Sebuah survey yang disponsori organisasi kesehatan dunia WHO dan badan kesehatan AS Centers for Disease Control and Prevention merilis hasil surveynya yang sangat memprihatinkan. Sekitar 67% laki-laki diatas 15 tahun di Indonesia merokok. Ini berarti dua dari tiga laki-laki dewasa merokok di Indonesia.

Sungguh ironis, pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan gagal melawan perusahaan rokok dan para pendukungnya. Pemerintah seakan menutup mata dan pasrah selama ini, atau barangkali membiarkan peracunan masyarakatnya atas nama cukai rokok dan membiarkan dirinya dibully oleh  masyarakat yang mengatasnamakan dirinya petani tembakau. Entah sampai kapan negeri ini akan dikuasai oleh para cukong tembakau? Hanya pemerintah sendiri yang tahu, karena merekalah yang memiliki kekuatan dan kewenangan menghentikan kelewatbatasan ini.

Anehnya, suara masyarakat luas, LSM, mahasiswa-mahasiswa seantero negeri ini seakan bungkam, atau kalaupun ada sangat lirih menentang dominasi iklan rokok yang bertebaran di lingkungan dan media-media. Adakah ini pertanda suara ini dikekang, dikerangkeng, ataukah hanya kalah duit dalam menkampanyekan bahaya rokok ?

Namun yang jelas, siapapun dia yang mencoba melawan angin puting beliung rokok ini akan kalah tanpa dukungan pemerintah. Karena pemerintahlah yang memiliki kekuatan untuk membatasi iklan rokok dan menkampanyekan bahaya rokok secara intensif dan ekstensif, yang memang selama ini absen alias impoten.

Maka saksikan dan tunggulah akibat puting beliung rokok ini pada masyarakat dan negara. Porak-porandanya kesehatan masyarakat luas akibat rokok telah terlihat dan akan semakin dahsyat di masa yang akan datang. Anehnya pemerintah masih lamban meski saya kira mereka tahu statistiknya. Mengapa pemerintah sedemikian kecut, tak bernyali melindungi masyarakatnya dari bahaya rokok? Bukankah masyarakat kita ini masyarakat yang muda, mayoritas penduduknya adalah orang muda yang akan menjadi tulang punggung perekonomian di masa yang akan datang. Kalau masyarakat produktif ini kecanduan tembakau, apa jadinya perekonomian kita di masa yang akan datang.

Kita seakan membunuh diri kita sendiri secara perlahan-lahan.

Inilah negeri para bedebah.