Sebentar lagi masyarakat Makassar akan memilih walikota dan wakilnya. Masyarakat akan memilih salah satu dari sepuluh pasang calon yang telah ditetapkan KPUD. Sungguh Pilwakot yang paling ramai sepanjang sejarah Kota Makassar.

Saya tidak berani mengulas apa keunggulan dan kekurangan masing-masing pasangan calon, karena saya tidak memiliki pengetahuan yang cukup akan kiprah mereka selama ini (track record) dan apa yang menjadi program mereka dalam memimpin Kota Makassar ke depan. Yang paling nyaring terpublikasi adalah jargon-jargon khas pasangan yang bisa dikatakan menjadi ikon-ikon verbal dan simbolisasi dalam kampanye.

Sebagai pemilih, tentunya masyarakat Makassar harus memiliki acuan yang benar dan teruji dalam memilih calon yang terbaik. Laksana memilih telur, kita harus memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar membedakan mana telur yang kualitasnya baik, sedang, atau busuk.Jangan sampai kita hanya melihat kulit luarnya saja yang mengkilap lantas membuat kita memilih telur tertentu. Tidak jarang telur busuk memiliki kulit luar yang mengkilap, apalagi yang sengaja diusap-usap dengan minyak, bukan?
Pendek kata, kita harus menjadi pemilih yang tercerahkan. Oleh siapa/apa? Tentu saja tercerahkan oleh informasi. Tidak gampang menjadi pemilih yang tercerahkan, dan yang pasti sangat susah menjadikan semua pemilih menjadi pemilih yang tercerahkan. Banyak pemilih adalah pemilih emosional, pemilih suka-suka, dan pemilih apatis.

Pemilih emosional adalah pemilih yang digerakkan oleh perasaan dan kurang oleh nalar. Pemilih jenis ini lebih banyak dari kalangan pendukung dekat dari calon. Mereka-mereka yang merasa dekat, teman separtai, teman kerja, hubungan kekerabatan, tim sukses, semua tergolong dari pemilih kalangan ini. Pemilih ini, sebagian besar akan gagal melihat keunggulan visi dan program calon lain bagaimanapun hebatnya. Fungsi nalar mereka sudah hampir tertutup rapat oleh perasaan mereka. Tidak menutup kemungkinan ada juga kalangan rakyat kebanyakan yang masuk golongan ini. Hanya hal-hal yang luar biasa yang bisa membuat mereka akan memilih calon yang lain.

Pemilih suka-suka adalah pemilih yang yang minim menggunakan perasaan dan pikirannya dalam memilih. Mereka cuma memilih secara insidentil saja, dan bisa berubah sedetik sebelum mereka mencoblos.Pemilih jenis ini adalah pemilih yang kebanyakan. Pemilih jenis ini saya kira adalah sasaran kampanye iklan yang paling gampang. Bikin saja iklan-iklan yang keren, menarik, jargon yang menarik perhatian, maka mereka mungkin akan memilih anda. Jangan lupa untuk berpenampilan menarik di depan massa jenis ini.

Pemilih apatis adalah pemilih yang sama sekali tidak menggunakan perasaan dan pikirannya dalam memilih. Pemilih jenis ini biasanya hanya karena terpaksa memilih karena alasan tertentu, seperti karena TPS diadakan di dekat rumahnya, dan malu terlihat oleh tetangga tidak ikut memilih. Yang dia pilih kemungkinan besar adalah calon yang dia ingat, calon yang gambarnya mencolok, atau seribu satu alasan yang lain, bahkan tak memiliki alasan sama sekali.

Bagaimana menjadi pemilih yang tercerahkan?
Menjadi pemilih yang tercerahkan membutuhkan sedikit usaha untuk mencari informasi yang lebih detail. Informasi ini tentu saja informasi yang bisa terakses dipublik, sebagai contoh informasi dari media massa, internet dan lain-lain. Tapi apakah semua informasi itu bisa dan layak dipercaya? Untuk itulah diperlukan sikap kritis pemilih dalam menyaring informasi yang dia dapat dan memilah-milah mana yang betul-betul obyektif atau tidak.
Pada pandangan saya, hal-hal berikut ini bisa menjadi titik perhatian bagi mereka yang ingin menjadi pemilih tercerahkan dalam memilih pemimpin:

1. Rekam jejak calon
Rekam jejak calon adalah unsur yang paling penting dalam penilaian. Calon yang memiliki rekam jejak yang tercemar, akan lebih baik tidak dijadikan pilihan. Mereka-mereka yang memiliki kasus hukum, pernah dihukum, cacat moral harus segera dihapus dari daftar pilihan. Termasuk dalam hal ini adalah, bagaimana rekam jejak kinerja/profesionalitas calon. Kalau dia seorang birokrat, apakah memiliki prestasi yang menonjol, tidak sewenang-wenang, feodal? Kalau dia seorang pengusaha, apakah termasuk pengusaha yang jujur dan tidak menggunakan segala cara untuk memperoleh keuntungan. Kalau dia seorang akademisi, apakah termasuk akademisi dengan prestasi dan kinerja yang andal?

2. Keluarga
Latar belakang dan informasi keluarga calon seringkali bisa memberikan refleksi kepribadian dari sang calon. Biasanya karakter asli atau sifat bawaan seseorang bisa tercermin dari keadaan keluarganya. Keluarga yang harmonis, anak-anak yang tidak disfungsional, mawaddah wa rahmah bisa dijadikan rujukan.

3. Visi dan Program Kerja
Visi dan program kerja yang konfrehensif adalah hal berikut yang perlu dilihat. Untuk menilai apakah visi dan program kerja pasangan calon bermutu atau tidak, perlu diperhatikan hal-hal berikut ini:

a. Apakah visi dan misi sejalan dengan program kerja yang dikampanyekan? Sebut misalnya jika ada visi untuk menjadikan Kota Makassar menjadi nyaman dan asri, tapi tidak ada/kurang program kerja untuk menambah jalan untuk mengurangi kemacetan, tidak disebutkan berapa taman baru yang harus dibuat, tidak ada program kerja mengatasi persampahan Makassar yang maha tak terurus. Ini menunjukkan visi tidak lebih dari jargon saja.
Untuk visi dan misi yang konfrehensif, setiap calon seyogyanya membuat semacam buku manifesto yang menjabarkan visi beserta seluruh program kerja yang akan dilakukan untuk mencapainya. Buku ini tentunya harus bisa diakses oleh umum, kalau perlu dibagikan ke seluruh masyarakat pemilih agar mereka menjadi pemilih yang tercerahkan.

b. Apakah ada timetable atau tolok ukur waktu untuk mencapai visi dan misi tersebut? Tolok ukur waktu ini penting karena jabatan waktunya terbatas. Oleh karena itu menilai apakah program kerja pasangan calon itu bermutu atau tidak, juga bisa dilihat apakah tujuan yang ditetapkan bisa tercapai dalam masa pemerintahannya. Program yang bombastis dan tidak terukur tentunya bisa dinilai dari kacamata pragmatis seperti ini.

c. Apakah program-program yang dikampanyekan bisa dijalankan dengan kemampuan keuangan daerah yang terbatas?

4. Komposisi tim sukses
Kita bisa mengira-ngira bagaimana kualitas visi dan program dari calon pasangan dengan melihat komposisi tim suksesnya. Kalau tim suksesnya lebih banyak berisi orang-orang yang tidak jelas rekam jejaknya, prestasinya, dan kejujurannya, maka sebaik apapun program yang ditawarkan harus diwaspadai. Oleh karena itu rekam jejak tim sukses juga perlu ditelusuri untuk memberikan gambaran yang lebih obyektif.

5. Keterbukaan/transparansi anggaran kampanye
Bukan suatu hal aneh, calon didanai kampanyenya oleh kelompok yang memiliki kepentingan tertentu. Oleh karena itu keterbukaan/transparansi calon juga bisa menjadi tolok ukur dalam memilih calon pemimpin yang bersih dan bertanggungjawab. Pemilih perlu tahu siapa dibelakang calon yang menggelontorkan dana untuk kampanye pemenangan. Karena semua juga tahu, tidak ada makan siang yang gratis.

Disamping jenis-jenis pemilih diatas, masih ada lagi satu jenis pemilih yang memiliki tingkat loyalitas dan rigiditas yang khas. Mereka adalah pemilih yang memiliki seperangkat cara pandang yang membuat mereka akan menggunakan parameter-parameter yang khusus sesuai dengan idealitas yang mereka yakini kebenarannya. Jenis pemilih ini adalah pemilih ideologis. Mereka memiliki cara pandang ideologis yang khas yang tak bisa ditawar dan dikompromikan oleh zaman dan keadaan. Tentu saja mereka akan menilai calon pasangan dari cara pandang ideologisnya, dan sering kemudian mengantarkan mereka untuk golput karena tidak ada satupun calon yang sesuai dengan landasan ideologis yang mereka yakini.