Awet Muda dengan Sedikit Makan: Hasil Penelitian


Sebuah Laporan penelitian terbaru di jurnal ilmu pengetahuan Science Volume 325 Bulan Juli 2009 sekali lagi memberikan bukti yang kuat bahwa dengan membatasi jumlah makan (kalori) yang dikonsumsi, daya tahan terhadap penyakit degeneratif dan penyakit terkait ketuaan bisa ditingkatkan serta bisa memberikan efek awet muda baik secara fisiologis maupun secara fisik (=panjang umur).

Pada penelitian tersebut sebanyak 76 kera jenis Rhesus (macaca mulatta) dibagi menjadi dua grup penelitian yaitu satu grup dengan makanan sebebasnya (ad libitum) dan satu grup lagi dengan pembatasan kalori sebanyak 30% dari konsumsi biasa hewan tersebut. Hewan ini selama 20 tahun terus diteliti (1989-2009) dan diawasi baik dari segi timbulnya penyakit terkait ketuaan dan mortalitas (tingkat kematian). Umur harapan hidup rata-rata kera jenis tersebut di dalam laboratorium percobaan sekitar 27 tahun.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama 20 tahun jangka penelitian 37 % kera kontrol yang diberi makan bebas mati akibat penyakit penyakit terkait ketuaan atau penyakit degeneratif (diabetes, kardiovaskular, kanker, atropi otak) dibanding kera dengan konsumsi kalori terbatas sebanyak 13%. Studi ini juga berkesimpulan bahwa kera konsumsi bebas memiliki mortalitas atau tingkat kematian 3 kali lebih besar dibanding kera konsumsi terbatas selama hidup.

Kesimpulan dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa kera konsumsi terbatas memiliki umur fisiologis yang lebih muda dan memiliki daya tahan terhadap penyakit degeneratif yang lebih kuat  dibanding kera kontrol dengan konsumsi bebas padahal umur mereka secara kronologis sebanding. Secara fisik pun kera konsumsi terbatas terlihat jauh lebih muda dibanding kera kontrol seperti yang terlihat dibawah ini. Gambar dibawah adalah foto masa tua kedua kelompok diambil pada kera dengan usia sebanding (rata-rata 27,6 tahun). Perhatikan perbedaannya: kera dengan konsumsi terbatas memiliki tampang dan kondisi fisik lebih muda dan sehat.

perbandingan tampang dan kondisi fisik kera konsumsi bebas (A dan B) dengan kera konsumsi terbatas (C dan D) foto dimabil dari Science vol 325 juli 2009
perbandingan tampang dan kondisi fisik kera konsumsi bebas (A dan B) dengan kera konsumsi terbatas (C dan D) foto dimabil dari Science vol 325 juli 2009

Penelitian ini semakin mengokohkan hasil-hasil penelitian terdahulu baik pada binatang lain maupun pada manusia yang secara umum bisa disimpulkan bahwa dengan konsumsi kalori terbatas (mengurangi jumlah makan) maka baik hewan maupun manusia bisa berumur lebih panjang dan lebih sehat.

Iklan

9 thoughts on “Awet Muda dengan Sedikit Makan: Hasil Penelitian

  1. seperti yang anda tulis berdasarkan penelitian, di alinia terakhir antara lain : “…Penelitian ini semakin mengokohkan hasil-hasil penelitian terdahulu baik pada binatang lain maupun pada manusia yang secara umum bisa disimpulkan bahwa dengan konsumsi kalori terbatas (mengurangi jumlah makan) maka baik hewan maupun manusia bisa berumur lebih panjang dan lebih sehat….”
    kemudian kalau kita kaitkan dengan AKG pada penerapan gizi seimbang (yang mestinya sudah melalui uji materi)kalau konsumsi kalori lebih cenderung menimbulkan obesitas, sebaliknya apabila kurang kalori berakibat kekurangan gizi, lalu pemahaman terhadap tulisan tersebut apabila kita pakai sebagai referensi program diet, posisinya ada dimana..?
    Maaf mas dokter, saya tidak berusaha untuk menilai, karena saya hanya sekedar bisa baca dan berusaha untuk memanfaatkan semua informasi kesehatan yang saya rasakan/pandang legal formal untuk saya pakai sebagai referensi program diet.
    m’kasih.

    • Pak Hari Cahyo Yang baik. Saya kira bapak memiliki critical thinking yang bagus. Kita memang harus membiasakan diri untuk menelaah informasi yang kita terima. Tidak menerima dengan bulat-bulat sebelum mencermati, membandingkan, menkomfirmasinya dengan baik. Pak hari saya yakin adalah orang memiliki latar belakang pendidikan yang baik, sehingga mampu menelaah informasi yang diterima, dan berpikir kritis sebelum menerima suatu informasi.
      Kembali ke pertanyaan.
      Intinya sebenarnya ada pada keseimbangan antara kalori/energi yang masuk dan energi yang digunakan oleh tubuh. Sebenarnya tubuh memiliki kemampuan menyeimbangkan energi yang masuk dan energu yang digunakan dalam jangka panjang. Ini yang disebut energy homeostasis. Jadi kita tidak perlu repot-repot menghitungnya sendiri pak.
      Namun banyak keadaan yang bisa menyebabkan energy homeostasis ini terganggu diantaranya konsumsi lemak jenuh yang berlebihan, kurang aktivitas,dan kegemukan.
      Lantas bagaimana kita menjaga kemampuan energy homeostasis terjaga?
      Salah satu langkah terkait makan adalah mengikuti isyarat tubuh kita sendiri, yaitu rasa lapar. Jangan takut merasakan lapar.
      Lantas bagaimana kita tahu bahwa jumlah makan yang kita makan pada suatu waktu katakanlah pada saat makan siang sdh cukup atau tdk? Apakah rasa kenyang?
      Rasa kenyang sendiri membutuhkan waktu untuk timbul/dirasakan. Rasa kenyang lebih banyak merupakan akibat masuknya makanan ke perut dibanding jumlahnya. Coba Pak Hari lakukan percobaan sederhana seperti ini:
      Bapak menggunakan rasa lapar sebagai isyarat untuk makan. Pada kesempatan pertama setelah marasa lapar tentunya, Pak Hari makan dengan jumlah seperti biasa atau mungkin sampai kenyang.
      Pada kesempatan lain Pak Hari mengurangi 1/3 dari jumlah yang biasa dikonsumsi tersebut, sebagai contoh kalau bapak biasanya makan 1 piring cobalah pada kesempatan kedua makan 1/3 lebih sedikit, jadi 2/3 piring.meski Pak hari mungkin belum merasa kenyang pada saat berhenti makan, Tunggu setengah jam dan bandingkan rasa kenyangnya lagi.
      Rasa kenyang butuh waktu untuk timbul. Kebanyakan dari kita barangkali ingin merasa kenyang sebelum berhenti makan. Ini salah satu faktor yang mendorong seseorang mengkonsumsi makanan lebih banyak dari yang dibutuhkan.
      Muslim barangkali pernah merasakan bahwa pada bulan puasa, meski kita puasa seharian, pada saat buka puasa kita sering cepat merasa kenyang. Ini bagian dari adaptasi tubuh dan menunjukkan bahwa rasa kenyang bukanlah karena jumlah makanan yang kita makan, tetapi karena adanya makanan yang mengandung zat lemak,protein dan karbohidrat yang masuk ke dalam perut kita. Hormon kenyang (kolesistokinin) akan diproduksi dengan masuknya zat gizi ini. Namun butuh waktu untuk merasakan efeknya. Rasa kenyang karena kekenyangan (terkait jumlah makan) lebih diakibatkan oleh efek distensi (efek melar) dinding lambung yang dalam jangka panjang bisa mengakibatkan adaptasi lambung yang berefek pada semakin banyaknya makan seseorang. Pernahkah bapak melihat orang yang gemuk yang makannya tambah gembul?
      Jadi kualitas rasa kenyang karena karena efek hormon kenyang lebih baik dibanding rasa kenyang karena efek distensi lambung (melarnya lambung) karena konsumsi makanan yang banyak.
      oleh karena itu cobalah:
      – makanlah pada saat lapar
      -berhenti sebelum kenyang
      – makanlah dengan mengunyah perlahan-lahan, makan dengan waktu yang cukup (jangan terburu-buru)untuk memberikan waktu agar hormon rasa kenyang memberikan efek rasa kenyang.
      terimah kasih

      NB: Sungguh mulialah Rasulullah yang mengajarkan kepada muslim untuk makan pada saat lapar dan berhenti seblum kenyang

  2. Terimakasih Mas dokter, saya telah menerima informasi yang sangat bernilai mahal dan alhamdulillah.. gratis. sehingga saya yang samasekali tidak mengenal ilmu kesehatan, bisa membayangkan bagaimana proses metabolisme organ lambung, khususnya keterkaitan antara proses timbulnya hormon kenyang dengan efek distensi lambung terhadap timbulnya/terasanya rasa kenyang.
    Kembali pada kesimpulan ulasan anda bahwa “…konsumsi kalori terbatas (mengurangi jumlah makan) maka baik hewan maupun manusia bisa berumur lebih panjang dan lebih sehat…” konotasi dari “kalimat” tersebut diatas kok saya rasakan tidak sama dengan judul tulisan “Awet Muda dengan Sedikit Makan: Hasil Penelitian”
    Saya minta maaf kalau kritik saya ini keliru, karena omong masalah “sedikit makan” pada bulan puasa kemarin saat saya melakukan puasa sampai dengan hari ke 10 yang setiap hari saya pakai joging ringan, penyakit malaria saya kambuh, setelah saya periksakan ke lab, penjelasana petugas lab bilang disebabkan karena fisik saya dalam kondisi lemah. Memang pada saat2 lalu beberapa kali sering kambuh, saya amati dan rasakan karena saya pada saat itu memang “sedikit makan”.
    Apabila tidak menggangu kesibukan Mas dokter, tolong dapatnya penjelasan apa betul kambuhnya malaria saya itu karena asupan makanan yang saya makan kurang?
    terimakasih.

  3. Pak Hari yang baik. Terimah kasih kembali atas tanggapannya.
    Pak Hari benar bahwa judul tulisannya agak membingungkan ya. Yang saya maksud dengan sedikit makan, dan ini bisa dibaca di bagian isi, adalah mengurangi makan dari jumlah biasanya. Saya salah satu yag percaya bahwa banyak sekali orang sekarang ini, makan melebihi kebutuhan tubuhnya karena mereka makan bukan karena lapar tapi karena alasan lain seperti karena sudah waktunya makan, karena kelezatan makanan,mengusir rasa bosan, makan untuk mengasyikkan nonton tv dan alasan-alasan lain. Dengan mengurangi jumlah makan kurang lebih 1/3 nya pada orang yang berat badannya berlebih, akan memeberikan efek positip yang baik. Bagi yang berat badannya sudah dalam kisaran normal (lihat tulisan tentang bagaimana mengetahui berat badan normal di blog ini) agar bisa terus dipertahankan dan mengurangi konsumsi lemak jenuh.
    Mengenai malaria, ada jenis malaria yang memang bisa menjadi kronis, saya tidak tahu apa jenis malaria yang menyerang pak Hari.
    Kata “kondisi bedan lemah” adalah istilah sehari-hari yang teknisnya bisa banyak bentuknya secara medis. Mungkin yang dimaksud petugas lab itu adalah melemahnya daya tahan “imunitas” tubuh sehingga parasit malaria yang masih hidup/bersembunyi dalam tubuh Pak Hari kembali beranak pinak. Penyebab turunnya daya tahan tubuh ini banyak Pak. Bisa jadi karena stress, karena kelelahan tubuh, karena konsumsi makanan yang tidak mencukupi/kurang gizi. Saya kira yang terakhir itu agak kurang peluangnya terjadi, mengingat selama ini tidak ada laporan adanya kekurangan gizi karena puasa.
    Saya sarankan Pak hari untuk konsultasi ke dokter penyakit dalam tropis untuk mengetahui apa betul Pak Hari mengidap malaria yang kronis. Kalau memang benar sebaiknya itu diobati dengan tuntas agar tidak kambuh lagi.
    Untuk mendiagnosis secara pasti malaria, kita tdk bisa hanya berdasarkan gejala klinis, dan pemeriksaan laboratorium biasa pak. Parasit malaria itu harus dilihat langsung ada dalam sel darah merah atau jaringan tubuh yang lain (spt hati umpamanya).
    Jadi sebaiknya lebih baik konsultasi ke dokter ahlinya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s