Saya membaca tulisan Prof. Rhenald Kasali, yang diterbitkan di Kompas dan juga diunggah ke Website Rumah Perubahan dengan judul: Rektor-Rektor Administratif. Tulisannya saya kira jauh dari inspiratif dan terkesan patronizing dengan argumen-argumen yang dibumbui tokenisme yang saya kira cukup dangkal. Saya akan jelaskan mengapa demikian.

Beliau mengeluhkan rektor-rektor di perguruan tinggi  negeri di Indonesia sekarang ini yang secara kualitatif menurun dibanding dengan beberapa pendahulu, yang beliau sebut inspiratif dan mampu memimpin perguruan tinggi  yang bersangkutan sebagai barometer perubahan. Hanya saja Rhenald Kasali tidak jelas menyebutkan apa kriteria dia menganggap beberapa mantan rektor   tersebut lebih baik dari rektor-rektor saat ini, di luar cuplikan-cuplikan kiprah dan sepak terjang yang tidak substantif dijelaskan (ini yang saya maksud dengan tokenisme).

Saya kira suatu hal yang lucu, menganggap atau mencap rektor-rektor perguruan negeri sekarang ini sebagai rektor administratif hanya karena alasan mereka tidak menjadi selebriti yang sering tampil di media massa seperti TV dan koran, atau media sosial seperti Twitter, Facebook, dan lain-lain. Saya kira juga bertambah lucunya kalau kita menganggap bahwa rektor-rektor universitas negeri harus memiliki kualitas orasi yang inspiratif dan persuasif seperti pembicara-pembicara motivational yang bertujuan untuk membangkitkan semangat dan menginspirasi pendengarnya agar mereka tidak mengantuk saat mendengar pidato. Pak Rhenald Kasali mungkin lupa, bahwa tidak semua orang dikaruniai kemampuan orasi yang kuat dan berkarakter. Meski hal tersebut bisa dilatih, namun kemampuan alamiah menjadi orator ulung itu sangat menentukan. Saya kira sama dengan kasus, mengapa sebagian orang diberi kecerdasan yang lebih dibanding yang lain.

Saya kira punca dari asumsi Rhenald Kasali adalah ketidaktahuan beliau terhadap kiprah rektor-rektor perguruan tinggi negeri yang begitu banyak di Indonesia. Salah satu sebabnya adalah kurang terangkatnya kiprah-kiprah mereka di media yang bisa diakses oleh orang banyak. Saya kira kita tidak bisa memungkiri bahwa media massa itu sering bias dan selektif dengan berbagai alasannya, dalam mengangkat berita atau tema untuk ditulis atau ditayangkan. Boleh jadi juga Rhenal Kasali hanya sedikit kurang berusaha untuk mencari informasi kiprah-kiprah rektor berprestasi di tanah air, atau dia menetapkan kriteria hanya berdasarkan popularitas dan selebritas saja seperti yang saya sebutkan di atas.

Menurut saya, menilai kualitas seorang rektor itu yang paling utama adalah dari kinerja berdasarkan tanggungjawabnya sebagai seorang rektor. Rektor yang berkualitas adalah rektor yang bisa memimpin institusinya menjadi institusi yang berkualitas yang senantiasa meningkat menurut standar yang bisa terukur. Karena rektor adalah jabatan birokrat administratif sekaligus akademik, maka standarnya tidak jauh dari hal-hal yang demikian. Adapun kiprah diluar hal tersebut saya kira hanya jadi pelengkap saja. Tentu akan menjadi nilai plus jika rektornya bisa sering tampil jadi narasumber di media massa, atau bukunya menjadi best-seller secara nasional, atau bisa membuat organisasi atau gerakan inspirasional yang bertujuan membuat orang banyak lebih produktif, atau memiliki pemikiran yang maju serta progresif. Hanya saya kurang mengerti, apakah rektor juga diperkenankan membuat organisasi sosial atau apapun namanya yang mengelola sumber daya keuangan yang tak ubahnya seperti bisnis atau mendatangkan keuntungan finansial kepada pribadinya.

Di akhir tulisannya, saya menangkap kekecewaan pribadi  Pak Rhenald Kasali yang mungkin sekali beliau rasakan di kampus tempat dia mengajar (UI). Mungkin beliau putus asa melihat kenyataan bahwa sekarang ini, pemilihan rektor tidak ubahnya telah menjadi ajang politis dimana budaya perkoncoan, partisan, dagang kepentingan bertambah parah. Saya kira saya sama putus asanya dengan beliau melihat pemilihan rektor perguruan tinggi negeri sekarang ini nuansa politisnya semakin kental. Friksi antar fakultas/jurusan, calon beserta pendukungnya sudah sampai pada taraf yang mengkhawatirkan. Pola seperti ini saya kira akan melahirkan pimpinan yang partisan yang bisa menyebabkan universitas terpecah dan tidak harmonis.

Jadi masalahnya ada pada mekanisme pemilihan rektor. Ini yang harus diperbaiki, agar pemilihan rektor jauh dari nuansa politik kotor dan didekatkan dengan mekanisme yang bisa melahirkan rektor berdasarkan visi,  dan prestasi kepemimpinannya. Mekanisme yang bisa melahirkan rektor yang tidak berkinerja auto-pilot, inspiratif, dan tidak mainstream seperti yang diharapkan Pak Rhenald Kasali.

Dengan nuansa politis pemilihan rektor seperti sekarang ini yang penuh dengan friksi dan politik perkoncoan, maka kemungkinan terpinggirkannya kandidat potensial atau pihak yang merasa dirinya potensial akan sangat besar terlebih jika mereka tidak menguasai seni permainan politik dalam hal beraliansi dan berkompromi. Orang-orang yang merasa tersisih ini, meminjam istilah Pak Rhenald, akan keluar dan membangun karirnya dari jendela-jendela kecil yang mereka buka sendiri agar mendapat oksigen yang lebih segar.  Orang-orang seperti ini, mungkin adalah orang yang merasa memiliki kompetensi, bahkan lebih, untuk menjadi rektor namun tersisih dari percaturan dunia birokrasi kampus. Sebuah ironi memang.

Saya menangkap adanya self-projection dari bagian akhir tulisan beliau. Suatu hal yang wajar saya kira bagi orang yang memiliki perspektif yang visioner namun kurang bisa menerapkannya dalam tataran praktis di kampus.  Saya kira kekhawatiran beliau punya landasan, dan perlu menjadi pertimbangan pengambilkeputusan di Kemendiknas, perguruan tinggi, dan pemangku amanah sebagai rektor di seluruh Indonesia.