Konsumsi gula tinggi menyebabkan diabetes?


 

Dalam sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di American Journal of Physiology-Regulatory, Integrative and Comparative Physiology  bulan Agustus 2008, sekelompok ilmuwan dari Universitas Florida Amerika Serikat menyimpulkan bahwa konsumsi fruktosa menyebabkan leptin resistance yang memudahkan terjadinya obesitas dan insulin resistance yang merupakan dua faktor utama penyebab terjadinya diabetes tipe 2. Meskipun percobaan yang dilakukan oleh para peneliti itu dilakukan pada binatang (tikus besar: rat) namun relevansinya terhadap manusia cukup besar,  mengingat bahwa tikus adalah termasuk mammalia seperti halnya manusia, dimana kedua spesies tersebut memiliki persamaan yang cukup tinggi dalam hal struktur dan fungsi tubuhnya baik secara genetis maupun fisiologis.

Perlu anda ketahui bahwa fruktosa adalah jenis karbohidrat yang terkandung dalam gula seperti gula pasir. Dalam penelitian tersebut, mereka membandingkan tikus yang mengkonsumsi diet dengan kandungan fruktosa 60% dengan tikus yang sama sekali tidak mengkonsumsi fruktosa namun dengan kandungan kalori yang sama selama 6 bulan. Mereka menemukan bahwa tikus yang mengkonsumsi fruktosa tinggi jauh lebih mudah menjadi gemuk dibanding tikus yang tidak mengkonsumsi fruktosa setelah kedua kelompok tikus tersebut diubah dietnya menjadi diet tinggi lemak.  Ini diakibatkan karena pada tikus yang mengkonsumsi gula yang tinggi terjadi leptin resistance bahkan jauh sebelum tikus tersebut menjadi gemuk. Leptin adalah hormon yang berfungsi untuk menurunkan nafsu makan dan memicu tubuh untuk menggunakan energi lebih banyak. Pada keadaan leptin resistance tubuh menjadi tidak peka terhadap rangsangan hormon leptin sehingga fungsi hormon menjadi tidak optimal yang mendorong terjadinya obesitas dan gangguan metabolisme tubuh yang lain. Leptin juga turut membantu kerja hormon insulin yaitu hormon yang berfungsi merangsang sel-sel tubuh untuk menurunkan gula darah.

Penelitian tersebut semakin memperkuat dugaan sementara bahwa semakin banyaknya jumlah orang yang mengidap diabetes di seluruh dunia termasuk Indonesia terkait erat dengan semakin meningkatnya konsumsi gula. Pada grafik dibawah yang saya ambil dari American Journal of Clinical Nutrition 2007, tampak jelas secara epidemiologis bagaimana peningkatan konsumsi gula di Inggris dan Amerika Serikat seiring dengan peningkatan obesitas yang merupakan faktor penyebab utama terjadinya diabetes.

 Hubungan peningkatan konsumsi gula dan peningkatan jumlah pengidap diabetesPenelitian pada tikus tersebut menggunakan komposisi fruktosa yang  tinggi yaitu 60 % dari kandungan kalori yang dikonsumsi  tikus jika dibanding dengan konsumsi gula pada manusia yang berkisar antara 10-20% (Di AS konsumsi gula diperkirakan sekitar 16% dari konsumsi kalori rata-rata per hari), namun perlu diingat bahwa konsumsi gula pada manusia boleh dibilang seumur hidup atau kronis sehingga efeknya bahkan bisa lebih besar.

Dari mana saja kita memperoleh konsumsi gula kita? Selain gula pasir, tentu saja kita memperolehnya dari makanan apa saja yang mengandungnya seperti soft drinks, kue-kue atau jajanan yang manis, es krim, gula-gula, jus, dan lain-lain.

Untuk membatasi konsumsi gula tentunya merupakan tantangan yang cukup berat mengingat rasa manis secara insting adalah merupakan favorit manusia, bahkan binatang. Hanya kesadaran akan efek negatif konsumsi gula yang berlebihan, yang bisa membuat seseorang secara sadar mau melakukan pembatasan.

Seberapa banyak gula yang bisa dikonsumsi ? Para ahli kesehatan menganjurkan konsumsi gula tidak lebih dari 10% dari jumlah kalori total yang kita konsumsi per hari.

Di Indonesia kalau kita ambil rata-rata konsumsi kalori sebesar 1700 kcal per hari maka kalori dari gula tidak boleh lebih dari 170 kcal atau setara dengan 8 sendok makan gula pasir. Apakah konsumsi gula anda tidak lebih dari itu? Coba saja anda hitung hitung, untuk minum kopi atau teh pada pagi dan sore hari anda mungkin sudah memakai 3-4 sendok makan, tambah biskuit dan kue, soft drinks, es krim, dan snack manis lainnya?

Untuk penjelasan lanjut tentang hubungan konsumsi fruktosa dan kegemukan bisa dibaca di tulisan ini.

Bisakah anda mengurangi jumlah konsumsi gula?

Iklan

24 thoughts on “Konsumsi gula tinggi menyebabkan diabetes?

  1. fruktosa itu gula dari buah kaleee……..bukan dari gula pasir, yg gula pasir itu namanya sukrosa bung.
    fruktosa itu tidak menyebabkan insulin resistance setau saya, yg menyebabkan adalah sukrosa.

    • Fruktosa adalah bentuk monosakarida, sedangkan gula pasir adalah disakarida sukrosa yang terdiri dari molekul fruktosa dan glukosa

  2. Terimakasih, tulisan dokter sangat menarik..saya mencoba mencari jurnal yg dokter tulis diatas, tetapi hanya mendapatkan abstraknya saja, apakah dokter memiliki full textnya, bolehkah saya mendapatkannya dari dokter (maaf, jika tidak merepotkan, terimakasih)..ada tiga hal yang ingin saya tanyakan, saya benar2 mengharapkan jawabannya:
    – pertama saya masih belum terlalu jelas bagaimana mekanisme resistensi leptin dapat menyebabkan resistensi insulin, mohon bantuan penjelasannya.
    – Kedua saya ingin menanyakan,apakah sudah ada penelitiannya yg menjelaskan bagaimana mekanisme fruktosa dapat menyebabkan leptin resistance.. jika belum ada menurut dokter kira2 bgmn ya, apakah fruktosa mengganggu mekanisme di reseptor atau pasca reseptor dari leptin atau karena dia dapat meningkatkan penyimpanan trigliserida adiposa, mohon pendapat dokter. setau saya resistensi leptin terjadi jika konsentrasi leptin plasma (proporsional dengan kandungan trigliserida adiposa)tinggi ttp gagal melakukan aksinya utk menurunkan nafsu makan dan berat badan. jadi asumsi saya jika asupan energi terutama dari lemak juga dari glukosa dan fruktosa yg disimpan dlm btk trigliserida dlm adiposa terjadi berlebihan dan kronik lama kelamaan dapat menyebabkan resistensi leptin karena terjadi sensitisasi terus menurus pada reseptor leptin dinukleus arkuata (yg menyebabkan meningkatnya ekspresi protein SOCS 3. bagaimana menurut dokter?
    – ketiga bagaimana perbandingannya antara diet tinggi lemak, diet tinggi fruktosa yg lebih beresiko meningkatkan resistensi leptin?

    Mohon balasannya. Terima kasih atas perhatian dan waktunya.

    Salam hormat,

    trinovita

    • Dear Trinovita
      Terimah kasih telah meluangkan waktu ke blog ini. Mengenai paper yang dimaksud tersebut, telah saya kirimkan ke email Trinovita, mudah-mudahan telah diterima. Saya kira dengan membaca paper tersebut, apalagi jika ditambah dengan membaca referensinya, cukup bisa memberikan sedikit insight terhadap pertanyaan-pertanyaan Trinovita. Saya menduga anda seorang dokter atau praktisi kesehatan yang tertarik dengan bidang biomolekuler metabolisme menilik dari pertanyaan anda. Terus terang saya bukanlah ahli dalam bidang biomolekuler karena masih dalam tahap belajar saat ini. Saya akan mencoba menjawab pertanyaan anda secara singkat satu persatu:
      1. Bagaimana resistensi leptin menyebabkan resistensi insulin?
      Kalau kita khusus bicara paper yang dimaksud diatas, di situ sama sekali tdk dinyatakan bahwa resistensi leptin menyebabkan resistensi insulin. Paper tersebut hanya berkesimpulan bahwa fruktosa terindikasi menyebabkan resistensi leptin terbukti dengan tidak beresponnya (dalam hal ini diukur dengan respon anorektik) binatang percobaan (rat) yang diberi intake fruktosa tinggi terhadap dosis leptin yang diberikan dibanding kontrolnya setelah enam bulan padahal sebelumnya (baseline) kedua kelompok binatang percobaan tersebut sama-sama sensitif terhadap leptin yang diberikan secara intraperitonial. Gejala leptin resistance ini sudah terjadi meskipun kedua kelompok binatang percobaan tersebut memiliki berat badan dan parameter lainnya seperti komposisi lemak tubuh, serum leptin, serum insulin, dan glukosa darah yang sama. Yang berbeda adalah pada kelompok fruktosa tinggi, serum trigliseridanya lebih tinggi dari kelompok kontrol. Adanya leptin resistance ini dibuktikan dengan menurunnya fosforilasi STAT3 di hypothalamus pada kelompok fruktosa tinggi.
      Kemudian kedua kelompok tersebut sama-sama diberikan high fat diet (sebelumnya makanannya makanan biasa: normal chow) dan terbukti bahwa kelompok fruktosa tinggi lebih gemuk dan pertambahan berat badannya lebih cepat. Ini menunjukkan bahwa resistensi leptin yang diinduksi oleh diet tinggi fruktosa menyebabkan binatang percobaan lebih rentan mengalami obesitas ketika terpapar dengan high fat diet.
      Dengan logika tersebut kita bisa berspekulasi bahwa pada studi ini, resistensi leptin mendahului resistensi insulin. Tapi sebenarnya sampai saat ini belum ada kesepakatan para ahli yang mana yang menjadi sebab primer. Bahkan sampai saat ini mekanisme terjadinya resistensi leptin dan resistensi insulin belum diketahui secara pasti.
      2. Bagaimana mekanisme terjadinya resistensi leptin pada diet tinggi fruktosa?
      Ada studi lain yang telah menunjukkan bahwa serum trigliserida yang tinggi mengganggu transport leptin melewati Blood Brain Barrier (Banks et al: Diabetes 53:1253-1260, 2004) sehingga jumlah leptin yang sampai ke target tissue/site berkurang sehingga efek fisiologisnya juga akan berkurang. Pada studi di atas, kelompok fruktosa tinggi memiliki trigliserida yang secara signifikan lebih tinggi dibanding kelompok kontrol setelah enam bulan perlakuan. Mekanisme gangguan transport pada BBB ini kemungkinan bisa menjadi penjelasannya, tapi tentu ini masih butuh konfirmasi lagi. Disamping itu trigliserida darah yang tinggi juga memicu penimbunan trigliserida secara ektopik seperti di otot dan hati yang berpengaruh buruk terhadap kerja insulin.
      3. Bagaimana perbandingan diet tinggi lemak dan tinggi fruktosa dalam meyebabkan resistensi leptin?
      Selam ini menurut saya, yang lebih ekstensif diteliti adalah high fat diet dalam pengaruhnya terhadap resistensi leptin. Paper yang dimaksud diatas bahkan diklaim oleh penulisnya merupakan laporan pertama tentang model resistensi leptin yang diinduksi oleh fruktosa.
      Mengenai mana yang lebih berperan saya hanya bisa berspekulasi bahwa diet tinggi lemak mungkin lebih banyak menyebabkan resistensi leptin di masyarakat, mengingat gaya dan pola makan kita sekarang yang tinggi lemak.
      Namun kedua diet tersebut saling berkait dan saling menyokong satu sama lain, mengingat bahwa konsumsi gula di masyarakat kita juga menunjukkan peningkatan.
      Apapun penyebabnya, apakah diet tinggi fruktosa atau tinggi lemak, keduanya bisa menyebabkan peninggian trigliserida dan asam lemak bebas darah yang akan menganggu/mengurangi leptin yang masuk ke susunan saraf pusat dan mendorong penimbunan lemak ektopik yang menyebabkan terjadinya leptin resistance.
      Mudah-mudahan jawaban saya bisa sedikit memberikan gambaran. mudah-mudahan ini juga tidak membingungkan pembaca yang awam, mengingat tulisan saya tersebut ditujukan buat mereka.

      Wassalam

      Aminuddin

  3. terimaskih dok, papernya sudah saya terima..penjelasannya sangat jelas, cukup memberikan pencerahan bagi saya, terimakasih atas perhatiannya..

    salam hormat,

    trinovita

    • Terimah kasih Dokter Trinovita atas pertanyaannya. Semoga sukses selalu dalam tugas dan belajarnya.

      Wassalam

      Aminuddin

  4. Terimah Kasih Hetti Pramita atas pertanyaannya. Sampai sekarang ini, banyak penelitian yang memberikan kesimpulan yang berbeda tentang hubungan fruktosa dengan nafsu makan (appetite). Di satu pihak, ada penelitian yang menunjukkan bahwa fruktosa memberikan efek kenyang (satiety) yang lebih dari glukosa, sementara yang lain tidak menemukan perbedaan atau sebaliknya meningkatkan nafsu makan seperti yang anda asumsikan di atas.
    Yang berpendapat bahwa fruktosa memberikan rasa kenyang (dengan demikian menurunkan nafsu makan setidaknya dalam jangka pendek) yang lebih dari glukosa memperkirakan hal tersebut karena glycemic index fruktosa yang jauh lebih rendah dari glukosa.Glycemic index yang rendah berhubungan erat dengan satiety suatu makanan dimana semakin rendah GI maka makanan tersebut lebih mengenyangkan. Hal lain yang juga bisa meningkatkan efek satiety ini adalah proses penyerapan fruktosa yang pasif dibanding glukosa. Artinya fruktosa lebih lambat diserap di usus dibanding glukosa sehingga waktu pemaparan (exposure)atau kontak fruktosa dg dinding usus lebih lama yang menyebabkan usus mensekresikan lebih banyak zat-zat yang menyebabkan rasa kenyang.
    Yang berpendapat sebaliknya bahwa fruktosa meningkatkan nafsu makan dan dalam jangka panjang bisa menyebabkan obesitas dikarenakan oleh:
    – leptin resistance (lihat penjelasan saya di atas)
    – fruktosa tidak menyebabkan stimulasi sekresi insulin sebagaiman halnya glukosa.Konsentrasi insulin tinggi dalam darah diketahui menyebabkan nafsu makan menurun.
    – fruktosa relatif tdk menyebabkan stimulasi sekresi leptin. Leptin diketahui sebagai hormon yang menyebabkan penurunan nafsu makan.
    Demikianlah penjelasan singkat dan sederhana dari saya. Semoga bisa sedikit memberikan kejelasan

    • Bu Titi yang baik, mungkin kata “menyebabkan” kurang tepat, bahkan sampai hari inipun belum diketahui apa penyebab diabetes bu. Mungkin bisa dikatakan bahwa konsumsi fruktosa tinggi berhubungan erat dengan terjadinya obesitas, yang selanjutnya menjadi faktor resiko terjadinya diabetes. Terima kasih Bu Titi atas feedbacknya.

  5. assalamu álaikum…sy sedang mengerjakan tugas ttg leptin dan efek thd cardivasculer sekiranya dokter ada referensi jurnal maupun artikel mohon untuk tidak keberatan mengirim ke email saya, atas perhatiannya dan budi baiknya kami sangat beterima kasih. wassalam

  6. Pak untuk mengatur diet pada penderita hepatitis dengan kondisi sirosis dini bagaimana? sementara ini makannya dianjurkan high protein high karbo krn penderita beratnya masuk normal bawah (cenderung kurus) padahal kinerja hati akan terbantu / ringan jika dibantu oleh otot.
    batas konsumsi fructose & glokose untuk penderita ini bagaimana? oiya, sekedar info kriteria albumin, glukosa darah, kolesterolnya masih normal.

    • Terima kasih Amalia atas pertanyaannya.
      Pertanyaan anda begitu teknis, saya kira anda seorang profesional di bidang dietetik. Saya mengingatkan, apapun pendapat saya, sebaiknya hanya dianggap informasi belaka, bukan preskripsi untuk ditindaklanjuti secara klinis. Penilaian objektif klinis anda dan rekan rekan medis yang lain adalah yang utama dalam penangan pasien yang dimaksud.
      Menurut saya, yang paling pertama yang harus dinilai adalah apakah pasien mengalami penyakit yang akut atau tidak. Boleh jadi juga bahwa hepatitisnya kronis namun keadaan sakitnya akut (acute on chronic). Dari keterangan anda saya belum bisa menduga bahwa kondisi pasien anda dalam keadaan acute,subacute, atau kronis. Paling tidak kita butuh melihat kondisi sel sel hati saat ini dg melihat enzim SGPT, SGOT, serta serum bilirubin baik I maupun II.

      Kalau kondisinya acute dengan ancaman encelopathy yang jelas, saya kira sebaiknya proteinnya jangan sampai berlebihan cukup sampai 1 g/kg bb, dan diutamakan pemberian protein dg asam amino bercabang (branched chain amino acid) dan atau preparat yg mengandung L-ornithin l-aspartat, serta pemberian lactulosa untuk memperlancar defekasi dan membantu mengikat ammonium .
      Ada baiknya kalori utama diberikan dalam bentuk karbohidrat simple yang langsung mudah terserap (bila NGT).
      perhatikan juga obat obatan yang diberikan, kadang kala pasien sirosis juga diberikan diuretik yang bisa menganggu kadar kalium darah (hypokalemia).

      Kalau pasiennya dalam keadaan stabil, dan dapat makan secara biasa per oral, atau dalam kondisi kronis stabil, tujuan diet adalah menjaga agar komplikasi metabolik pada hati bisa dihindari. Saya cenderung bertindak konservatif alias tdk terburu buru untuk menaikkan berat badan si pasien. saya kira kalorinya diberikan secara bertahap sampai mencapai batas yang diinginkan. Mulailah dg memberi kalori sekitar 80 persen dari kebutuhan, yang dalam satu minggu bisa ditingkatkan secara perlahan sampai dg kebutuhan optimal. Demikian juga dg protein. ikuti terus kondisi hati pasien. Berikan suplemen protein seperti yang tersebut di atas. Ada dalam bentuk sachet. Usahakan pasien bisa makan dan minum sendiri per oral jika memungkinkan. perhatikan toleransi pasien terhadap preskripsi diet yang diberikan. Dan timbang berat badan setiap hari kalau memungkinkan. Koreksi berat badan jika ada ascites atau pengumupulan cairan di jaringan.
      Semoga informasi singkat ini bisa sedikit membantu. Judgment anda sebagai profesional tdk tergantikan.

  7. Saya setuju dengan komentar yang mengatakan bahwa tulisan ini menarik. Tulisan dokter tersebut di atas berhubungan dengan tugas yang saya dapat dari dosen saya dengan tema dampak negatif konsumsi fruktosa. Jika dokter berkenan, bolehkah saya meminta jurnal tentang penelitian ini secara lengkap? Dan apakah ada referensi jurnal maupun artikel lain yang berhubungan dengan dampak buruk fruktosa? Mohon untuk tidak keberatan mengirim ke email saya. Terima kasih banyak.

  8. dokter sya sulit mencari bahan jurnal ini, kalo dokter berkenan saya minta full texs nya dok , krn saya buat saya mempelajari nya dan buat bahan skripsi

  9. salam kenal. saya mau bertanya, keberadaan fruktosa salah satunya didalam buah,sedangkan dikatakan bahwa buah buahan bagus untuk menurunkan berat badan.apakah hal itu tergantung juga dari perbandingan jumlah fruktosa dan dietary fiber dari buah tersebut?

    • salam kenal. Memang benar buah adalah salah satu makanan yang mengandung fruktosa. Namun tulisan di atas lebih bermaksud kepada penggunaan fruktosa dalam bentuk gula (refined sugar/table sugar) dan tentu saja makanan yang mengandungnya. Buah termasuk kudapan yang sehat, karena disamping mengandung gula juga mengandung vitamin, mineral dan tentu saja serat yang penting bagi kesehatan. Tentu saja juga bagi penderita diabetes yang menjalani terapi diet, makan buah tertentu harus dikontrol agar tidak meningkatkan gula darah secara berlebihan.

  10. Dok tolong dibantu saya ini penderita diabetes dan asam urat obat herbal apa yang cocok untuk kedua penyakit tersebut, tks atas infonya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s