Kasus tertangkapnya Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menghentak publik Indonesia. Tiba-tiba semua orang dan media massa ramai berkomentar dan menganalisis dari berbagai macam sudut pandang. Perhatian kita seakan terfiksasi dengan kasus ini untuk sementara sebagaimana kasus-kasus korupsi high profile yang ditangani KPK sebelumnya.

Saya yakin sebagian besar dari kita, kalau bukan semuanya, membenci korupsi. Kita sadar betapa korupsi akan membawa bencana yang besar kepada negara dan masyarakat. Korupsi adalah perbuatan yang sama atau bahkan lebih buruk daripada mencuri dan merampok. Korupsi dilakukan oleh orang diamanahi tanggungjawab untuk tidak korupsi, disumpah untuk menjalankan tugas dan jabatan sejuju-jujurnya. Korupsi merupakan cerminan keserakahan yang tidak terkendali menembus batas-batas moral, hukum dan rasa keadilan masyarakat.

Pertanyaannya sekarang adalah sampai kapan kita akan mengulang-ulang episode seperti ini. Episode keriuhan pengungkapan kasus korupsi selama beberapa saat, yang kemudian akan berakhir seiring berjalannya waktu, hanya untuk menunggu keriuhrendahan dan gegap gempita dari kasus korupsi yang lain? Episode yang menyerupai sinetron-sinetron tv, hanya saja dengan tema yang sama dengan pelakon yang berbeda. Anehnya, kita seakan tidak bosan melihat dan menganalisis kasus per kasus, merangkai cerita dari satu pengamat ke pengamat yang lain, tapi seakan lupa bahwa inti cerita sama saja. Intinya ada orang yang menyalahgunakan jabatan dan kekuasaan untuk kepentingan ekonomi pribadi dan atau orang lain yang merugikan negara dan rakyat bukan saja secara ekonomi, tapi lebih jauh dari itu mematahkan sendi-sendi perikehidupan bernegara dan bermasyarakat.

Satu-satunya alasan kenapa korupsi masih terus tak terkendalikan adalah tidak efektifnya hukuman para koruptor memberikan efek pencegahan kepada orang lain untuk tidak melakukan hal yang sama. Hukuman bagi koruptor sangat ringan dibanding kejahatan yang mereka lakukan. Kita terlalu menyayangi para koruptor yang tidak berhati dan tak punya rasa malu itu.

Ini tentu bertolak belakang dengan hukuman yang kita berikan kepada para tertuduh teroris dan pengedar narkoba yang sering dijatuhi hukuman mati bahkan ditembak di tempat oleh aparat keamanan. Padahal korupsi dalam pandangan saya jauh lebih jahat karena dilakukan oleh orang yang diserahi amanah jabatan yang menguasai hajat hidup orang banyak.

Hukuman yang ideal dan efektif itu memiliki setidaknya tiga ciri. Yang pertama ianya memiliki fungsi kaffarah bagi pelakunya. Fungsi kaffarah ini adalah fungsi penyucian jiwa dan fisik bagi si perilaku. Dalam pandangan Islam, fungsi kaffarah ini akan menghapus dosa pelaku kejahatan, dan menghilangkan azab di hari akhir.

Yang kedua, hukuman itu harus memiliki efek cegah (deterrence) bagi orang lain agar tidak melakukan perbuatan yang sama. Untuk itu, hukumannya harus yang setimpal dan memiliki efek teror. Dalam sudut pandang ini, koruptor sebenarnya layak untuk diberikan hukuman mati. Hanya dengan hukuman semacam ini, insentif untuk menjadi koruptor bisa diperkecil. Dengan tingkat hukuman koruptor yang mayoritas dibawa 10 tahun, maka efek teror tidak ada sama sekali. Mungkin banyak yang malah berpikir, peluang untuk kaya raya dengan bermilyaran uang lebih tinggi dibanding dengan peluang tertangkap oleh KPK. Tertangkap pun hanya kesialan belaka, dan hukumannya juga tak perlu ditakuti.

Yang ketiga, hukuman itu memenuhi rasa keadilan masyarakat. Saya yakin kalau kita mengadakan jejak pendapat kepada masyarakat luas tentang hukuman yang pantas bagi koruptor, sebagian besar masyarakat akan setuju bahwa hanya hukuman mati yang pantas bagi para koruptor kakap.

Oleh karena itu, sudah sewajarnya kita mulai berpikir untuk menerapkan hukuman mati bagi para koruptor. Kita tidak boleh lagi menyayangi para koruptor dengan memberikan hukuman yang sangat ringan. Wacana ini harus segera diangkat dan diimplementasikan sesegera mungkin. Saya yakin dengan memberlakukan hukuman mati bagi koruptor, kasus-kasus korupsi bisa sangat berkurang.