Surat terbuka untuk Dahlan Iskan dan Dr. Keri Lestari mengenai calon obat herbal/fitofarmaka diabetes dari ekstrak biji buah pala: Sudahkah teruji dengan baik secara keilmuan?


Apa yang mendasari saya menulis surat terbuka ini adalah, pertama, keingintahuan saya akan kebenaran klaim efektivitas calon obat diabetes yang berasal dari ekstrak biji pala yang dikembangkan oleh Dr. Keri Lestari seperti yang ditulis oleh beberapa media dan juga blog Dahlan Iskan. Kedua, Saya ingin memberikan komentar terhadap sebagian data-data, experimental design, serta kesimpulan yang disajikan oleh Dr. Keri dan kawan-kawan dalam paper mereka yang diterbitkan oleh sebuah jurnal open source dari Republik Ceko yang bernama Medical and Health Science Journal. Dalam paper tersebut mereka menguji extrak buah pala yang formulasinya mereka beri nama NuSe.

Sayang sekali, untuk keingintahuan saya akan kebenaran klaim calon obat itu nampaknya kurang bisa terpenuhi, mengingat informasi mengenai uji klinisnya belum ada yang bisa diakses secara umum setidaknya secara online. Tentu kita ingin melihat data-datanya, proses desain studinya secara seksama untuk melihat sejauh mana bahan alam ini bisa dipertanggungjawabkan efektivitasnya dalam menurunkan gula darah pada pasien diabetes. Salah satu alasan utama mengapa sebuah hasil penelitian sebaiknya diterbitkan di journal adalah agar dinilai dan dievaluasi oleh ahli-ahli sebidang secara obyektif. Tanpa evaluasi yang baik dan peer review dari mereka yang memiliki keahlian sebidang dan terkait, maka hasil penelitian bisa dianggap hanya sebatas klaim saja. Bahkan hasil penelitian yang berhasil terbit di jurnal pun, kualitasnya bermacam-macam tergantung kredibilitas jurnal serta reviewernya. Cukup banyak jurnal online yang tidak berkualitas secara ilmiah yang salah satu tandanya adalah tidak terdaftarnya jurnal tersebut dalam established literature database, sebagai contoh misalnya Elsevier, Pubmed, Sciencedirect, dan semacamnya.

Berikutnya saya ingin mengomentari paper Dr. Keri dan kawan-kawan di Jurnal Medical and Health Science. Dari sudut Bahasa Inggris yang digunakan , secara awam saya bisa menangkap cukup sering kesalahan syntax and tata bahasa. Mengingat saya bukan ahli Bahasa Inggris, komentar saya cukup sampai di sini.

Secara substansi, paper Dr. Keri ingin meyakinkan pembaca bahwa ekstrak buah pala punya khasiat untuk menurunkan gula darah pada hewan cobanya yaitu tikus besar (rat) yang diabetesnya diinduksi dengan penyuntikan alloxan. Dengan penyuntikan Alloxan maka akan terjadi kerusakan pada sel beta pankreas yang menghasilkan insulin. Dengan demikian diabetes yang terjadi di sini berpatofisiologi mirip dengan diabetes tipe satu yaitu diabetes yang tergantung insulin (insulin-dependent diabetes mellitus). Menurut saya di sinilah anehnya desain penelitian Dr.Keri dan kawan-kawan. Mereka menggunakan model hewan diabetes tipe satu dalam percobaannya, namun mengektrapolasikan hasilnya untuk diabetes tipe 2 yang tidak tergantung insulin. Pengobatan baku diabetes tipe satu sampai saat ini hanyalah insulin atau transplantasi pankreas. Tidak pernah diabetes tipe 1 diobati dengan agonis PPAR-gamma. Agonis PPAR-gamma seperti troglitazone, pioglitazone hanya digunakan pada pasien diabetes tipe 2.

Diabetes tipe 2 ini kebanyakan disebabkan oleh kegemukan atau obesitas. Oleh karena itu, kalau mau tepat seharusnya Dr. Keri menggunakan tikus gemuk (obese rat) sebagai model penelitian yang bisa didapatkan dengan memberi makan tinggi lemak paling tidak selama 12 minggu. Dengan demikian hasilnya bisa diektrapolasi untuk kasus diabetes tipe 2.

PPAR (peroxisome proliferator activated receptors) adalah merupakan reseptor nuclear. Reseptor nuclear sebagaimana arti namanya, terletak di inti sel. Jadi untuk mengaktifkan receptor ini, maka ligand atau obat harus bisa sampai di inti sel. Sampai saat ini dikenal ada tiga subfamily PPAR ini yaitu PPAR alpha, Delta, dan gamma. Untuk PPAR-gamma, receptornya ini banyak diekspresikan di sel lemak tubuh. Kalau PPAR gamma receptor ini diaktifkan oleh ligandnya seperti obat dari golongan PPAR gamma agonis, maka sel-sel organ-organ pemakai glukosa dalam tubuh seperti sel lemak tubuh, sel otot, dan sel hati akan lebih peka terhadap insulin, efek yang dikaitkan dengan kemampuan obat golongan ini mengurangi proses inflammasi terutama yang terjadi pada sel-sel lemak tubuh. Sel-sel lemak (adipose tissue) pada obesitas yang mengalami inflamasi ringan yang kronik menjadi sumber berbagai zat-zat yang tidak baik bagi kerja insulin. Zat-zat ini seperti misalnya TNF-alpha bisa menyebabkan terhambatnya penghantaran sinyal insulin di receptor insulin sehingga menyebabkan resistensi insulin.

Pada obesitas atau kegemukan, sel sel dari organ-organ pemakai glukosa seperti yang disebut diatas, mengalami resistensi insulin atau menjadi tidak peka terhadap aksi insulin sehingga pengambilan glukosa dari dalam darah menjadi tidak efisien begitu pula metabolismenya menjadi terganggu pada sel otot dan sel lemak, sementara pada sel hati terjadi peningkatan produksi glukosa melalui proses yang disebut gluconeogenesis. Hasilnya akhirnya adalah peningkatan gula dalam darah atau hiperglycemia.
Pemakaian obat-obat yang bekerja mengaktifkan reseptor PPAR gamma pada pasien diabetes mensyaratkan bahwa pankreas masih memproduksi insulin yang cukup secara kuantitatif. Ini yang tidak ada pada penderita diabetes tipe 1, karena sel- sel beta yang memproduksi insulin sudah sangat berkurang atau hilang sama sekali.

Dari paper Dr. Keri, tidak jelas mekanisme bagaimana extrak buah pala itu bisa menurunkan gula darah puasa pada tikus cobanya yang pankreasnya telah rusak. Apa yang saya tangkap adalah, beliau berusaha mengkaitkannya dengan aktivitas PPAR gamma dari ektrak buah pala tersebut. Sebuah hal yang cukup membingungkan, karena patofisiologi atau proses terjadinya diabetes tipe satu dangan tipe dua sangat jauh berbeda. Ini sama dengan pepatah, jauh panggang dari api. Beliau mungkin berasumsi bahwa extrak biji pala tersebut memiliki khasiat meningkatkan sekresi insulin dari sisa sel beta pankreas yang masih ada (meski tidak ada data yang tersedia yang bisa mendukung hal tersebut di papernya), atau efek agonis PPAR-gamma extrak biji pala meningkatkan sensitivitas insulin pada hewan model yang telah rusak pankreasnya? Tidak jelas.

Sebaiknya, penelitian ini terus diperdalam dan di refined. Masih banyak pertanyaan yang perlu digali, misalnya bagaimana mekanisme komponen kimiawi dalam ektrak itu berinteraksi dengan PPAR-gamma receptor. Menggunakan satu parameter saja seperti ligand binding assay tidak bisa menjadi bukti satu-satunya bahwa ligand tersebut secara langsung berikatan dengan PPAR-gamma receptor, terlebih lagi ini hanya dari satu data in vitro. Kalau betul mengaktifkan PPAR-gamma, apakah ini bisa dibuktikan dengan ekspresi gen-gen lain yang ada di downstream PPAR gamma? Ini karena PPAR gamma adalah merupakan gene yang sangat pivotal yang banyak mempengaruhi banyak gen-gen lain yang terlibat dalam peningkatan sensitivitas insulin.

Akhir kata, sebelum extrak ini dipasarkan sebagai obat fitofarmaka atau herbal untuk diabetes tipe 2, seyogyanya harus diuji dengan baik secara ilmiah, dan melibatkan kalau mungkin pengujian klinis multicenter. Ini diperlukan karena banyak implikasi negatif yang bisa timbul baik bagi pasien maupun reputasi BUMN farmasi yang digadang-gadang oleh Pak Dahlan Iskan untuk memproduksi obat ini, jikalau calon obat ini tidak teruji secara meyakinkan. Saya kira lompatan obat ini dari penelitian pre-klinik ke pengujian klinik dan akhirnya diproduksi secara formal sebagai obat terlalu cepat dan terkesan terburu-buru.

Iklan

8 thoughts on “Surat terbuka untuk Dahlan Iskan dan Dr. Keri Lestari mengenai calon obat herbal/fitofarmaka diabetes dari ekstrak biji buah pala: Sudahkah teruji dengan baik secara keilmuan?

  1. Buah Pala dan Standarisasi

    Obviously, sebenarnya penelitian yang semodel dan selevel atau dengan hasil n efikasi lebih baik sudah sangat banyak (namun tidak ada gong atau pemukul gong-nya sekelas Pak Dahlan). Masalahnya, kalau Pak Ochank yang nulis atau saya menulis tidak byk dibaca orang, soalnya Pak Ochank belum jadi menkes (atau saya sendiri belum dipanggil mas dahlan iskan). Standarisasi adalah wajib utk menjadi dasar reprodusibilitas material uji terlebih menjadi herbal terstandar (hewan uji) apalagi fitofarmaka (manusia) Kalau ditanggapi dari aspek standarisasi, saya masih menunggu out put INFORMASI aspek dari standarisasi Ibu Dr. Keri terkait chemical parameter. Kalau tidak, setidaknya dan serendah-rendahnya kadar airnya lah dinyatakan.

    Walau dari aspek farmakologi dan hewan uji pun saya masih menunggu representasi yang cukup dari penelitian tsb terutama kontrol positif yang dipakai. Nevertheless, karena sudah berada di ranah rencana komersial barangkali Ibu Dr. Keri dan tim tidak mempublikasikan hasilnya semua dan menjadi rahasia tim. Bukankah publikasi (berapapun impact factornya) hanyalah by product suatu penelitian, hasil-hasil dan data yang lebih banyak barangkali tidak dipublikasi karena menyangkut patent dan future and soon commercially marketed. Kecuali saya dimintai opini saia agar menjadi tim penelis “fit and proper test” semua data tsb, saya akan bisa menyimpulkan berdasarkan otoritas independen SAIA, terlebih kalau dibayari (uangnya bisa kita pakai masak-masak waktu weekend selepas badminton !).

    Jadi saya belum bisa memberikan opini apapun terkait potensi ekstrak biji pala yang dikatakan berpotensi sebagai obat diabetes tipe II dan kolesterol tsb. Karena mungkin keseluruhan data tidak dipublikasikan.

    The last and also the least, tulisan Pak Amin dan Pak Ochank adalah masukan berharga kalau bisa diupload saja di status atau kompasiana setidaknya. Walau saya sarankan Pak Amin ini buat FB-sendiri lah, siapa tahu nanti akan fans-nya banyak terbentuk jamaah AFC (amin fans club), kan keren …

    Yang jelas kalau daging buah palanya itu diproduksi saya tidak setuju dan akan kritik karena berpotensi membuat orang tidak produktif karena efek sampingnya bikin ngantuk..!

    Kalau jadi beberapa paragraf seperti ini tidak jadi obvious lagi…(*).

    # sambil lihat-lihat out put ilmiah buah pala Ibu Dr. Keri….

    • Terima kasih Pak Aziz atas komentarnya.Kalau kita mengambil contoh bagimana pengembangan sebuah obat yang kalau di AS bisa menelan biaya yang sangat besar dan memakan waktu minimal 15 tahun, kita sudah bisa mengetahui uji klinisnya di paper jauh sebelum bahan tersebut diproduksi komersial. Saya kira kita butuh mencontoh hal tersebut. Mungkin ini bisa diterapkan juga untuk obat herbal atau fitofarmaka yang dikembangkan di indonesia setidaknya hasil uji klinisnya bisa dipublikasikan agar kita tahu bagimana bahan tersebut diuji secara klinis.Mengenai formulasi dan racikannya serta cara ekstraksinya, itu yang perlu dirahasiakan dan dipatenkan. Saya teringat dengan perkataan prof Iwan Darmansjah, seorang farmakolog di UI yang berujar adanya sindrome “ini juga obat” yang merujuk pada mudahnya kalangan tertentu mengklaim sebuah bahan material sebagai obat sebelum ada penelitian yang ekstensif dan mendalam.

  2. Ping balik: Tanggapan atas : Surat terbuka untuk Dahlan Iskan dan Dr. Keri Lestari mengenai calon obat herbal/fitofarmaka diabetes dari extrak buah pala: Sudahkah teruji dengan baik secara keilmuan ? « mappakacinna

  3. Thanks atas pencerahannya. Salut deh untuk bapak-bapak ini. membuat saya yang gak tau apa-apa tentang obat-obatan menjadi sedikit mengerti. kebetulan saya juga diabetisi tapi gak tau tipe yg mana, yg jelas bukan tipe yg kalau luka gak sembuh-sembuh.

  4. Dear Dr. Aminuddin, P Azis, Cak Yudi & all,
    Terima kasih atas tanggapan dan perhatiannya, semua masukan dan tanggapan mengantarkan ingatan saya pada awal masa penelitian biji pala ini. Penelitian ini dimulai sejak tahun 2008 sebagai penelitian untuk disertasi saya dan dilanjutkan sampai saat ini sebagai riset posdoktoral, beberapa bagian penelitian ini merupakan riset bersama (joint research) dengan Yonsei University Korea. Beruntung saya diarahkan oleh para guru/promotor dan beberapa kontributor penelitian yang dapat menjembatani antara aspek teoritik ilmiah dan aspek aplikasinya, sehingga hasil penelitian ini diharapkan dapat diaplikasikan sebagai suatu produk yang bermanfaat untuk pelayanan kesehatan masyarakat. Banyak data yang dikumpulkan dalam kurun waktu tersebut, mulai dari uji pre-klinik yang meliputi uji aktifitas secara in vivo pada hewan coba tikus dan uji in vitro pada cell line cos-7, uji toksisitas yang meliputi uji toksisitas selular pada cell line, uji toksisitas akut pada hewan coba mencit & uji toksisitas sub kronik pada hewan coba tikus, dilanjutkan dengan penelitian formulasi ekstrak, penelusuran senyawa aktif ekstrak, pemisahan safrol dan miristisin dari ekstrak, uji aktifitas formula, uji aktifitas senyawa aktif, uji stabilitas senyawa aktif, uji stabilitas produk (masih berlangsung) dan uji klinik (tahun 2012 telah mendapat persetujuan komite etik penelitian kesehatan serta saat ini masih berlangsung, uji fase 1 dan dilanjutkan dengan fase 2, bekerjasama dengan Fak Kedokteran UNPAD serta bertindak sebagai supervisor penelitian adalah Prof Dr Sri Hartini KS Kariadi, SpPD, KEMD, serta dibawah pengawasan Dr. Hikmat Permana, drSpPD, KEMD).

    Data uji praklinik menunjukkan keamanan dan khasiat ekstrak biji pala sebagai data pendukung untuk saintifikasi ekstrak biji pala sebagai obat herbal terstandar antidiabetes dan antidislipidemia (klaim obat herbal satu step dibawah fitofarmaka yang memerlukan data uji klinik), sehingga jika tim kami di-challenge p Dahlan Iskan untuk dapat launch pada 17 Agustus 2013, maka yg paling mungkin adalah launch sebagai Obat Herbal terstandar, sedangkan untuk fitofarmaka masih harus menunggu uji klinik selesai. Saat ini klaim obat herbal terstandar telah diterima para dokter sebagai dasar untuk rasionalisasi penggunaan obat herbal dalam terapi penyakit. Bahkan para dokter yang terhimpun dalam Perhimpunan Dokter Herbal Medik Indonesia (PDHMI) sangat mendukung penggunaan obat herbal yang telah dibuktikan khasiat dan keamanannya secara preklinik untuk pelayanan kesehatan masyarakat, hal ini mendukung semangat saintifikasi obat herbal Indonesia.

    Rupanya berbagai liku penelitian inilah yang menjadikan masih terbatasnya obat herbal terstandar di Indonesia (jumlahnya saat ini baru sekitar 17 produk OHT), bahkan obat herbal fitofarmaka saat ini baru 6 produk saja dari ratusan bahkan ribuan produk herbal yang beredar di Indonesia (berdasarkan data Kemenkes RI).

    Data yang kami tampilkan di MHSJ, merupakan data pendukung, sedangkan data primer memang belum dipublikasikan secara on line dan kami gunakan untuk data pendukung uji substantif paten yang masih diproses saat ini. Namun data-data primer tersebut secara bertahap telah dipublikasikan dalam beberapa seminar nasional dan internasional sbb :

    1.Keri Lestari, Anas Subarnas, Sri Hartini Kariadi, Andi Wijaya, Trihanggono Achmad, Jae Kwan Hwang, Bareum Kim, Yaya Rukayadi, Ajeng Diantini, Development of Nutmeg (Myristica fragrans Hout) Extracts as a Natural PPAR γ Agonist, The Potential Antidiabetic Agent for The Future Treatment of Type 2 Diabetes, International Seminar on Chemistry 2008, Jatinangor 30-31 Oktober 2008
    2. Lestari K, Subarnas A , Hartini SK, Wijaya A, Achmad TH, Hwang JK, Diantini A, Abdullah R, The Development of Nutmeg (Myristica fragrans) Seeds Extracts a Natural dual PPAR α/γ Agonist, The New Potential Herbal Antidiabetic Medicine for The Treatment of Type 2 Diabetes, The 10th Asian Conference on Clinical Pharmacy (ACCP), Singapore 9-12 July 2010
    3. Keri Lestari, Anas Subarnas, Sri HKS Kariadi, Andi Wijaya, Tri H Achmad, and Jae-Kwan Hwang, The Activities of Nutmeg Seeds (Myrystica frangrans Hout) as A Natural Antihyperglycemic and Antidyslipidemic with Dual Agonist PPAR α/γ Efficacy: A Study Related to The Management of Type 2 Diabetes Mellitus, International Seminar and Expo on Jamu 2010, Bandung 5-6 November 2010
    4. Keri Lestari D, Anas Subarnas, Sri Hartini K, Tri Hanggono A, Andi Wijaya, Saintifikasi Ekstrak Biji Pala (Myristica fragrans Hout.) sebagai Agonis Ganda PPAR γ/α untuk Obat Antihiperglikemik dan Antidislipidemik, Simposium Herbal Medik “Saintifikasi Obat Herbal Dan Aplikasi Kliniknya”, Perhimpunan Dokter Herbal Medik Indonesia, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran dan Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha, 30 April 2011.
    5. Keri Lestari Dandan, Obat Herbal : Tidak Selamanya Aman Digunakan“Herbal Medicine: Efective doesn’t always mean safe”, Forum Diabetes Nasonal V, Perhimpunan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) – Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UNPAD/ RS Dr. Hasan Sadikin Bandung, 17-19 Juni 2011, dalam plenary session ini dicontohkan bahwa meskipun biji pala biasa dikonsumsi masyarakat, namun dalam penggunaannya sebagai obat perlu diperhatikan data toksisitas akut dan sub kronik, sehingga perlu dibuang kandungan safrol dan miristisin dari ekstrak.
    6. Keri Lestari Dandan, Processing Herb and manufacturing Herbal Medicines, Malang Endokrinology Update, Division of Endocrine and Metabolic, Departemnt of Internal Medicine, Brawijaya University, Dr. Saeful Anwar General Hospital, Malang, 20-22 April 2012. Dalam plenary session ini dicontohkan bahwa tidak mudah mencari obat herbal dapat diproduksi secara massal dan terstandar dalam koridor manufaktur, dipaparkan hasil uji preklinik biji pala, stabilitas senyawa aktifnya dan formulasi tablet yang memungkinkan ekstrak ini dimanufaktur.

    Mengenai model hewan coba, kami kembangkan model hewan coba DMT2 dengan induksi aloksan dosis rendah (70mg/kgBB), dosis ini dibawah dosis lazim yang biasa digunakan untuk menginduksi kerusakan pankreas pada model DMT1 (>170mg/kgBB). Dosis rendah yang digunakan dalam penelitian ini tidak dengan serta merta memicu terjadinya kondisi hiperglikemia, kondisi hiperglikemia baru timbul setelah diberikan asupan kalori yang berlebih melalui asupan pakan tinggi lemak dan karbohidrat yang diformulasi khusus di laboratorium pakan Fakultas Peternakan UNPAD, sehingga tikus coba mengalami kondisi obesitas dengan kadar glukosa masil normal dalam beberapa minggu, dan karena asupan tinggi kalori berlanjut, ditambah dengan mengurangi ruang gerak tikus coba, setelah beberapa minggu kemudian barulah muncul kondisi hiperglikemia.
    Hal ini berbeda dengan penggunaan aloksan dosis >170 mg/kg BB, dimana hiperglikemia dapat muncul dalam hitungan 3-7 hari setelah induksi aloksan, dengan pemberian pakan biasa.
    Dengan demikian penggunaan aloksan tidak selamanya menampilkan model DM tipe 1, hal ini tergantung pada dosis aloksan yang digunakan serta pakan yang menyertainya.

    Seperti yang diuraikan Dr. Aminudin, saya sepakat bahwa DMT2 disebabkan adanya beban metabolik yang berlebih, sehingga menyebabkan obesitas dan metabolik sindrome. Selama sel beta pankreas masih bisa mengkompensasi pembentukan insulin berlebih (hiperinsulinemia) untuk mengimbangi kondisi resistensi insulin, maka kadar glukosa darah masih bertahan dalam kondisi normal, meskipun obesitas dan resistensi insulin telah terjadi.
    Jika kondisi ini terus berlangsung, sel beta pankreas akan mengalami dekompensasi sehingga menyebabkan mulai terganggunya toleransi glukosa, yang dikenal juga sebagai kondisi prediabetik, dan jika dekompensasi sel beta pankreas ini berlanjut maka akan mengurangi kemampuan sel beta untuk memproduksi insulin, sehingga muncul kondisi hiperglikemia sebagai manifestasi klinik dari DM tipe 2.

    Maka pemberian pakan tinggi karbohidrat dan lemak pada hewan coba dimaksudkan untuk memberikan beban metabolik yang memicu obesitas dan metabolik sindrom, serta pemberian aloksan dosis rendah hanya untuk memicu dekompensasi sel beta pankreas, sehingga menstimulasi kondisi hiperglikemik. Metoda ini disetujui tim promotor saat itu, telah mendekati prognosis penyakit DMT2, serta telah disetujui oleh komite etik penelitian kesehatan FK UNPAD – RSHS.

    Pada kondisi resistensi insulin pasien diabetes melitus tipe 2, akan mengalami gangguan hiperglikemia dan dislipidemia sekaligus, maka akan sangat menguntungkan jika ada obat yang dapat mengatasi dua kelainan ini sekaligus. Dengan demikian, saat ini di dunia dikembangkan dual agonis PPAR gamma/alfa yang memberikan efek antidiabetes dan antidislipidemia, contohnya pengembangan golongan obat glitazar yang dinyatakan sebagai salah satu golongan obat baru dalam terapi DMT2 dan masih dalam uji klinik fase lanjut. Sebetulnya patut kita berbangga bahwa biji pala sebagai potensi alam Indonesia, menunjukkan mekanisme kerja serupa glitazar yang berpotensi untuk obat antidiabetes dan antidislipidemik alami.

    Untuk informasi lebih detil kami mengundang Dr. Aminuddin dan TS lain, untuk berkomunikasi via email (lestarikd@unpad.ac.id) atau datang langsung ke lab Biokimia Klinik Fak Farmasi UNPAD Jatinangor.

    Semoga kita dapat bersinergi bersama untuk meningkatkan kemanfaatan kekayaan alam Indonesia untuk dipergunakan semaksimal mungkin bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

    Terima kasih atas perhatian TS
    Salam,
    Keri Lestari Dandan

    • Yang saya hormati Dr. Keri Lestari Dandan
      Terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya atas waktu yang diluangkan untuk memberikan penjelasan balik atas surat terbuka saya. Penjelasan atau klarifikasi ini saya kira adalah merupakan bagian dari tanggung jawab ilmuwan atau periset dalam rangka meningkatkan komunikasi dengan teman sejawat terutama yang memiliki persinggungan bidang ilmu. Saya pribadi meyakini bahwa dengan keterbukaan informasi dan obyektifitas dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi akan mengantarkan kita ke level ilmu dan teknologi yang lebih tinggi.
      Saya meyakini bahwa Dr. Keri Lestari dan kawan-kawan telah melakukan berbagai penelitian-penelitian dalam mengklarifikasi efikasi dan keamanan ekstrak biji pala untuk sampai pada kesimpulan tentang manfaat farmakologis estrak biji pala dan keputusan untuk melakukan uji klinisnya. Namun seperti yang Dr. Keri nyatakan, bahwa data-data primer itu masih belum diterbitkan dalam jurnal saat ini, meskipun telah disajikan dalam berbagai pertemuan ilmiah nasional dan internasional.
      Saya menyarankan agar Dr. Keri dan kawan-kawan untuk segera menerbitkan data-data tersebut, terutama data-data uji in vivo pada hewan model yang Ibu jelaskan diatas mengingat data tersebut kemungkinan besar sudah komplit karena Dr. Keri sudah memasuki uji klinis saat ini. Sejauh pengetahuan saya yang cukup terbatas, model hewan DM tipe 2 Ibu merupakan hal yang baru (mohon dikoreksi). Dan penjelasan Ibu juga tidak konsisten dengan data yang disajikan di paper tersebut yang menunjukkan bahwa kondisi hyperglycemia terjadi 72 jam setelah penyuntikan alloxan dengan dosis rendah yang Ibu maksud, tanpa menyebut adanya pemberian makanan tinggi lemak tinggi karbohidrat.
      Selama ini pendekatan ke model hewan DM tipe 2 secara mainstream adalah penciptaan kondisi obesitas baik yang diinduksi dengan pemberian makanan tinggi lemak (high fat diet) yang komposisinya antara 30-60% berat bersih makanannya, atau pendekatan genetik seperti misalnya knock out pada gen-gen tertentu yang menyebabkan kegemukan (antara lain contohnya knock out gen leptin (ob/ob mice) atau reseptornya (db/db) mice).
      Dengan pemberian high fat diet, contohnya pemberian 60% high fat diet pada mice (C57B/L strain) maka dibutuhkan minimal 12 minggu untuk menghasilkan glucose intolerance dan insulin resistance. Kondisi ini tidak perlu upaya apapun untuk merusakkan sel beta pada pankreas.
      Merusakkan sel beta pankreas akan menyebabkan terjadinya hipoinsulinemia relatif yang berpotensi menyebabkan hewan coba untuk mengalami glucose intolerance. Keadaan ini berpotensi menyebabkan tikus tidak akan menjadi gemuk meskipun kemudian diberi makanan tinggi karbohidrat dan lemak seperti yang Dr. Keri laksanakan.
      Oleh karena itu saya mendorong Dr. Keri mempublikasikan data dengan hewan model DM tipe 2 itu, agar kita semua bisa mengkaji apakah benar itu adalah model yang sesuai dengan DM tipe 2. Pada model hewan Dr. Keri, untuk berargumen bahwa itu adalah model DM tipe2 setidak-tidaknya ibu perlu data-data pendukung seperti:
      1. data histologis bahwa tidak semua sel beta pankreas hancur dengan pemberian aloksan dosis rendah yang ibu pakai.
      2. data kadar insulin serum sebelum dan sesudah pemberian aloksan
      3. data kurva berat badan antara kontrol dan hewan model selama pemberian pakan tinggi karbohidrat dan tinggi lemak yang secara kontinyu menunjukkan peningkatan berat badan selama pemberian pakan, serta berat badan yang tidak berbeda dengan hewan kontrol.
      4. data glucose tolerance and insulin tolerance pada hewan coba, yang bisa dilakukan dengan intra-peritoneal glucose tolerance test (IP-GTT) dan intra-peritoneal insulin tolerance test (IP-ITT)
      5. karena estrak biji pala seperti yang ibu tuliskan punya mekanisme kerja pada PPAR gamma receptor, maka secara sederhana saya sarankan perlu pemeriksaan histologis sel lemak (white adipose tissue) seperti epididymal adipose tissue untuk melihat bagaimana ukuran sel lemak. PPARgamma agonist diketahui mekanisme kerjanya dalam memperbaiki insulin sensitivity, salah satunya dengan memperkecil ukuran sel lemak sehingga mengurangi proses inflamasi di sel lemak yang menjadi sumber inflammatory cytokines seperti TNF alpha yang telah dibuktikan menyebabkan resistensi insulin.
      Apabila memungkinkan pemeriksaan ekspresi gen-gen terkait pada sel lemak, hati dan otot akan semakin memperkuat argumentasi Ibu dan kawan-kawan.
      Akhir kata, saya ingin memohon maaf kepada Dr. Keri dan kawan-kawan apabila ada kata dan perbuatan saya yang tidak berkenan berkaitan dengan tulisan saya.
      Saya hanya berprinsip bahwa untuk meningkatkan pengembangan dan ilmu pengetahuan terutama pengembangan obat-obatan herbal dan fitofarmaka kita, diperlukan keterbukaan dan kerjasama lintas sektoral untuk menghasilkan argumentasi keilmuan yang lebih baik.
      Terakhir saya juga mengucapkan terima kasih kepada kawan-kawan lain seperti Dr. Aziz Saifudin, Msc, Apt. dan Akbar Bahar, SSi, Apt. atas dikusi yang mencerahkan selama ini.

  5. Ping balik: Tanggapan atas : Surat terbuka untuk Dahlan Iskan dan Dr. Keri Lestari mengenai calon obat herbal/fitofarmaka diabetes dari extrak buah pala: Sudahkah teruji dengan baik secara keilmuan ? | mappakacinna

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s