Insiden penyiraman air oleh Ketua DPP FPI bidang Nahi Mungkar Munarman,  ke muka Thamrin Amal Tomagola yang merupakan Sosiolog dari Universitas Indonesia boleh dibilang sangat memalukan dan tidak seharusnya dilakukan oleh aktivis islam sekelas Munarman. Seorang aktivis islam sesungguhnya harus memberikan teladan pengendalian diri dan amarah yang baik bukan malah mengumbarnya melalui kekerasan fisik seperti yang dilakukan oleh Munarman. Terlebih lagi itu dilakukan kepada sesama muslim dan seorang pendidik seperti Saudara Thamrin Amal Tomagola, yang notabene juga jauh lebih tua dari Munarman. Saudara Thamrin ini sejak dulu memang sering mengeluarkan pernyataan-pernyataan kontroversial sebutlah misalnya ketika dia mengatakan bahwa orang Dayak menganggap seks bebas itu hal yang biasa. Dia juga dikenal sebagai pendukung islam liberal dan seringkali komentarnya menyudutkan ormas islam tertentu. Meski demikian kita tetap harus memakai cara-cara ihsan dalam berargumentasi dengannya. Bukan dengan cara kekerasan fisik yang tidak perlu. Toh dia tak mengancam Munarman secara fisik.
Saya yakin, Saudara Munarman hanya khilaf belaka karena kemarahannya yang memuncak. Oleh karena itu sebaiknya dia meminta maaf yang setulus-tulusnya kepada Pak Thamrin Amal Tomagola. Ada baiknya Saudara Munarman merenungkan Firman Allah SWT dalam Surah An Nahl ayat 125:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ [

Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk

Maka berdebatlah dengan santun dan memakai hujjah yang kuat baik secara nash maupun aqli. Kita hanya memiliki kewajiban menyampaikan kebenaran dari Tuhan, tanpa punya kekuatan untuk memberikan hidayah kepada manusia. Hilangkan cara-cara kekerasan dalam berdakwah, karena pemakaian kekuatan (coercive action) adalah domain negara.