Sejak sepuluh tahun yang lalu begitu banyak jurnal-jurnal akademik open access yang bermunculan. Sedikitnya seperempat diantaranya diketahui palsu yang hanya bermotifkan ekonomi. Konsep open-access jurnal yang pada mulanya berniat baik untuk mengurangi biaya penerbitan serta aksesibiltas yang bebas dan mudah bagi seluruh ilmuwan di seluruh dunia akhirnya tercemar oleh ulah sebagian orang-orang yang tak bertanggungjawab.

Namun kita tidak boleh menutup mata bahwa banyak jurnal open access yang bermutu seperti yang diterbitkan oleh Plos dan Biomed, yang memberlakukan peer review yang ketat dan bisa dipertanggungjwabkan secara akademik. Jangan karena kita ingin membunuh tikus, maka lumbung padi yang kita bakar. Jangan karena banyaknya jurnal abal-abal ini, kita kemudian tak mau lagi menerbitkan paper kita di open access journal yang berkualitas baik. Perlu kita sadari malah sekarang ada trend, well established publisher juga sudah mulai menawarkan pilihan open access ini seperti misalnya yang dilakukan oleh Springer Open Access. Tidak ketinggalan pula Nature Publishing Group (Penerbit Jurnal Nature yang terkenal itu) juga telah membuat open access journal yaitu Scientific Reports yang memiliki konsep yang sama dengan jurnal Plos One.

Istilah predatory journal kemudian dipopulerkan oleh Jeffrey Beall seorang pustakawan di Universitas Colorado Denver untuk menamai jurnal-jurnal tak bertanggungjawab ini. Dr. Beall telah membuat sebuah blog yang khusus membahas dan mendaftarkan nama-nama bogus publishing companies and journals yang dianggap sebagai palsu dan hanya bermotifkan uang.

Daftar yang dibuat Beall kian hari kian bertambah. Kini ada sekitar 300 publisher yang terdaftar and is still counting.

Ilmuwan di Tanah air sebaiknya meneliti dengan seksama jurnal-jurnal internasional open access sebelum kemudian menyerahkan manuskrip papernya, mengingat mudahnya peluang menerbitkan paper di jurnal-jurnal yang tak jelas juntrungannya itu. Kebanyakan paper-paper yang dimuat oleh predatory journals itu berasal dari negara-negara berkembang, mengingat kualitas paper yang dihasilkan relatif rendah sehingga banyak yang tergiur untuk menerbitkan di tempat tempat tersebut. Asalkan bayar, maka terbitlah paper tersebut dengan embel-embel internasional. Tentu ini merupakan godaan bagi mereka yang ingin cepat mendapatkan kredibilitas tanpa harus bersusah payah. Ini bisa saja dikarenakan karena kekurangwaspadaan saja atau alasan yang lain yang kita tentu tidak akan tahu, kecuali kalau ada verifikasi dari universitas atau pihak yang berkompeten.

Kementerian Pendidikan Nasional, dalam hal ini universitas-universitas harus mengawasi dan memverifikasi dimana saja para dosennya mempublikasikan kertas kerja ilmiah (paper) mereka sehingga bisa dipastikan kualitas jurnal internasional tempat mereka mempublikasikan. Apalagi saat ini, banyak dosen-dosen yang sepertinya kejar setoran untuk segera menjadi guru besar, mau mengambil mudahnya saja, yang penting berembel-embel internasional langsung tancap gas. Yang menjadi masalah sekarang, bagaimana dengan para guru besar yang meraih gelar kepangkatan tertinggi itu dengan mengambil kredit dari kertas kerja ilmiah mereka di jurnal abal-abal ini? Apakah akan kena sanksi atau teguran?

Tidak gampang memang mengetahui jurnal internasional itu kredibel atau tidak, butuh sedikit usaha dan keinginan kuat menelusuri dan menyelidiki sendiri jurnal-jurnal tersebut, salah satunya mungkin dengan melihat sendiri kualitas paper yang diterbitkan. Tapi sekali lagi susah, apalagi bagi mereka yang baru bergelut dalam penelitian. Untung saja Dr. Beall sudah mendaftarkan sebagian jurnal-jurnal tersebut dan juga mengulas alasan-alasanya, serta orang-orang yang ada dibelakangnya. Anda bisa membaca kriteria-kriteria jurnal palsu menurut Beall di blognya itu. Sebuah blog yang juga dikunjungi oleh banyak ilmuwan dan editor jurnal. Ada diskusi yang hidup pula di bagian komentarnya. Untuk teman-teman dosen bisa mengecek daftar mutakhir nama-nama publisher yang dianggap abal abal ini di sini. Saya sendiri mencoba iseng-iseng mengecek, ternyata ada guru besar Universitas Hasanuddin yang menerbitkan papernya di jurnal abal-abal ini.

Jangan salah, banyak tampilan website dari predatory journal tersebut sangat meyakinkan, bahkan menyerupai jurnal internasional yang kredibel.

Oleh karena itu teliti sebelum publikasi dan tentu saja juga waspada pada saat memakai open access paper sebagai rujukan dalam kertas kerja ilmiah kita.