Kanker sampai saat ini masih menjadi momok yang menakutkan baik bagi pasien dan dokter. Harapan kesembuhannya secara umum sangat kecil jika sudah sampai pada tahap lanjut. Bagi pasien, diagnosis kanker bagaikan vonis mati terlebih bagi mereka yang tidak memiliki dana untuk mengakses pengobatan terkini yang sangat mahal. Bagi dokter, Kanker merupakan salah satu penyakit yang memberikan tantangan yang luar biasa dalam mencari obat penyembuhnya.

Namun harapan bagi penderita kanker dan para dokter mungkin bisa dipenuhi oleh Dichloroacetate, satu obat lama yang pertama kali digunakan dalam satu penelitian klinis untuk mengobati penyakit genetis yang sangat jarang yang disebut congenital lactic acidosis dan syndrome MELAS. Pada kedua percobaan klinis tersebut, dichloroacetate memberikan hasil yang tidak memuaskan.

Bagaimana Dichloroacetate membunuh sel kanker?

Sebenarnya obat ini dalam kaitannya dengan pengobatan kanker mendapat perhatian publik yang luas dan juga dari kalangan ilmuwan kedokteran sejak diterbitkannya sebuah penelitian oleh kelompok ilmuwan dari Universitas Alberta Canada tahun 2007 yang dipimpin oleh Doktor Evangelos Michelakis. Dalam laporan penelitian yang diterbitkan di Cancer Cell dibuktikan bahwa Dichloroacetate mampu membunuh sel-sel kanker dalam percobaan in vitro (percobaan dengan memakai sel, jaringan, organisme di luar tubuh mahluk hidup) dan mengecilkan kanker pada tikus besar (rat) yang  ditumbuhkan dengan cara mencangkokkan sel kanker pada binatang tersebut. Dichloroacetate merangsang terjadinya apoptosis atau kematian sel kanker dengan cara mengganggu metabolisme sel kanker. Sel kanker diketahui menggunakan proses glikolisis untuk mempertahankan hidupnya dan memfasilitasi penyebaran baik di jaringan lokal maupun jaringan tubuh yang jauh (metastase). Proses glikolisis pada sitoplasma inilah yang diganggu oleh dichloroacetate dengan cara merangsang metabolisme oksidasi glukosa yang terjadi di mitochondria sel. Pada sel kanker mitochondria mengalami hambatan dalam proses oksidasi glukosa ini. Membaiknya fungsi mitochondria oleh pengaruh dichloroacetate ini, akhirnya bisa membantu dalam proses apoptosis/kematian terprogram sel kanker.

Menyusul hasil eksperimen tersebut, tim Universitas Alberta tersebut berinisiatif untuk melakukan percobaan klinis pada manusia agar mamfaatnya bisa segera diketahui dan dipertanggungjawabkan. Namun sayang sekali bahwa tidak ada satupun perusahaan obat di dunia yang tertarik untuk membiayai penelitian klinis tersebut karena Dichloroacetate adalah obat atau zat kimia yang sudah bebas paten/generik sehingga tidak memberikan potensi keuntungan bagi perusahaan obat. Penelitian klinis yang dilakukan pada banyak pasien dan multi centre di banyak negara sebagai salah satu prasyarat diakuinya suatu obat atau zat kimia untuk pengabatan suatu penyakit membutuhkan biaya yang luar biasa besar. Perusahaan obat tentu tidak mau mensponsori suatu penelitian obat jika tidak memberikan potensi ekonomi bagi mereka. Mengingat obat ini sudah menjadi obat generik, maka peluang bagi kembalinya modal dalam membiayai penelitian kecil. Obat yang sudah masuk kategori generik bisa diproduksi secara massal oleh siapapun tanpa harus membayar royalti kepada perusahaan tertentu.

 Akhirnya tim peneliti tersebut memutuskan untuk mengumpulkan dana dari masyarakat dan lembaga pemerintah untuk melaksanakan penelitian klinis kecil sebagai permulaan (link). Obat ini kalau berhasil dibuktikan efektif pada manusia dalam mengobati kanker, akan bisa menjadi pilihan yang sangat murah dalam melengkapi senjata obat para dokter dalam menyembuhkan kanker. Ditambah lagi ada indikasi bahwa DCA ini bisa dipergunakan pada berbagai jenis kanker karena target kerjanya pada metabolisme sel kanker yang hampir serupa pada sebagian besar sel sel kanker.

Pasien Kanker berani bertaruh nyawa demi DCA

Secara keilmuwan dan legal formal DCA masih belum bisa dijadikan obat dalam menangulangi penyakit kanker sebelum secara meyakinkan dibuktikan efektifitasnya dalam sebuah penelitian klinis yang besar. Butuh biaya besar dan waktu yang lama (lebih dari 10 tahun) untuk melakukan penelitian klinis yang menjadi norma dalam ilmu kedokteran untuk menyetujui suatu penggunaan suatu obat baru.

Namun pasien kanker tentunya tidak punya waktu yang lama untuk menunggu. Mereka setiap hari berjuang untuk tetap bertahan hidup. Ditambah lagi bahwa terapi kanker saat ini begitu mahal bukan saja bagi pasien di negara berkembang tapi juga di negara maju. Berita gembira dari penelitian preklinis dari Universitas Alberta tersebut kemudian memberikan banyak pasien keberanian untuk mencoba DCA tersebut. Bahkan sebuah klinik di Canada yang dijalankan oleh sepasang suami istri (Medicor Cancer Centre) berani memberikan DCA kepada pasien-pasien kanker tahap akhir yang hasilnya menurut saya secara pribadi cukup menjanjikan. Bahkan dua pasien kanker tahap akhirnya mengalami remisi total dari penyakitnya. Di websitenya mereka juga menyajikan data-data serta kasus-kasus pasien kanker yang diobati dengan DCA.

Pasien-pasien klinik tersebut juga datang dari berbagai negara, dimana mereka sudah mendapatkan seluruh pengobatan kanker terkini, namun penyakitnya tetap memburuk. Pilihan pengobatan dengan DCA menjadi harapan baru mereka  meskipun dunia kedokteran masih belum menetapkan efektifitasnya sejauh ini melalui penelitian klinis standar. Bahkan mereka siap menanggung resiko apapun terkait dengan keputusan memakai terapi itu.

Meski kita harus sangat hati hati dalam hal ini, namun apa yang dilakukan oleh klinik tersebut dan kerelaan para pasien kanker tahap akhir tersebut menjadi pasien meski mereka harus membayar, patut diberi apresiasi. Paling tidak ini masih jauh lebih baik dibandingkan dengan pasien-pasien kanker kita di tanah air yang lari ke pengobatan alternatif yang tidak memiliki landasan keilmuwan sama sekali. Kebanyakan pasien kita tidak bisa berpikir kritis dan mau saja membayar mahal terapi pengobatan dukun ala simsalabim atau ramuan-ramuan tertentu yang belum dibuktikan dalam penelitian apapun.

Dichloroacetate: Isu Etika dan Bisnis

Salahkah para pasien kanker tahap akhir tersebut serta dokter yang memberikan DCA kepada mereka? Secara etik dan hukum bisa saja para dokter itu dijerat karena mereka telah memberikan pengobatan yang belum dibuktikan efektifitasnya secara akademik formal melalui penelitian klinis. Pasien bisa dianggap korban malpraktek dalam hal ini. Akan tetapi jika pasien tersebut dengan kesadaran sendiri memilih ikut terapi meski harus membayar, bagaimana? Haruskah mereka menunggu bertahun-tahun selesainya penelitian klinis DCA yang nampaknya juga akan tersendat-sendat karena tidak adanya minat perusahaan obat mensponsorinya, sebelum akhirnya mereka secara hukum bisa mendapatkan terapi yang cukup menjanjikan tersebut? Sementara umur harapan hidup mereka sangatlah terbatas.

Saya kira ini secara etika kedokteran adalah persoalan yang pelik. Mungkin kalau di Indonesia, permasalahan ini sama sekali tidak menjadi masalah mengingat keberadaan pengobatan alternatif dan dukun-dukun berobat yang menawarkan penyembuhan berbagai penyakit berat seperti kanker saja tidak diatur. Pemerintah tidak ambil pusing apakah terapi mereka betul-betul efektif atau hanya menjadi ladang penipuan pasien-pasien yang sudah putus asa. Tapi di negara maju, ini menjadi isu yang sangat besar karena keselamatan pasien dan integritas dunia kedokteran dipertaruhkan. Dalam kasus DCA di atas, banyak sekali kalangan profesional yang sangat menyesalkan adanya dokter yang mau berpetualang apapun alasan yang mendasarinya.

Satu-satunya langkah yang tepat tentunya adalah mempercepat uji klinis dari obat ini untuk mengetahui secara pasti efektifitasnya. Namun secara bisnis obat ini tidak menarik bagi perusahaan obat untuk disponsori. Oleh karena itu di negara maju yang kapitalistis, penelitian klinis DCA ini mungkin akan terhambat.

Pelajaran Berharga dari Kasus

Negara adalah penanggung jawab penuh terhadap segala urusan warga negaranya termasuk masalah pelayanan kesehatan. Adalah tugas negara untuk menyedikan pelayanan kesehatan yang terjangkau bagi semua rakyatnya. Ini tidak berlaku di negara kapitalis seperti AS dimana korporasi dan dunia swasta sangat berperan dalam urusan kesehatan di sana. perdebatan mengenai kebijakan kesehatan nasional  yang terjadi antara kubu Presiden Obama dari Partai Demokrat dan kubu Partai Republik menunjukkan betapa rakyat Amerika  begitu kuatnya dipengaruhi oleh pengusaha dan korporasi. Partai republik yang pro korporasi begitu mati-matian melawan rencana Obama yang ingin memjalankan asuransi kesehatan yang  dijalankan oleh negara yang lebih terjangkau bagi sebagian besar rakyat amerika.

Negara yang dikuasai oleh lobi korporasi akan melahirkan kebijakan-kebijakan yang pro korporasi dan mengabaikan kepentingan orang banyak. Bagaimana segelintir kapitalis di Amerika dengan kekuatan finansialnya bisa memporak-porandakan ekonomi dunia menuju krisis adalah contoh paling konkret bahaya kapitalisme ini bagi kebanyakan orang.

Dengan kapitalisme yang berkuasa, maka harapan untuk mengembangkan penelitian  obat yang murah seperti DCA ini akan jalan di tempat. Perusahaan obat lebih menitik beratkan aspek ekonomi dibanding aspek kemanusiaan di dalam kiprahnya.