Kemajuan Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan: Komitmen Dana

Kemajuan suatu bangsa dan negara sangat erat berhubungan dengan kemajuan pendidikan dan ilmu pengetahuannya. Untuk menjadi bangsa dan negara yang maju, pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan harus dikelola, diberdayakan, serta dimamfaatkan sedemikian rupa sehingga dua hal tersebut bisa menjadi potensi yang kuat dan efektif dalam menopang pembangunan dan kemajuan.

Kita bisa memetik pelajaran dari negara yang telah berhasil menjadikan pendidikan dan ilmu pengetahuannya sebagai penopang utama kemajuan, kesejahteraan, dan pembangunannya. Jepang contohnya, negara superpower ekonomi kedua setelah Amerika ini dari segi sumber daya alam boleh dikatakan sangat miskin jika dibandingkan dengan Indonesia, namun mereka berhasil dengan sangat fenomenal mengangkat kesejahteraan dan pembangunan negaranya dengan melakukan industrialisasi. Keberhasilan industrialisasi ini sangat ditopang oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan searah dengan kebutuhan dan tantangan nyata yang dihadapinya. Untuk tujuan tersebut, maka Jepang menjadikan institusi pendidikan terutama pendidikan tinggi sebagai pusat atau basis yang dinamis dan kuat untuk menghasilkan sumber daya manusia yang dibutuhkan sekaligus ilmu pengetahuan dan teknologi yang unggul dan mutakhir untuk menopang dan mengembangkan proses industrialisasi tersebut.

Komitmen Pemerintah Jepang untuk terus mendukung dan memajukan pendidikan dan ilmu pengetahuan negaranya bisa tercermin dari besarnya dana yang disediakan untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tahun 2009 sebesar 3554,8 milyar Yen atau setara paling kurang dengan 355,5 trilyun Rupiah (mengambil kurs 1 Yen= Rp. 100 untuk memudahkan) (Sumber: Erawatch Research Inventory). Padahal kita ketahui bahwa tahun ini Jepang sebagaimana negara-negara lainnya mengalami dampak negatif krisis ekonomi global yang menyebabkan pendapatan nasionalnya turun drastis. Tentunya sangat tidak proporsional kalau kita membandingkan angka tersebut dengan dana penelitian yang disediakan oleh Departemen Pendidikan Nasional tahun ini sebesar 1 trilyun Rupiah untuk badan penelitian dan pengembangan dan dana hibah penelitian di perguruan tinggi negeri dan kopertis (sumber: www.diknas.go.id), karena secara ekonomi kita memang jauh dari Jepang. Tapi pesan moral dari fakta di atas jelas, yakni komitmen untuk terus mendukung kemajuan pendidikan dan ilmu pengetahuan harus menjadi prioritas utama dari sekian banyak prioritas yang lain. Di negeri kita, alasan dana yang minim sering dipakai pemerintah untuk meligitimasi kurangnya alokasi dana untuk pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Namun yang menjadi kendala besar sebenarnya adalah bagaimana mendistribusikan secara proporsional, efektif dan efisien serta accountable  dana yang terbatas tersebut untuk menghasilkan tujuan yang strategis. Dari segi accountability penggunaan dana APBN saja masih disinyalir terjadinya kebocoran sebesar 30-40 % seperti yang dilansir Komisi Pemberantasan Korupsi. Kalau kita ambil contoh pada sektor pengadaan barang dan jasa saja diperkirakan bahwa sekitar 70 trilyun Rupiah raib tiap tahunnya entah kemana. Jadi sekali lagi masalah utama kita adalah bagaimana proses penggunaan dana yang dimiliki, bukan dari segi ketersediaan dana seperti alasan klasik dari pemerintah.

 

Memajukan Dunia Penelitian

Pengembangan pendidikan dan ilmu pengetahuan bagaimanapun boleh dikatakan sangat tergantung kepada kemajuan penelitian ilmiah yang dilakukan. Dalam hal ini peran institusi pendidikan tinggi seperti universitas dan lembaga penelitian yang lain baik dalam naungan pemerintah maupun swasta sangatlah integral. Dalam tulisan ini saya mencoba membatasi ruang lingkup pembicaraan hanya pada dunia penelitian di tanah air terutama yang dilakuakn di institusi perguruan tinggi dan lembaga penelitian yang lain.

Masalah pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tidak hanya melulu terkait dengan keterbatasan dana saja, meskipun kita meyakini bahwa dana merupakan salah satu faktor yang dominan di dalamnya, karena penelitian yang bermutu dan berkesinambungan hanya bisa dilakukan dengan dukungan dana yang memadai. Masalah utama yang lain adalah kita masih perlu memperbaiki manajemen pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia. Yang saya maksud manajemen pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ini termasuk diantaranya adalah bagaimana mengalokasikan dana penelitian yang terbatas itu secara efektif dan efisien. Didalamnya juga termasuk cetak biru (blueprint) tentang rencana ke depan apa yang ingin dicapai baik sasaran jangka pendek maupun panjang. Pemerintah dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional, Kementerian Riset dan Teknologi, serta lembaga lainnya tidak perlu terlalu bersusah payah untuk membuatnya, cukup mereka memberikan semacam petunjuk umum semacam garis besar haluan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (meminjam istilah GBHN) dalam jangka panjang. Untuk urusan teknis pengejawantahannya, biarlah institusi pendidikan tinggi dan lembaga penelitian yang lain yang bertanggung jawab. Salah satu kriteria utama pemberian atau alokasi dana penelitian dan pengembangan iptek adalah kemampuan suatu institusi pendidikan tinggi dan lembaga penelitian dalam menyiapkan cetak biru mereka sejalan dengan cetak biru nasional tersebut. Tentu saja tiap institusi pendidikan tinggi dan lembaga penelitian bisa  menonjolkan aspek kelokalan mereka sesuai dengan kondisi lingkungan, kapasitas serta kebutuhan masyarakat dimana mereka berada asalkan searah dan sejalan dengan pakem nasional yang telah ditetapkan. Dengan perangkat ini kita bisa mengurangi atau bahkan meniadakan kebiasaan penelitian yang sporadis dan tidak berkesinambungan yang kurang memiliki nilai strategis bagi pembangunan.

Unsur manajemen yang juga perlu mendapat perhatian adalah proses evaluasi penggunaan dana. Di dalamnya termasuk evaluasi apakah sasaran-sasaran yang telah ditetapkan berhasil dicapai atau tidak.  Evaluasi yang dilakukan tidak terbatas hanya pada proses penggunaan dana saja sebagaimana hal yang selama ini dilakukan, tetapi perlu pula memasukkan hal-hal yang bersifat teknis integral dari proses penelitian. Ini penting untuk melihat apakah dana penelitian digunakan secara efektif dan efisien. Contohnya evaluasi terhadap end point penelitian seperti apakah penelitian tersebut telah diterbitkan di jurnal ilmiah, apakah jurnal ilmiah tempat publikasi itu nasional atau internasional, berapa impact factor-nya dan sebagainya. Contoh end point yang lain adalah apakah penelitian menghasilkan paten atau tidak kalau penelitian yang yang dilakukan termasuk penelitian terapan. Pendek kata kita harus memiliki kesepahaman dan kesepakatan tentang bagaimana mengevaluasi proses penelitian yang telah dilaksanakan dan untuk itu semua pihak yang berkompeten perlu duduk bersama untuk menentukannya.

Dari proses evaluasi end point tersebut, selanjutnya pemerintah bisa mendapatkan dasar yang kuat untuk mengalokasikan besaran dana tertentu kepada institusi pendidikan tinggi atau lembaga penelitian tertentu sesuai dengan kinerjanya. Jadi ada semacam alokasi dana penelitian berbasis kinerja. Ini akan memicu institusi pendidikan tinggi dan lembaga penelitian untuk menghasilkan banyak penelitian yang bermutu dan kompetitif. Jadi semakin banyak penelitian yang bermutu, publikasi ilmiah di jurnal yang terakreditasi dan diakui terutama di tingkat internasional, paten, yang dihasilkan akan menambah alokasi dana ke institusi yang bersangkutan. Ini yang selama ini menurut saya kurang atau belum dilakukan oleh pemerintah.

Namun masalah lain juga bisa timbul dengan sistem ini karena tidak semua institusi pendidikan tinggi dan lembaga penelitian di Indonesia memiliki kemampuan dan potensi yang sama dalam hal penelitian. Ini terkait dengan ketersediaan sarana dan prasarana, serta sumber daya manusianya. Ini akan menimbulkan kecemburuan institusi lain yang tidak memiliki kemampuan yang sepadan dengan institusi yang lebih mapan. Oleh karena itu perlu disediakan dana tetap sebagai dana pembinaan yang jumlahnya paling tidak sama untuk semua institusi, disamping tentunya dana yang berbasis kinerja di atas. Dana pengembangan ini diperuntukkan untuk memperbaiki dan melengkapi sarana dan prasarana penelitian serta pengembangan sumber daya manusia dalam hal ini para dosen dan peneliti di institusi bersangkutan.

Skenario lain yang juga patut dipertimbangkan dengan keterbatasan dana yang ada adalah pemerintah menetapkan center atau pusat-pusat penelitian unggulan yang diberikan dukungan sepenuhnya. Pusat-pusat penelitian unggulan ini ditetapkan sejalan dengan garis kebijakan nasional yang ingin dicapai. Pusat-pusat penelitian ini harus dibuat sedemikian rupa sehingga bisa menjadi pusat-pusat penelitian yang berkualitas dunia yang produktif dan mampu memberikan sumbangsih yang strategis bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia.

Selama ini kita sudah memiliki beberapa pusat-pusat penelitian tertentu seperti Lembaga Penelitian Eijkman, LIPI dan institusi penelitian dibawahnya, namun apakah penelitian di institusi-institusi tersebut sejalan dengan tujuan strategis nasional atau tidak sampai saat ini belum jelas setidaknya dari pandangan penulis. Namun harus diakui bahwa dunia penelitian tidak bisa dibelenggu oleh siapapun terkait dengan materi atau substansi apa yang ingin diteliti sebagaimana tercermin dari prinsip kebebasan akademik di perguruan tinggi. Usulan saya di atas semata-mata dilandasi fakta bahwa karena kita memiliki dana penelitian yang terbatas, akan lebih efektif jika kita kemudian lebih konsentrasi membiayai pusat-pusat penelitian strategis yang sejalan dengan kepentingan negara.

Pemamfaatan hasil-hasil penelitian terutama yang bernilai strategis dan ekonomi juga harus terus diupayakan. Tentunya pemamfaatannya bisa lebih baik jika memang sedari awal penelitian yang dilakukan diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu. Jadi objective oriented research harus menjadi salah satu pilar utama dalam cetak biru terkait rencana pengembangan penelitian nasional. Masukan atau input dari pihak-pihak yang berkepentingan dalam memakai hasil penelitian ini seperti dari perusahaan dan industri juga harus dimasukkan sebagai unsur yang integral.

Akhirnya, perhatian juga harus diarahkan kepada kesejahteraan para peneliti di lapangan baik dosen atau peneliti fungsional di lembaga-lembaga penelitian. Untuk meningkatkan keprofesionalan dan dedikasi mereka, insentif untuk meningkatkan pendapatan mereka harus terus ditingkatkan. Sekali lagi insentif ini tentunya harus dikaitkan terutama dengan kinerja penelitian yang dilakukan. Kita tidak boleh menyia-nyiakan potensi para dosen dan peneliti kita dengan membiarkan mereka lebih banyak menggunakan waktunya untuk mencari pendapatan tambahan daripada melakukan penelitian yang baik. Sudah saatnya kita membuat penelitian menjadi lapangan yang menjanjikan  secara ekonomi bagi dosen dan peneliti dengan menyediakan insentif yang cukup dan layak. Kurangnya insentif yang layak akan membuka peluang para dosen dan peneliti untuk mencatut dana yang diperuntukkan untuk pelaksanaan penelitian. Sudah saatnya kita menghilangkan imej penelitian yang tidak lebih dari sebuah proyek untuk mendapatkan kekayaan melalui manipulasi anggaran penelitian.

 

Kesimpulan

Jalan menuju kemajuan pendidikan dan ilmu pengetahuan untuk memajukan negara masih panjang dan berliku. Setidaknya komitmen ke arah yang lebih baik harus mulai dipacu dengan meningkatkan ketersediaan dan akuntabilitas dana penelitian yang disediakan, menyusun cetak biru nasional pengembangan penelitian yang sesuai dengan tujuan strategis yang dicapai, mendorong institusi pendidikan tinggi dan lembaga penelitian untuk membuat cetak biru pengembangan penelitian yang sejalan dengan cetak biru nasional, dan tentu saja meningkatkan kesejahteraan kepada peneliti. Kemajuan dunia pendidikan kita terutama di institusi pendidikan tinggi serta kemajuan negara secara umum di segala bidang salah satunya terkait dengan kemajuan dunia penelitian kita.