dan JLP serta sel-sel lainnya, dan sering dipakai untuk membedakan sel-sel tersebut secara immunohistologis. Kalau sel-sel lain termasuk JLP memproses makanan menjadi energi berupa ATP yang dibutuhkan oleh tubuh untuk semua proses biologis, termasuk dalam membuat dan menyimpan Trigliserida, JLC memproses makanan untuk menjadi panas[4]. Proses menghasilkan panas ini disebut thermogenesis. Thermogenesis ini sangat diperlukan oleh tubuh kita termasuk hewan dalam mempertahankan suhu tubuh ketika berespon terhadap rangsangan suhu dingin.

Coba bayangkan kalau kita bisa memamfaatkan JLC ini secara optimal, mungkin kita bisa sedikit bebas makan apa saja tanpa terlalu khawatir untuk menjadi gemuk. Toh, yang kita makan hanya akan menjadi panas saja.

Nah, para ilmuwan sekarang ini sedang giat-giatnya mempelajari perilaku JLC untuk mencari kemungkinan pemamfaatannya dalam memerangi obesitas atau kegemukan[5, 6]. Meski peran JLC ini masih diperdebatkan,  sekarang telah ada data-data yang cukup menggembirakan meski masih awal tentang mamfaatnya bagi kesehatan metabolisme dan pencegahan obesitas.

Sebuah studi menunjukkan adanya korelasi negatif antara jumlah JLC ini dengan kegemukan pada manusia[7]. Studi ini menunjukkan bahwa indeks massa tubuh yang lebih rendah pada orang yang memiliki jumlah JLC lebih banyak. Studi lain juga menunjukkan bahwa dengan mengaktifkan JLC pada orang dewasa yang memiliki JLC yang kurang jumlahnya atau kurang aktif, mengakibatkan pengurangan massa JLP[8]. Studi ini membuka peluang kemungkinan intervensi medik untuk mengaktifkan JLC untuk melawan kegemukan.

Penelitian tentang peranan dan mamfaat JLC pada hewan malah lebih komplit lagi. Banyak sekali studi yang telah menunjukkan bahwa pengaktifan JLC pada hewan menyebabkan efek anti gemuk meski hewan diberi makanan tinggi lemak. Sebaliknya pengurangan JLC akan menyebabkan berkurangnya pemakaian energi dan membuat hewan coba lebih mudah menjadi gemuk ketika diberi makanan tinggi lemak[6].

Apakah semua orang dewasa memiliki JLC?

Tadi disebutkan bahwa JLC itu lebih banyak terdapat pada janin dan bayi, dan setelah dewasa akan mengalami penyusutan atau regresi. Namun demikian, para ilmuwan sekarang menyadari bahwa JLC ini tetap ada pada orang dewasa dan yang lebih menggembirakan lagi, JLC pada orang dewasa bisa diaktivasi[8]. Ada ilmuwan yang yakin bahwa prevalensi JLC pada orang dewasa adalah 30-100%[9], atau boleh dikatakan hampir sebagian besar orang dewasa mungkin memiliki JLC ini. Dimana saja lokasinya, bisa Anda lihat di gambar skematik dibawah ini. Pada gambar tersebut kita bisa lihat daerah sekitar leher dan di atas tulang selangka (clavicula) adalah daerah JLC yang paling aktif yang direpresentasikan oleh warna yang lebih coklat.

Gambar diambil dari ref. 9

Gambar diambil dari ref. 9

Bagaimana cara mengaktifkan JLC?

Pertanyaan yang paling penting untuk dijawab sebenarnya, apakah berguna pengaktifan JLC ini untuk kesehatan manusia terutama dalam memerangi kegemukan? Saat ini jawabannya masih samar-samar alias tidak jelas. Masih butuh waktu untuk menjawab pertanyaan tersebut. Namun demikian, cukup banyak ilmuwan yang cukup optimistis akan kemungkinan memamfaatkan JLC ini dalam memerangi kegemukan.

Dari berbagai percobaan, JLC pada orang dewasa bisa diaktifkan dengan berbagai cara. Yang pertama dengan memberikan pemaparan hawa dingin pada orang coba. Dalam satu studi pemaparan orang coba dengan suhu 19 derajat Celcius selama dua jam sudah cukup bagi sebagian orang coba untuk mengaktifkan JLCnya dan menyebabkan pengurangan massa JLP[8].

Yang kedua, pengaktifan JLC bisa dengan cara farmakologis dengan berbagai obat. Yang sering diuji adalah golongan perangsang reseptor beta-adrenergik[10] dan berbagai obat-obat lain. Kita masih harus menunggu untuk memastikan apakah obat-obat ini betul bisa bermamfaat bagi manusia dalam mengaktifkan JLC dalam rangka memerangi kegemukan.

Nah, untuk sementara ini saya menyarankan Anda barangkali lebih baik memilih daerah-daerah dingin atau sejuk untuk bertamasya jika ada hari libur. Mungkin saja ada mamfaatnya, namun bisa juga tidak. Tidak ada salahnya mencoba, bukan? Paling tidak bisa menghindari polusi udara kota yang sudah mengkhawatirkan.

Mungkin suatu saat saya akan meminta mahasiswa saya untuk meneliti perbandingan keaktifan JLC ini pada penduduk yang tinggal di pegunungan dan daerah pantai.  Mungkin saja orang-orang yang hidup di daerah pegunungan atau daerah yang sejuk memiliki JLC yang lebih aktif sehingga mereka tidak gampang gemuk dibanding dengan orang yang tinggal di daerah pantai yang  temperatur udaranya lebih panas.  

Daftar Pustaka

1.         Enerback, S., Human brown adipose tissue. Cell metabolism, 2010. 11(4): p. 248-52.

2.         Sacks, H. and M.E. Symonds, Anatomical locations of human brown adipose tissue: functional relevance and implications in obesity and type 2 diabetes. Diabetes, 2013. 62(6): p. 1783-90.

3.         Nedergaard, J., T. Bengtsson, and B. Cannon, Unexpected evidence for active brown adipose tissue in adult humans. Am J Physiol Endocrinol Metab, 2007. 293: p. E444-E452.

4.         Cinti, S., The role of brown adipose tissue in human obesity. Nutrition, metabolism, and cardiovascular diseases : NMCD, 2006. 16(8): p. 569-74.

5.         Zafrir, B., Brown adipose tissue: research milestones of a potential player in human energy balance and obesity. Hormone and metabolic research = Hormon- und Stoffwechselforschung = Hormones et metabolisme, 2013. 45(11): p. 774-85.

6.         Cypess, A.M. and C.R. Kahn, Brown fat as a therapy for obesity and diabetes. Curr Opin Endocrinol Diabetes Obese, 2010. 17(2): p. 143-149.

7.         Cypess, A.M., et al., Identification and importance of brown adipose tissue in adult humans. The New England Journal of Medicine, 2009. 360(19): p. 1509-1517.

8.         Yoneshiro, T., et al., Recruited brown adipose tissue as an antiobesity agent in humans. the Journal of Clinical Investigation, 2013. 123(8): p. 3404-3408.

9.         Nedergaard, J., T. Bengtsson, and B. Cannon, Three years with adult human brown adipose tissue. Annals of the New York Academy of Sciences, 2010. 1212: p. E20-36.

10.        Cypess, A.M., et al., Cold but not sympathomimetics activates human brown adipose tissue in vivo. Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America, 2012. 109(25): p. 10001-5.