Apa yang mendasari saya menulis surat terbuka ini adalah, pertama, keingintahuan saya akan kebenaran klaim efektivitas calon obat diabetes yang berasal dari ekstrak biji pala yang dikembangkan oleh Dr. Keri Lestari seperti yang ditulis oleh beberapa media dan juga blog Dahlan Iskan. Kedua, Saya ingin memberikan komentar terhadap sebagian data-data, experimental design, serta kesimpulan yang disajikan oleh Dr. Keri dan kawan-kawan dalam paper mereka yang diterbitkan oleh sebuah jurnal open source dari Republik Ceko yang bernama Medical and Health Science Journal. Dalam paper tersebut mereka menguji extrak buah pala yang formulasinya mereka beri nama NuSe.

Sayang sekali, untuk keingintahuan saya akan kebenaran klaim calon obat itu nampaknya kurang bisa terpenuhi, mengingat informasi mengenai uji klinisnya belum ada yang bisa diakses secara umum setidaknya secara online. Tentu kita ingin melihat data-datanya, proses desain studinya secara seksama untuk melihat sejauh mana bahan alam ini bisa dipertanggungjawabkan efektivitasnya dalam menurunkan gula darah pada pasien diabetes. Salah satu alasan utama mengapa sebuah hasil penelitian sebaiknya diterbitkan di journal adalah agar dinilai dan dievaluasi oleh ahli-ahli sebidang secara obyektif. Tanpa evaluasi yang baik dan peer review dari mereka yang memiliki keahlian sebidang dan terkait, maka hasil penelitian bisa dianggap hanya sebatas klaim saja. Bahkan hasil penelitian yang berhasil terbit di jurnal pun, kualitasnya bermacam-macam tergantung kredibilitas jurnal serta reviewernya. Cukup banyak jurnal online yang tidak berkualitas secara ilmiah yang salah satu tandanya adalah tidak terdaftarnya jurnal tersebut dalam established literature database, sebagai contoh misalnya Elsevier, Pubmed, Sciencedirect, dan semacamnya.

Berikutnya saya ingin mengomentari paper Dr. Keri dan kawan-kawan di Jurnal Medical and Health Science. Dari sudut Bahasa Inggris yang digunakan , secara awam saya bisa menangkap cukup sering kesalahan syntax and tata bahasa. Mengingat saya bukan ahli Bahasa Inggris, komentar saya cukup sampai di sini.

Secara substansi, paper Dr. Keri ingin meyakinkan pembaca bahwa ekstrak buah pala punya khasiat untuk menurunkan gula darah pada hewan cobanya yaitu tikus besar (rat) yang diabetesnya diinduksi dengan penyuntikan alloxan. Dengan penyuntikan Alloxan maka akan terjadi kerusakan pada sel beta pankreas yang menghasilkan insulin. Dengan demikian diabetes yang terjadi di sini berpatofisiologi mirip dengan diabetes tipe satu yaitu diabetes yang tergantung insulin (insulin-dependent diabetes mellitus). Menurut saya di sinilah anehnya desain penelitian Dr.Keri dan kawan-kawan. Mereka menggunakan model hewan diabetes tipe satu dalam percobaannya, namun mengektrapolasikan hasilnya untuk diabetes tipe 2 yang tidak tergantung insulin. Pengobatan baku diabetes tipe satu sampai saat ini hanyalah insulin atau transplantasi pankreas. Tidak pernah diabetes tipe 1 diobati dengan agonis PPAR-gamma. Agonis PPAR-gamma seperti troglitazone, pioglitazone hanya digunakan pada pasien diabetes tipe 2.

Diabetes tipe 2 ini kebanyakan disebabkan oleh kegemukan atau obesitas. Oleh karena itu, kalau mau tepat seharusnya Dr. Keri menggunakan tikus gemuk (obese rat) sebagai model penelitian yang bisa didapatkan dengan memberi makan tinggi lemak paling tidak selama 12 minggu. Dengan demikian hasilnya bisa diektrapolasi untuk kasus diabetes tipe 2.

PPAR (peroxisome proliferator activated receptors) adalah merupakan reseptor nuclear. Reseptor nuclear sebagaimana arti namanya, terletak di inti sel. Jadi untuk mengaktifkan receptor ini, maka ligand atau obat harus bisa sampai di inti sel. Sampai saat ini dikenal ada tiga subfamily PPAR ini yaitu PPAR alpha, Delta, dan gamma. Untuk PPAR-gamma, receptornya ini banyak diekspresikan di sel lemak tubuh. Kalau PPAR gamma receptor ini diaktifkan oleh ligandnya seperti obat dari golongan PPAR gamma agonis, maka sel-sel organ-organ pemakai glukosa dalam tubuh seperti sel lemak tubuh, sel otot, dan sel hati akan lebih peka terhadap insulin, efek yang dikaitkan dengan kemampuan obat golongan ini mengurangi proses inflammasi terutama yang terjadi pada sel-sel lemak tubuh. Sel-sel lemak (adipose tissue) pada obesitas yang mengalami inflamasi ringan yang kronik menjadi sumber berbagai zat-zat yang tidak baik bagi kerja insulin. Zat-zat ini seperti misalnya TNF-alpha bisa menyebabkan terhambatnya penghantaran sinyal insulin di receptor insulin sehingga menyebabkan resistensi insulin.

Pada obesitas atau kegemukan, sel sel dari organ-organ pemakai glukosa seperti yang disebut diatas, mengalami resistensi insulin atau menjadi tidak peka terhadap aksi insulin sehingga pengambilan glukosa dari dalam darah menjadi tidak efisien begitu pula metabolismenya menjadi terganggu pada sel otot dan sel lemak, sementara pada sel hati terjadi peningkatan produksi glukosa melalui proses yang disebut gluconeogenesis. Hasilnya akhirnya adalah peningkatan gula dalam darah atau hiperglycemia.
Pemakaian obat-obat yang bekerja mengaktifkan reseptor PPAR gamma pada pasien diabetes mensyaratkan bahwa pankreas masih memproduksi insulin yang cukup secara kuantitatif. Ini yang tidak ada pada penderita diabetes tipe 1, karena sel- sel beta yang memproduksi insulin sudah sangat berkurang atau hilang sama sekali.

Dari paper Dr. Keri, tidak jelas mekanisme bagaimana extrak buah pala itu bisa menurunkan gula darah puasa pada tikus cobanya yang pankreasnya telah rusak. Apa yang saya tangkap adalah, beliau berusaha mengkaitkannya dengan aktivitas PPAR gamma dari ektrak buah pala tersebut. Sebuah hal yang cukup membingungkan, karena patofisiologi atau proses terjadinya diabetes tipe satu dangan tipe dua sangat jauh berbeda. Ini sama dengan pepatah, jauh panggang dari api. Beliau mungkin berasumsi bahwa extrak biji pala tersebut memiliki khasiat meningkatkan sekresi insulin dari sisa sel beta pankreas yang masih ada (meski tidak ada data yang tersedia yang bisa mendukung hal tersebut di papernya), atau efek agonis PPAR-gamma extrak biji pala meningkatkan sensitivitas insulin pada hewan model yang telah rusak pankreasnya? Tidak jelas.

Sebaiknya, penelitian ini terus diperdalam dan di refined. Masih banyak pertanyaan yang perlu digali, misalnya bagaimana mekanisme komponen kimiawi dalam ektrak itu berinteraksi dengan PPAR-gamma receptor. Menggunakan satu parameter saja seperti ligand binding assay tidak bisa menjadi bukti satu-satunya bahwa ligand tersebut secara langsung berikatan dengan PPAR-gamma receptor, terlebih lagi ini hanya dari satu data in vitro. Kalau betul mengaktifkan PPAR-gamma, apakah ini bisa dibuktikan dengan ekspresi gen-gen lain yang ada di downstream PPAR gamma? Ini karena PPAR gamma adalah merupakan gene yang sangat pivotal yang banyak mempengaruhi banyak gen-gen lain yang terlibat dalam peningkatan sensitivitas insulin.

Akhir kata, sebelum extrak ini dipasarkan sebagai obat fitofarmaka atau herbal untuk diabetes tipe 2, seyogyanya harus diuji dengan baik secara ilmiah, dan melibatkan kalau mungkin pengujian klinis multicenter. Ini diperlukan karena banyak implikasi negatif yang bisa timbul baik bagi pasien maupun reputasi BUMN farmasi yang digadang-gadang oleh Pak Dahlan Iskan untuk memproduksi obat ini, jikalau calon obat ini tidak teruji secara meyakinkan. Saya kira lompatan obat ini dari penelitian pre-klinik ke pengujian klinik dan akhirnya diproduksi secara formal sebagai obat terlalu cepat dan terkesan terburu-buru.