Barangkali hanya sedikit diantara kita yang pernah mendengar tentang Muslim Rohingya. Mereka adalah komunitas minoritas di Myanmar/Burma yang mayoritas penduduknya beragama Budha. Selama ini mereka hidup tertindas oleh Pemerintah Junta  Militer Myanmar serta selalu dicurigai oleh etnik lain terutama etnik mayoritas Burmese. Pemerintah junta myanmar bahkan tidak mengakui keberadaan mereka sebagai warga negara hanya karena mereka berpenampilan fisik berbeda, memiliki bahasa dengan dialek mirip bahasa Bengali, dan tentu saja karena mereka beragama islam. Bahkan alasan yang terakhir digunakan oleh pemerintah untuk menakut-nakuti etnik Burmese dengan isu kemungkinan mereka akan melakukan makar dan menguasai negara atas motivasi jihad.

Secara sistematis Muslim Rohingya dibatasi kemerdekaan hidupnya sehingga mereka layaknya hidup seperti pesakitan di tanah kelahiran mereka. Bagaimana tidak, untuk melakukan perjalanan saja mereka harus minta izin pemerintah disertai dengan pembayaran uang yang cukup mahal, untuk menikah mereka harus minta izin juga disertai surat perjanjian yang membatasi mereka hanya bisa punya anak sampai dua orang.

Pengungsi Rohingya: terusir dan sengsara (dari www.guardian.co.uk/world/gallery/2009/feb/04/)
Pengungsi Rohingya: terusir dan sengsara (dari http://www.guardian.co.uk/world/gallery/2009/feb/04/)

Secara ekonomi mereka juga dilumpuhkan. Mereka tidak bisa bekerja untuk pemerintah karena mereka dianggap bukan warga negara. Sementara untuk berdagang pun mereka harus memiliki izin berdagang yang harganya sangat mahal.

Semua ini membuat mereka hidup sangat miskin yang akhirnya memicu mereka untuk lari mencari tempat hidup yang lain meskipun harus menyabung nyawa.

Exodus muslim Rohingya ini sempat mendapat liputan media internasional akhir Desember tahun 2008 ketika 98  orang dari mereka ditemukan terapung-apung di di kepulauan Andaman dengan bekal sangat minim sehingga banyak diantara mereka yang kelaparan dan dehidrasi. Sebagian lagi (193 orang) ditemukan terapung-apung di perairan Sabang bulan Januari , dan 198 orang lainnya berhasil mencapai pantai di Aceh pada tanggal 3 Februari 2009. Sama dengan saudara mereka yang ditemukan di kepulauan Andaman, mereka juga terlihat jelas mengalami penderitaan yang luar biasa selama perjalanan di laut lepas.

Sangat membanggakan bahwa saudara-saudara mereka di Aceh dengan tangan terbuka menolong mereka dengan ikhlas setelah mereka di perlakukan bagaikan binatang oleh Angkatan Laut Thailand yang mengusir, membiarkan mereka tanpa bekal yang cukup keluar dari perairan Thailand.

Umat Islam setidaknya harus memiliki kesadaran betapa keberadaan mereka yang banyak di muka bumi ini tidak berarti apa-apa jikalau  mereka tidak bersatu. Setidaknya penderitaan saudara-saudara kita di Myanmar bisa kita hindarkan kalau kita semua tidak dikotak-kotakkan oleh nasionalisme, ras, suku, bahasa, dan bersatu dibawah panji-panji islam.