Memiliki perut buncit atau lingkar perut yang berlebihan bukan hanya kurang baik dari segi penampilan fisik namun juga dari segi kesehatan. Perut buncit biasanya lebih gampang kelihatan pada pria dibanding wanita karena secara biologis pria punya kecenderungan menumpuk kelebihan lemak di bagian perut dibanding wanita, meskipun perut buncit juga tidak jarang ditemukan pada wanita.

Lemak yang menyebabkan kebuncitan pada perut sebenarnya terdiri dari dua macam. Yang pertama adalah lemak yang disimpan oleh tubuh di bawah kulit atau yang biasa disebut lemak subkutan (subcutaneous fat). Yang kedua lemak yang disimpan oleh tubuh di rongga perut mengelilingi organ-organ dalam perut yang biasa disebut lemak visceral (visceral fat).

Dari kedua jenis lemak yang membuncitkan perut ini, lemak visceral atau lemak yang disimpan dalam rongga perut dianggap  lebih berbahaya karena berhubungan erat  dengan berbagai resiko penyakit/keadaan terkait metabolisme seperti resistensi insulin, diabetes, dan penyakit cardiovaskular sesuai dengan banyak hasil   penelitian epidemiologis.

Mengapa lemak visceral ini lebih berbahaya?

Banyak penelitian-penelitian in vivo (penelitian secara langsung pada mahluk hidup baik pada hewan maupun manusia) selama lebih dari satu dekade belakangan ini menunjukkan bahwa peningkatan asam lemak bebas baik secara akut maupun secara kronis  dalam darah terkait erat dengan memburuknya kerja insulin dalam tubuh.  Asam lemak bebas telah diketahui menyebabkan resistensi insulin di otot dan hati (1) yang merupakan faktor penyokong terjadinya diabetes mellitus. Ada ahli yang berpandangan tingginya jumlah asam lemak bebas dalam darah ini ditengarai akan memicu penumpukan lemak ektopik (diluar tempat penumpukan yang seharusnya yaitu sel lemak) seperti dalam otot dan hati yang mendasari terjadinya resistensi insulin dalam tubuh. Asam lemak secara langsung juga menyebabkan gangguan pada sistem penghantaran sinyal insulin yang menyebabkan sel-sel tubuh tertentu seperti pada otot, hati, dan sel lemak menurun kepekaannya atau responnya terhadap kerja insulin. Salah satu akibatnya adalah terhambatnya uptake (pengambilan) glukosa oleh sel-sel tubuh contohnya pada sel otot (2) padahal otot merupakan organ pengguna terbesar glukosa darah pada fase setelah makan. Proses metabolisme glukosa di otot dimulai dengan proses uptake glukosa darah. Proses uptake ini memerlukan suatu proses penghantaran glukosa melalui pintu masuk (transporter) di membran sel otot. Asam lemak bebas telah diketahui menganggu fungsi pintu masuk ini sehingga uptake glukosa terganggu. Jadi semakin banyak asam lemak bebas dalam tubuh akan mengurangi pengambilan glukosa dalam darah, atau secara gampang bisa dikatakan semakin gemuk seseorang sel-sel tubuhnya semakin payah memakai glukosa dalam darah.

Lemak visceral adalah merupakan sumber asam lemak bebas yang langsung menuju hati melalui vena porta. Terlebih lagi bahwa jaringan lemak visceral ini relatif resisten terhadap kerja insulin yang ditunjukkan dengan relatif tidak terhambatnya lipolysis jaringan ini  pada fase setelah makan padahal konsentrasi insulin pada waktu itu meningkat. Jadi semakin banyak jumlah lemak visceral ini (semakin buncit seseorang) maka semakin tinggi kemungkinan seseorang mengalami resistensi insulin karena jaringan ini menjadi sumber utama asam lemak bebas terutama pada orang gemuk baik sebelum dan sesudah makan. Jadi tubuh boleh dikatakan dibombardir oleh lemak visceral ini dengan asam lemak bebas setiap saat terutama jaringan hati yang berhubungan langsung dengannya melalui vena porta.

Melalui penelitian klinis dengan memakai isotop, Soren Nielsen dan kawan-kawan dari Mayo Clinic menunjukkan dengan jelas bahwa asam lemak di plasma orang gemuk baik pria dan wanita 20% lebih tinggi dibanding mereka yang berberat badan normal. Lebih jauh mereka juga menunjukkan bahwa asam lemak bebas yang dikontribusikan oleh lemak visceral  ke hati bisa sampai 50% pada orang gemuk dan meningkat sesuai dengan banyaknya lemak visceral (yang dalam penelitian ini diukur dengan CT-Scan). Dan lebih mengejutkan korelasi lemak visceral ini dengan banyaknya pelepasan asam lemak bebas ke hati lebih tinggi pada wanita dibanding pria (3). Ini berarti wanita yang memiliki perut yang buncit justeru jauh lebih beresiko dibanding pria untuk mengalami dampak buruk dari lemak visceral ini.

Seberapa buncitkah yang berbahaya itu?

Secara kualitatif banyaknya lemak visceral itu berkorelasi dengan tingkat kebuncitan perut. Nah bagaimana mengetahui tingkat kebuncitan perut itu secara mudah? Dibawah ini ada beberapa cara anthropometris untuk mengetahuinya:

  1. Waist to height ratio (rasio lingkar perut-tinggi badan) yang dibahas pada tulisan sebelumnya. Keuntungan cara ini adalah bahwa patokan yang dipakai bisa berlaku untuk pria dan wanita dan cara ini berdasarkan hasil penelitian pada populasi jepang yang secara fisik boleh dikatakan sama dengan orang indonesia (4).
  2. Waist to hip ratio (rasio lingkar perut-lingkar pinggul). Cara mengukur lingkar perut seperti pada cara nomor 1 diatas yaitu menarik meteran melalui pusar dan dalam keadaan bernafas yang normal. Namun adapula yang mengukur lingkar perut ini dengan menarik meteran pada level antara tulang iga paling bawah dan tulang pinggul samping yang paling menonjol (cara ini saya tidak sarankan karena terlalu sulit bagi mereka yang awam). Lingkar pinggul diukur dengan menarik meteran pada level pinggul/pantat yang terbesar. Ratio 0.94 bagi pria dan 0.88 bagi wanita dianggap berkorelasi dengan jumlah lemak visceral sebanyak 130 cm2 yang merupakan nilai kritis (5). Sebaiknya pria memiliki ratio yang kurang dari 0.9 dan wanita kurang dari 0.84.
  3. Waist circumference/girth (lingkar perut). Ini adalah cara yang tergampang dan sensitif untuk mengetahui resiko perut buncit. Cara mengukurnya seperti mengukur lingkar perut pada metode di atas dan saya menyarankan untuk memakai patokan 85 cm untuk pria dan 80 cm pada wanita sesuai dengan hasil penelitian Bei-Fan pada 239.972 orang di China (6). Sampel penelitian yang banyak dan ukuran dimensi tubuh yang cukup sama membuat patokan ini sangat rasional dipakai oleh orang indonesia.  Perlu diketahui bahwa patokan yang dipakai oleh setiap institusi berbeda-beda, namun menurut penulis sampai saat ini di Indonesia belum ada penelitian yang komprehensif yang berskala besar untuk menetapkan patokan yang baku lingkar perut ini.
  4. Sagital abdominal diameter (diameter sagital perut/tinggi perut) yang diukur dalam posisi baring dengan lutut dibengkokkan seperti pada gambar dibawah yang diambil dari referensi (7). Diukur dengan kaliper pada garis tulang pinggul (iliac crest). Patokan yang dipakai adalah 25 cm. Orang yang memiliki tinggi perut  lebih atau sama dengan 25 c terbukti memiliki korelasi yang tinggi dengan resistensi insulin yang telah dibuktikan menjadi faktor prediksi utama terjadinya diabetes di masa yang akan datang. Hanya saja sampel pada penelitian ini semuanya orang kulit putih berjenis kelamin pria sehingga aplikasinya hanya pada pria saja.  Aplikasi pada orang indonesia juga masih butuh konfirmasi untuk menentukan patokan yang sesuai.

Nah mulai sekarang anda bisa mengetahui apakah perut anda buncit atau tidak, dan apakah kebuncitan tersebut sudah terimplikasi berbahaya dengan memakai berbagi patokan di atas. Saya menyarankan memakai lingkar perut saja karena gampang dan patokannya mudah  diingat.

Sudah saatnya menjaga agar perut kita ramping demi kesehatan metabolisme tubuh dan untuk menjauhi berbagai penyakit degeneratif yang tak bisa disembuhkan.

  

Referensi:

1. Boden Guenther: Interaction between free fatty acids and glucose                  metabolism (2002). Current Opinion in Clinical Nutrition and Metabolic Care: 5

2. Yu C, Chen Y, Cline GW et.al: Mechanism by which fatty acid inhibits insulin activation of insulin receptor substrate 1 (IRS-1) associated phosphatidylinositol 3-kinase acitivity in muscle (2002). The Jour. Bio.Chem. 227:52

3. Nielsen S, Guo S, Johnson CM et.al: Splanchnic lypolysis in human obesity( 2004). The Jour.Clinic. of Invest. Vol.113, 11

4. Hsieh SD, Yoshinaga H, Muto T: Waist-to-height ratio, a simple and practical index for assessing central fat distribution and metabolic risk in japanese man and women (2003).International jurnal of obesity 27,610-616

5. Dobbelsteyn CJ, Joffres MR, Maclean DR et.al: A comparative evaluation of waist circumference, waist-to-hip ratio and body mass index as indicators of cardiovascular risk factors. The Canadian Heart Health Surveys (2001). International journal of obesity 25, 652-661

6.Bei-Fan Z: Predictive values of body mass index and waist circumference for risk factors of certain related disease in chinese adults: study on optimal cut-off points of body mass index and waist circumference in chinese adults. Asia pacific J Clin Nutr 2002; 11(suppl 8):S685-93

7. Riserus U, Arnlov J, Brismar K et.al: Sagital abdominal diameter is a strong anthropometric marker of insulin resistance and hyperproinsulinemia in obese man. 2004, Diabetes Care 27

 

 

About these ads